
Masih di pavilliun putih.
Namun, tanpa ia sadari ada sepasang telinga, yang ikut mendengar ucapannya tersebut.
''Kakak......'' ucap lirih bayangan itu, dengan wajah sendu dan penuh perasaan penyesalan.
''Bagaimanapun, ia adalah ibu kita, apakah sebesar itu kebencianmu kepadanya?.'' Ucap bayangan itu lagi dalam hatinya.
Malam itu, banyak hal yang menjadi pikiran bagi kedua orang tersebut, satu fokus permasalahan, dalam dua tubuh dan dua pemikiran yang berbeda.
Namun, masih bernaung pada atap yang sama, dalam ruangan dengan sekat dinding sebagai saksi, atas pertalian darah, serta untuk kasih sayang yang tak terucap.
Bahkan, mungkin tidak akan pernah tersampaikan satu dengan yang lainnya.
Malam panjang dengan kekecewaan, terlihat jelas pada wajah tampan, sang penguasa kekaisaran Zing tersebut, karena dengan penantiannya yang melelahkan, sang pujaan hati tidak kunjung tiba disana.
Pagi pagi sekali, ia bersama seorang kasim, dan penjaga bayangannya( Wuhan), meninggalkan pavilliun putih milik keluarga Yun.
Tampak seorang pemuda lainnya, hanya menatap lekat, kearah ketiga orang tersebut. Dimana, langkah kaki ketiganya, berjalan keluar dari pavilliun putih.
Pemuda tersebut tak ingin menyapa, ataupun mengantar mereka, ia tetap diam saat ketiga orang itu, keluar dari pagar pembatas. wajah tegasnya menampilkan sebuah keseriusan yang pekat, seolah ia telah mengambil sebuah keputusan, tentang apa yang terjadi diantara dirinya, dan sang penguasa tersebut.
''Mungkin inilah takdir diantara kita, dan yang sekarang berdiri disini, hanyalah seorang saudara dari wanita yang dicintainya, bahkan jika memungkinkan, akupun akan menempatkan diri sebagai ipar anda, bukan seorang saudara royal kekaisaran Zing yang terhormat.'' Gumam dalam hati Yongyu, sebelum melangkah kembali, kedalam gedung pavilliun.
Sementara itu didalam sebuah pondok, ditengah hutan barat kelaisaran Xili.
Mengshuo terbangun didalam sebuah bilik kamar, tubuhnya terasa lemah, serta sedikit pusing pada kepalanya, ditatapnya sekeliling ruangan tersebut.
Sebuah meja dengan teko air dari bahan keramik cantik, berada diatas meja tersebut, berjajar didekat teko air itu, beberapa cangkir dari bahan yang sama disana.
''Sebuah gubuk sederhana, dengan teko dan cangkir keramik terbaik?, siapa pemilik rumah ini?.'' Ucapnya lirih, sambil sesekali ia memijat pelan dikening putihnya, untuk meredakan rasa sakit pada kepala.
Sayup sayup terdengar suara percakapan, seorang wanita dan pria, dari balik pembatas kamar tersebut.
Dengan tubuh lemahnya, ia berusaha bangkit dari tempat tidur, untuk keluar menyapa sang pemilik rumah, sekaligus juga peolongnya.
__ADS_1
Satu pikirannya saat ini adalah, siapakah orang yang telah menyelamatkan, dan memberikan perawatan atas racun ditubuhnya, sekaligus untuk berterimakasih.
''Pangeran, maaf jika semuanya diluar rencana anda.'' Ucap seorang wanita dari ruangan utama.
''Itu adalah Nyonya Yun,....ya benar, itu adalah suara wanita itu, tapi dia sedang berbicara dengan siapa?, pangeran?.'' Gumam Mengshuo lirih, ditengah langkah kaki pelannya, menuju sumber suara yang hendak ia tuju.
''Jangan pikirkan hal itu, aku tidak mempermasalahakannya.'' Jawab sang pria dengan nada lembut serta tenang.
''Suara ini, dimana aku mendengarnya?.'' Gumam lirih Mengshuo kembali, ia merasa familiar dengan suara tersebut.
'' Syukurlah jika demikian, jadi aku tidak akan merasa bersalah, karena telah merusak rencana anda.'' Lanjut sang wanita yang tak lain adalah Ziaruo atau yang biasa di panggil Nyonya Yun tersebut, sembari menyeruput tehnya.
Dan hal yang sama juga dilakulan oleh pangeran Murongyu. mereka tampak seperti sepasang kekasih, yang tengah menikmati hangatnya suasana pagi, dengan secangkir teh dan cemilan.
''Oh ...ternyata anda sudah sadar tuan Meng, sapa Nyonya Yun, dengan tatapan wajah tenang, serta sebuah senyum kecil tersemat disana.
Mendengar ucapan nyonya Yun, Murongyu yang tengah menikmati teh hangatnya, secara reflek menoleh kearah guru besar Mengshuo.
Tampak disana, Mengshuo tengah berdiri mematung, menatap kearah Nyonya Yun lekat, bahkan hampir tanpa mengedipkan matanya.
Berbeda dengan sikap Ziaruo, pangeran Murongyu, mencibir lirih dan tampak ketidak sukaan pada wajahnya.
''Apakah, kau akan tetap berdiri disana, lihatlah matamu hampir keluar dari rongganya, sungguh sangat mengecewakan, sikap seorang guru besar dari negri Zing satu ini.'' Ucap Murongyu kasar dengan nada menyindir, ia tahu dengan jelas, arti tatapan pria tersebut.
Sebuah tatapan penuh pemujaan, atas kecantikan dan keindahan pada diri Ziaruo.
''Nyonya Yun, bisakah anda kenakan lagi cadar itu, lihatlah bahkan seseorang yang seperti dirinya, bisa segera menjadi buta atas keindahan anda.'' Lanjut kembali Murongyu kepada nyonya Yun.
''Heeeehhh.....( menghela nafas), jangan khawatir, dia tak akan berani untuk memuja wanita ini yang mulia.'' Jawab nyonya Yun pelan.
Mendengar hal tersebut, Murongyu mengerutkan keningnya.
''Karena dia telah berucap janji, tidak akan melakukan hal itu, dan tidak akan pernah memuja wanita ini. Bukahkah demikian guru besar Mengshuo yang terhormat.'' Lanjut Nyonya Yun, dengan nada tenang, serta kembali menikmati tehnya.
''Huh...benarkah ada hal seperti itu?, hahaha...bagus...itu bagus sekali.'' Jawab Murongyu dengan suara tawa disela sela ucapannya.
__ADS_1
Sementara itu bagi Mengshuo, ketenangan Nyonya Yun, ibarat sebuah pis*u tajam men*suk tepat diulu hatinya.
Bahkan, sebelum ia melihat wajah cantik itu, didalam hati Mengshuo telah tumbuh kekaguman, serta ucapan terimakasih yang besar kepada Nyonya Yun.
Namun, karena rasa egoisnya yang tinggi, ia enggan mengakui perasaannya tersebut, dan sekarang ia sendirilah, yang akhirnya terbentur dinding kokoh, akibat arogansi dan keegoisannya.
''Dewa.... lihatlah, aku Mengshuo, yang dikenal bijak dan jenius sejak kecil, bahkan semua orang mengatakan, bahwa mataku ini dapat menilai orang hanya dengan sekilas melihat saja, ternyata dapat salah mengenali permata dan membuangnya.'' Ucap Mengshuo dalam hati, penuh dengan penyesalan, serta meruntuki kebodohan dirinya.
Pria tersebut memejamkan matanya, dan menyandarkan tubuh tingginya, pada dinding ruangan, ia mengingat kembali setiap ucapan kasar, yang ia lontarkan kepada Nyonya Yun, beberapa bulan yang lalu.
*''Bahkan, jika anda tak meng*nakan apapun, saya tidak akan pernah berminat.''
''Saya berani bersumpah, bahwa secantik apapun anda, saya Mengshuo tidak akan pernah menaruh minat, bahkan saya akan menusuk jantung saya sendiri, jika hal itu terjadi.''' *B*ayangan ingatan guru besar Mengshuo saat ia menghina, dan berucap sumpah tentang keyakinan hatinya yang salah.*
Melihat Mengshuo memejamkan matanya, dan merapatkan tubuhnya pada dinding ruangan, nyonya Yun segera mendekat.
''Jika anda masih belum memiliki tenaga, mengapa anda harus, keluar dari ruangan?.'' Ujar Nyonya Yun dengan lembut, dan mengulurkan tangannya hendak membantu Mengshuo berdiri, agar pria tersebut bisa berjalan kembali kebilik kamar.
Namun, tiba tiba saja pangeran Murongyu menyela diantara mereka.
''Biarkan aku saja, yang membantunya nyonya Yun, tubuh anda tidak akan kuat, menopang tubuh Tuan besar Mengshuo yang gagah ini.'' Sindir Murongyu, dengan lirikan tajam kearah pria yang dinobatkan, sebagai guru besar di kekaisaran Zing tersebut.
''Baiklah, lakukan saja sesuai keinginan anda, saya akan menyiapkan obat untuk tuan Meng.'' jawab Ziaruo dengan senyum lembut, tersungging pada bibirnya, sebelum meninggalkan ruangan itu, untuk mengambil obat.
Pangeran Murongyu, membantu memapah tubuh Mengshuo kembali kedalam kamar, yang semalam telah digunakan pria tersebut.
''*Jangan harap kau akan memiliki kesempatan, aku tidak akan membiarkannya, bahkan Ayahandapun tidak, apalagi kau yang hanya seorang pria biasa.
Dengan semua rencanaku, yang sebentar lagi akan terwujud, tak akan kubiarkan orang sepertimu merusak segalanya.'' Pikir Murongyu dalam hatinya*.
Aku harus segera menjadikan diriku pantas, sebagai pasangan pemilik tadir phoenix.'' lanjut dalam hati Murongyu, sembari melangkah keluar, dari ruangan yang ditempati oleh Guru besar Mengshuo.
Ia tidak berbicara apapun, kepada pria yang baru saja dipapahnya menuju bilik kamar.
Bagi Murongyu tak ada alasan untuk dirinya beramah tamah dengan pria tersebut, ia hanya tak ingin wanita yang dicintainya, menaruh perhatian, serta membatu Mengshuo berjalan kembali kekamar.
__ADS_1