
Mohon maaf typo masih berkeliaran.
''Aku hanya pria biasa, yang memperoleh kepercayaan dari kaisar Jing.
Meskipun nyawaku menghilang hari ini, bukanlah sesuatu yang patut aku pikir, ulang untuk kedua kalinya.
Asalkan tuan yang kuhormati dapat melewati hari ini, bagiku itu semuanya layak.
Maaf, jika aku melakukan kesalahan yang menyinggung anda, tidak ada maksud untuk bertindak kasar, serta tidak sopan.
Semoga dewa membalas kebaikan hati anda, karena telah menyelamatkan kaisar.'' Gumam Wuhan dalam kebisuan.
Wuhan sadar, dan berharap akan ada kesempatan untuknya mengatakan itu semua, kepada wanita yang menjadi penyelamat majikannya tersebut.
Rasa sakit yang kian menyiksa, serta mata yang mulai berkurang dalam fungsinya.
Pelan namun pasti, tubuhnya ringsek tertelungkup dilantai, tepat dibawah ranjang sang majikan.
Di tengah ketidak berdayaan serta rasa sakit, Ia kembali teringat ucapan pria yang di panggil sebagai Yongyu.
"Kau pria b*doh, beraninya lancang kepada nonaku, berdoa saja besok kau masih hidup, agar saat tuanmu itu bangun, dia tidak bersedih, karena kehilangan dirimu."
"Yongyu anda benar, saya memang pria yang b*doh, namun pria ini memiliki kebanggaan atas sebuah kesetiaan.''
"Tuan jika ada kehidupan kedua, bisakah kau mengambilku kembali sebagai pelayanmu?.''
Pikirnya lagi, sebelum akhirnya ia benar-benar tidak sadarkan diri.
Sementara itu, di dalam sebuah ruangan tampak seorang wanita muda, tengah tersenyum dengan raut wajah yang menampilkan kebahagiaan.
Ia merasa senang mendengar pemikiran Wuhan.
Perlahan ia menggerakan tangannya, dan menciptakan sebuah kabut tipis, melesat kearah kamar milik Yongyu, sembari berkata lirih. ''Orang orang seperti anda, adalah sebuah permata yang sebenarnya, dan permata tak harus merasakan kesakitan atas sebuah tempaan sesaat.''
Malam itu, adalah sebuah malam yang penuh, dengan rasa ketakutan beberapa orang.
Wuhan yang merasa takut akan gagal menjaga kaisar Jiangjingwei, ia juga takut tak dapat melihat hari esok.
Namun ketakutannya yang terbesar adalah, tak dapat melihat, dan mendengar lagi sang tuan memanggil namanya.
Yongyu atau Jiang jingyun merasakan ketakutan akan esok pagi, saat kaisar Jing yang tak lain adalah saudaranya, kakaknya, dan sekaligus, orang yang dengan tega memaksanya menelan racun, untuk menjaganya agar tidak berani melawan.
Pria yang dengan kejam, menjadikannya sebagai alat, untuk mengahabisi musuh musuh kekaisaran Jing.
__ADS_1
Yongyu juga takut, tidak dapat mengontrol emosinya. Jujur saja, itu semua membuat ia kesulitan memejamkan mata malam ini.
Setiap 2 bulan sekali Yongyu akan memperoleh obat dari kaisar Jing, namun bukan penawar melainkan racun lain, yang bersifat mengunci racun pertama, agar tidak bereaksi
Kaisar Jiang Jingwei dalam mimpinya, ia merasakan ketakutan yang selama ini ia rasakan.
Yaitu pergi ke dunia lain( meninggal ) tanpa memiliki penerus, meninggalkan kekosongan atas singgahsananya.
Namun, lebih menakutkan lagi baginya, ketika ia melihat keberhasilan, dari orang orang yang menginginkan tahta kekaisaran Zing, sedang tertawa penuh kemenangan, atas tubuh terbujur kaku miliknya(kematiannya).
Akan tetapi, setiap ketakutan ketakutan mereka semua, bukanlah hal penting bagi sang waktu untuk menghentikan langkahnya, ia terus bergulir menyambut fajar pagi.
........................................
Di sebuah kota besar, kota dengan banyak kehidupan, dan banyaknya hiruk pikuk yang memekak telinga, beberapa orang melakukan kegiatan saling tawar dan menawarkan.
Ada candaan, dari beberapa pasang orang yang lalu lalang, ada juga derap kaki kerata kuda.
Tampak pula, seseorang yang tengah memanggil pelayan dengan suara keras, untuk melakukan sebuah pemesanan.
Di dalam sebuah kedai teh menampilkan sebuah gambaran, lukisan hidup yang nyata tanpa kanvas dan pena.
Tamu memesan, pelayan mengantar, menerima, memakan pesanan serta membayarnya, sebuah kesinambungan yang saling melengkapi.
Kekaisaran Xili, tengah berkembang pesat saat itu, Sebagai salah satu bukti keberhasilan pada masa pemerintahan kekaisaran murongxu, semua orang dapat leluasa keluar rumah tanpa perasaan terancam, serta pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Karena banyak sekali kota-kota, yang memperoleh kucuran dana dari kaisar, untuk membantu usaha usaha dibidang bordir serta pembuatan kain dan sulam baju.
Hal ini bukan tanpa suatu alasan, Karena bagi negri Xili, kerajinan tersebut adalah salah satu alat bertukar barang yang sangat diminati oleh kerajaan kerajaan tetangga.
*Kekaisaran Zing ( biji besi ),
Kekaisaran Yao ( mutiara) ,
Kekaisaran ming ( rempah rempah)
Kekaisaran Tang ( kuda )
Kerajaan Bai( gandum) .
Kekaisaran Liang ( garam )*
Sedangkan untuk kerajaan Xili, adalah pengahsil buah buahan, obat obatan, serta kain sutra. Dan tentu saja bordir termasuk di dalamnya.
Harga kain atau baju, dengan hiasan bordir akan miliki nilai jual 2 kali lipat harga dasar. sedangkan untuk kain, akan menjadi berkali kali lipat untuk jenis bordir yang memerlukan teknik khusus, atau sudah terkenal dan banyak di gunakan, oleh kaum bangsawan serta keluarga kekaisaran.
__ADS_1
"Pelayan ...'' Panggil seorang pria, yang baru masuk dan mendudukan tubuhnya, pada sebuah tempat yang kosong.
"Ya tuan muda, anda ingin memesan apa?.'' Tanya pelayan tersebut dengan sopan.
"Bawakan aku roti dan teh.'' ucapnya lagi, menetapkan roti dan teh sebagai pilihan. Karena ia sebentar lagi akan memasuki istana(1jam), ia hanya perlu mencari makanan sebagai pengganjal perut saja, serta meredakan rasa haus di tenggorokannya saat ini.
Tak membutuhkan waktu lama, pesanannya akhirnya datang.
"Ini tuan pesanannya.'' Ucap pelayan tersebut, sambil meletakan 2 potong roti, dan segelas teh hangat.
*Gelas terbuat dari bambu, dan untuk cangkir atau cawan disini masih terbuat dari tanah liat yang melalui proses pembakaran*
''Terimakasih.'' Ucapnya sopan, kepada pria pelayan tersebut.
Digigitnya roti itu dengan perasaan yang menghangat, perasaan yang muncul bukan karena pengaruh dari roti yang masih hangat, akan tetapi karena kerinduan akan kampung halaman, yang sudah hampir 6 bulan ia tinggalkan.
Namun adakalanya, ia akan merasa bosan di sana, ketika melihat banyak intrik, kecurangan, serta plot-plot yang saling menjatuhkan, di dalam lingkungan istana kekaisaran.
Oleh karena hal tersebut, ia sering mengajukan diri pergi ke perbatasan untuk berperang, membantu korban bencana banjir, bencana kekeringan, atau ke tempat tempat yang jauh dengan misi dari istana kerajaan.
Dari sinilah julukan jendral perang ia peroleh, juga rumor-rumor tentang kekejaman, sifat dingin, serta bengis ia peroleh.
Akan tetapi, yang jelas ia tetap menikmati rumor itu dengan santainya.
"Pelayan'' Panggilnya lagi, kepada pria paruh baya tersebut..
''Ia ..tuan muda, apakah ada yang anda perlukan lagi?.'' Tanya pelayan itu sopan.
"Berapa untuk teh dan rotiku?.'' Murongyu.
''25 sen tuan.'' Pelayan.
Mendengar hal itu, Murongyu mengeluarkan 30 sen koin dari kantongya, dan kembali berkata. ''Ambil saja kembaliannya untukmu.'' sebelum melangkah pergi, keluar dari kedai.
Murongyu berjalan, menyusuri keramaian kota Wey sambil menuntun kudanya, ia melihat beberapa penjual pernak pernik disana.
Tepat ketika, ia melihat sebuah ornamen hiasan rambut ( tusuk konde), Murongyu menghentikan langkah, dan menambatkan kudanya tak jauh dari sana.
Matanya menatap lekat, pada sebuah tusuk rambut dari giok, dengan ujung kepala berbentuk merak jantan. ekor yang mengembang, serta untaian mutiara sebagai surai yang menggantung, layaknya sebuah tetesan air mata dari sang merak.
Benda tersebut terlihat begitu cantik menurutnya, ia menunjuk benda tersebut dan bertanya, kepada sang penjaga kios pernak pernik. "Aku ingin membeli yang ini, berapa harganya?,''
"Oh..yang ini tuan, anda pandai memilihnya. Ini adalah benda pasangan, tunggu sebentar saya ambilkan pasanganya.'' Jawab sang penjual, sembari berbalik membuka kotak yang diletakkan pada sebuah meja, di belakang punggungnya.
Setelah beberpa saat, ia kembali berbalik dan menunjukan sebuah giok, dengan ukiran merak betina, dengan lingkar hijau sebagai bagian kedua sayapnya, yang mengepak.
__ADS_1
Melihat kedua benda tersebut, disejajarkan dalam satu kotak dan berdampingan, senyum tergambar dibibir Murongyu, menciptakan suatu pesona ketampanan pada wajah tegasnya.
**Karena setiap keindahan yang kutemukan, akan selalu mewakili ingatan tentang senyumanmu * murongyu*.''