
''Seharusnya sekarang aku bahagia, karena kau sudah bersedia menemuiku, tapi mengapa aku justru seperti orang yang bod*h, gugup dan cemas tanpa alasan?.'' ucap Murong lirih, namun masih jelas terdengar ditelinga Ziaruo.
''Jangan mengatakan apapun lagi, lihatlah anda membuat rasa manisan ini menjadi asam.'' jawab Ziaruo pelan, sambil menatap pria didepannya.
''Apakah anda baik baik saja Yang mulia?, apakah setelah semuanya, anda sudah menyesuaikan diri tinggal disini?.'' tanya Ziaruo kembali.
Namun, kali ini wanita itu menunduk.
''Maafkan aku...''lanjut lirih Ziaruo.
Tampak jelas kedua mata wanita itu berkaca kaca.
Akan tetapi bagi Murongxu, ucapan yang baru saja didengarnya tersebut, ibarat sebuah hantaman keras pada dada bidangnya, pernyataan yang mengingatkan lagi, akan kesalahan yang telah ia perbuat.
Bagi pria itu, Ziaruo tak pernah memiliki kesalahan apapun, hanya dirinya sajalah yang bersalah disini.
Dengan cepat, Murogxu berdiri dan merendahkan tubuh kekarnya dilantai ruangan, serta menggunakan kedua lutut sebagai penyanggahnya.
''Apa ...apa yang kau katakan?, kau tak pernah melakukan kesalahan, aku tidak akan pernah menyalahkanmu, jadi hentikan jangan menangis.'' ucap Murongxu, dengan perasaan yang bercampur aduk, antara kesedihan dan kebingungan.
Wanita itu menatap tepat kearah mata Murong, tampak jelas sebuah kehangatan dan kelembutan hati untuknya disana.
Ziaruo memejamkan matanya dan bergumam dalam hati.
''Ya dewa....sungguh indah dan hebat, engkau mengatur segalanya untukku, bahkan aku harus menyakiti seseorang yang sangat mencintai dan berharga bagiku.''
Ziaruo, ingin berteriak dan menjerit disaat ini juga, akan tetapi ia mengingat segalanya dengan jelas, bahwa sekarang adalah saatnya kepercayaan diantara mereka di buktikan.
Ziaruo mengambil nafas dalam, ia juga kembali memejamkan matanya kembali.
Melihat hal tersebut, Murongxu tahu ada sesuatu yang salah.
''Ada apa?, Apakah ada yang ingin kau sampaikan?.'' tanya Murong, dengan suara yang terlihat agak ragu ragu.
Ia hafal dengan sikap tersebut, sebuah kebiasaan yang dimiliki oleh sang istri tercintanya, ketika hendak memutuskan sesuatu yang dianggap sangat sulit.
''Apakah kau memiliki kesulitan?, katakan kepadaku, jika aku bisa...tidak, apapun itu, meskipun sulit akan aku lakukan semampuku.'' ucap pria itu kembali.
Murongxu meyakinkan bahwa apapun akan ia lakukan untuk Ziaruo, bahkan sebelum ia tahu permasalahan dan situasi yang di hadapi Ziaruo, ia sudah menyanggupi dengan serius.
Sementara tanpa disadarinya, justru ucapan ucapan tulus dari Murongxu, menimbulkan banyak kepedihan dan perasaan bersalah. Perasaan itu seolah mencengkram kuat jantungnya, meremukan hati wanita itu berkeping keping.
''Benarkah?.'' tanya Ziaruo lirih.
__ADS_1
Kali ini, dari mata coklatnya mengalir bulir bulir bening.
''Bahkan anda belum mengetahui apa yang hendak kukatakan, dan kesulitan apa yang sedang saya hadapi, dengan mudah anda menjanjikan bantuan.'' lanjut Ziaruo kembali.
Murongxu tersenyum, saat mendengar ucapan wanita didepannya, perlahan ia memberanikan diri, memegang tangan wanita itu, dan menggengganya lembut.
''Bahkan, aku sudah siap jikapun nyawaku yang kau inginkan, apakah masih ada yang harus aku takuti lagi?.'' jawab pria itu dengan suara penuh kasih sayang.
''Jadi katakan apa yang membuatmu seperti ini?.'' lanjut sang pria kembali.
Mendengar hal itu, bulir bening semakin deras mengalir dari kedua mata wanita cantik tersebut.
''Tidak...aku justru meminta anda hidup dengan baik, dan tidak melakukan hal bodoh selama setahun mendatang, dan jaga diri anda dengan benar, jangan menyakiti diri anda lagi dengan seauatu yang tak seharusnya dilakukan.''' ucap wanita itu, disela isak tangisnya.
Ziaruo menangkup, kedua pipi pria yang kini berada di depannya, banyak yang ingin ia sampaikan.
Akan tetapi, dengan wajah itu, serta ekspresi sendu disana, pikiran berubah menjadi kosong, hanya rasa gundah dan kegetiran yang kini ia rasakan.
''Anda boleh menbenciku, hixs...hixs...bahkan, jika memang ingin mengutukku ...lakukanlah, anda...tak harus menahan apapun mulai sekarang.'' ucap wanita itu dengan isak tangisnya.
Melihat dan mendengar segalanya, Murongxu semakin ke bingungan, dengan perasaan yang tidak tenang ia kembali bertanya.
''Apa maksudmu?, dan mengapa aku harus membenci dan mengutukimu?.''
''Karena...''ucap Ziaruo terpotong.
''Tidak mungkinkan kau akan menghilang?, atau...atau...Apa..kah, kau...Apakah kau...kau akan.....'' ucap Murongxu lagi, namun kali ini ucapannya terpotong, ia membulatkan matanya, saat melihat wanita tercinta didepannya tersebut, mengangguk pelan atas ucapan yang belum ia selesaikan.
Ziaruo mengganguk pelan, dengan lelehan air mata yang semakin deras pada kedua pipinya.
Murongxu diam beberapa saat, ruangan menjadi hening, yang terdengar di dalam kepalanya hanya sebuah dengungan keras saja, seolah ribuan lebah tengah mengisi ruangan kosong pada kepalanya.
Seluruh tubuhnya lemas, dan itu membuatnya luruh dan terduduk dilantai.
''Hahahaha ..hahaha....bagaimana kau mengangguk, bahkan aku belum menyelesaikan kalimatku, apakah kau tahu aku akan mengatakan apa?.'' lanjut Murongxu kembali dengan wajah penuh kegundahan.
Tampak jelas, penyangkalan pada setiap ucapan dan pemikirannya sendiri, bahkan dalam hati dan reflek tubuhnya, menolak bahwa ia tahu tentang apa yang akan diucapkan oleh Ziaruo, sang wanita tercintanya.
''Anda benar...besok setelah senja, kami akan menikah.'' ucap Ziaruo, dengan suara bergetar, ia memaksakan bibirnya mengucapkan sebuah perkataan yang lebih tajam dari sebilah pisau bagi Murong.
Namun, bagaimanapun juga itu harus ia ucapkan dan tak ada jalan untuk kembali atau menarik perkataannya lagi.
Hancur dan hampa perasaan Murongxu mendengar perkataan tersebut, ia diam membisu dan tak mengatakan apapun.
__ADS_1
Bagi dirinya, wanita itu akan selalu menjadi istrinya, meskipun dengan kemarahan atas pernikahannya, meskipun ada kebencian didalam hatinya, ia berfikir selama wanita itu masih sendiri, akan selalu ada jalan untuk mereka kembali bersama.
Ia memutuskan turun tahta lebih awal, dan fokus untuk mencari dan berusaha mendapatkan kembali hati Ziaruo.
Jikapun, mereka tidak ditakdirkan untuk bersama, ia berencana akan selalu tinggal berdekatan dengan Ziaruo, meskipun hanya sebagai tetanga, sebagai saudara ataupun sebagai penjaganya saja, sambil menunggu waktunya berakhir di dunia ini.
*Menua bersama, saling menjaga meskipun tanpa ikatan sebagai pasangan.*
Akan tetapi, dengan ucapan yang ia dengar barusan, harapannya hancur, hatinya seolah olah tercabik cabik, ia merasa bahwa kematian akan jauh lebih baik baginya saat ini.
Ruangan hening.....
Mereka berdua hanya berdiam disana, Ziaruo sudah mampu mengontrol emosinya beberapa saat yang lalu, namun pria itu masih terduduk disana, diatas lantai ruangan tanpa alas apapun.
Ziaruo mengikuti pria tersebut duduk dilantai, ia tak mengatakan apapun, hanya ingin menemani pria tersebut.
Bagaimanapun ia pernah merasakan diposisi pria itu sekarang.
Dan ruangan masih tetap hening, hingga kurang lebih setengah dari batang dupa.
''Maafkan aku Ruoer.....ternyata seperti ini perasaanmu saat itu, maaf...aku tidak sengaja melakukannya....bisakah kau memaafkanku?.'' ucap Murong memecah kesunyian ruangan.
''hixs...hixs....''kembali terdengar suara tangisan dari wanita itu, ia merasakan sesak didalam dadanya.
''Oleh karena itulah, aku masih disini..karena aku tahu seperti apa rasanya mengetahui orang yang kita cintai bersama dengan orang lain.'' jawab wanita itu disela isak tangisnya.
''Apa kau ingat aku memiliki cermin air bulan?'' ucap kembali wanita cantik itu.
Murongxu kembali membulatkanatanya, ia menatap Ziaruo yang duduk di dekatnya dengan tatapan yang kembali menampilkan keterkejutan.
''Jangan katakan kepadaku, bahwa kau melihat semuanya, melihat upacara pernikahan pernikahanku.'' tanya Murongxu reflek.
Mendengar pertanyaan itu, bulir air mata Ziaruo semakin deras, ia mengangguk pertanda mengiyakan pertanyaan tersebut.
''Eemmm...hixs..hixss...bahkan aku melihat secara detil....hixs...hixs...aku ingin melihat kebahagiaanmu, agar aku bisa membencimu karena telah menghianatiku...hixs..hixs...tapi, ..aku masih saja memaafkan dan mencintaimu.'' jawab Ziaruo lirih dan terbata bata.
''Maafkan aku...maafkan suami bodohmu ini, aku telah banyak menyakitimu, maafkan aku...'' ucap Murongxu sembari memeluk erat tubuh wanita disampingnya itu.
''Bahkan kau menyaksikan aku bersama dengan mereka, dan ketika aku dalam bahaya, kau masih datang menolongku....harusnya kau biarkan saja aku mati Ruoer, mengapa kau harus menolong penghianat ini, mengapa?.''ucap murongxu dalam hatinya, dengan tangan yang masih memeluk erat wanita cantik itu.
Sementara itu, di kekaisaran Zing.
''Benar yang mulia, Nyonya Yun bertemu dengan Murongxu dan ia baru kembali kekeidamannya, saat tengah malam.'' jawab sang penjaga bayangan( Wuhan).
__ADS_1
Mendengar hal tersebut, tangan Jiang jingwei mengepal kuat.
''Apakah kau akan menghianatiku, sehari sebelum hari pernikahan kita Yun?.'' gumam lirih kaisar Jing.