
Setelah 2 bulan berlalu....
''Bagaimana, apakah anda memerlukan tambahan pelayan nona?.'' tanya tuan muda Jing atau nama lain dari kaisar Jiangjingwei, yang akan menyamar sebagai tuan muda dari keluarga Jing.
''Sepertinya, saya lebih memilih menghindari mata mata anda dan mencari pelayan saya sendiri tuan muda.'' jawab pemilik kedai teh dan penginapan tersebut.
''Mengapa, harus bersusah payah melatih orang baru, sedangkan tenaga terlatih sudah siap nona, apakah anda belum nyaman dengam bantuan saya?.'' tanya tuan muda Jing kembali.
''Anda bisa mengatakan demikian, jika itu membuat anda merasa nyaman.'' jawab pemilik kedai tersebut dengan nada santai, sambil mengecek jumlah pendapatan hari ini, dari kedai teh dan penginapannya.
''Apakah kau sebahagia itu, memperoleh ini semua, bahkan kau tersenyum saat menghitungnya.'' tanyanya lagi, sambil menyentuh pundi pundi pendapat ny.Yun atau Ziaruo, atas penginapan serta kedai tehnya.
''Aku bisa memberimu ratusan kali lipat, dari semuanya ini.'' ucap Jing dalam hatinya.
Namum, ia tahu bahwa bukan hal tersebut yang ingin dimiliki oleh wanita didepannya tersebut, hingga kini Jingwei masih belum mengetahui apa dan siapa gadis tersebut.
'' Apakah, kau tak membutuhkan bantuanku sama sekali, kau boleh memanfaatkanku, lihatlah aku sudah datang kesini.'' ucapnya dengan penuh semangat.
''Melihat hal tersebut, Ziaruo tersenyum dengan lembut kearahnya.
''Baiklah, kebetulan kakakku sedang pergi kehutan barat, maka wanita ini, akan memanfaatkan anda yang mulia.'' ucap Ziaruo dengan nada, yang memancing kecurigaan dari pria tersebut.
''Aku harap anda tidak akan menyesal.'' lanjut Ziaruo kembali, dengan senyum masih melekat dibibirnya.
Melihat hal tersebut, kaisar Jing yang kini berbalut pakaian tuan muda itu, sedikit mengernyitkan dahinya.
''Mengapa aku merasa, ini bukan seperti yang aku pikirkan, tapi baiklah...aku siap, ayo kita lakukan.''ucapnya lagi menyambut pernyataan Ziaruo.
''Tunggu sebentar lagi, sampai persiapannya selesai, dan aku ingin anda mengenakan pakaian ini.'' lanjut Ziaruo lagi sambil menyerahkan sebuah setelan pakaian kepada pria tersebut.
Menerima pakaian itu, kaisar Jing semakin kebingungan, banyak pertanyaan dalam hatinya, akan tetapi keinginannya untuk bersama gadis tersebut, jauh lebih besar dibanding dengan rasa ingin tahunya.
''Permisi nona, persiapanya sudah selesai, apakah anda memerlukan seorang kusir dari penginapan, sepertinya tuan muda Yong, belum kembali.'' ucap sang pelayan, menjelaskan.
''Tidak apa apa, aku sudah memilikinya disini.''jawa Ziaruo dengan nada tenang.
'' Hanya menjadi kusir saja, aku siap?'' pikir, kaisar Jing dalam hatinya, ia beranggapan bahwa Ziaruo akan menjadikannya seorang kusir kali ini.
''Wuhan, kau boleh kembali keistana, aku akan disini malam ini.'' ucap Kaisar Jing kepada penjaga setianya.
''Baik yang mulia.'' jawab Wuhan singkat, sebenarnya ia merasa ragu untuk meninggalkannya disana sendirian.
Namun, senyum dibibir Ziaruo, membuatnya lebih tenang, seolah gadis itu berkata..
__ADS_1
''Jangan khawatir aku akan menjaganya dengan baik.''
'' Baiklah, ayo kita berangkat sekarang, mungkin mereka sekarang sudah menunggu kita,'' ucap Ziaruo, sembari mengangkat tangannya, dan melesatkan sebuah bulatan kecil kearah kereta kudanya.
''Selamat datang rayyan, apakah kau senang bertemu kembali denganku?.'' sapa Ziaruo, kepada kusir keretanya.
Disana seorang pria muda dengan topeng menyeramkan, tengah berdiri didekat kereta, seolah memang sedang menunggu, kedatangan mereka.
''Saya, sangat beruntung, yang mulia memilih saya sebagai kusir anda.'' jawab pria bertopeng tersebut kepada Ziaruo, sembari memberi hormat.
''Jangan lakukan itu, panggil aku Ziaruo, ingat kita sekarang ditempat yang berbeda.'' ucap ziaruo lagi.
''Baiklah ayo kita berangkat sekarang.'' lanjutnya lagi sembari, melangkahkan kakinya menaiki kereta.
Sementara itu, melihat hal tersebut, kaisar Jing mengikuti langkah kaki ny.Yun menaiki kereta.
Akan tetapi, ketika ia hendak mengangkat kakinya untuk masuk kesana, kusir kereta itu menghentikan langkahnya, dengan memegang lengan kirinya.
''Maaf yang mulia kaisar Jing, bisakah anda duduk didepan menemani saya?'' tanya sang kusir, dengan nada sopan serta tenang.
Seolah orang tersebut, sangat yakin dengan ucapannya.
''Jika dia tahu, bahwa aku seorang kaisar, lalu mengapa ia masih memintaku duduk didepan bersamanya?, bukan didalam kereta?, Apakah?'' gumam kaisar Jing dalam hatinya.
Disela pemikiran dan kebingungannya tersebut, kakinya secara alami bergerak menaiki kereta dibagian depan.
Sementara itu, disuatu kota bagian timur kerajaan Zing.
Seorang wanita, dengan kondisi yang memprihatinkan, tengah menangis dan sesekali berteriak, dengan kaki, tangannya yang terikat pada sebuah ranjang.
Seorang pemuda tampak cemas, serta panik melihat kondisi sang ibu, bahkan setelah tabib disana mengatakan, bahwa luka ditubuh sang wanita tidaklah serius.
Namun, entah mengapa pemuda tersebut tetap khawatir.
''Putraku, tolong bilang kepada Ayahandamu, aku hanya ingin minta maaf, semua salah ibunda, tolong bantu ibunda kali ini saja.'' pintanya berulang ulang kali.
Entah sudah keberapa kali bagianya, meminta bantuan sang putra, untuk bisa bertemu denga sang suami, hari ini sudah hampir setengah tahun lamanya, ia memohon untuk hal yang sama.
Namun, selalu mendapat jawaban yang sama pula.
''Ibunda, tenangkan diri anda, Ayahanda masih sibuk, nanti jika sudah ada waktu, saya berjanji akan memohon beliau untuk datang kemari ibunda.''
jawab pangeran Muronghui.
__ADS_1
Dan benar adanya, pangeran mahkota sering meminta waktu, untuk bertemu dengan kaisar Murongxu, disaat waktu luangnya, namun selalu saja ditolak oleh sang Ayah, seolah Ayahnya tersebut, telah mengetahui apa yang hendak di sampaikan putranya itu.
Hingga sampai hari ini, tepat ketika pangeran Muronghui hendak berjalan keluar, dari ruangan sang ibu, untuk kembali kekediamannya, didepan pintu, tampak seorang pria dengan wajah tegas dan wibawanya, tengah berdiri disana.
Tepat dibelakangnya, ada seorang pria lain, pria yang sangat ia kenal pula keberadaannya, yaitu seorang kasim paling ditakuti, oleh hampir seluruh orang yang tinggal diistana dalam (harem).
''Hormat saya Ayahanda, semoga anda selalu panjang umur.'' ucap pangeran Muronghui sambil memberi hormat, ketika melihat sang Ayah disana.
''Bangunlah, ayo temani aku menemui ibumu, bukankah kau selalu ingin menemuiku karena hal ini.'' jawab kaisar Murong datar.
Seolah dari ucapannya ia berkata, bahwa kaisar datang ketempat tersebut, hanya karena dirinya, bukan demi sang ibundanya.
Namun, bagi pangeran Muronghui, apapun alasan sang Ayah, bukanlah hal penting saat ini, asalkan kaisar bersedia menemui sang ibu, ia sudah merasa senang.
Setidaknya dirinya masih berguna untuk mewujudkan keinginan sang ibu.
''Baik Ayahanda, silahkan.'' ucap pangeran Muronghui, memepersilahkan Ayahnya untuk memeimpin jalan menuju kearah ranjang ruangan tersebut.
Sementara itu, Sujin yang melihat kedatangan kaisar Murong menemuinya, ia reflek bergerak dengan cepat, hendak bangun dari ranjangnya.
Namun ia lupa, bahwa saat ini, tangan dan kakinya sedang terikat pada pinggiran ranjang, Sujin kembali menangis, namun kali ini tangisannya tampak memiluka.
Kaisar Murong memerintahkan kasim Di, untuk melepaskan ikatannya.
Dengan sekali gerak, permaisuri yang sudah lengser tersebut, langsung bersimpuh dihadapan kaisar Murongxu serta mencium punggung kaki sang kaisar.
'''Ampuni wanita bod*h ini yang mulia, Ampuni kebod*han hamba.
Bahkan, jika dewa memberikan kesempatan, atas sesuatu yang bukan menjadi milik kita.'' ucapnya pelan dan berheti sejenak
''Akan tetaplah berakhir dengan sesatu hal yang tidak baik.''ucap wanita tetsebut.'' lanjutnya lagi. Dengan isak tangis menyedihkan, serta dengan posisi yang masih bersujud.
Semua orang hanya diam mendengarkan, dengan pemikiran mereka masing masing, sehingga ruangan menjadi hening.
'' Yang mulia kaisar..ampuni kesalahan hamba, kesalahan karena telah mengambil tempatnya.
Tempat permaisuri Ziaruo anda, tempat dari wanita tuan muda Rasya, nona Rahartika.'' (kembali terhenti sejenak ).
Tempat yang seharusnya tidak ada nama Sujin, ataupun Yolan disana.'' lanjut permaisuri yang telah lengser tersebut, disela isak tangisnya yang pilu, penuh penyesalan.
Mendengar perkataan itu, ketiga orang yang disana, serta sepasang mata yang tak jauh dari tempat tersebut, membulatkan matanya.
'' Ka. kau...mengingatnya juga.'' sahut kaisar Murong.
__ADS_1