
Sementara itu.
Di istana kekaisaran Tang, Canzuo yang telah menerima kabar tentang kedatangan dari Ziaruo, menampilkan senyuman berulang-ulang kali.
''Akhirnya kau datang Ruoer''
Canzuo tak dapat menutupi ekspresi kegembiraan hatinya.
Namun, perkataan dari sosok yang baru masuk ruangan, mengendurkan kegembiraan tersebut.
''Apakah anda yakin dia Ziaruo?, dan siapa yang dapat membuktikannya?.''
Biyi berjalan masuk dengan sikap acuhnya.
Ia tidak merasa risih dengan tatapan kurang senang dari canzuo.
Meski demikian, dengan kedekatan mereka, akan jauh lebih aneh baginya, jika ia terpancing amarah hanya karena hal itu.
Dengan langkah yang di buat setenang mungkin, Canzuo berjalan kembali kearah kursi di balik meja kerjanya, sembari berucap. ''Bukankah masih ada Anda?.''
Sebuah perkataan, yang seolah menekakan sebuah prioritas penting untuk Biyi, sebagai orang yang dapat memastikan keabsahan sang permaisuri Yun(Ziaruo).
Canzuo mengatakan itu, dengan tidak mengurangi sisi ketenangannya.
Seakan, ia merasa yakin bahwa, wanita yang datang tersebut memanglah benar Ziaruo.
Dan jikapun itu di sangsikan, Canzuo memiliki caranya sendiri untuk membuktikannya.
Melihat ekspresi dan mendengar perkataan dari pria di depannya, Biyi tersenyum sinis dan menjawab.
''Bodoh.'' Ucapnya sarkas.
''Jika Ruoer semudah itu di ancam dan menuruti manusia seperti kalian, apakah akan menunggu hingga sekarang ia datang?.''
Biyi ingin mengatakan hal itu. Akan tetapi, dengan keangkuhan yang ia miliki. Serta kebodohan canzuo saat sekarang, ia mengurungkan hal tersebut.
''Lalu, apakah nantinya anda mempercayai perkataan dari pria ini?.'' Tanya Biyi, masih dengan nada yang sama.
Sebuah pertanyaan yang sekaligus menjadi jawaban, untuk pertanyaan dari kaisar Canzuo.
Ia tak ingin menambahkan perasaan apapun, pada tampilan wajahnya.
Karena hal itu, temasuk dalam kategori sia-sia baginya untuk di lakukan.
Bagaimanapun ia akan mengatakan sesuatu yang ia ketahui.
Sementara, percaya ataupun tidak kaisar muda tersebut, bukanlah hal yang ingin di capai oleh pikirannya.
Ia hanya harus mengutarakan kebenaran, dan tidak berkhianat kepada canzuo.
Canzuo mempercayainya atau tidak, Biyi tidak peduli.
Canzuo menatap lekat wajah pria penolong di depannya.
Mencoba mencari ekspresi lain, untuk menemukan sesuatu yang tidak pada semestinya.
Akan tetapi, tampilan wajah tersebut masihlah sama, datar tanpa emosi.
Biyi ibarat tubuh tanpa jiwa, dingin, acuh, tak berperasaan dan tanpa emosi.
Canzuo menghela nafas panjang sejenak, ia membalik catatan laporan di atas meja dan kembali bertanya. ''Apakah anda mengenalnya sebelum ini?.''
Sejauh yang ia ketahui, pria Biyi sangat konsisten tentang tentang menjauhi wanita.
Akan tetapi, ketika menyangkut perihal Ziaruo, keyakinannya terhadap pria tersebut sedikit goyah.
Canzuo tak ingin di curangi, terlebih lagi oleh orang terpercayanya.
__ADS_1
Dalam sudut pandang Canzuo, sikap Biyi saat ini seolah ia adalah orang yang telah mengenal Ziaruo, jauh-jauh hari sebelum bergabung dengan dirinya.
Mendengar pertanyaan dari Canzuo, Biyi masih berwajah datar.
Akan tetapi, jika di perhatikan secara seksama mata tajam tersebut, menampilkan sedikit kesenduan yang mendalam.
Tangan kokoh pria Biyi meraih teko, dan menuangkan teh kedalam cangkir, untuk diri sendiri.
''Jika asing kenapa?, dan jika mengenal adakah bedanya?.'' Sahut Biyi pelan.
Tatapan mata itu masih menatap kearah teko yang ia letakkan. Namun pikirannya telah menghilang entah kemana.
Menyaksikan hal itu, Canzuo memahami satu hal dan bergumam dalam diam.
''Anda mengenalnya.''
Canzuo juga menyesap teh, yang di tuang oleh kasim di sampingnya.
Entah apa yang dipikirkan oleh keduanya, dalam kenikmatan sesapan teh tersebut.
Ruangan menjadi hening beberapa saat, hingga sebuah suara derit pintu menarik perhatian mereka.
''Krriiieeeet.''
''Pelayan menghadap, semoga Yang mulia panjang umur dan selalu sejahtera.''
''Salam penasihat kekaisaran.'' Ucap sang penjaga bayangan, penuh hormat.
''Apakah sudah memasuki istana?.'' Tanya Canzuo, dengan nada antusias, serta binar mata yang cerah.
Sementara, Biyi seolah tak ambil pusing dengan kehadiran serta sapa salam penjaga bayangan.
Bahkan, ia enggan menyimak ataupun menanggapi, percakapan keduanya.
Biyi masih dengan santai menikmati teh yang kembali di tungkannya kedalam cangkir.
Bahkan, kaisar muda tersebut secara reflek berdiri dari duduk, dan berjalan lebih mendekati sang penjaga.
''Permaisuri Zing berada di pavilliun Peony Yang mulia.'' Penjaga bayangan.
Mendengar jawaban itu, Canzuo terhenyak sejenak, seraya mengernyitkan dahi.
Ia mengulang perkataan sang penjaga bayangan, tanpa sadar.
''Pavilliun peony?.''
Ada sedikit kejanggalan di dalam hati Canzuo.
Akan tetapi, kegelisahan yang besar segera menyeruak hebat.
''Bagaimana ini?.'' Gumamnya lirih.
Ia berjalan mondar-mandir beberapa kali, sembari menekan pelipisnya.
''Apakah ia tengah mencari selir Gu?.''
Pikiran Canzuo, langsung mengarah ke hubungan diantara keduanya (Ziaruo dan selir Gu).
Bagaimanapun, Ziaruo adalah Janda dari Gutingye saudara dari selir Gu.
''Mungkinkah mereka sedekat itu?, bukankah mereka tidak pernah bertemu?.''
Canzuo semakin gugup.
Baru saat ini, ia menyesali keputusannya yang telah menyingkirkan wanita Gu.
Bidak catur peraknya (wanita Gu), ternyata begitu dekat dengan Ziaruo.
__ADS_1
Jika saja Canzuo tahu tentang kedekatan mereka, ia akan bersedia menerima serta mempertahankan wanita Gu di dalam istananya.
Canzuo terus berkutat dengan pikirannya sendiri.
Ia masih memikirkan skenario penjelasan apa, untuk ke tidak hadiran selir Gu disana.
Sementara tak jauh dari dirinya, Biyi masih tidak memperdulikan akan hal itu.
Pria dengan karisma tembok es itu, kembali menyesap teh terakhir di cangkirnya sebelum melangkah keluar ruangan.
Seolah di sana ia tidak memperdulikan kehadiran siapapun, termasuk kaisar Canzuo.
Biyi datang dan pergi sesuka hatinya.
Tubuh gagah itu dalam sekejap, melesat kearah pavilliun Peony.
Tanpa pemberitahuan ataupun izin dari penghuni ruangan, ia menyeruak masuk dengan paksa.
''Braaaakkk.''
Begitu pintu terbuka, disana didalam ruangan itu seorang wanita, dengan wajah yang sangat familliar menatapnya dengan manik membulat.
''Siapa anda?.'' Tanya wanita Gu, dengan kegugupan yang tak dapat ia sembunyikan.
Sementara sosok yang ditanya, seolah acuh dan berjalan semakin dekat.
''Siapa anda?.'' Tanya wanita Gu lagi.
Namun kali ini, nada suara itu, serta rasa gugup yang berada di hatinya kian tinggi.
''Siapa kau?.'' Tanya balik Biyi.
Pria itu dengan cepat meraih dagu wanita Gu, dan mendongakkan wajahnya dengan kasar.
Mendengar pertanyaan itu, Gu menjadi cemas dan takut.
Akankah penyamarannya terkuak, bahkan sebelum ia bisa bertemu dengan Canzuo yang sangat ia benci.
''Katakan atau kubuat wajahmu tak berkulit.'' Lanjut Biyi lagi.
Suara itu, kekasaran dari tangan kokoh disana, serta kecemasan hati wanita Gu, nyatanya membuatnya semakin iri dengan Ziaruo.
Sungguh ironis, di keempat kekaisaran siapa yang tidak mengenal wanita itu(Ziaruo).
Meski dengan statusnya yang telah menikah, para pria masih menjaga dirinya.
Bahkan, untuk kesamaan wajah saja wanita lain tak di izinkan.
Sedangkan dirinya, yang hanya menginginkan kasih sayang sang suami, tak mampu mencapai.
Wanita Gu merasa sakit, dan kecewa.
Ia bahkan, sempat tertawa sejenak dengan cibiran untuk diri sendiri.
''Wanita ini saudaranya, dan wajah ini juga pemberiannya.'' Jawab Gu, di sela nafas yang kian sulit ia hirup.
Biyi mencekik leher wanita itu dengan kuat.
Setelah mendengar perkataan dari wanita tersebut, ia mulai melonggarkan jari-jemarinya, yang menyambangi leher giok sang wanita.
Namun, sesaat sebelum ia lepaskan, sebuah suara mengejutkan wanita itu lagi.
''Apa yang anda lakukan, cepat lepaskan!.''
Sebuah suara dari sosok yang tengah berjalan cepat, menuju kearah keduanya.
Sosok yang tak lain adalah Canzuo tersebut, dengan cepat meraih tangan Biyi dan reflek menghempaskannya dengan keras.
__ADS_1
''Apa anda baik-baik saja?.'' Tanya Canzuo, dengan suara serta wajah, yang di liputi kecemasan.