Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 14 Kepergianmu


__ADS_3

Masih dirumah sakit.


''Katakan padaku!, hixss..apa ...yang terjadi..hixs..?'' Tanya Ranti lagi.


Namun kali ini, dengan suara yang agak keras, serta beberapa kali memukul punggung suaminya sekenanya.


Dengan tangis yang sudah tidak dapat di bendung lagi. Ranti tahu bahwa diamnya sang suami saat ini, adalah sebagai ganti jawaban, yang tidak dapat diucapkan.


Sedangkan pelukan erat Suaminya tersebut, adalah suatu pelipur untuknya, agar lebih kuat dan bersabar.


Atau lebih tepat, sebagai ungkapan saling menguatkan di tengah kedukaan keduanya.


"Biarkan dia tenang, putri kita sekarang sudah tidak merasakan sakit lagi, bisakah kau merelakannya.'' Ucapnya lirih kepada sang istri.


Mendengar hal itu, tiba-tiba tubuh Ranti menjadi lemas, kepalanya terasa berat, bahkan penglihatannya perlahan menjadi gelap, hingga wanita itu terkulai tak sadarkan diri.


"Ranti, bertahanlah sayang, kau harus kuat.'' Pekik Ardi, dengan bulir air mata yang tidak dapat ia bendung lagi.


Dipeluknya erat tubuh yang kini terkulai, seolah tengah tertidur itu.


Adi terduduk sesaat, dengan membawa tubuh sang istri bersama, sebelum akhirnya Ia mengusap kasar air mata yang meleleh di kedua pipi. Karena dia harus kuat.


Di lihatnya lagi, wanita yang kini berada di dalam dekapannya tersebut, dan ia mengetahui seperti apa kondisi Ranti saat ini.


Oleh karena itu, dengan di bantu oleh Rasya, ia membawanya masuk ke salah satu ruang rawat inap di sana.


Dan dengan bantuan Rasya juga, Adi membaringkan tubuh lemah Ranti perlahan, serta meminta seorang perawat untuk menjaganya.


Setelah memastikan, bahwa tidak ada yang menghawatirkan, dan hanya shock serta tertekan.


Adi pergi untuk mengurusi proses pemakaman Rahartika. Bagaimanapun, Ia juga harus mengabari keluarga besar Rahmawan yang lain.


Sebenarnya, kondisinya tak jauh berbeda dengan Ranti.


Ardi juga sedih, serta berduka atas kepergian putri semata wayangnya tersebut.


Akan tetapi, jika ia juga diam meratapi kepergian sang putri, lalu siapa yang akan memberikan support untuk sang istri.


"Om ..izinkan saya membantu menyiapkan proses pemakaman untuk Ika.'' Rasya membuka suara, pelan.


"Mama dan papa sebentar lagi juga akan datang, saya sudah mengabari mereka." Tambahnya lagi, dengan wajah sembab miliknya.


Ardi melihat wajah pemuda tersebut, ia tahu bahwa perasaan Rasya juga hancur saat ini.


Diraihnya kepala pemuda Rasya. Di tempelkan keningnya tepat di kening Rasya.


Menerima perlakuan itu, sejenak ia terkejut, dan dalam hitungan sepersekian detik saja, air mata pemuda itu kembali mengalir.


"Aku kehilangan dia Om...'' Ucap Rasya lirih dengan diselingi isak tangis.


"Aku tahu,... Aku tahu...kita kehilangan dia Sya....'' Jawab Ardi sembari mengusap kepala pemuda tersebut beberapa kali, sebelum menghapus air matanya sendiri.


''Tapi dia tidak akan bahagia, jika melihat kita seperti ini, ayo kita urus sebaik mungkin pemakaman untuknya.'' Lanjut Ardi mencoba menguatkan.


Pria paruh baya itu, menepuk- nepuk lembut leher belakang Rasya, seraya menarik kening yang ia tempelkan.


Sementara Rasya yang masih meneteskan air mata, hanya bisa menganggukkan kepala pelan, sebagai jawaban.


............................


Di kediaman Rahmawan.


Hanya selang beberapa saat saja, hampir semua keluarga Rahmawan sudah berkumpul.


Baik teman dekat keluarga, tetangga, saudara, bahkan teman-teman Rahartika pun banyak yang hadir.


Hal ini dikarenakan selain pengaruh keluarga Rahmawan semasa hidupnya, sosok Rahartika juga di kenal baik dan ramah.


Oleh karena hal tersebut, banyak orang yang merasa sedih, serta kehilangan atas kepergian dirinya.

__ADS_1


¤flash back off¤


Seorang pemuda yang baru keluar dari bandara beberapa jam yang lalu, kini tengah bersiap untuk menuju suatu tempat yang sangat ia ingin kunjungi.


Maklum saja ini adalah tahun ke-7 nya, dia tidak bertemu dengan seseorang yang sangat ia rindukan. Sosok spesial yang berarti untuk dirinya.


Sebenarnya, ia sudah di izinkan kembali beberapa minggu yang lalu.


Namun, karena kondisi sang kakek yang tiba-tiba saja jatuh sakit, rencana itu di undur dari jadwal.


"Ayah, ibu,Tika, kalian pasti akan terkejut.'' Ucapnya dengan senyum kebahagiaan.


Namun, ketika ia tiba di gerbang rumah yang di tuju, pikirannya berubah kalut hatinya berdegup kencang.


"Ada apa ini? siapa yang meninggal ?.'' Gumam dalam pikiran.


Dengan cepat, ia parkir Moge miliknya, di samping dalam pagar rumah.


Dengan langkah cepat, bahkan ia tampak seolah berlari-lari kecil.


Dengan perasaan takut serta kebingungan, pemuda yang tak lain adalah Dion tersebut, menyeruak diantara para tamu yang belum pulang setelah acara pemakaman.


Karena, kebanyakan dari mereka adalah keluarga besar Rahmawan, atau keluarga sahabat-sahabat Adi.


Mereka masih ingin tinggal untuk memberi support, atau membantu keluarga tersebut untuk menyambut, serta menemui para tamu yang datang melayat.


Maklum saja kondisi Ranti yang lemah, tidak mungkin untuk menyapa ataupun menemui tamu.


Bahkan, ia hanya berdiam diri di kamar dan ditemani oleh sepupu serta keponakan-keponakanya.


Mata Dion menatap melihat sekeliling. Ia pemuda dengan nama lengkap Giodion Atmadja, yang baru datang ke kota B beberapa jam yang lalu.


Setelah mandi dan berganti pakaian di rumah lamanya, ia langsung bergegas datang ke keluarga Rahmawan.


Dion mencari seseorang yang ia kenal, karena semua orang yang di sana tampak asing baginya.


"Permisi, mohon maaf menyela, ini....Disini ada apa ya?, mengapa di depan terdapat tanda berbelasungkawa, siapa yang meninggal?.'' Tanyanya dengan nada yang gugup.


Rasya berharap, bukan salah satu dari ke tiga orang yang ia kenal di rumah itu.


Jujur saat itu, ia takut mendengar jawaban dari pria yang berdiri di depannya.


Namun sebelum pria yang di tanya menjawab, tiba-tiba ada suara memanggil namanya, dan ia sangat mengenal betul suara tersebut.


"Dion ...kaukah itu?.'' Panggil Ardi, kepada seorang pemuda yang tampak kebingungan, dengan suara serak dan terasa berat.


Mendengar panggilan itu, pemuda tersebut reflek berbalik, dan berjalan mendekati asal suara.


"Ayah...'' Dion memeluk Ardi erat sejenak.


''Si..siapa yang meninggal?, dimana ibu dan Ika Yah?.''Sambungnya lagi, dengan suara bergetar serta gugup.


''Apakah Ibu yang...'' Pikirnya dalam diam.


Saat ini Dion cemas, atas jawaban yang akan keluar dari mulut pria yang sangat dia hormati, serta sudah dianggapnya sebagai ayah tersebut.


*Giodion di anggap sebagai putra keluarga Rahmawan, setelah ibunya meninggal dunia, ketika berjuang melawan penyakit ganas, yang bersarang didalam tubuhnya.


Meskipun saat itu, keluarga Rahartika sudah bersedia membantu dengan menanggung seluruh biaya pengobatan.


Namun karena terlambat dalam penanganan, akhirnya ibu kandung Dion meninggal, setelah 1 tahun menjalani pengobatan.


Dan selama satu tahun tersebut Giodion tinggal di rumah keluarga Adi, sebagai anggota keluarga mereka, sebelum Kakeknya datang dan menjemput*


Mendengar pentanyaan tersebut, Ardi kembali memeluk erat Dion, dan kali ini mata paruhbayanya kembali berkaca-kaca.


''Ika ..'' Jawab Ardi lirih, serta sempat berhenti sejenak untuk mengontrol emosi di hati.


''Ika sudah tidak bersama kita Dion." Lanjut Ardi dengan pilu.

__ADS_1


"Apa yah!.'' Pekik Dion keras.


Sehingga, tanpa sadar reflek Dion mendorong pria paruh baya tersebut, dengan sedikit keras.


Dan dengan tubuh Ardi yang agak lemah, hal itu membuatmya terdorong ke belakang beberapa langkah.


Bukan hanya itu saja, suara keras Dion sontak saja membuat semua orang menatap kearah keduanya.


"Ayah, berbohongkan?.'' Ucap Dion dengan tatapan tajam.


Pemuda tersebut mencari pembenaran atas ucapan, pria yang ia anggap sebagai ayah di depannya.


"Dion..seandainya semua ini hanya sebuah candaan, ataupun kebohongan, tentu akan sangat membahagiakan." Ucap Ardi, dengan mata yang mulai melelehkan bulir bening.


Mendengar ucapan Ardi serta dengan ekspresi yang tampak hancur, Dion masih enggan untuk percaya, bahkan hati kecil di dalam dadanya jelas menolak keras.


Sejenak ia mematung, sebelum akhirnya ia bergerak memutar tubuh menuju arah tangga ke lantai atas, Dion ingin mencari sosok Ika di kamarnya.


Dengan langkah tergesa-gesa, pemuda itu menapaki anak tangga di sana.


Namun, baru dua anak tangga ia tapaki tubuh Dion terjatuh, akibat kaki panjangnya terantuk anak tangga.


Namun Dion segera bangun, dan kembali berjalan cepat menaiki anak tangga lagi.


Dan.. entah karena ia kurang hati-hati, atau karena anak tangganya yang licin, ia kembali terjatuh.


Kali ini, kepalanya membentur pegangan tangan yang berada disamping pembatas tangga.


Ada luka kecil, serta sedikit darah pada dahinya.


Namun seolah tak merasakan sakit, ia kembali bangkit dan menapaki satu persatu anak tangga dirumah tersebut.


Meski menyaksikan itu semua, setiap orang di bawah sana, membisu dengan tindakannya.


Bahkan, tak ada uluran tangan satupun kepadanya, untuk sekedar bertanya memastikan apakah ia baik-baik saja.


Karena, semua yang melihat sosok di tengah anak tangga menuju lantai atas itu telah memahami, bahwa Dion tak memerlukan bantuan mereka.


Hingga, sesaat kemudian lirih namun pasti. Dari arah anak tangga itu terdengar isak tangisan, dan dari tangisan tersebut, sesekali terucap nama seorang gadis dengan pilu.


''Tiiika..Tiika..Tika.''


Maka, tak ayal semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut kembali menangis. Mereka juga merasakan kepedihan pemuda tersebut.


Tap ..tap ..tap..semakin tinggi ia menapaki anak tangga, langkah kaki Dion terlihat semakin lambat.


Seolah ada beban berat, yang sulit di tanggung oleh tubuh gagahnya.


Dan ketika tubuh tegap gagah itu, masuk kedalam kamar Rahartika.


Barulah terdengar suara tangisan pilu, yang sangat keras.


Seakan pemuda tersebut hanya sendiri disana, serta tak akan ada orang yang melihat atau mendengar.


Dion menangis sejadi-jadinya dan tak menghiraukan apapun. Yang ia tahu dan pedulikan saat ini, hatinya tengah sakit, dan dadanya sesak, serta sulit untuk bernafas.


Air mata Ardi semakin mengucur deras, ia juga memiliki kehancuran yang sama, dengan Dion.


Oleh karena itu, ia membiarkan saja dan memilih masuk ke kamar menemui sang istri, setelah mengusap air mata.


Wajah itu ia usahakan tampil tenang dan setegar mungkin.


"Dion sudah datang ma, dia mengurung diri di kamar Ika." Ucap Ardi, sambil mengusap kepala sang istri lembut.


Mendengar hal itu, sosok Ranti kembali menangis dengan kebungkaman. Ia tidak tertarik, ataupun berniat untuk berkata apapun.


Perlahan Ardi ikut merebahkan tubuh di samping Ranti. Di peluknya tubuh wanita tersebut dari belakang, dengan sesekali mencium pucuk kepalanya.


"Kita pasti bisa melewatinya sayang." Bisik Ardi pelan.

__ADS_1


__ADS_2