Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 209. Sama sama menderita.


__ADS_3

Ruangan masih sunyi, tanpa percakapan.


Hingga, seluruh isi guci pertama habis di tuang, barulah Jing mulai membuka suara.


''Dia sangat menderita bersamaku.'' Ucapnya pelan.


Dari nada itu, jelas terdengar sebuah ketidak berdayaan.


Bahkan dengan wajah yang datar, Jing tak lagi mampu menyembunyikan tentang kegetiran hati.


Pria tersebut bukan tak ingin berupaya, atau mencoba.


Akan terapi, ia tahu dengan jelas bahwa apapun ketika menyangkut Ziaruo, Jing tentu akan melakukan yang terbaik.


Dan kali ini, segalanya berbeda.


Ziaruo telah sampai pada tahap yang sangat memprihatinkan seperti itu.


Jing menyadari segala keburukan sekarang, adalah pilihan terbaik dari yang paling baik untuk semua.


Dan karena pemahamannya ini, Jing marah kepada wanita itu, dan jauh lebih marah kepada diri sendiri.


Mengapa ia sebagai seorang pria, yang bahkan dengan status, serta kemampuannya melebihi orang lain, tak dapat melakukan apapun untuk wanitanya.


Jing terpuruk dengan kepedihan, serta amarah.


Ia semakin terbebani dengan kemarahan, atas pemahaman dengan keburukan keterbatasannya.


Dalam kehidupannya hingga sekarang, baru kali ini Jing merasa tidak berdaya, dan harus menyerah kalah.


Wuhan mendengar perkataan itu, ketika ia tengah meneguk arak.


Secara reflek, ada sedikit tarikan pada ujung mata Wuhan ketika mendengarnya.


Bahkan, sejenak bibir itu berhenti menyentuh tepian gelas tembikar arak, yang ia angkat.


Namun, entah apa yang di pikirkan oleh pria tersebut, ia hanya diam dan justru menuang kembali arak, serta menghabiskannya dalam satu kali tegukan.


''Gleeek....''


''Claaakkk.''


Suara benturan gelas Wuhan, yang sedikit agak keras di letakkan pada meja.


Tangan kanan Wuhan masih memegang gelas tersebut, dan tangan kirinya mencengkram sedikit kuat guci arak kedua.


Seolah ia tengah ingin menemukan sesuatu, sebagai pelampiasan kondisi hatinya.


''Tapi, Yang mulia juga menderita.'' Ucap Wuhan pelan.


''Anda berdua sama-sama menderita.'' Lanjutnya lagi, masih dengan nada yang sama.


Pria Wuhan menatap kosong guci di tangan kirinya. Ada raut wajah kesedihan sepintas terlihat pada wajah itu, ketika ia mengatakannya.


Dengan rasa kekaguman Wuhan untuk permaisuri Yun, ia tak pernah berharap untuk bisa bersama dengannya.


Ia berharap, hanya kebaikan saja untuk sepasang tuan, yang kini menjadi tempatnya mengabdi.

__ADS_1


Tak ada keinginan sedikitpun untuk berdiri, dan mencari celah di antara keduanya.


Bahkan, Wuhan akan turut berbahagia dengan kebahagiaan, kebersamaan, serta kemuliaan diantara mereka.


Akan tetapi, melihat perjalanan kisah diantara permaisuri Yun dan kaisar Jiang jing wei saat ini, Wuhan tak dapat menghindari kesedihan.


Wanita yang ia anggap memiliki kelebihan dalam kebaikan dari berbagai sisi tersebut, nyatanya tetap saja melalui putaran waktu penderitaan, meski telah bersanding dengan penguasa terkuat di ke empat kekaisaran.


Hatinya memberontak tidak puas. Ia juga kecewa dengan kondisi yang tengah mereka hadapi.


Dan hal itu, serta merta mematahkan pandangan Wuhan, tentang anggapan bahwa orang baik akan selalu menerima kebaikan pula.


Akan tetapi, apa dan siapa dirinya hingga mengijinkan hati kecil miliknya berkeluh kesah.


Dan kepada siapa Wuhan akan protes, atas jalan hidup orang lain.


Meski hanya sekedar memberikan sedikit pembelaan untuk wanita itu dihadapan kaisar Jing, ia tidaklah pantas.


Bagaimana mungkin, ia akan mengajukan protes kepada para dewa?.


Lalu, mengapa harus repot untuk membuka mulut, dan bersuara untuk menyerukan isi hati?.


Wuhan masih jelas menyadari bahwa dirinya hanya kaum rendah, yang kebetulan ikut berjaya di balik nama, serta kemurahan hati Jing.


Wuhan kembali diam.


Terlebih ketika perkataannya tak disahuti oleh Jing.


Ia tenggelam dalam pikiran sendiri yang tak ingin di ketahui oleh orang lain, khususnya pria di hadapannya saat ini.


Wuhan tak habis pikir mengapa kaisar Jing, berpura-pura marah kepada Ziaruo.


Bahkan, menciptakan sebuah kesalahpahaman yang besar diantara mereka?.


Bukankah, seharusnya di sela waktu yang kian menipis, mereka justru harus menikmatinya dengan baik?.


Pikiran Wuhan tidak dapat memahami apapun, tidak juga berani untuk berpendapat.


Ia hanya menemani pria di sana menghabiskan arak, hingga guci terakhir kosong.


Wuhan adalah pria dengan toleransi tinggi terhadap alkohol.


Dan untuk tiga Guci yang dibagi bersama Jing, itu bukanlah suatu yang dapat menjatuhkan ketahanan pria itu.


Namun berbeda untuk Jing. Dengan banyaknya pikiran, ia telah melewatkan sarapan serta jam makan siangnya.


Bahkan, kaisar tersebut juga tidak menyentuh makan malam, yang terhidang di sana.


Dengan kondisi yang demikian, tubuh Jing terkulai di bawah pengaruh arak beras, yang di bawa oleh Wuhan.


Menyaksikan kondisi sang majikan yang demikian, Wuhan membantu tubuh Jing, untuk berjalan dan berbaring diatas ranjang.


Mata tajam Wuhan melembut, ketika menatap wajah tenang Jing, diatas tempat tidur.


Dan dengan tanpa makna apapun, bibir Wuhan berkeluh kesah. ''Mengapa anda harus membuang waktu dengan kekonyolan ini?, dia juga menderita sama seperti anda.''


Wuhan keluar dari sana, dan menutup pintu dengan perlahan, setelah menggumamkan perkataan itu.

__ADS_1


Ia melesat mencari tempat ternyaman bagi dirinya, untuk melemaskan tubuh.


Tentu saja, ia masih akan memilih tempat di sekitar area tempat tinggal sang tuan.


Dengan statusnya sebagai tangan kanan dari sang kaisar, sesungguhnya ia tak harus melakukan hal tersebut.


Namun, kebiasaan untuk menjaga Jing yang telah mendarah daging di tubuhnya, Wuhan memilih menemaninya dari jarak teraman.


.......................


Sementara itu, sepeninggal Wuhan dari ruang kerja kaisar, tubuh diatas ranjang mulai bergerak perlahan.


Sosok gagah itu, memiringkan tubuhnya dan memeluk diri sendiri dengan kedua belah tangan.


Dari ke dua mata air bening mengucur deras, pundak lebar itu juga bergerak berkesinambungan dengan sesenggukan, serta isak tangis yang tertahan.


Jiang jing wei menangis pilu, dalam kesendiriannya.


Hati dinginnya bagi sebagian orang, kini tengah merasakan sakit yang hebat.


Ia tak dapat lagi menahan kepedihan hati, dan tidak dapat membendung air mata, yang tak pernah mengucur, meski terhianati oleh sang ibu.


Jing benar-benar hancur saat ini.


Tubuhnya semakin meringkuk, dengan kedua tangan, yang kian erat pada kedua pundak.


Menyisakan kepiluan yang dalam, serta isak tangis lirih yang mewarnai kesunyian malam, di sudut ruang kerja miliknya.


Wuhan yang kebetulan memilih berpindah berjaga diatas atap, mendengarnya dengan jelas.


Pria tersebut, menepuk dada dua kali dan mendongakkan wajah keatas langit.


Di atas sana, kemegahan tengah terpampang agung. Menyuguhkan keindahan langit malam yang luas, dengan kelap-kelip bintang bertaburan.


Seolah sang dewa tengah menampilkan sisi dik daya, dan menegaskan atas kuasanya, dengan banyaknya kehendak yang tak dapat di pahami serta di cegah oleh siapapun.


Tak ada penyesalan, kecewa, hampa, bahagia, dan derita.


Hanya mengalir, sesuai alur cerita yang telah tertulis dan tak dapat di ganti serta diubah oleh siapa saja.


Tidak juga ada sebuah pengecualian, untuk hati yang tengah hancur, serta penderitaan di bawah kemegahan naungan malam saat ini.


Terus mengalir, dan berjalan seperti apa yang telah tertuang dalam garis masing-masing.


Menjalani, menerima dan berusaha.


Hanya itu saja, yang dapat di lakukan oleh mereka, pemilik garis takdir yang telah di guratkan.


Wuhan hanya bisa diam dan masih menengadah.


Telinga yang terlatih sejak ia masih bocah itu, masih mendengar isak tangis dari bawah atap.


Hatinya bergemuruh, atas banyaknya rasa yang bercampur.


Dengan suara pelan, ia bergumam lirih. ''Masihkah ini belum cukup Dewa?.''


..............................

__ADS_1


__ADS_2