
''Jika ada keajaiban, mungkin malam ini akan menjadi malam indah sepanjang hidupku.'' Ucapnya lirih, dengan menutup kedua matanya.
Murongyu menutup erat kelopak matanya, ketika melihat salah satu pembunuh datang mendekat.
Dengan gerakan cepat, salah satu dari keempat pembunuh, mengayunkan pedang, tepat ke arah lehernya sembari berkata. "Sampaikan salamku untuk raja n*raka.''
"Brugh... brugh....brugh...brugh.''
Terdengar suara sesuatu terjatuh dengan keras.
Murongyu perlahan membuka matanya, ia ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Dan mengapa ia tidak merasakan sakit sama sekali.
Ketika pemuda itu mulai membuka mata, ia terkejut.
Tepat di depannya, 4 orang pembunuh dengan topeng menyeramkan, tersungkur di tanah dengan mata masih dapat berkedip, serta menatap kearahnya.
Murongyu melihat ada sesosok tubuh dengan gaun indah, berdiri tak jauh dari keempat pembunuh yang tersungkur.
Dengan ekspresi yang masih diliputi kebingungan, pemuda itu bertanya. "Si..siapa kau, apa kau yang mengalahkan mereka?.''
Namun, Murongyu kembali menghela nafas panjang. pemuda tersebut, merasa kecewa setelah mencium aroma harum, menyeruak dari tubuh sosok didepannya.
Perasaan lega di dalam hati beberapa saat lalu, tiba tiba kembali sirna.
Murongyu memang sempat merasa senang, dengan bantuan sosok yang tak dikenalnya itu.
Ia berpikir, telah terbebas dari kematian, yang akan di berikan ke-4 orang pembunuh dengan topeng buruk, yang kini tersungkur didepannya.
Akan tetapi, lagi-lagi ia pasrah, dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.
Hatinya merasa kesal, dan bergumam lirih. "Heeh..baiklah...kau bisa langsung membunuhku, jangan memakan tubuhku sedikit demi sedikit, itu menyakitkan.''
Pemuda itu mengira, bahwa sosok gadis di didepannya, adalah jelmaan hewan mitos, penunggu hutan barat.
Sebuah makluk yang dikabarkan, suka memakan manusia hidup-hidup.
Hampir seluruh warga di sekitar hutan barat, mengetahui desas-desus tersebut.
Mereka mempercayai, bahwa heran mitos penunggu hutan barat, dapat menjelma menjadi apapun, atau siapapun.
Namun satu yang pasti, setiap sosok perubahan dari mahkluk tersebut, selalu dengan ciri khas memiliki aroma wewangian, atau berbau dupa dari tubuhnya.
Dan kebetulan sosok yang tak lain, adalah Ziaruo disana saat ini, Secara alami akan mengeluarkan aroma wewangian yang kuat, dari tubuhnya.
Mendengar kepasrahan sang pmuda, Ziaruo tersenyum dan mendekat.
Dalam hati ada sedikit rasa yang menggelitik tak nyaman, atas julukan yang di berikan oleh pemuda tersebut.
Dengan suara yang dibuat nyaring, serta selembut mungkin, Ziaruo berucap. "Baiklah, jika ingin aku langsung memakanmu dan tidak kup*tong-p*tong, kau harus menelan pil ini dulu.''
Mendengar perkataan itu, Murongyu merasa bergidik. Dalam hati ia menegaskan bahwa hari ini, ia akan kembali ke nirwana.
Egonya sebagai pria, tidak membiarkannya melemah. Dengan suara yang dibuat setenang mungkin, ia menjawab. "Untuk apa aku harus memakannya?, bukankah kau tinggal memakanku saja.''
Ziaruo tahu, bahwa racun di tubuh pemuda itu, sudah hampir menyebar hingga ke titik vitalnya.
Dan jika tidak segera di obati, pemuda keras kepala tersebut akan lumpuh, bahkan bisa juga menimui kematian.
Dengan langkah tenang, Ziaruo berjalan maju. Wanita itu berjongkok, memaksa masuk sebuah butiran kecil, kedalam mulut sang pria.
Bahkan ia juga menotok beberapa bagian tubuh Murongyu, sembari berkata. ''Bukankah kau berharap sebuah keajaiban?. Namun, saat aku datang sebagai jawaban. Anda justru menganggapku sebagai ibl*s, sungguh manusia memang aneh.''
__ADS_1
............................
Pangeran ke 2 Murongyu, sedang dalam perjalanan pulang. Setelah berperang di perbatasan, selama Kurang lebih hampir 1tahun.
Pemuda tersebut sengaja pulang lebih dulu, untuk menghemat waktu, karena ia harus menghadiri ulang tahun sang kaisar, Ayahandanya.
Namum, entah siapa orang yang telah mengetahui rencana perjalananya, dan menyiapkan para pembunuh bayaran.
Murongyu juga merasa bahwa nasib sial sedang mengikuti dirinya, sekalinya terlepas dari pembunuh bayaran. Sekarang justru masuk kemulut hewan mistis, pemakan manusia.
"Apa kau akan bermalam disini, atau ikut kepondokku?. Tapi.....jika kau ingin tetap disini juga tidak apa.'' Ucap Wanita itu.
Kau tahu... Aku bukanlah hewan mistis hutan ini, dan mungkin hewan itu, sedang menunggu kepergianku untuk mamakanmu." Lanjut Ziaruo datar serta tenang.
Ia mengehela nafas panjang sejenak, dan bergumam dalam hati. ''Ternyata hanya mirip saja, kau jelas bukan dirinya.''
Mendengar ucapan wanita didepannya Murongyu dengan nada ragu menjawab. "Aku terkena racun pelemah otot, meskipun aku ingin mengikutimu, tetap saja tidak dapat menggerakan tubuhku, dan ......'' Ucapan Murongyu terhenti, ia terkejut dengan kondisi tubuhnya.
Dengan cepat ia bangun dan menggerakan, tangan, kaki serta memastikan, fungsi beberapa anggota tubuh lainnya.
''Seharusnya aku sudah tidak dapat bergerak. Bahkan untuk menoleh, menatap ke arahmu... suaraku ha..ha..ha.. harusnya sudah tidak bisa keluar.''
Tampak jelas kebahagiaan dari ucapan pemuda tersebut.
''Apakah yang kau maksukan kemulutku, adalah penawar racun pelemah otot?.'' Tanyanya lagi dengan gembira.
"Sudah cukup!, bantu aku mengangkat pria itu, dan tinggalkan yang lain!, kita harus segera pergi, aku tidak mau repot gara-gara darahmu." Ucap Ziaruo datar.''
Dengan sedikit menahan rasa sakit yang tersisa, pangeran ke2 Murongyu mengangkat tubuh salah satu dari ke 4 pembunuh.
Entah mengapa, ia menuruti permintaan sang gadis, yang baru beranjak besar tersebut.
Namun, lagi-lagi matanya membelalak. Baru saja ia selesai mengangkat tubuh pria bertopeng, tubuhnya sudah berpindah, berada di dalam sebuah pondok sederhana.
Melihat isi dan ornamen disana, mata pemuda itu membulatkan matanya kembali.
Di dalam ruangan pondok yang tampak sederhana, banyak benda benda yang mungkin akan mengundang decak kagum.
Sebuah cermin dengan pantulan yang jernih, gelas kaca, cangkir teh, serta teko keramik.
Bahkan masih banyak benda benda istimewa lainya, tentu saja versi Murongyu.
Pemuda tersebut, menelisik hampir seluruh sudut ruangan. Hingga sebuah suara wanita, menghentikan aksinya. "Baringkan saja di sembarang tempat, sebentar lagi dia akan terbebas dari totokannya.''
Dan anda bisa duduk disini, luka anda harus segera diobati.'' Lanjut wanita itu lagi.
Tanpa menoleh kearah suara, Murongyu meletakkan tubuh dipunggungnya, kelantai pondok.
Dan berbalik kearah Ziaruo, ia hendak berterimakasih, atas pertolongan yang di berikan.
Di dalam hutan memang dalam keadaan gelap, jadi ia tidak dapat melihat jelas paras gadis itu.
Namun, ketika mereka sudah berada di dalam pondok. Barulah Murongyu dapat melihat jelas wajah gadis tersebut.
Dengan bantuan lentera, yang tergantung di dinding ruangan.
Mata Murongyu membulat, bibirnya terbuka secara reflek.
Dengan pemandangan indah di depannya saat ini, bibir itu tak bisa ia kontrol.
Dengan wajah tanpa bersalah, bibirnya meloloskan sebuah ucapan. "Bagaimana ada wanita secantik ini?, apa kau benar-benar bukan hewan mistik hutan, yang menjilma menjadi sosok ini?.''
__ADS_1
"Braakk!!'' suara sebuah kotak di letakan dengan kasar di atas meja. Bahkan pemuda lainnya yang disana, atau salah satu pembunuh yang dibawa tadi. Ikut terkejut, seraya membulatkan mata.
"Apa kau ingin melihat hewan mistis hutan?.'' Tanya Ziaruo, dengan senyuman tipis yang sangat mempesona.
Namun, entah mengapa di saat yang bersamaan, juga terasa menakutkan untuk Murongyu.
Menyadari telah melakukan kesalahan, Murongyu berkata dengan penyesalan. "Maafkan aku jika sudah menyinggungmu, hanya saja.''
Murongyu terdiam sejenak, ada ragu didalam hatinya, sebelum kembali berkata. ''Aku belum pernah melihat gadis secantik dirimu.''
Mendengar hal tersebut, Ziaruo bergumam lirih. "Dasar ..kalian para manusia sungguh merepotkan, sebentar mengatakan aku jelmaan, beberapa saat kemudian memujiku, sungguh tidak punya prinsip.''
"Kemarilah, aku akan mengobati dan membalut lukamu. ''Sambung wanita itu lagi.
Mendengar hal itu, Murongyu melangkah mendekat, dan duduk didepan Ziaruo.
Dengan tenang, Ziaruo membersihkan luka di lengan Murongyu. Membalurnya dengan obat racikan, sebelum akhirnya ia membalut lengan tersebut, dengan kain putih(perban putih).
Sejenak ia melirik, tubuh pria yang kini berada dilantai seraya berkata. "Duduklah, aku tahu sekarang Anda sudah bisa bergerak, racun pembunuh syaraf (pelemah otot), yang di tanam pada tubuh anda, juga sudah hilang. Jadi jangan lagi melakukan hal hal yang buruk.''
"Te..terimakasih nona.'' Jawab pria di lantai, dengan ragu ragu.
"Anggap saja, dewa membuka jalan baru untuk anda.
Namun, bisa berjalan di jalan itu atau tidak, bergantung diri anda sndiri.'' Lanjut Ziaruo lagi dengan nada tegas.
Ziaruo hampir selesai membalut luka Murongyu, ia berhenti sejenak dan berkata. ''Apakah anda tahu, bahwa saya bisa membaca pikiran orang lain?.''
Ziaruo sengaja mengatakannya, karena ia merasa risih, saat mengetahui Murongyu, tengah berpetualang di dalam dimensi pribadi, bersama gadis yang berwajah sama dengan dirinya.
Mendengar hal itu, sontak saja Murongyu merasa malu, serta kikuk. Seandainya saja tangannya kini sudah selesai di balut, ia akan berlari keluar dan mengubur dirinya dalam dalam.
''Benarkah dia bisa membaca pikiranku?, aaahk...mana mungkin?, dia pasti berbohong.'' Gumamnya dalam hati.
"Benar, dan aku tidak berbohong.'' Sahut Ziaruo lirih.
Mendengar jawaban itu, Murongyu semakin menundukan kepalanya.
''Gila!, itu berarti, dia benar benar mengetahui yang aku pikirkan.'' Ucap Murongyu lagi dalam hatinya.
"Jangan berfikir ...jangan berfikir ..jangan berfikir...'' Lanjut Murongyu dalam pikiranya.
Ia tak ingin gadis itu, mengetahui isi pikiranya yang tengah mengembara.
Bahkan saat beberapa kali kulit mereka bersentuhan.
Ketika tangan gadis itu mengoleskan obat, serta memakaikan kain perban, hatinya berdegub kencang, dan melayang kedalam sebuah ruang imajinasi.
Oleh karena itu, ia terus menundukan kepalanya, sembari terus menggumamkan kata sakti hasil kreasinya sendiri ''Jangan berpikir''
Murongyu berharap, dengan terus memikirkan kata kata itu, pikiranya akan lebih dapat di kontrol.
Mengetahui hal tersebut, Ziaruo tersenyum kearah Murongyu, dan berkata. ''Berfikirlah seperti biasa ...dan aku akan pura pura tidak mengetahuinya, selama itu bukan fikiran nyeleneh dengan menyangkut pautkan saya disana.''
"Sungguh memalukan, mengapa dia harus bisa melihat, dan mengetahui isi fikiranku.
Bahkan aku tadi, sempat berfikir yang tidak pantas kepadanya ..aahhkk...'' ucap pemuda itu dalam hatinya.
Murongyu mengacak acak rambutnya, ketika mengingat tadi ia sempat berfikir, untuk meng*cup kening dan pipi putih milik gadis tersebut.
Bahkan, ia juga berfikir untuk menc* *m b*b*rnya yang seperti buah cerry ranum itu.
__ADS_1
''Kenapa harus memalukan seperti ini, seumur hidup aku Muronyu, tidak pernah semalu ini.'' Gumamnya lirih meruntuki dirinya sendiri.