Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 130 Diam dan jujur ketika di tanya.


__ADS_3

Wuhan tetap terdiam di tempat, hingga suara seorang wanita memecah keheningan di sana.


''Kak...anda sudah datang.''


Suara lembut seorang wanita yang sangat mereka kenal.


Keduanya berbalik, dan melihat kearah seorang wanita, yang berjalan mendekat kearah mereka.


''Kapan anda datang?, mengapa tidak langsung menemuiku?.'' Tanya Ziaruo kembali.


''Maaf ...aku baru saja tiba.'' Jawab Yongyu, sembari berusaha menetralkan hati dari kemarahan, serta kekesalannya terhadap Wuhan.


Dan Ziaruo mengetahui akan hal itu, Wanita tersebut telah sampai di sana, ketika Wuhan berusaha menjelaskan, tentang perasan(penyesalan) Jing kepada Yongyu.


Namun, Ziaruo berpura pura seolah ia tidak mendengar apapun, hingga ia melihat sang kakak hendak pergi dari sana.


''Kak, aku ingin membantu mengobati luka mereka, apakah anda bersedia membantuku?.'' Tanya wanita itu lagi.


Mendengar permintaan sang adik, perasaan Yongyu menjadi lebih baik.


Ia tersenyum sejenak, dan menjawab. ''Tentu saja aku akan membantu, bagaimana mungkin pria ini, berani menolak permintaan seorang Permaisuri.''


Sementara itu, Wuhan hanya terdiam dan tidak berkata apapun, ditengah percakapan keduanya.


Pria itu sibuk berkutat dengan pikirannya.


''Jika Yongyu adalah pangeran Jing yun, bagaimana mungkin ia bersaudara dengan dewi Ziaruo?.''


''Mungkinkah mereka menjalin persaudaraan, setelah tugas terakhir di hutan barat?.''


''Jika benar Yongyu adalah pangeran kedua, mengapa justru membantu kaisar?, padahal ia begitu membenci sang kakak. Ataukah ia masih peduli dengan kaisar Jing?.''


Dan masih banyak hal lain lagi, yang di pikiran oleh Wuhan.


Namun dari semua pemikiran di dalam otaknya, Wuhan menarik dua kesimpulan pasti.


Pertama, Yongyu adalah pangeran kedua negri Zing, Jiang jing Yun.


Kedua, Pangeran Yun tidak benar-benar membenci kakaknya, kaisar Jiang jing wei.


Dan itu semua terbukti, saat Yongyu membantu bahkan, dapat dikatakan menjembatani hubungan keduanya.


Semua hal itu, menyembulkan kebahagiaan di dalam hati Wuhan, hingga tanpa ia sadari sebuah senyum tipis tercetak di bibirnya.


Ziaruo yang memahami pemikiran tersebut, ikut merasa senang, atas apa yang di rasakan oleh Wuhan.


''Kak, bisakah anda mengambalikan kotak obatku dikereta?.'' Pinta Ziaruo kepada Yongyu.


Dan apapun itu, bagi Yongyu setiap permintaan dari sang adik, adalah sebuah keharusan untuknya.


''Baik, tunggu aku disini sebentar.'' Jawab Yongyu dengan penuh kelembutan, sebelum beranjak dari sana, meninggalkan kedua orang disana dengan pemikiran masing masing.


''Aku tahu, kau mengerti dan mendengarnya Ruoer. Aku yakin kau akan melakukan yang terbaik.'' Gumam Yongyu disela langkah kakinya, menuju kereta perbekalan.

__ADS_1


Sepeninggal sang kakak, Ziaruo mendekati wuhan, dan duduk berjongkok dihadapan pria tersebut.


Wanita itu mengulurkan tangannya, tepat di atas lengan kanan sang penjaga.


Dengan gerakan lembut, ia mengusapkan tangan di atas kain pembalut luka sembari berkata. ''Bisakah anda menyimpan segalanya sendiri?, biarkan mereka menyelesaikan segalanya tanpa campur tangan orang lain.''


Wuhan reflek mengangkat wajah, ia menatap wanita yang kini menjadi permaisuri tersebut, dengan perasaan tak percaya.


''An..anda mengetahuinya?.''


Tanya Wuhan dengan suara yang terbata, ia merasa ada gemuruh di dalam hati.


Ziaruo tersenyum mendapati tatapan itu, ada sebuah kegetiran atas setiap kisah diantara sang kakak, dan suaminya sekarang.


''Apakah akan ada bedanya untuk permasalah diantara mereka?, bukankah terkadang diam justru membantu menyelesaikan semuanya?.'' Jawab Ziaruo dengan nada tenang.


Wanita itu mengatakan hal tersebut dengan jelas, Namun sejelas itu pula, ia tak mengharapkan sebuah jawaban dari bibir pria yang tengah ia obati tersebut.


''Sudah....lengan anda pulih sepenuhnya sekarang, tanpa bekas sama sekali.'' Lanjut Ziaruo lagi.


Wanita itu, berdiri dari berjongkok dan kembali tersenyum kearah Wuhan.


Melihat senyum lembut diwajah itu, Wuhan segera menundukkan wajahnya, dan berkata. ''Saya akan bersikap seolah tidak mengetahui apapun Yang Mulia, Namun...''


Ucapan Wuhan terhenti sejenak, ia mengangkat kepala, menatap wanita yang kini berdiri tepat di depannya.


''Namun, jika paduka Kaisar bertanya, saya tidak akan berbohong.'' Lanjut Wuhan kembali.


Pria itu menundukkan kepalanya lagi, begitu ucapannya terselesaikan.


bersikap di depan Ziaruo. Terlebih lagi ia selalu memperoleh senyuman, sebagai jawaban dari setiap ucapannya.


Ziaruo memang memberikan sebuah senyuman, atas setiap kejujuran dari Wuhan.


Ia senang, suaminya memiliki pria tersebut sebagai bawahan.


''Baik, kau tidak perlu berbohong, namun juga jangan mengatakan apapun tanpa ditanya.'' Ucap Ziaruo kepadanya.


''Sekarang bisakah anda membantu wanita ini untuk meringankan luka dari mereka (para prajurit)?.'' Lanjut sang wanita, masih dengan penuh ketenangan.


Mendengar hal itu, Wuhan berdiri dari duduknya, serta dengan cepat menjawab. ''Dengan senang hati Yang mulia.''


Beberapa saat kemudian, akhirnya Yongyu datang, dengan kotak obat di tangan.


Pria itu langsung mendekat kearah Ziaruo, tanpa menghiraukan tatapan sang pria penjaga.


''Ini kotakmu, apa kau menunggu terlalu lama?.'' Tanya Yongyu, sembari menyerahkan sebuah kotak kepada Ziaruo.


Tak ada basa-basi norma antara permaisuri dan seorang bawahan diantara keduanya.


Yang terdengar jelas ditelinga Wuhan saat ini, hanya sebuah percakapan biasa antara seorang kakak, dengan sang adik tercinta.


''Sedekat itu anda kepadanya, bahkan melebihi kedekatan kita yang sejak kecil bersama.'' Pikir dalam diam Wuhan.

__ADS_1


Ia menyadari, bahwa akan aneh bagi setiap keluarga kekaisaran, memiliki persaudaraan yang akrab diantara para pangeran.


Yang pada umumnya, akan bersaing, bahkan saling menusuk untuk sebuah tahta kekaisaran.


''Heeeh...''


Wuhan menghela nafas dalam, ia mengingat kembali, setiap tindakannya untuk sang pangeran ketika dulu masih bersama di istana.


Wuhan menunduk lebih dalam, bahkan jika bisa ia mungkin akan mengubur diri, pada sebuah lubang yang tak berdasar.


Akan tetapi, mengingat sumpah setianya untuk Jing, pria tersebut kembali menemukan kekuatan, diatas penyesalannya yang besar.


''Kak...tolong berikan obat-obatan didalam kotak tersebut kepada para tabib.'' Ucap Ziaruo, sembari menolak menerima kotak dari sang kakak.


''Aku ingin kembali kedalam kereta, lagi pula kurasa mereka tidak akan leluasa dengan kehadiranku nanti.'' Lanjut Wanita itu lagi.


Mendengar perkataan tersebut, Wuhan memahami segalanya.


Ia berjalan lebih mendekat, dan berkata. ''Biarkan pelayan ini saja yang memberikan obat tersebut, silakan Yang Mulia Permaisuri dan tuan muda kembali kedalam kereta.''


Ada sebuah perasaan enggan baginya, bersama pangeran Jing Yun saat ini.


Dimana ketika ia masih terkejut dengan kehadiran, orang yang ia anggap telah meninggal tersebut.


Terlebih lagi, dirinya adalah salah satu pemeran penting dalam hal buruk untuk pria tersebut dimasa lalu.


Meskipun ia melakukan segalanya atas perintah dari Jing.


Namun, kedua tangannyalah yang dengan paksa meminumkan racun, kepada pemuda, yang telah menganggapnya sebagai saudara sejak mereka kecil.


Dengan wajah serta perasaan penuh keengganan, Wuhan maju semakin mendekat, dan mengambil kotak di tangan Yongyu.


Hatinya merasa ini adalah keputusan terbaik. Disana adalah dua orang, yang memang tak seharusnya melayani para prajurit.


Wanita itu adalah permaisuri kaisar, dan pria itu juga adalah seorang pangeran.


Jadi hanya dialah di sini, yang lebih pantas melakukan tugas itu.


''Hamba akan membawa obat ini, untuk di berikan kepada tabib Yang Mulia.'' Ucap Wuhan sembari menunduk sejenak, di hadapan keduanya.


Ziaruo mengganggukan kepalanya pelan, ketika mendengar ucapan sang penjaga.


Ada perasaan iba didalam hati wanita tersebut, melihat kecanggungan, serta rasa penyesalan pada pria itu.


Akan tetapi, segalanya adalah tentang sebab dan akibat, atas perbuatan setiap orang di dunia ini.


Siapa yang menanam maka dia juga yang akan menuainya.


''Heeeh...semoga ini adalah akhir dari segalanya, bukan sebuah awal dari karma diantara kalian.'' Ucap Ziaruo lirih, ketika melihat punggung Wuhan, berjalan menjauh dari mereka.


''Entahlah, aku juga masih bingung dengan perasaanku untuk mereka Ruoer.'' Jawab Yongyu pelan, seolah ia tengah memikirkan sesuatu yang sangat berat di benaknya.


Menyadari kegelisahan sang kakak, Ziaruo tersenyum lembut kearah pria itu, dan kembali berkata. ''Lakukan sesuai hati anda kak, jangan memaksakan sesuatu. Karena keterpaksaan selalu berakibat tidak baik.''

__ADS_1


''Hehe...kau memang selalu benar Ruoer.'' Sahut Yongyu, sambil mengusap pucuk kepala Ziaruo lembut.


",,,Dan....kau selalu memahami apa yang menjadi pemikiranku.'' Lanjut pemuda itu lagi, dalam benaknya.


__ADS_2