
Namun, yang membuat Jing gelisah bukanlah hal itu.
Wanitanya sekarang tengah berdiri berhadapan dengan sang jelmaan, serta memanggil sosok tersebut dengan sebutan yang menggelitik hatinya.
Dengan kata lain, disana seolah Ziaruo sedang berbicara dan berusaha membujuk rival cinta Jing.
''Yun...siapa dia?, dan mengapa kau seolah peduli kepadanya?.'' Jing.
Sementara Jingyun jelmaan masih dingin, dan menatap Ziaruo dengan tatapan tajam.
''Apa Anda akan berhenti ketika dia sudah dihabisi?.'' Ziaruo.
''Kenapa?, apa sekarang kau mulai cemas Ruoer, dan apakah kau lebih mencemaskan dia dibanding putramu?.''
Sebuah jawaban yang seolah terdengar dari tubuh di depannya.
Akan tetapi, pada kenyataan sebenarnya suara menggantung di langit malam, dan tak dapat di prediksi arah sumber suaranya.
Ziaruo sengaja memancing pembicaraan, dengan tujuan mengulur waktu, serta memusatkan pikiran untuk menentukan posisi pria tersebut.
Namun hingga beberapa kali ia lakukan, tetap tak bisa menemukan arah yang tepat.
''Ruoer, sesuai janjiku tangan ini tak akan menyentuh Jing-mu, tapi aku juga tak menjamin keselamatannya karena bahaya dari orang lain.''
Ziaruo menghela nafas, ia tahu apapun yang di ucapkan tak akan mengubah pendirian pria disana.
Murong mengatakan tak akan menyentuh dengan tangannya. Namun, ia menggunakan tangan orang lain untuk membunuh Jiang jing wei.
''Tidak menggerakan anggota tubuh, namun memberi perintah dengan lisan..sungguh hal yang besar di lakukan.'' Ziaruo.
''Dan jika anda menginginkan nyawanya, maka wanita ini juga sekuat tenaga akan melindunginya.''
Ziaruo mengucapkan apa yang ia putuskan dengan nada pelan.
Namun, jelas sekali dari perkataan itu perasaan bercampur aduk antara kecewa, gelisah dan pasrah.
Ziaruo kecewa atas campur tangan dari kaisar Awan saat ini, dimana hal tersebut akan berimbas besar bagi tindakannya saat ini.
Ia juga gelisah tentang apa yang akan terjadi diakhir nanti.
Entah itu tentang perjalanan hidupnya di dunia fana, tentang putranya, tentang hubungannya dengan Murongxu yang semakin banyak kesalahfahaman, dan banyak hal yang ia khawatirkan ketika dirinya di hadapkan pada situasi sekarang.
Namun, yang jelas sebagai seorang istri, dan sebagai Permaisuri dari kekaisaran Zing, Ziaruo harus menyelamatkan sang suami, yang sekaligus kaisar Zing, untuk seluruh rakyat negri yang menyematkan kedudukan ratu untuknya.
Dan sebagai seseorang yang ingin segera menyelesaikan ujiannya di dunia ini, ia pasrah dan harus terus mengikuti alurnya, atas apa yang telah tergaris di telapak tangan serta tubuh mortalnya kini.
Akan tetapi, apa yang ia pikirkan, serta keterbatasan suatu pilihan yang akan diambil Ziaruo, berbanding balik dengan apa yang di pikirkan oleh Murongxu.
Pria tersebut merasa bahwa posisinya telah benar-benar di gantikan, oleh Jiang jing wei.
Dan dengan keegoisan, serta balutan perasaan cemburu yang kuat, Murongxu lupa bahwa tubuh itu dan wanita disana, kini sedang berjalan di jalan panggung takdir, sebagai ujian untuk kasih sayang, serta empat kepedulian, kepercayaan dan rasa sakit diantara mereka.
__ADS_1
Tentu saja lebih mengacu kepadanya (Murongxu), untuk lebih menderita atas kehilangan orang yang di kasihi.
Dan Ziaruo khawatir, bahwa pria Murong akan menuai kegagalan di sini.
''Jika kau bersikeras untuk melindungi, maka aku semakin ingin menghancurkanya Ruoer, dan itu mungkin juga akan berlaku untuk putra di rahimu.''
Perkataan itu, ibarat bilah pisau tajam yang mengoyak hati Ziaruo.
Benarkah segalanya akan kembali keawal putaran waktu hukuman?.
Apakah jika Jing meninggal kali ini, maka waktunya akan diperjanjang kembali?.
Dan bagaimana dengan hatinya yang kini bersemi, dan merajut kasih atas cinta Jing, meski sebagai manusia biasa?.
Apakah ia akan jauh lebih menderita ketika kehilangan Jing di dunia ini?.
Lalu apa makna perjuangannya, mempertahankan sang putra di tengah himpitan waktu yang tak lagi lama, jika ia harus sendirian di dunia tanpa sang ayah(Jing) untuk menjaga?.
Ziaruo tertegun sejenak, ia mendongak keatas langit, dan memejamkan mata beberapa saat.
''Anda selalu menjadi yang paling benar, bahkan setelah kita melalui banyak hal selama ini.''
''Anda masih di tempat yang sama, tak pernah menimbang apapun dari sisi orang lain.''
Ziaruo kembali menampilkan kelembutan pada wajah itu, seolah ia tengah mengingat sesuatu yang indah dalam hidupnya.
''Bahkan jika nanti kita di persatuan kembali, biarlah itu menjadi takdir diakhir.''
Wajah yang tadi tampak lembut, dalam sekejap saja berubah menjadi tegas.
Suara itu memang sangat pelan, dan terkesan lembut.
Namun dari deretan perkataan permaisuri Yun, jelas terasa berat.
Dan ketika Murongxu mendengar ucapan itu, serta merasakan kegigihannya membela Jing, sosok jelmaan di sana, tertawa dengan suara keras.
''Haha..haha..haha..''
''Kau sangat kejam Ruoer...bahkan, tak sedikitpun kau memikirkan perasaanku.'' Murong.
Dari perkataan tersebut, jelas sang pria sangat kecewa dan kembali menyalahfahami maksud dari Ziaruo.
Meski demikian, tak ada yang ingin di ucapkan oleh wanita itu, untuk menyela dan mengklarifikasi.
''Ia..salahkan kaisar ini...salahkan kasih sayang tulusku untukmu, salahkan atas keegoisanku, dan salahkan atas kematiannya nanti kepadaku, aku tidak peduli, dia harus mati.''
Setelah ucapan itu terselesaikan, jelmaan Jingyun dengan cepat melesat kearah Jiang jing wei.
Ia segera mencengkram leher Jiang jing wei dengan kuat.
Dan ketika melihat Ziaruo melesat datang mengikuti arahnya.
__ADS_1
Dengan gerakan tangan cepat pula, jelmaan tersebut membentuk sebuah tabir ke emasan sebagai pelindung untuk tubuh jelmaan dan jing.
Jelmaan Jingyun tidak menghiraukan ucapan dari wanita di luar pelindung, bahkan seolah ia telah tuli dan tidak ambil pusing.
Sementara itu, di dalam tabir pelindung, keringat dingin bercucuran dari kening Jing.
Dengan sekuat tenaga jiang jing wei mencoba melepaskan tekanan itu, namun tetap tidak mampu.
Bahkan, mata Jing kian melebar ketika sang jelamaan menambah kekuatannya.
Nafasnya tersengal-sengal, seakan udara di tenggorokan jing hanya bergerak hingga pangkalnya saja.
''Apa kau takut sekarang?, dan sayangnya sudah barang terlambat untuk menyesal.''
''Seharusnya kau takut, ketika memiliki rencana untuk menikahinya.'' Bentak sang jelmaan.
Mendapat perlakuan yang demikian, Jing tak dapat berbuat apapun.
Ia hanya dapat bertaruh, dengan sesuatu yang telah lama ia pikirkan.
''Kau baj..jingan...breng..sek.. Bahkan kau ju..ga..masih meram..pasnya ..da..riku lagi, se..telah..setelah perpi.. sahan..perpisahan ka..mi..karena..mu dulu.''
Suara Jing wei terbata-bata, ia membagi ruang di sekat pangkal tenggorokan antara bernafas, serta untuk mengeluarkan suaranya.
''Bu..bu..nuh ...bunuh saja..a..ku, dan bi..bi..barkan putra dan Zia..Ziayunku pergi..Ha..ha..oyan.'' Sambung Jing lagi.
Mendengar nama itu di sebut, sosok yang berada dibalik jelmaan yang tak lain, adalah Murongxu kaisar dari negri Awan membulatkan mata.
Ia tak percaya bahwa mahkluk yang ia anggap rendah di tangannya itu, mengenal dirinya di kehidupan terdahulu.
Sebuah kehidupan jauh-jauh hari sebelum terbentukanya negri atas Awan, dalam jutaan tahun lalu, kurun waktu hitungan kaum immortal.
''Kau..siapa yang kau sebutkan?.'' Sang jelmaan mulai melonggarkan tangan di leher Jing.
Menyadari reaksi yang demikian, Jing dengan cepat menghirup udara dalam-dalam.
''Haoyan...Haoyan...Haoyan, pria ba*jing*n buruk yang memisahkan kami.'' Jawab Jing dengan nada suara pelan, sembari memberikan cibiran sinis, serta menekan kuat-kuat rasa takutnya.
.....................
Sementara itu, di luar tabir pelindung, Ziaruo mampu melihat apapun yang terjadi di sana.
Akan tetapi, ia tak dapat mendengar percakapan diantara keduanya.
Wanita tersebut, bahkan dengan kekuatan yang lumayan besar berusaha untuk memecahkan tabir milik Murongxu.
Namun, meskipun ia belum mengerahkan setengah dari kekuatan, tubuh Ziaruo merasakan tekanan pada rahim atasnya.
Dan dengan cepat ia segera menghentikan tindakan tersebut.
Melihat kondisi Jing yang kian melemah akibat cengkraman pada lehernya, Ziaruo melupakan bahwa kekuatannya kini tengah ia pakai untuk mengendalikan ratusan sosok bayangan, untuk menghadapi para jelmaan.
__ADS_1
Oleh karena hal tersebut, tiba-tiba saja Ziaruo memuntahkan seteguk darah segar..