
Di saat pelayan yang ia utus untuk berjaga, pada tempat semula memberi laporan, bahwa Kaisar telah kembali ke ruang kerjanya.
Barulah Ziaruo meninggalkan taman, dan kembali menuju pavilliun miliknya untuk beristirahat.
''Jing apa yang harus ku lakukan?.'' Bisiknya lirih, untuk diri sendiri.
Ziaruo merebahkan tubuh di atas ranjang, hatinya yang kalut serta sedih tak mengijinkannya untuk memejamkan mata.
Mengingat bahwa1hari dari sekarang, ia juga harus pergi menuju Yincang serta meninggalkan Jing, Ziaruo semakin tertekan.
Bukan untuk memikirkan diri sendiri, melainkan lebih bersedih untuk Jing suaminya.
Hatinya tidak tenang.
Dan rasa sakit, serta sedihnya juga kenyataan.
Akan tetapi, Ziaruo masih berpikir bahwa Jing-lah, yang paling menderita dalam situasi saat ini.
Setidaknya itulah yang kini di pikirkannya.
Terlebih lagi, ketika mengingat sosok Jing yang berdiri mematung, di depan pintu beberapa saat yang lalu.
Hati Ziaruo semakin bercampur aduk tak karuan.
Kesedihan, penderitaan, serta rasa penyesalannya kian menghimpit hati.
''Seandainya kita tidak menikah.'' Gumam Ziaruo lirih.
Ia berpikir bahwa dirinyalah penyebab dari segalanya.
Sempat juga terpikir, jika tak ada pernikahan diantara dirinya dan jing, mungkin pria tersebut akan tetap menjadi Jing yang dulu.
Sosok arogan yang di takuti, serta di segani.
Dan tak akan ada luka hari ini, atau tambahan rasa sakit yang telah ada, akibat keburukan dari sang ibu.
Dirinya juga akan tetap memnjadi sosok yang sama, wanita dengan gelar janda kaya, bersama puluhan anak asuh.
Meski ia akan di sibukan dengan banyaknya pemuja, dan peminang. Namun ia tidak akan pernah mengambil tanggung jawab secara langsung, atas penderitaan seseorang.
Ziaruo menerawang jauh, dengan mata yang tertuju kearah langit-langit kelambu ranjang.
Seakan, di sana terlihat kilasan suatu pengandaian dengan banyakanya kata ''Jika''.
Akan tetapi, sebanyak apapun kata ''Jika'' di ucapkan, pada kenyataannya tak dapat merubah apa yang kini tengah dihadapi.
Sebanyak ia berencana, sebanyak itu pula kejutan dari sang takdir menyapa.
Dirinya yang seorang manusia, kini hanya dapat berjalan mengikuti alur.
Menjalani, segala seauatu seperti yang pernah ia inginkan di kehidupan terdahulu.
Mengalun mengikuti arus waktu dan kehendak dari sang pencipta, untuk menyusuri jalan takdir yang tergaris.
Ziaruo menyentuh perutnya yang masih rata.
Wajah sendu itu, kini sedikit mereda dengan titik kebahagian.
''Masih ada kamu di sini.'' Ucapnya lirih.
__ADS_1
''Mungkin semuanya adalah perjuanganku untuk bertemu denganmu.'' Lanjutnya lagi.
Ziaruo mengusap-usap perutnya dengan lembut.
Gambaran wajah Jing, serta kelembutan yang ia berikan kembali terlintas.
Ada secuil senyum di ujung bibirnya, dan kembali berucap. ''Ayahanda sedang marah sekarang, tapi kau jangan membencinya.''
Ziaruo kembali menatap bunga sakura, yang terlukis pada langit-langit kelambu.
Ia menghela nafas panjang sejenak, dan kembali membuka suara. ''Nanti ketika kau datang kedunia ini, ia akan memaafkan ibunda.''
''Bahkan mungkin akan merindukan ibumu ini, hingga ia menagis dengan keras.''
''Dan disaat itu, aku akan berpura-pura marah serta mengacuhkannya.'' Lanjut wanita tersebut.
Bibir itu berkata dengan yakin, dengan rencana usil, akan tetapi ada bulir bening menetes di ujung kedua mata.
Ziaruo kembali menangis, dengan gambaran kebahagiaan dalam lintasan kata ''Jika''.
Akan tetapi, hatinya tahu bahwa semuanya sangatlah memilukan, serta akan sulit untuk di jalani.
Dan secara kebetulan, bersamaan dengan tangisan dari Ziaruo, dari luar ruang pavilliun, terdengar suara guntur dan hujan yang lebat.
Seakan alam ikut menitikan air mata, untuk kepedihan hati wanita tersebut.
............................
Sesuatu yang kita anggap penting dan berharga, seakan berlalu dan menghilang dengan cepat.
Seperti itu pula, waktu yang dimiliki oleh Ziaruo yang tinggal seujung kuku, semakin cepat berlalu dengan bergulirnya waktu.
Dari malam yang panjang semalam, bergulir menjelang pagi, dan merambat kearah siang.
Dalam waktunya menunggu Ziaruo berpikir, bahwa Jing mungkin mulai bisa menjauh dari dirinya.
Ia merasa ada kehilangan dengan pikiran itu, hatinya menjadi tidak nyaman.
Ada gelisah dan kecewa juga berbaur didalamnya.
Akan tetapi, bibir ranum itu berucap sebaliknya.
''Baguslah, jika dia bisa menjauh dan hidup tanpa diriku.'' Ziaruo.
Mengatakan dengan tegas melalui bibir tersebut, namun dengan sangat erat mencengkram paha sendiri.
Lugas dan bersyukur dalam perkataan, namun berduka serta merasa sakit dalam hati.
Manusia memanglah sering mengingkari dan berkata berbeda dari isi hati.
Dan Ziaruo melakukan hal itu, saat ini.
Ia berbohong dan menipu diri sendiri.
Waktu kian merambat menuju petang, dan hingga malam mulai menjelang, Jing tak juga datang kepadannya.
Dalam keresahan, serta kegundahan hati, ia memutuskan untuk mendatangi sang suami.
Jika sang suami tak datang kepadanya, maka ia-lah yang akan datang menemui.
__ADS_1
......................
Sementara itu, di bilik kecil samping ruang belajar kaisar.
Sesosok tubuh tengah berbaring lelap diatas ranjang.
Tubuh yang tak lain adalah Jing tersebut, tengah tertidur akibat pengaruh obat yang sengaja di berikan oleh Wuhan.
Wuhan mengambil inisiatif untuk memasukan obat tidur, didalam teh, yang di sajikan oleh kasim untuk kaisar.
Ia merasa prihatin dengan kondisi dari tuannya itu.
Wajah yang menampilkan kurang istirahat, serta kelelahan dalam urusan pemerintahan, hampir membuatnya tumbang.
Di tambah lagi, dengan permasalahan hati yang kini tengah dihadapi, benar-benar membuat wajah itu, seperti sosok tubuh tanpa jiwa.
Oleh karenah hal tersebut, Wuhan berinisiatif melakukannya.
Ketika kaisar selesai menemui utusan penjemput untuk wanita Gu, dan mengantar mereka hingga di depan gerbang istana, Wujan memberikan teh dengan campuran obat untuk Jing, alhasil pria tersebut, terlelap hingga petang.
Dan untuk urusan penjemputan selir Gu, tak banyak rakyat yang mengetahui perihal ini.
Demi keamanan, Wuhan yang telah menerima perintah dari Jing, menyebarkan sebuah rumor berita.
Bahwa, utusan datang untuk menjemput salah satu selir Jing, yang berasal dari kekaisaran Tang, dengan keperluan mengunjungi keluarga.
....................
Pagi ini Jing bangun dengan keadaan yang sedikit kacau.
Raut wajahnya yang kurang terawat akhir-akhir ini, serta kurangnya istirahat, membuat wajah itu hampir seperti seorang pengemis di jalanan.
Rambut yang berantakan, baju yang acak-acakan, aerta bau arak yang menyeruak tajam dari tubuhnya.
Jing enggan dengan wajah sendiri, pada pantulan cermin.
Ia mengingat kembali, waktu yang telah ia lewati beberapa hari ini.
''Mengapa begitu cepat, dan hari ini akhirnya datang.''
Jing merasakan sakit pada kepala, ketika mengingat hal tersebut.
Dan dengan efek alkohol semalam, rasa pening di kepala hampir tak tertahankan.
Namun, mengingat banyaknya rutinitas yang harus ia tangani, Jing kembali meraih ember air dan mencuci muka.
Dengan bantuan dua kasim dan pelayan disana, ia merapikan diri, dan bersiap untuk menemui delegasi utusan dari kekaisaran Tang, yang telah tiba kemarin sore.
Dalam benak Jing, ia ingin segera menyelesaikan semua urusan, dan bersiap untuk datang kepada Ziaruo secepatnya.
Dengan keputusan, serta kesadarannya semalam, ia ingin menikmati waktu terakhirnya bersama Ziaruo, dan mungkin itu untuk yang terakhir kali.
Jing menyesali kemarahan, dan kebodohannya beberapa hari ini, yang telah menyia-nyiakan waktu untuk bisa bersama sang istri.
Dan jika bukan untuk kedamaian diantara empat kekaisaran, mungkin saat ini juga ia akan berlari menemui Ziaruo, dan mengabaikan utusan tersebut.
''Wuhan..'' Panggilnya kepada pria terpercaya.
Dalam sekejap saja, sosok Wuhan telah datang, dan menjawab. ''Pelayan di sini Yang mulai.''
__ADS_1
''Setelah pelepasan hari ini, aku ingin beristirahat, jangan ada yang menggangu.'' Ucap Jing tegas.
''Dimengerti.'' Jawab Wuhan singkat, sebelum mengikuti Jing dari belakang, dan melangkah keluar.