
Ziaruo kembali gelisah.
Permaisuri negri Zing, yang menempati posisi tertinggi di istana kekaisaran, nyatanya tidak bahagia dengan hidupnya.
Ia menemui jalan buntu, dan terbentur tembok batu kokoh yang tinggi, serta panjangnya liku-liku jalan takdir.
Ziaruo menatap senja yang remang dengan keemasan warnanya yang indah.
''Hari ini seperti sebuah kejayaan diatas bumi Zing yang agung.''
Ziaruo bergumam sendiri.
Ia ingin berbincang tentang hari ini, dengan Jing suaminya.
Atau sekedar, untuk berbagi waktu senja indah ini berdua.
Namun, setiap gambaran yang ia inginkan sepertinya akan sulit di penuhi.
Mengingat hubungan keduanya akhir-akhir ini, serta waktu yang menipis, Ziaruo hanya dapat menghela nafas panjang.
Ia tahu dengan jelas, bahwa semua hanya sebuah angan belaka, yang tak akan pernah menjadi nyata.
Senja indah di hatinya akan ada hari ini saja.
Senja yang ia resapi akan segera beralih, untuk menyongsong malam.
Dan hingga esok pagi menjelang, Jing tak pernah datang lagi menemui dirinya.
Ziaruo beranjak dari duduk, dan melangkah menuju pavilliun dengan pohon mahogani besar di depannya.
Mengangkat tangan perlahan, mengisaratkan kepada para pelayan dan penjaga, untuk tidak memberinya salam, serta penghormatan.
Ziaruo melangkah masuk kedalam pavilliun, dan berhenti tepat di depan sebuah ruangan dengan pintu yang terbuka.
''Salam Yang mulia, semoga anda selalu di berikan umur yang panjang.'' Sapa pelayan dalam ruangan tersebut.
Mendengar perkataan sang pelayan, seorang wanita dengan tutup kepala segera berdiri dari duduknya, dan membungkuk.
''Salam Yang mulia, semoga paduka permaisuri panjang umur.''
Wanita bercadar yang tak lain adalah selir Gu tersebut, menunduk dan memberi hormat untuk Ziaruo.
Kedatangannya yang tanpa pemberitahuan, telah mengejutkan mantan selir(selir Gu) dan calon wanita dari kekaisaran Tang (pengganti Ziaruo).
''Kalian tinggalkan kami.'' Lanjut selir Gu, kepada dua pelayan di sampingnya, setelah mempersilahkan Ziaruo untuk duduk, dan menempati kursi yang tadi ia tempati.
Setelah kepergian kedua pelayan, dan pintu ruangan tertutup, wanita Gu juga ikut mendudukan tubuhnya di depan Ziaruo.
''Apakah ada yang bisa wanita ini lakukan?.'' Selir Gu memulai pembicaraan.
''Tidak, tak ada yang penting.'' Jawab Ziaruo lembut.
''Eemmh.'' Selir Gu menganguk pelan.
__ADS_1
''Besok anda akan di berangkatkan pagi-pagi sekali, dan jika tanpa halangan anda akan tiba di sana dalam 6-7 hari mendatang.'' Lanjut Ziaruo lagi.
Wanita itu menjelaskan, apa yang harus di lakukan oleh selir Gu nantinya.
Ia juga berharap, bahwa dengan wajah baru itu, selir Gu akan melupakan kebencian di hati, dan memulai hidup baru di kekaisaran Tang, serta hidup bahagia bersama putra dan kedua orang tuanya.
Sebuah kehidupan serta keinginan sederhana, yang akan sulit untuk ia miliki.
Namun, apa yang dipikirkan oleh selir Gu, sungguh jauh berbeda dari pikiran serta harapan Ziaruo.
Ia justru berpikir, bahwa besok adalah awal baginya, untuk memulai segala rencana pembalasan, kepada kaisar Tang.
Mendengar apa yang di ucapkan oleh permaisuri Yun, selir Gu sedikit kurang merespon.
Hatinya menolak keinginan itu dengan tegas.
Namun ia hanya diam dan mendengarkan, setiap kata hingga Ziaruo selesai.
Entah wanita di hadapannya yang memiliki kebaikan hati, atau berusaha untuk bersikap bijak.
Gu tahu, bahwa perkataan itu memang benar adanya, dan akan baik untuk dilakukan.
Akan tetapi, jika hati dan pikiran telah membenci, lautan api di depan matapun tak dapat menghalangi.
Biarlah terbakar hingga hangus, asalkan ia dapat membawa orang yang di benci melebur bersamanya, segalanya akan terasa sepadan.
Wanita Gu, memiliki kebencian yang besar untuk Canzuo mantan suaminya, sekaligus orang yang akan menjadi suami barunya, 6-7 hari mendatang.
Dan menebak, bahwa wanita ini tak akan menuruti perkataan darinya.
Ia telah berusaha, dan untuk apa yang akan terjadi kedepan, bukan lagi menjadi tanggung jawabnya.
Penyesalan akan datang, ketika kita telah sampai pada titik tak ada jalan kembali.
Dan Ziaruo yakin, wanita ini mungkin akan menyesali segala tindakannya, nanti ketika segalanya telah berakhir dan hancur di tangannya sendiri.
Ziaruo memandang sendu untuk wanita Gu, di depannya.
Dan itu adalah kisah baik buruk karma, di antara selir Gu (pengganti Ziaruo) dan kaisar Canzuo.
Tangannya yang lembut, bergerak meraih tangan Selir Gu, sembari berucap. ''Sudahlah kau beristirahat lebih awal, besok akan jauh lebih melelahkan, dan aku tak bisa mengantar kepergianmu.''
Mendengar perkataan itu, serta menerima perlakuan tulus dari Permaisuri Yun, hati selir Gu menghangat.
Ada sebuah perasaan kehilangan, yang kini mengusik relung hati wanita Gu.
Entah apa dan mengapa, seolah hatinya berkata, bahwa ini adalah kali terakhir ia melihat wanita Yun.
Air mata meleleh dari pipi putih wanita Gu, dengan reflek ia bersujud untuk Ziaruo.
''Terimakasih..terimakasih Permaisuri.'' Ucap Gu tulus.
''Terimakasih kakak ipar.'' Lanjutnya dalam hati.
__ADS_1
Melihat ketulusan hati, dan pengertian darinya, Ziaruo membantu wanita tersebut untuk bangun, dan memeluknya sejenak.
''Lakukan sesuatu sesuai hati nurani, dan jangan menyesal atas pilihan yang telah kau pilih.''
Bisik Ziaruo lirih, sebelum melepas pelukan, dan melangkah keluar menjauh dari pavilliun, yang di tempati oleh wanita Gu.
''Karena penyesalan adalah bagian mendasar dari penderitaan itu sendiri.'' Pikir Ziaruo, di sela langkah kaki meninggalkan pavilliun selir Gu.
Dan ketika Ziaruo sampai di pavilliun miliknya, hari sudah gelap.
Dari kejauhan, ia melihat bayangan seseorang yang sangat ia kenal, berdiri di depan pintu.
Menyaksikan sosok di sana yang hanya diam, dan tak berniat untuk masuk, Ziaruo menghentikan langkah kaki.
Dan ia memilih untuk berdiri pada jarak, yang agak sulit untuk dapat dilihat dengan mudah.
Maklum fsktor pencahayaaan, serta jarak mereka yang lumayan sedikit agak jauh.
Melihat sang tuan menghentikan langkah, kasim yang memimpin jalan ikut berhenti dan mendekat, seraya memanggilnya lirih.
''Yang mulia..''
Mendengar panggilan itu, Ziaruo menoleh kearah sumber suara sejenak, dan kembali beralih menatap arah pavilliunnya.
Mendapat respon yang demikian, kasim itu mengikuti arah pandang sang permaisuri, dan ia mengerti.
Bukan barang sebentar, Ziaruo berhenti dan berdiri di tempatnya.
Dan selama itu pula, sosok yang tak lain adalah Jiang jing wei juga berdiri mematung, di depan pintu pavilliun Ziaruo.
''Apakah penjaga tidak memberi tahu kepadanya, bahwa dirinya tidak sedang berada di dalam ruangan?.'' Gumam Ziaruo dalam pikiran.
Dan apakah selama ini, suaminya tersebut selalu melakukan itu?.
Pikiran Ziaruo kembali merasakan kesedihan.
Raut wajah tenang yang tadi terpasang, kini kembali sendu.
''Pada akhirnya Anda juga akan menderita, dan semua karena wanita ini.'' Ucap Ziaruo lirih.
''Gonggong...kita ketaman sebentar.''
Ziaruo memilih menjauh dari sana, ia tak ingin jing mengetahui bahwa ia melihatnya berdiri, di depan pintu ruangannya.
''Baik Yang mulia permaisuri, pelayan akan memberi penerangan.'' Jawab sang kasim, sebelum akhirnya berbalik, untuk memimpin jalan dengan lentera di tangan.
Dan pada akhirnya, Ziaruo menghabiskan waktu ditaman, hingga hampir 2 kali batang dupa.
Di saat pelayan yang ia utus untuk berjaga, pada tempat semula memberi laporan, bahwa Kaisar telah kembali ke ruang kerjanya.
Barulah Ziaruo meninggalkan taman, dan kembali menuju pavilliun miliknya untuk beristirahat.
''Jing apa yang harus ku lakukan?.'' Bisiknya lirih, untuk diri sendiri.
__ADS_1