
Masih di Nancang.
Penginapan Nancang pagi ini kembali sunyi, setelah keberangkatan rombongan dari kekaisaran Zing.
Tampak seorang pria gagah, tengah menatap kearah jalan besar di depan penginapan.
Ada raut wajah ketenanngan disana, namun ada pula kekecewaan dalam pancaran matanya.
''Heeh...''
Pria yang tak lain adalah Wangde tersebut menghela nafas panjang, sembari menatap kearah rombongan yang semakin mengecil dari pandangannya.
Ada sesuatu yang seolah menghilang dari dalam dirinya. Dengan suara lirih ia bergumam. ''Aku bahkan sudah sangat beruntung, menjadi salah satu orang kepercayaan anda, bagaimana mungkin heeeh.....''
Ucapan Wangde, terasa seakan ada sebuah beban sekaligus rasa syukur yang bergulat dalam hati, atas kedekatannya dengan orang yang ia gumamkan.
Meski ucapan tersebut memiliki arti yang mendalam, akan tetapi wajah itu masih datar ketika mengatakan segalanya. Sementara, mata tajamnya masih menatap lekat kearah yang sama.
Dibalik kekejaman serta kediamannya, ada seseorang yang sangat ia pedulikan.
Dan dibalik sifat pemberontaknya, ada kepatuhan untuk satu orang itu.
Karena bagi Wangde hanya dialah, yang dapat melihat dirinya tanpa pandangan curiga serta merendahkan.
Hanya Ziaruo sajalah yang menganggap pria tersebut, layaknya manusia biasa, tanpa ketakutan untuk seseorang yang telah berbuat banyak keburukan serta dosa.
''Aku selalu merasa, segalanya dalam hidupku adalah sebuah kutukan. Akan tetapi, semua kini berubah ketika bertemu dengan anda.'' Gumamnya lirih, sembari menerawang menatap langit pagi itu, dari teras lantai dua penginapan.
Sementara itu di dalam sebuah kereta.
Seorang pria tengah menatap lekat sebuah kedamaian. Tampilan wajah sang istri yang kini tengah terlelap diatas pangkuannya.
Ziaruo langsung merebahkan tubuhnya, ketika ia masuk kedalam kereta tadi. Wanita itu sengaja melakukan hal tersebut, karena tak ingin mendengar pertanyaan dari Jing suaminya.
Dengan jelas sang permaisuri, mendengar pemikiran dari Kaisar Jing, yang berencana ingin mengorek detil mimpinya semalam.
Dan bagi Jing, mendapati Ziaruo yang demikian, (merebahkan tubuhnya dengan santai dan nyaman), adalah sebuah gambaran kedekatan yang sempurna.
Pria itu menyadari, ada banyak hal hal kecil yang biasa ia hindari dari wanita wanitanya dulu, kini menjadi sangatlah sepesial.
Wajahnya memancarkan rona bahagia yang nyata. Dengan senyuman tipis, ia menatap lekat wajah sang istri, yang kini tengah terlelap di atas pangkuannya.
Jalan kereta yang bergoyang, jalanan yang agak terjal, serta antukan batu pada roda, seolah sebuah ayunan menina bobokan sang Permaisuri, di atas peraduan kasih sang suami, Ziaruo benar benar menuju ke alam ajaib, dunia mimpi tanpa batas.
Dan bukanlah Kaisar Jing namanya, jika ia melewatkan hal-hal yang demikian tentang Ziaruo.
Sesekali pria itu juga membetulkan helaian rambut Ziaruo, yang ikut absen di depan wajahnya. Mengusap lembut kepala sang istri, serta mencium keningnya.
Bahkan, ia juga mengusap pipi putih Ziaruo serta mencubitnya pelan.
Ada sebuah perasaan gemas didalam hati Jing.
__ADS_1
Bahkan ia sempat tanpa sengaja, memberikan tekanan agak keras pada pipi itu, hingga sang empunya bergerak, dan reflek menepis tangannya.
Melihat hal itu, pria tersebut terkekeh kecil, dan berucap lirih. ''Mengapa semakin hari kau semakin menggemaskan?, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjauh darimu Yun...?.''
''Dan mungkin benar, aku adalah Priamu di kehidupan terdahulu?.'' Lanjut Jing, sembari mengusap pipi Ziaruo lembut.
Ia tengah membayangkan percakapannya, dengan sang istri semalam.
*Flash back on.*
Kaisar Jing sesungguhnya merasa ragu, menanyakan hal itu.
Namun, entah mengapa bibirnya seolah tidak merespon perintah dari sang pikiran.
''Bahkan sekarang aku juga cemburu, dengan pria dalam mimpimu Yun, jika bisa... bahkan aku ingin hanya aku saja yang ada didalam mimpimu.'' Gumam dalam hati Jing.
Akan tetapi, tanpa disadari oleh Kaisar Jiang jing wei, ternyata Ziaruo memahami setiap detil pemikirannya.
Wanita itu, menatap lekat kearah Jing dan tersenyum.
Meski senyum itu, seakan penuh dengan sarat makna bagi sang Kaisar.
Pria tersebut, seolah merasa ada ketidak nyamanan disana.
Dengan perlahan ia meringsekan tubuh lebih mendekat kearah Ziaruo.
Sejenak, ada sedikit kecanggungan dari sikap sang istri ketika ia mendekat.
Mendengar pertanyaan itu, Ziaruo terhenyak sesaat, ia merasa bersalah serta tak mengira perasaannya saat ini (kebingungan), menjadi sebuah pemikiran yang aneh bagi sang suami.
Ziaruo kembali menatap wajah Jing, dan berkata. ''Aku hanya tidak memahami, bahkan pria itu memiliki wajah yang sama dengan anda Yang Mulia.''
Ziaruo menunduk sejenak dan terdiam, ada sebuah pemikiran di dalam benaknya.
''Bagi orang orang seperti kami ( Suku bangsa langit), mimpi adalah sebuah gambaran masa depan, atau masa lalu.''
Suara Ziaruo masih terasa berat, serta dalam.
Hingga seolah, ia ikut tengelam dalam suara dan pemikiran tentang mimpinya itu.
Mendengar hal tersebut, Kaisar Jing membulatkan matanya, dan menyahuti ucapan sang istri. ''Eemmm...sepertinya itu adalah masa depan kita Permaisuri.''
Kaisar Jing dengan penuh semangat mengatakannya, ia merasa yakin akan hal tersebut.
Karena berdasarkan yang ia ketahui, bahwa Murongxu adalah masa lalu sang istri.
Sedangkan di dalam mimpi itu, sosok pria yang terlihat adalah dirinya, jadi ia berpikir hal tersebut berarti, sebuah gambaran masa depan mereka.
Seketika hati pria pengusa tersebut menjadi bahagia, kekhawatirannya beberapa saat yang lalu seolah terbayarkan, hanya dengan pemikiran, bahwa dirinya adalah Pria masa depan sang Permaisuri.
Akan tetapi, ia tidak mengetahui bahwa dalam mimpi tersebut, sosok yang mirip dirinya tengah berduka dan dalam kehancuran.
__ADS_1
Bahkan sosok pria disana, hingga mencabut jantung sendiri, serta mengirimkannya kekehidupan yang lain.
Melihat hal itu, Ziaruo menatap sendu Kaisar Jing. Hatinya kembali di penuhi rasa bersalah, dan ingin mengatakan segalanya.
''Tidak...seperti bukan demikian paduka, karena disana ada kolam air kehidupan dari kaum negri Awan.
Sebuah kolam yang telah menghilang, puluhan ribu tahun yang lalu.'' Jawab Ziaruo, sembari menggelengkan kepala pelan.
Ziaruo terdiam sejenak, ada getaran kecil pada tangannya.
Sebuah gerakan pengalih atas perasaan, yang kini tengah menekan dadanya, ia kembali berkata. ''Dan untungya, itu bukanlah masa depan Yang Mulia.''
Wanita itu menatap manik mata sang suami sejanak.
''Di sana...Anda membenci pertemuan kita, dan bahkan karena perasaan itu, anda sampai mengeluarkan jantung serta hati ini dari tempat.....''
Belum sempat Ziaruo menyelesaikan ucapan, Kaisar Jing mendudukan tubuhnya di atas pangkuan, serta memeluknya erat.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, ia memeluk sang Permaisuri, dan berucap lirih. ''Kau jangan khawatir, aku tak akan melakukan kebodohan itu. Lagi pula mengapa aku harus mengeluarkan jantung dimana dirimu berada?, mengapa aku harus mencabut hati tempat kau bertahta?.''
Ia menyadari ada gelisah dan kesedihan dari ucapan sang istri tercintanya, oleh karena itu ia ingin mengakhiri percakapan saat ini.
Ziaruo senang mendengar perkataan tersebut, ada sebuah kekuatan yang kembali membuatnya kembali tenang.
Namun semuanya hanya sekilas, karena ia tahu dengan jelas, segalanya tidaklah semudah itu.
Menyadari hal tersebut, Ziaruo kembali menunduk dan berucap. ''Tapi Yang Mulia....''
''Tidak ada tapi tapian...dan jika benar seperti katamu, bahwa mimpi itu adalah masa lalu, maka...itu berarti satu hal, bahwa dulu mungkin kau telah melakukan kesalahan kepadaku.'' Sahut Jing cepat
Pria itu menagkup kedua pipi Ziaruo, membawa wajah cantik itu tepat kearah wajahnya dan kembali berkata. ''Jadi sekarang kau harus menebusnya, selamanya kau akan tinggal disisiku, serta akan selalu menjadi wanitaku.'' Sahut Jing cepat.
Ziaruo tersenyum mendengar ucapan Jing, dalam ucapan pengharusan tersebut, hatinya merasakan sebuah kesejukan.
Tanpa terasa kedua tangannya meraih leher belakang sang suami, menariknya mendekat kearah wajahnya, dan berkata. ''Bagaimana wanita di bumi ini, tidak jatuh hati kepada anda Yang Mulia?, anda begitu manis dan mengemaskan.''
''Aku tidak membutuhkan mereka mencintaiku, yang kuinginkan hanya kasih sayang darimu Yun...hanya cintamu, bisakah itu terjadi?.'' Ucap Kaisar Jing dengan pelan, bahkan terlalu pelan, hingga terdengar seperti sebuah bisikan saja.
Kaisar Jing menyadari kecerobohannya barusan, ia merasa takut akan jawaban yang akan ia dengar.
Oleh karena itu, ketika melihat Ziaruo hendak berbicara, dengan cepat ia menutup b*bir wanita itu dengan bi*irnya.
''Jing..Emmh...''
Ziaruo tak dapat melakukan apapun, ia hanya menuruti perlakuan lembut sang suami.
''Lup dup....lup dup...lup dup.''
Debaran hati keduanya semakin bergelora, seolah sepasang genderang yang ditabuh bersaut-sautan.
Hingga pada akhirnya, mereka kembali menyatukan jiwa dan raga, dalam balutan kasih sayang, kebahagian, serta menyelami manisnya surga dunia berdua.
__ADS_1
*Flash back off.*