Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 108 Tujuh kehidupan milikku.


__ADS_3

Masih didalam cermin air bulan.


Entah apa yang kini bersemayam dalam benaknya, Haoyan memejamkan mata sejenak, dan kembali berkata dengan penuh kelembutan. ''Justru, aku akan memberikan kembali pusaka klan kalian, yang telah jatuh di tangan kami, sebagai persembahan untuk pernikahan kita.''


Haoyan terus berusaha dengan keras membujuk Ziayun, hingga suara tendangan pintu dibuka dari luar dengan kasar. "Braaak...''


Di sana, tubuh Pangeran kegelapan telah berdiri didepan pintu, dengan memegang pedang yang terhunus.


Melihat pangeran Zhanglei didepan pintu, Ziayun meringsekan tubuhnya, mendekap erat tubuh itu dengan tangannya sendiri. Sementara air bening semakin deras mengucur dari sudut matanya.


Menyaksikan hal itu, Haoyan merapikan selimut yang menutupi tubuh Ziayun, mengecup keningnya sejenak, dan berkata lirih. "Kau tak melakukan kesalahan apapun, kamilah yang bersalah dan telah menganiayamu, jadi jangan pernah berusaha untuk menyembunyikan diri."


Pangeran negeri phoenix tersebut, meraih pakaiannya yang berserakan dilantai, serta mengenakannya kembali.


Entah apa yang dia rencanakan, tanpa ada rasa malu, serta penuh keyakinan Haoyan mendekati Zhanglei dan berkata. ''Jika membunuhku membuatmu merasa jauh lebih tenang, maka aku akan memberimu kesempatan untuk melakukannya.''


Mendapati hal itu, Zhanglei berdiri didepan Haoyan, ia menatap pria didepannya dengan pemikiran yang tak terbaca.


''Apa kau pikir aku akan mudah masuk kemari?, mereka telah menerima pinanganmu, namun mereka juga memberikan aku kesempatan ini, dan aku mencintainya, aku tak akan menyesali apapun untuk hari ini.'' Lanjut Haoyan kembali.


Zhanglei menatap Haoyan dengan penuh kebencian. Namun didalam pikirannya, ia masih ragu mengangkat pedangnya yang telah bersimbah darah, tak ada yang fokus pada darah diatas pedang tersebut, atau cairan merah itu berasal dari tubuh siapa.


Yang jelas, didalam ruangan tersebut hanya kecemasan atas nasib Ziayun. Sebagai seorang wanita, kini dirinya ibarat sebuah permata yang telah terjatuh kedalam kubangan lumpur.


Haoyan menyadari akan hal itu, namun baginya sekotor apapun wanita tersebut dimata orang lain, bagi pria itu bukanlah sesuatu masalah, karena tangannyalah yang membawa permata itu masuk bersama mutiara kedalam kubangan.


Namun, untuk hati dan pikiran Ziayun ia tak pernah bisa berbuat apapun, Haoyan sadar sepenuhnya, bahwa pria didepannya inilah, yang kini tengah memenuhi pikiran serta hati wanitanya.


Haoyan merasa menyesal atas kesedihan serta penghinaan yang diterima wanita itu, ia juga menyesal atas luka dari Zhanglei, namun ia tak akan pernah menyesali tindakannya hari ini, terlebih lagi jika kejadian tersebut membawanya dalam persatuan dengan Ziayun.


Bahkan jika waktu akan terulang kembali, ia yakin tetap akan melakukan hal yang sama. Di balik rasa prihatin serta kecanggungannya atas kekecewaan Zhanglei, Haoyan tetap bersikukuh tak ingin melepaskan Ziayun.

__ADS_1


Sementara bagi Zhanglei, seburuk apapun kejadian hari ini, ia tak pernah menyalahkan Ziayun, baginya wanita tersebut teramat penting untuk hidupnya, terlebih lagi ia mengetahui bahwa kejadian hari ini, tidak lebih adalah karena ketamakan sang Ayah dari Ziayun, kaisar Clan bulan. Atas sebuah kekuasaan.


Bahkan Ziayun telah memperingatkannya beberapa hari yang lalu, akan tetapi dengan status pertunangan mereka, ia meyakinkan diri bahwa segalanya akan baik baik saja.


Bahkan Zhanglei juga mampu membuat wanita itu, menghilangkan kewaspadaan serta kecemasannya, akan rencana dan keculasan sang Ayah.


Hati Zhanglei bergemuruh menahan kemarahan, namun segalanya telah terjadi, dan Ziayun yang selama ini ia pikir sebagai wanitanya, kini telah resmi tercatat dalam kitab suci Clan bulan dan Phoniek sebagai pasangan.


Hukuman untuk seluruh Clan berlaku bagi siapapun yang akan menghalangi atau berusaha merusaknya. tidak berbeda juga untuk Klan kekaisaran negri kegelapan miliknya.


Terkecuali, jika sang pria bersedia membatalkan janji pernikahan dan menganggap wanita itu tak layak(tidak memenuhi syarat) bagi sang mempelai pria.


Dengan langkah gontai Zhanglei berjalan mengabaikan Haoyan mendekati ranjang, menggapai tubuh yang tengah meringkuk dengan tangisan tanpa suara.


Melihat hal tersebut, Yongyu segera berdiri dan berkata. ''Tidak...tidak jangan lakukan, dia tidak bersalah, pria itulah yang telah memaksanya.''


Yongyu berusaha menahan tubuh Zhanglei mendekat kearah Ziayun.


Pemuda itu berpikir, pangeran malam akan menyalahkan, atau bahkan melukai wanita malang itu.


Akan tetapi, ketika tubuh gagah Zhanglei berada di dekat ranjang, pria itu terduduk dengan derai air mata yang tak lagi ia tahan. Isak tangisan mulai terdengar, pria tersebut meraih tubuh Ziayun, dan meletakan kepalanya diatas ranjang, sejajar dengan kepala wanita itu, akan tetapi dengan tubuh berjongkok disamping rajang.


Menyaksikan kejadian itu, mata Yongyu kembali berkaca kaca, dalam hati Yongyu bergumam. ''Dewa...apakah ini kisah dari kehidupan Ziaruo?, dan apakah maksud dari semuanya, mengapa kau memperlihatkan semuanya kepadaku?, siapa aku diantara kisah mereka?.''


Zhanglei merasa dunianya telah hancur, dengan isak tangis yang tak ia tahan, pria itu berkata lirih.'' Seharusnya aku mempercaiyaimu, maafkan aku ...''


Ucapan Zhanglei dengan isak tangisan tersebut terdengar memilukan, bahkan didalam hati Haoyan, ia juga ikut merasa sedih atas penderitaan pangeran Zhanglei.


Akan tetapi, jika kejadian hari ini tidak terjadi, maka ia tak akan pernah bisa bersama wanita tersebut.


''Aku akan memberikan apapun yang kau minta, asalkan jangan dirinya.'' Ucap Haoyan lirih, namun masih didengar setiap orang yang berada didalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Zhanglei mengusap lembut kepala Ziayun sebelum berdiri dari duduknya, ia mendekat kearah Haoyan, dengan mata penuh kebencian, ia menjawab. ''Bagaimana jika kuminta kau kembalikan waktu...''


Ucapan Zhanglei bukanlah sesuatu yang sulit bagi Haoyan, namun jika hal itu benar ia penuhi, maka kejadian hari ini mungkin tidak akan pernah ada. Dan itu berarti tak akan ada pertalian janji pernikahan diantara dia dan Ziayun.


Dengan suara lirih ia kembali menjawab.'' Selain upaya untuk mengambilnya, mintalah kepadaku Lei..aku akan memberikannya.''


Mendengar Jawaban itu, Zhang lei terduduk di depan Haoyan, kepalanya menunduk dalam, dengan diselangi isak tangis lirih, ia menjawab. ''Aku hanya meminta dia kak...hanya dia, bahkan ketika ayah tak memperdulikanku, aku tetap diam...bahkan ketika kakek tak menganggapku sebagai cucunya aku juga tak mepermasalahkannya.''


Tangan Zhanglei menggapai pakaian Haoyan, mencengkram kuat dan kembali berucap. '' Hanya dia kak...hanya dia saja ku mohon kembalikan kepadaku, hixs...dia hidupku.''


Haoyan mengangkat kepalanya, menengadah kearah langit sesaat, dan kembali berucap. '' Tapi dia juga hidupku Lei, bahkan jikapun aku harus mengalah, kami telah terikat sumpah pernikahan, bahkan sejak semalam nama kami telah terpaut dalam 7 kehidupan.''


Zhanglei semakin menundukkan kepala, ucap an pangeran Haoyan membuatnya semakin frustasi, serta putus asa.


Pria dengan Julukan pangeran malam itu, mengangkat tubuhnya perlahan. Dengan tatapan penuh kebencian ia kembali berkata. '' Karena segalanya tak mudah untukku, maka dengan ini akan kupastikan segalanya tak akan mudah untukmu juga.''


Zhanglei berdiri dan menusuk dada Haoyan, dengan pedang yang telah berlumuran darah, sejak ia pertama masuk kedalam ruangan tersebut.


Meskipun melihat Haoyan tidak melawan, akan tetapi karena pria tersebut masih bertahan, Zhanglei memutar pedangnya.'' Kress..kreers.'' Membuat dada kiri Haoyan memuncratkan cairan merah, kelantai ruangan.


Yongyu yang menyaksikan itu merasa agak bergidik, Akan tetapi ia juga tak ingin berusaha membantu Haoyan.


Karena bagi Yongyu, hal tersebut pantas diterima oleh pangeran negri Phoenix Haoyan.


''Meskipun kau membunuhku sekarang, dia akan tetap menjadi milikku...meskipun nan..ti..ketika tujuh kehidupan berlalu...aku masih akan...melakukan hal yang sama. di..dia milikku, kau...kau..lah yang me..rebutnya, kau..kau..lah penga..cau..nya..bruughhh.''


Haoyan terjatuh dan tak bergerak kembali.


Melihat hal itu, baik Yongyu ataupun Zhanglei mendongakan kepalanya, mendesah sesaat dan kembali berbalik menuju ranjang.


Zhanglei hendak kembali dan membawa Ziayun. Akan tetapi baik dirinya ataupun Yongyu, tak menemukan keberadaan wanita tersebut.

__ADS_1


Yongyu berjalan cepat keluar dari ruangan, dan tanpa mengindahkan apapun Zhanglei juga melakukan hal yang sama, pandangan serta perasaan cemas pangeran malam tampak jelas, dengan suara lantang ia menyerukan nama sang wanita beberapa kali. '' Yun'er...Yun...Yun'er....''


__ADS_2