
''Tuan...apa yang anda lakukan?, bukankah pangeran ke-2 memerintahkan anda melindungi saya?.'' Fengjiu.
Dengan wajah kesal dan kecewa, Fengjiu mengatakan apapun yang ada di benaknya, tanpa berpikir panjang.
Bahkan, nada perkataan dari wanita itu, dapat di bilang cukup tinggi.
Sehingga, semua orang disana mendengarnya dengan baik.
Ziaruo, Hanrui, dan Xiobai keheranan dengan ucapan dari Fengjiu, yang dengan mudahnya menyebut, serta mengaitkan seseorang yang telah dianggap meninggal.
Tentu saja, tidak untuk Ziaruo yang telah mengetahui, dimana dan siapa sosok Jiang jing yun sebenarnya.
''Pangeran ke-2?.'' Sebut mereka hampir bersamaan.
Ada sedikit kegelisahan di benak Ziaruo, mendengar nama tersebut.
''Bukan tentang pangeran ke-2, Jiang Jing yun?.'' Pikir Ziaruo dalam diamnya.
''Mustahil....'' Ucap Ziaruo lirih.
Wanita itu berdiri dari duduknya, ia menatap kearah pria Pan dan Fengjiu.
''Apakah pangeran Yun dibalik ini semua?.'' Ziaruo.
Ia mengetahui dengan benar, bahwa sang kakak, atau dengan nama lain pangeran Jiang jing yun, yang telah mengubah wajah, serta namanya menjadi sosok Yongyu, tak mungkin untuk bergerak menjatuhkan kekaisaran Zing.
Terlebih lagi, dengan janji yang pernah ia ucapkan dihadapan dirinya, untuk memaafkan Jiang Jing wei yang kini menjadi pendamping hidupnya.
''Lalu siapa pangeran ke-2 yang dimaksud oleh wanita itu?.''
Pikiran Ziaruo mulai menelisik, dan menyeruak, kearah otak Fengjiu.
Bahkan, sebelum wanita mantan selir suaminya tersebut memberikan jawaban, Ziaruo mengernyitkan dahi dan terdiam.
''Kau benar, dia adalah pangeran Yun, adik dari Yang mulia Kaisar.'' Jawab Fengjiu dengan senyum sinis.
''Karena paduka tidak dapat berpikir dengan baik demi dirimu, maka pangeran ke-2 ingin membebaskan rakyat, dan kekaisaran dari iblis jelmaan sepertimu.'' Lanjut Fengjiu lagi.
Ia merasa puas dengan apa Yang Ia katakan.
Bahkan, dalam setiap ucapan itu, ia menekankan sebuah pemikiran baru, bahwa apapun yang terjadi sekarang, segalanya adalah akibat dari ulah Ziaruo.
Jiang Jing yun melakukan pemberontakan kali inipun, karena menghawatirkan kelangsungan, serta kejayaan Zing yang agung ke depannya.
Dengan kata lain, kaisar Jiang jing wei sedang tidak dalam kondisi pemikiran yang baik-baik saja.
Dan penyebabnya, tentu saja adalah mantra jahat, yang di berikan oleh Permaisuri Ziaruo.
Setidaknya, hal itulah yang di percaya serta diyakini oleh Fengjiu sekarang.
Mendengar, serta mendapat tudingan yang demikian, Ziaruo masih tetap tenang.
Baginya itu bukanlah suatu masalah sama sekali.
__ADS_1
Ia masih terfokus, pada apa yang ia lihat dari isi pikiran Fengjiu, tentang sosok Jingyun lain, yang kini berkolusi dengan pemberontak.
Disana ia melihat wajah Jiang Jing yun, sang kakak dalam gambaran wajah lama miliknya, sebelum menjadi paras, serta pribadi Yongyu.
''Apa sekarang kau mengerti?, kaulah yang menyebabkan pertumpahan darah kali ini.'' Sambung Fengjiu lagi.
''Tutup mulutmu!.''
Sebuah suara bariton, terdengar dari balik punggung wanita Fengjiu.
Ucapan itu memang tidak terlalu keras, namun nadanya yang dalam, serta penuh penekanan, membuat nyali Fengjiu menciut.
Dengan perlahan, wanita itu menunduk dan kembali berkata. ''Saya hanya mengatakan apa yang sebenarnya tuan Pan.''
''Jangan pernah mencoba mengenakan bulu serigala, atau kau yang akan ku umpankan.'' Ucap Pan.
''Anda sungguh lucu.'' Sahut Ziaruo, ketika melihat interaksi di antara kedua orang tersebut.
Ziaruo juga menoleh sejenak, untuk melihat Hanrui dan Xiobai, yang telah mampu melumpuhkan 4 orang diantara mereka.
Xiobai tersenyum, ketika tatapannya beradu dengan mata Ziaruo.
Dan setelah menyelesaikan pertarungan dengan penyerang, Xiobai bergegas mendekat kearah sang majikan.
Meninggalkan Hanrui menangani salah seorang penyerang, yang masih bertahan.
Pria Pan menajamkan mata kearah Xiobai, mengikuti arah pandang Ziaruo.
Melihat keempat pria miliknya terjatuh di tanah, senyuman menyeringai tercetak pada wajah Pan.
Baginya pertempuran ini, tidaklah semembosankan yang ia bayangan.
''Bagus....'' Ucapnya, dengan tatapan dingin, serta menyeramkan.
Ia masih tetap pada posisi di belakang Fengjiu.
Akan tetapi, ketika Hanrui berjalan menghampiri Ziaruo, Pan tiba-tiba saja melepaskan pukulan dengan cepat.
Hanrui dan Xiobai yang tidak dalam kondisi siap, terkejut dan secara spontan menghindar.
Namun, secepat apapun usaha, serta reflek, yang dimiliki keduanya, pada kenyataan tetap saja mereka terjatuh diatas tanah, dan memuntahkan seteguk darah segar dari mulut keduanya.
Dan tak menunggu mereka untuk bangun, Pan telah bersiap melakukan serangan kedua, kearah Hanrui dan Xiobai.
Menyaksikan hal itu, Ziaruo tidak tinggal diam, ia menggerakan tangan untuk menciptakan tabir pelindung, guna menutup tubuh kedua orang penjaganya itu.
''Anda sedang tidak dalam kondisi baik Yang mulia, apakah membantu mereka sebanding dengan mempertaruhkannya?.''
Ziaruo terkejut mendengar ucapan itu.
Dirinya memahami dengan jelas siapa yang dimaksud oleh pria Pan di depannya saat ini.
Putra dalam rahim yang masih belum genap sebulan dirahimnya itu, bisa saja menghilang jika ia terus mengerahkan tenaga dalam miliknya.
__ADS_1
Bagaimana pria itu tahu?, dari mana ia mengetahui?, dan siapa dirinya?.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja, berputar di kepala wanita tersebut.
Pria disana, bahkan mengetahui cara untuk menghindari, serta memblokir, kekuatan Ziaruo yang hendak menembus indra pemikir miliknya.
''Permaisuri tidak perlu banyak berpikir, saya telah mengerti dan memahami kebingungan anda.'' Ucap Pan lagi.
''Bahkan jika anda sedikit menaikan kekuatan, apakah benar-benar tidak berpengaruh kepadanya?.'' Sambung Pan lagi.
Ziaruo mengabaikan perkataan pria Pan, ia berjalan kearah Hanrui dan Xiobai.
''Anda benar.'' Ziaruo.
''Namun, apakah wanita ini akan menjadi takut?, dia adalah putraku, dan tentu saja tak akan dengan mudah kalah, hanya dengan sedikit kesakitan.''
Ziaruo mengatakan hal itu, sekedar untuk memberikan ketenangan tampilan dihadapan musuh.
Dan juga sebagai penghibur diri sendiri, atas kecemasannya saat ini.
Yang terjadi sebenarnya, ia sempat lupa. Bahwa kini tubuh manusia miliknya tersebut, bukan hanya untuknya saja.
Akan tetapi, juga tengah menopang kehidupan lain, dari buah cinta dirinya dan sang suami.
Ziaruo sungguh telah lupa akan hal itu, hatinya menjadi berkecamuk dan merasa bersalah, atas kecerobohan yang baru ia lakukan.
Namun, ketika ia melihat 2 orang penjaga wanita disana, keresahan itu sedikit memudar.
''Bahkan, jikapun ia masih sebuah janin, wanita ini percaya sebagai putra Kaisar pengayom rakyat, dan sebagai putra dari Yun, ia tidak akan memyalahkan ataupun mengeluh terhadap ibundanya, atas sedikit kesakitan untuk menolong orang lain.'' Ziaruo.
Ucapan tidak terduga itu, meluncur datar dari bibir Ziaruo.
Seolah tak pernah ada rasa keibuan, serta keinginan kuat untuk mempertahankan sang buah hati yang masih belum berbentuk itu.
Namun, siapapun pasti dapat melihat dengan jelas, bahwa dibalik semua ucapan tersebut, Permaisuri Yun adalah wanita dengan keibuan yang amat besar.
Bahkan, ia bersedia merawat, dan tidak dapat memalingkan wajah, dari putra orang lain yang tidak di inginkan.
Ziaruo dimata mereka tak akan bisa dengan mudah melepas sebuah kehidupan, meski itu untuk kepentingan miliknya.
Hanrui dan Xiobai menyadari akan hal tersebut, keduanya segera berusaha bangkit, serta mengabaikan rasa sakit di tubuh mereka.
''Yang mulia, lepaskan pelindung ini, kami masih mampu untuk menghabisinya.'' Hanrui.
''Kami hanya tidak mengira bahwa pria Pan, akan menyerang tadi, mohon tarik kembali pelindung ini Yang mulia, kami baik-baik saja.'' Tambah Xiobai.
''Hahahaha...hahaha...hahaha.''
Mendengar perkataan kedua wanita di sana, Pan tertawa dengan keras.
Baginya kedua penjaga wanita tersebut, sungguh tidak dapat mengukur tingginya langit.
''Bagus...'' Ucapnya, dengan seringaian tipis di ujung bibir Pan.
__ADS_1