
Masih di kediaman Yun.
''Benar, dan karena itulah aku ingin kita bicara.'' Jawab Yongyu datar.
Tanpa mengatakan apapun lagi, keduanya memasuki ruangan yang berada di lantai dasar, tepat di bawah ruang tidur Ziaruo.
Sepanjang perjalanan menuju ruangan, mereka berdua hampir tak mengatakan apapun.
Didalam benak masing-masing, kini tengah bergulat sebuah pemikiran yang mencetak kecemasan, pada wajah keduanya.
Hingga, ketika mereka telah sampai pada ruangan yang dituju.
Jing mendudukan tubuhnya, pada sebuah kursi disana.
Ia tidak menunggu Yongyu duduk, untuk memulai percakapan itu.
''Dia sedang tidur sekarang.'' Ucap pria itu pelan, sebuah ucapan yang merujuk tentang Permaisurinya, mengawali perbincangan diantara keduanya.
''Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu, entah kau sudah tahu atau belum mengenai hal ini.'' Lanjut Jing lagi.
Mendengar ucapan sang kaisar kakaknya, Yongyu menajamkan pendengaran.
Pemuda itu, tak ingin melewatkan sesuatu mengenai sang adik.
''Tubuhnya, memiliki ikatan dengan pria Murong, apakah anda tahu?.'' Jing memulai pembicaraan tentang Ziaruo.
''Dia pernah mengatakan, bahwa tubuhnya yang sekarang, bukanlah tubuh aslinya, melainkan tubuh buatan dari pria itu.''
Tampak jelas, ketenangan dalam penyampaian tersebut.
Namun, dalam setiap penggalan kalimatnya Yongyu memahami, sebuah kesedihan serta ketidak berdayaan sang kaisar.
Akan tetapi, tidak serta-merta Ia harus menerima cerita yang di sampaikan.
Mata Yongyu membulat, dengan suara yang penuh keragu-raguan ia bertanya. ''Apa maksud anda?, apakah itu semua Ziaruo sendiri yang mengatakan?.''
Tanya pemuda itu gusar, dengan apa yang ia dengar barusan.
''Dia memang bukan wanita seperti pada umumnya, namun apakah itu berarti bahwa cerita anda tidak terlalu aneh?.'' Sahut Yongyu dengan nada agak tinggi.
Sungguh, Ia tak dapat mempercayai apa yang di ucapkan oleh pria di depannya tersebut.
Akan tetapi, jauh di lubuk hati Yongyu menyadari. Tak ada yang tak mungkin, dari kisah Ziaruo adiknya.
''Tapi.... Dia sendiri yang mengatakannya.'' Sambung Jing lagi.
Kaisar itu, berusaha mengatakan apapun, yang ia ketahui kepada sang ipar.
''Apa anda pikir aku akan membiarkan dia merawatnya(Murongxu), jika bukan karena hal itu?.'' Lanjutnya kembali.
Yongyu merasa lemas, mendengar jawaban tersebut.
Ia mendudukan tubuhnya kasar.
Dan sejenak ruangan menjadi senyap.
Setelah sesaat kemudian, dengan suara lirihnya, Yongyu kembali berkata. ''Mengapa kalian masih saja menyakitinya, mengapa?.''
Wajah Yongyu berubah sendu, ia jelas dengan pemikirannya sekarang.
Pikirannya mulai mengingat deretan kisah, yang telah ia lihat di dalam cermin air bulan milik Ziaruo.
Tentang sepasang suami istri, reinkarnasi dari Ziayun dan Haoyan(Sebagai Ziaruo dan Murongxu), yang di kirim kedunia manusia, akibat keegoisan sang suami.
"Jadi benar, aku adalah pria itu?, aku adalah tetap diriku, seseorang yang selalu menjagamu, dengan alasan sebuah persaudaraan(Giodion atmajda).'' Ucap dalam diam Yongyu.
Pikiran pemuda tersebut, mengingat tentang lukanya, atas kehilangan yang ia alami di kehidupan sebelum ini.
Sebuah kehilangan atas diri Rahartika, yang tak dapat ia sambuhkan, bahkan dengan kehadiran wanita lain disisinya.
Hingga tanpa sadar, ia mengeratkan genggaman tangannya kuat-kuat.
__ADS_1
Yongyu ingin meredakan perasaan sakit, yang tiba-tiba saja ia rasakan kembali, hanya dengan mengingat hal tersebut.
Sementara itu, mendengar ucapan dari pria di depannya, Jing mengernyitkan kening.
''Apa maksud dari ucapan anda?, kapan aku menyakitinya?.'' Sahut jing dengan suara agak tinggi juga.
Karena baginya, sejak awal mereka bertemu hingga sekarang, ia merasa tak pernah menyakiti wanita tersebut.
Bahkan, justru dirinyalah sering memendam kekecewaan, karena penolakan Ziaruo.
Dan jelas saja, Jing merasa bahwa ucapan itu, adalah tuduhan tak berdasar untuknya.
Kekesalan ketika sang kakak ipar, menuduhnya sebagai penyebab kejadian yang terjadi kepada Ziaruo, kembali mengusiknya.
''Apakah anda begitu membenci saya?.'' Tanya Jing dengan sorot mata tajam.
Ia merasa tidak terima jika harus di tuduh, sebagai penyebab penderitaan, atas setiap yang terjadi kepada sang istri.
Jing juga bingung, apa yang telah ia lakukan, sehingga membuat pria itu(Yongyu) sangat membencinya.
Akan tetapi, ia juga ingat betul ucapan sang istri, bahwa pria di depannya sekarang, yang menyarankan, serta memberikan dukungan kepada sang adik Ziaruo, untuk menikah dengan dirinya.
Jing kembali bingung dengan sang ipar.
Mendengar pertanyaan dari Jing, Yongyu membalas tatapan mata jing tak kalah tajam, sembari berkata. ''Kau benar, aku sangat tidak menyukaimu.''
Yongyu mengatakan kejujuran, yang ia rasakan sekarang.
Karena pada kenyataannya, ia memang membenci pria di depannya tersebut saat ini.
Pemuda Yong, juga menyesali keputusan, menyerahkan Ziaruo ditangan pria, yang pada dasarnya adalah saudara seibunya tersebut.
Sesungguhnya, hati Yongyu telah memaafkan segala yang terjadi dimasa lalu.
Bahkan, ia merelakan sang adik untuk menikah dengannya.
Akan tetapi, ketika ia menyaksikan kilasan kilasan kenangan di dalam cermin, ia mulai berpikir keputusannya adalah salah.
Dari setiap kenangan yang ia lihat, kekecewaan serta penderitaan Ziaruo adalah kesalahan mereka (Murongyu dan Zhanglei).
''Ya...anda adalah salah satu dari mereka yang melukainya.'' Sahut Yongyu dengan tatapan tajamnya.
''Aku seharusnya tidak mendorongnya menikah dengan anda.'' Yongyu.
''Semuanya adalah kesalahanku...ia semua karena kebodohanku, membiarkannya menikah dengan anda.'' Sambung pemuda itu lagi.
Tampak jelas sebuah kemarahan, pada setiap perkataan yang terlontar, dari bibir pria tersebut.
Sementara mendengar kekasaran itu, Jing juga menjadi ikut kesal.
Ia berdiri dari duduknya, dan berkata. ''Apa maksudmu huh?, mengapa kau menyalahkanku?, apa kau kira aku mampu melakukan hal buruk kepadanya?.''
''Anda...ya..anda adalah dia, baik sebagai Jing, ataupun Zhanglei, kalian tetaplah sumber penderitaan baginya.'' Ucap Yongyu tak mau kalah.
Pemuda itu, semakin mengeraskan suara.
Bahkan, ia juga berdiri dari duduknya, dan memberikan pandangan penuh kebencian yang besar kepada Jing.
Sementara, mendengar nama Zhanglei di sebut oleh Yonyu, kaiasar jing terperanjat, serta membulatkan matanya.
Seolah sebuah guntur besar, menggelegar, tepat di atas kepala.
Dengan suara bergetar, ia kembali bertanya. ''Bagaimana Anda mengetahui nama itu?.''
''Bagaimana nama dalam mimpi mimpiku, dia bisa mengetahuinya?.'' Lanjut dalam pikiran Jing.
Mendengar perkataan kaisar yang begitu mengenal nama Zhanglei, Yongyu mengeratkan rahang.
Seakan api kemarahan, semakin membesar di dalam hati.
Tidak hanya itu saja, Yongyu bahkan memupuk subur, duri-duri tajam kebencian disana.
__ADS_1
''Jadi kau sudah tahu?, dan bahkan dengan hal itu, kau masih berani menikahinya huh.'' Pekik Yongyu lagi.
Ia meraih baju depan kaisar Jing, serta menariknya dengan keras.
Sehingga tubuh gagah sang kaisar, juga ikut tertarik mendekat kearahnya.
Sementara itu, mendapat perlakuan yang demikian, Jing masih tak bereaksi.
Kaisar tersebut, masih berkutat pada pemikiran, serta kebingungannya.
''Katakan kepadaku, apakah aku benar-benar pria itu?, pria Zhanglei, yang bertunangan dengan Ziayun?.'' Tanya kaisar Jing dengan suara bergetar.
Serta menampilkan sorot mata, yang tampak tak percaya.
Baginya segalanya saat ini, semakin membingungkan.
Sementara untuk Yongyu, mendapat pertanyaan balik, dan mendengar pria di depannya menyebut nama Zhanglei, membuatnya semakin kesal.
Dengan sekuat tenaga, ia menggempaskan tubuh Jing keatas lantai.
''Ia...kau adalah pria itu...Pria b*doh, yang bahkan tidak dapat berbuat apapun untuk menjaganya.''
Jawab Yongyu lagi, ketika menghempaskan tubuh sang kakak, dengan kasar.
''Yang bisa kau lakukan, hanya menyalahkannya, dan pergi bersembunyi.'' Lanjut pria itu lagi.
Jing mendengar setiap ucapan dengan seksama, ia tidak bergegas berdiri, setelah apa yang di lakukan oleh Yongyu kepadanya.
Jikapun Yongyu hebat dalam ilmu bela diri, dia juga tak kalah hebat darinya.
Akan tetapi, demi sebuah kepastian atas cerita yang tengah ia pikirkan. Jing hanya diam, ia tidak membalas tindakan kekurang ajaran tersebut.
Bahkan, ia menghentikan prajurit bayangan, yang hendak datang membantunya dengan isyarat mata.
''Katakan...katakan dengan jelas, dia..Ziaruo adalah Ziayun, dan aku adalah Zhanglei...Apakah semua itu benar?.''
Jing perlahan bangkit, dari posisi terduduk diatas lantai ruangan.
Dengan tatapan bingung, serta penuh harapan kearah Yongyu, Ia kembali bertanya. ''Apakah benar bahwa Murongxu adalah Haoyan?, katakan kepadaku, cepat katakan.''
Tampak jelas, raut wajah itu kini berubah menjadi jauh lebih menakutkan, dari sebelumnya.
Namun, bagi Yongyu itu bukanlah sesuatu yang membuatnya berpikir ulang, menghentikan niatnya untuk memberikan pukulan kepada pria tersebut.
Akan tetapi, ketika ia hendak melayangkan pukulannya, sebuah suara dari anak tangga, memghentikan gerakan tangan itu.
''Kak... kaukah itu?, mengapa aku mendengar keributan, apa yang terjadi?.'' Tanya seorang wanita, yang tak lain adalah Ziaruo.
Melihat kehadiran sang adik, Yongyu segera bergegas berjalan kearahnya. Meninggalkan pria disana, yang semakin memundurkan tubuh kebelakang, agar tak di ketahui keberadaannya oleh sang istri.
Jing tak ingin Ziaruo melihatnya, dan berpikir bahwa ia tengah berkelahi dengan sang kakak.
Yang pada kenyataannya, kejadian itu memang tengah terjadi.
''Aku adalah Zhanglei?.''
''Dan..dan dia Ziayun...Ziayun-ku.'' Gumam lirih kaisar Jing.
Ia mendudukkan tubuhnya kembali, untuk menenangkan dirinya sejenak, sebelum menemui sang istri.
Jing semakin menyakinkan diri, bahwa dirinyalah yang berhak atas Ziaruo.
''Maka, kami memang seharusnya bersama, dan tak akan kubiarkan dia mengambilmu kembali.'' Jing.
''Baik dia sebagai Haoyan, ataupun Murongxu'' Lanjut Jing lagi.
Ia merasa yakin atas ucapannya.
Bahkan, ia bersumpah akan menghancurkan siapapun, yang akan mengambil wanitanya tersebut.
Akan tetapi, ia tidak memahami bahwa penggalan mimpi-mimpinya belumlah lengkap. Dan ia juga tidak mengetahui, apa yang telah di lakukan oleh Zhanglei, di masa itu selanjutnya.
__ADS_1
''Dia adalah milikku sejak awal, maka selamanya adalah milikku.'' Ucapnya lirih kembali.