Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Epiaode 219. Kelahiran Jiang wei yun.


__ADS_3

Meskipun, dengan kegetiran hati tanpa mampu merengkuh keduanya.


Jiang jing wei hanya dapat menerima, dan pasrah untuk ketidak berdayaannya sekarang.


''Anda lihat...Dia sudah mulai melakukan gerakan-gerakan lembut, aku sangat bahagia.'' Ziaruo.


Wanita itu menggerakan tangan perlahan, dan mengusap perut miliknya yang mulai membulat.


''Apakah anda tidak bahagia untuk putra kita Yang mulia?.'' Lanjut Ziaruo lagi.


Hati Ziaruo seolah terhimpit dua bongkahan batu besar, ketika menanyakan semuanya.


Bagaimana mungkin, ia tidak tahu tentang kepedihan pria di seberang cermin.


Namun, hatinya juga tidak mengalami hal yang mudah.


Ziaruo juga tengah berusaha untuk kuat, serta masih harus menguatkan hati yang lainnya(Jing).


Sementara itu, Jiang jing wei yang berada di dalam riak air belanga, sebisa mungkin menampilkan sebuah kebahagian, seraya menjawab.


''Yun... mendengar kalian baik-baik saja, aku sudah merasa senang, dan setidaknya kita masih dapat saling bertemu, meskipun sebatas ini.'' Jawab Jing, dengan suara yang di tekan setenang mungkin.


Semenjak kepergian Ziaruo beberapa hari yang lalu, Jing telah 2 kali ini berkomunikasi dengan wanita tersebut.


Dalam perhitungan di dimensi Yincang, mungkin wanita Yun melakukan pertemuan itu sekali dalam satu bulan.


Namun di kehidupan Jing, ia menujukan dirinya melalui cermin air bulan, sekali dalam sehari.


Akan tetapi, cukupkah bagi mereka dengan hanya saling melihat dalam kilasan bayangan cermin?.


Dalam hati Jing, ia tetap merasa kehilangan atas sosok sang istri.


Namun, ketika ia menyadari kepedihan Ziaruo, yang lebih panjang melewati waktu di Yincang, Jing menguatkan hati dan memaksa bibirnya untuk tersenyum.


''Apa dia (bayi dalam rahim Ziaruo) merepotkanmu Yun?'' Jing.


Mendengar pertanyaan itu, Yun tersenyum dan menggelengkan kepala perlahan.


''Tidak...dia membantuku bertahan, dan membuatku semakin kuat.'' Yun.


''Apakah..kau.....''


Ucapan Jing tak terselesaikan.


Ia mencoba menenangkan hatinya sejenak, dan berusaha mencegah tampilan sisi rapuh yang siap untuk unjuk gigi.


''Apakah kau makan teratur?.''


"Selalu pethatikan untuk menjaga tubuhmu dengan baik.''


''Maaf aku tak bisa selalu bersamamu.''


Banyak ucapan yang ia lontarkan dengan ketulusan hati, setelah ia mampu menahan gejolak yang bergemuruh di dada.


''Lihatlah hanya ini yang dapat kulakukan. Aku adalah seorang pasangan yang buruk untukmu.''

__ADS_1


Pria itu menengadahkan wajah sejenak, dan berusaha menarik kembali air mata, yang mulai memberi tabir bening pada maniknya.


Dan yang tak pernah terlupakan adalah bait suci perkataannya, yang akan selalu ia ucapkan dalam setiap pertemuan mereka.


''Aku merindukanmu Yun, waktu seolah tak berjalan di sekitarku.''


Suara itu tampak wajar bagi setiap pasangan di dunia ini, ketika mengalami sebuah perpisahan.


Akan tetapi, dalam baris kalimat pendek tersebut, jelas menggambarkan ketidak berdayaan yang besar, untuk sebuah kenyataan pilu diantara keduanya.


Namun, meskipun Jing telah terbentur dinding kokoh kenyataan di depannya, ia masih enggan mengakui kemungkinan mereka yang tak dapat berkumpul kembali.


Dalam hati ia mematri keyakinan dan tetap berharap bahwa dewa akan memberikan belas kasih, dan mengirimkan sebuah keajaiban.


Walau hanya setitik harapan, ia akan mempercayai dengan segenap hati.


Meski hanya sekuat utas serat benang, Jing masih akan berusaha untuk memegangnya erat, dan bergatung di sana.


Karena, hanya itulah yang dapat dilakukan.


Dan mungkin, dalam beberapa bulan kedepan dalam hitungan waktu Jing jing wei, atau dalam jarak beberapa tahun hitungan wanita Yun.


Keduanya hanya akan dapat melakukan pertemuan, dengan cara yang demikian, ia rela dan menengadahkah hati penuh syukur untuk Dewanya.


Melalui bantuan cermin air bulan, serta riak air belanga telaga Yaksa, baik Jing ataupun Ziaruo akan meluapkan kerinduan, mengisahkan keseharian, serta berusaha memberikan yang terbaik untuk putra tercinta.


Dalam kurun waktu tersebut, mereka tak akan membiarkan orang lain untuk menyela dalam setiap perjumpaan, yang dapat di kategorikan singkat tersebut. Khususnya Jing.


Waktu sehari dalam kurun waktu Jing, adalah sebulan pada di mensi Yincang di tempat Ziaruo, nyatanya hanya bertahan kurang dari 1 batang dupa di kehidupan Jing, dalam setiap harinnya melakukan perjumpaan.


Akan tetapi, meski demikian Jiang jing wei masih bersyukur, bahwa dirinya di berikan pertemuan, serta dapat memantau perkembangan buah kasih sayang mereka.


Di sela waktu yang terbatas, serta perasaan peduli, mencemaskan, dan tentu saja dengan balutan kerinduan yang besar, Jing semakin egois dan tak ingin di ganggu siapapun, setiap waktu pertemuan mereka tiba.


Pada setiap penanggalan bulan membulat di langit Yincang, maka di kekaisaran Zing selama satu hingga dua batang dupa lamanya, kaisar Jiang jing wei akan mengurung diri di dalam ruangan dan tidak dapat di temui siapapun.


Bagi mereka yang tidak mengetahui kepergian sang permaisuri, mereka selalu berpikir waktu menyendiri kaisar Jing, di habiskan bersama Permaisuri Yun, yang sangat di cintainya.


Dan hal itu, bukanlah sebuah kesalahan secara menyeluruh.


Sebab, Jing memang tengah bersama dengan Ziaruo di saat itu.


Meskipun dengan pengertian, serta kenyataan yang berbeda, dari apa yang di pikirkan oleh semua orang.


*Flash back off*


Setelah hampir satu setengah batang dupa lamanya, Yaksa dan Jinting menunggu, sebuah suara tangisan bayi terdengar menggema dari dalam bilik kediaman.


''Aaahhkkk...sudah lahir, sudah lahir!.'' Pekik Yaksa kegirangan.


Tubuhnya dengan reflek bergeliat tak terkontrol, dengan kegembiraan serta kelegaan hati yang besar.


''Hentikan ekor bodohmu, atau aku akan membuatmu kehilangan itu.'' Jinting.


Ia, pria itu hampir saja terkena sabetan, dari ujung ekor Yaksa yang menggeliat tak beraturan.

__ADS_1


Sehingga, memancing kata-kata sarkas tersebut, meluncur ringan dari bibir Jinting.


Namun, dengan kebahagiaan serta kelegaan hati yang ia rasakan untuk Ziaruo di dalam sana, Jing tak akan merealisasikan ucapan tersebut.


Ia hanya ingin memperingatkan wanita Yaksa, untuk lebih berhati-hati.


Dan hanya kasar di luar saja, serta tak berduri sama sekali di dalam hatinya.


Murongxu, memang masih harus banyak belajar, untuk bersikap, serta bertindak layaknya sosok manusia pada umumnya(Jingtian).


''Ciiiih..''


Yaksa hanya mencibir, dan melirik kearah Murongxu sejenak.


Ia justru lebih antusias, dengan sosok yang baru saja membuka pintu kediaman.


''Yang mulia, wanita Yun dan putranya telah dalam perlindungan dewa, keduanya dalam kondisi sehat dan baik-baik saja.'' Ucap seorang wanita, yang membuka pintu.


''Bagus...bagus, kau akan menerima hadiah nanti, biarkan aku menemui Yun terlebih dahulu.'' Sahut Yaksa, sembari meliukkan tubuhnya masuk kedalam.


Tak ada lagi kerutan kening, yang semula terlukis pada wajah tanpa bola mata tersebut.


Lidah Yaksa, dengan cepat menemukan di mana wanita Yun berada.


Pasalnya, sejak ia mulai masuk melangkahkan kaki disana, bau darah dari proses persalinan Ziaruo telah menyeruak.


''Yun...apa kau..'' Perkataan dari Yaksa tidak dapat terselesaikan.


Tampak jelas pemandangan di depannya, seorang wanita tengah berbincang dengan sosok lain, yang berada di dalam balik cermin yang tercipta dari percikan air belanga.


Ziaruo tengah menyapa Jing-nya di dunia manusia, sembari memeluk bayi kecil merah yang kini terlelap.


Ada kelelahan pada tampilan wajah pucat wanita itu. Namun, mendengar dari perkataan dan senyum yang beberapa kali terpasang di sana, Yaksa tahu bahwa wanita Yun saat ini sedang berbahagia.


Dan ia juga mampu menebak, siapa pria di balik percikan air belanga, yang kini tengah menyahuti dengan ungkapan kebahagiaan yang sama.


''Dia memiliki mata seperti anda Yang mulia.'' Ucap Yun dengan manik mata yang mulai berkaca-kaca.


''Bibir dan alisnya juga sama seperti Anda.'' Lanjut Ziaruo lagi.


Wanita itu menunduk menatap wajah polos kecil, yang tenang di dalam dekapannya.


Bulir-bulir air mata dipipinya mulai mengucur.


Ia tak dapat memahami hatinya saat ini.


Entah itu tangis kepedihan, atas perpisahan jarak diantara mereka, atau tangis bahagia untuk kehadiran sang putra.


Air matanya semakin deras bergulir, mengalir tak terbendung, layaknya tetesan air di musim penghujan yang lebat.


Entah mengapa menatap wajah sang putra kecil, hati Ziaruo berkecamuk tak karuan.


Ia juga seolah, tuli dan mengabaikan perkataan dari seseorang, yang kini tampak cemas serta kebingungan dari seberang cermin di hadapannya.


Dan di sela isak tangisan tersebut, ia bergumam lirih. ''Wanita ini...sangat merindukan Anda baginda.''

__ADS_1


__ADS_2