Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 198 Permaisuri atau calon pangeran.


__ADS_3

Akan tetapi, yang tidak ia sadari, sesungguhnya Ziaruo telah mengetahui segalanya dengan jelas.


Bahwa Rayyan adalah ayahandanya di kehidupan terdahulu.


......Kembali ke pertempuran......


''Craaasszh...zeblaaar.''


''Apakah jika anda mengatakan hal itu, segalanya membaik?, apakah jika anda menderita kami akan kembali pada awal mula?.''


Sebuah jawaban yang menggema di balik pepohonan hutan, dengan lantang terdengar.


''Anda serakah, bahkan ketika penderitaan ini berlangsung, anda masih tetap serakah.''


''Di balik perkataan anda yang merendah, nyatanya masih berharap untuk pria ini berbaik hati kepada anda, pantaskah itu?.'' Lanjut suara itu lagi.


Mendengar perkataan tersebut, Rayyan diam mematung.


Baginya apapun yang akan ia ucapkan tidak akan berpengaruh.


Pada kenyataannya ia dan sang Permaisuri, adalah sosok yang paling patut di persalahkan.


Namun di sela ketidak berdayaan, serta rasa malu dari Rayyan, Ziaruo mulai membuka suara kembali.


''Namun, paduka juga bukan orang yang tidak bersalah sama sekali, kita tahu itu dengan jelas.''


Ziaru mengatakan itu dengan sedikit keraguan.


Ada kegelisahan dalam penyampaian kalimatnya.


Namun, tetap saja itu meluncur bak busur panah, yang melesatkan bidikan untuk sosok yang kini entah dimana.


Murongxu diam tak bergeming, pikirannya kembali mengingat deretan kisah yang telah lama ia bekukan dalam hati.


''Kau mengingatku Ruoer, kau akhirnya mengingat itu semua.'' Jawab sosok itu dengan perkataan dalam.


Dan bagi siapapun yang mendengar, mereka mampu melihat tak ada kearoganan dari sang sosok misterius, seperti beberapa saat yang lalu.


''Ia wanita ini mengingatnya, bahkan dengan sangat jelas.'' Jawab Ziaruo.


''Kau tahu, aku tidak menyesali tindakanku saat itu, bahkan jika harus terulang, aku tetap akan mengambil jalan yang sama.'' Murongxu.


Ziaruo menghela nafas dalam ketika mendengar perkataan tersebut.


Wanita itu kembali terdiam.


''Ribuan tahun bersama, adalah sepadan, Pria ini sedikitpun tidak menyesal.'' Lanjut Murongxu lagi.


''Dan demi kebersamaan itu, bisakah anda melepaskan mereka kali ini Yang mulia?.'' Ziaruo.


Suara itu tak menyahuti, suasana di sana menjadi hening beberapa saat.


Dan pada akhirnya, hanya sepenggal kalimat yang mengalir tegas dari bibir Murongxu untuk sang Jelmaan.


''Kembalilah....''

__ADS_1


Dan seketika itu juga, Jelmaan Jingyun yang sudah berdiri tegap tak jauh dari tubuh Ziaruo, melesat kearah hutan dan menghilang di kegelapan.


Namun, setelah sepeninggal sang Jelmaan, tubuh Ziaruo tiba-tiba saja lunglai, dan terjatuh tak sadarkan diri.


Pada kenyataannya, sebanyak apa bayangan yang kembali kepadanya, sebanyak itu pula luka yang mereka bawa, akan berpengaruh pada tubuh Ziaruo.


Dan untuk menampilkan kekuatan di hadapan jelmaan disana tadi, ia menggunakan tenaga dalam untuk menstimulasi penglihatan semu bagi sang jelmaan.


Dan tentu saja, itu juga harus menggunakan tenaga dalam miliknya lagi.


Ziaruo merasakan ketegangan dalam hati serta pikiran.


Ia juga menerima titik kekuatan magisnya, yang berbalik menyerang tubuhnya sendiri, dan secara bersamaan harus tetap bisa melindungi bayi dalam kandungannya saat ini.


Kekuatan itu, dan tubuh bayi, serta tubuh buatan miliknya tak dapat lagi menanggung kekuatan immortal yang ia keluarkan.


Namun, di tengah kekacauan serta kemelut di sana, ia harus bertahan.


Ziaruo bahkan harus memperkenalkan sedikit rasa bahaya, kepada sang putra yang masih berupa titik gumpalan di dalam perutnya itu.


Hingga saat sang jelmaan itu pergi, dan ia juga tak lagi merasakan aura keberadaan Murongxu. Barulah ia merasa lega, serta melepas kekuatan yang ia kerahkan.


Dan alhasil, ia terjatuh tak sandarkan diri.


...................................


Dua hari kemudian.


Didalam sebuah ruangan besar yang penuh dengan kemewahan, seorang wanita berbaring lelap diatas ranjang.


Tubuh itu tak bergerak, ataupun menunjukan tanda-tanda akan sadar, meski telah berbaring di sana dalam kurun waktu dua hari ini.


Raut wajah Jing semakin menggelap, ketika ia mendengar perkataan dari empat tabib kekaisaran, yang sejak dua hari ini, berjaga di sana.


''Apa kalian bodoh, jika permaisuri tidak juga bangun, maka kalian juga harus menemaninya.''


Mendengar perkataan yang mengancam keselamatannya berulang kali, para tabib kekaisaran hanya bisa menunduk diam dan bersujud meminta pengampunan.


Mereka hanya berharap permaisuri untuk segera sadar, dan kaisar tidak benar-benar menindak mereka, sesuai dengan apa yang ia ucapkan.


Para tabib juga memaklumi bahwa sekarang, kaisar mereka tengah di liputi rasa takut dan kecemasan.


Namun, mereka juga bukanlah pemilik hati murni.


Para tabib berdoa untuk kesadaran Ziaruo secara tulus, demi untuk menjaga nafas di tubuh sendiri.


Keselamatan dan kesadaran Ziaruo, adalah kelangsungan kehidupan mereka juga.


''Ini semua karena kebodohanmu." Ucapan Yongyu sarkas, selalu terngiang di telinga Jiang jing wei.


Ia kembali kesal, serta marah kepada sang saudara ipar, yang ia anggap sangat mengganggu, serta menambah kekesalannya saat ini.


Dan dengan perasaan amarah yang bercampur rasa takut serta cemas, Jing memerintahkan untuk memenjarakan Yongyu.


Ia tak ingin pria tersebut semakin menambah masalah, karena keinginannya membawa pergi tubuh Ziaruo saat pingsan.

__ADS_1


Bagaimana mungkin, Jing akan mengijinkan pria Yongyu membawa wanita dan putra mereka.


Biarlah dia kakaknya, bukankah dirinya sebagai suami jauh lebih berhak.


Jing memenjarakan Yongyu dalam suatu ruangan di istana dalam, dan menempatkan beberapa penjaga untuk memastikan, pria tersebut tidak akan keluar, serta melakukan kekacauan lagi.


''Yun...'' Panggil Jing lembut.


Bibirnya kering, matanya sembah, dalam dua hari ini Jing tidak menyentuh makanan sama sekali dan hanya minum beberapa teguk saja.


Keadaan Ziaruo yang demikian, seolah memutus rasa lapar serta hausnya saat ini.


Bahkan, luka di tubuh akibat pertempuran kemarin, juga tidak terurus dengan benar.


Ia hanya duduk disana menemani sang permaisuri, dengan kecemasan hati yang kian membesar.


Semakin bertambah waktu yang terlewati, semakin besar ketakutan dihatinya.


''Yun..''


''Yun..''


Entah telah berapa kali, nama itu ia ucapkan.


Beberapa pelayan, kasim, serta tabib yang di sana, juga ikut merasakan kepedihan dari pria penguasa tersebut.


''Yun...kau harus bangun, bagimana kau menjaga tubuhmu dan putra kita?.''


''Yun, bangunlah aku..aku menunggumu.''


Jiang jing wei seolah kehilangan semangat, ketika melihat wajah Ziaruo yang kian memucat.


Ia lebih mencemaskan wanita itu, ketimbang putranya yang yang kini berada di dalam perut Ziaruo.


Namun, untuk merangsang keinginan bertahan wanita itu, Jing berulang kali menyebut sang putra dalam setiap perkataan yang ia ucapkan.


Karena ia tahu dengan benar, bahwa permaisurinya tersebut, jauh lebih menginginkan sang putra ketimbang dirinya sendiri.


Meski Jing telah lama dan sangat menginginkan keturunan atas darah dari penerus keluarganya.


Akan tetapi, keinginan itu tidak lebih besar dari keinginan Ziaruo akan seorang putra.


Dan ketika tabib menyarankan untuk menyelamatkan permaisuri, dengan mengesampingkan keselamatan bayi itu, Jing tak dapat mengambil keputusan.


Baginya keputusan apapun, tetap akan berakibat buruk bagi hubungan mereka kedepannya.


Sekali ia salah mengambil keputusan, selamanya akan kehilangan.


Ia sudah dapat menembak bahwa kemarahan Ziaruo akan jauh lebih menakutkan, jika sampai ia kehilangan putranya tersebut.


Namun Jing juga kehabisan cara, untuk memberikan tindakan penyelamatan untuk wanita itu secara maksimal, jika keberadaan sang bayi di pertahankan.


''Yun...bangunlah, lihat putra kita mungkin sekarang sedang lapar dan haus, apa kau akan tega membiarkannya tersiksa Yun...''


Mata Jing mulai berkaca-kaca, ia tak lagi terlihat dingin ataupun kejam.

__ADS_1


Tak ada lagi keeleganan, serta kesan kearogansiannya saat ini.


''Yang mulia...Tuan muda Yunsang sudah tiba.'' Seru kasim, dari luar pintu ruangan.


__ADS_2