
Aku harus segera menjadikan diriku pantas, sebagai pasangan, pemilik tadir phonix.'' lanjut dalam hati Murongyu, sembari melangkah keluar, dari ruangan yang ditempati oleh Guru besar Mengshuo.
Ia tidak berbicara apapun, kepada pria yang baru saja dipapahnya menuju bilik kamar.
Baginya tak ada alasan untuk beramah tamah dengan pria tersebut, ia hanya tak ingin wanita yang dicintainya, menaruh perhatian, serta membatu Mengshuo berjalan kembali kekamar.
Bahkan jika bisa, Murongyu ingin melemparkan pria dari kekaisaran Zing tersebut, keluar dari dalam pondok saat itu juga.
Namun, ia tahu bahwa Ziaruo tak akan mengizinkannya melakukan hal itu, bahkan ia bisa saja dibenci oleh wanita yang telah mengisi hatinya tersebut.
Sementara itu didalam bilik kamar.
''Ternyata...semua yang aku pikirkan sebelumnya, adalah sebuah kesalahan, lalu mengapa, Nanggong mengatakan bahwa nyonya Yun adalah penyebab segalannya.'' gumam lirih Mengshuo.
''Karena, ia membenciku atas perasaan kaisar suaminya, ia tahu bahwa tidak mungkin baginya, untuk membenci kaisar Murongxu.'' jawab nyonya Yun, dari arah luar kamar yang ditempati oleh Mengshuo.
''Ini obat anda, dalam dua hari mendatang, anda sudah dapat berkuda, dan kembali kekaisaran Zing.'' lanjut Ziaruo sembari meletakkan seduhan obat, diatas meja kecil didalam ruangan tersebut.
Mengshuo hanya diam, ia menundukan wajahnya, banyak hal yang membuatnya malu, untuk mengangkat wajah dihadapan wanita tersebut.
Gejolak hatinya, ingin sekali menatap lekat keindahan yang saat ini, berdiri tepat dihadapannya.
Namun, sebagai seseorang yang telah melakukan banyak kesalahan, ia hanya dapat memendam keinginan di dalam hatinya.
Bagi Mengshuo, tidaklah pantas ia memiliki keinginan apapun terhadap nyonya Yun, mengingat segala ucapan dan tindakannya, yang merendahkan, serta menghina wanita itu.
Bahkan jika bisa, Guru besar Meng ingin mengubur dirinya, agar tak ada orang yang bisa menemukannya dengan kondisi seperti itu.
''Bodohnya diriku ya Dewa...bahkan setelah lama, akhirnya kutemukan tambatan hatiku, namun, justru aku sendiri yang membuangnya.'' ucap Mengshuo dalam diamnya, ia tidak mengetahui bahwa wanita di depannya tersebut, dapat mendengar dan mengetahui pikiran orang lain.
Mendengar pikiran pria didepannya tersebut, Ziaruo menghela nafas pelan, ia berfikir bahkan hanya diam dan tak melakukan apapun, orang lain masih dapat terluka dan bersedih karena dirinya.
''Ternyata sebenci itu anda kepada saya tuan, bahkan untuk melihat kearah sayapun adalah sebuah penyiksaan bagi mata anda.'' ucap nyonya Yun, dengan suara lembutnya, ia sengaja membalikkan suasana dan kenyataan dari pikiran pria itu.
Mendengar ucapan nyonya Yun, Mengshuo reflek mendongak kearah wanita didepannya, menatap gadis itu tepat pada mata coklatnya.
''Tidak!..aku Tidak...'' ucap reflek Mengshuo dengan cepat, namun sebelum ia menyelesaikan ucapannya, nyonya Yun memotong dengan perkataannya lagi.
''Aku tahu, anda tidak harus menjelaskan apapun kepada saya, tetaplah seperti semula, jangan mengubah apapun.'' ucap nyonya Yun, ia tahu yang akan diucapkan oleh pria itu, justru akan menjadikannya sulit untuk bersikap kedepannya.
''Mengapa bertambah banyak kesalah pahaman diantara kami, ataukah memang harus seperti ini?, dan perasaan sakit apa dihatiku saat ini ya dewa?.'' gumam pria itu, didalam hatinya.
__ADS_1
''Saya akan kembali hari ini, dan obat untuk tiga hari kedepan, sudah saya serahkan kepada pelayan anda." ucap nyonya yun dengan tenang.
"Jika anda masih ingin disini, silahkan tinggal atau anda juga dapat kembali, saya rasa kesehatan anda saat ini, sudah bisa untuk menempuh perjalanan ke negri Zing, asalkan dengan kereta kuda'' lanjut nyonya Yun, sebelum pergi dari ruangan tersebut.
''Baik, terimakasih atas pertolongan anda nyonya yun.'' ucap Mengshuo dengan pelan.
Namun, sangat berat dan menyedihkan didalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang hilang, dan seolah melubangi dada bidangnya, sehingga menyisakan ruang kosong dengan perasaan, ketidak nyamanan yang teramat besar.
Mengshuo ingin berteriak keras, dan menghentikan langkah kaki wanita itu.
Akan tetapi, hak apa yang dimiliki, dirinya bukanlah siapa siapa bagi wanita tersebut.
''Dalam kehidupan kita, akan bertemu dengan beberapa orang yang berlalu lalang, namun hanya satu saja, yang akan menetap di dalam hati.
Dan.... aku, Mengshuo telah menemukannya, menemukanmu di dalam hatiku.
Meskipun, karena keb*doh*nkulah telah membuangnya, bahkan sebelum kugenggam.
Akan tetapi, setidaknya kini telah kusadari, akupun memiliki hatiku, dengan pemujaan atas dirimu.''
Dua minggu kemudian, di kekaisaran Zing, tepatnya di kediaman keluarga Yun.
"Kapan kabar itu tiba, mengapa tidak mengirimkannya kepadaku?." tanya nyonya Yun, dengan nada yang masih tenang.
" Beberapa saat yang lalu nyonya, kebetulan saya tadi hendak mengantarkannya, dan ternyata anda sudah datang." jawab sang pelayan dengan penuh hormat.
"Baiklah, kau boleh melanjutkan tugasmu yang lain.'' ucap nyonya Yun kembali, sembari menerima sepucuk gulungan dengan segel akademi kekaisaran Zing, tertera diatasnya.
" Ada apa Ruoer?, surat dari siapa lagi?, mengapa wajahmu, jadi tidak bersemangat?." tanya beruntun, seorang pria yang baru saja memasuki ruang utama, kediaman Yun.
Mendengar suara itu, Ziaruo menghentikan langkahnya, ia berbalik dan mendekati sang pria, yang kini sudah mendudukan tubuhnya, pada sebuah kursi di dalam ruangan tersebut.
"Yunsang sakit, dan sekarang di rawat dibalai pengobatan istana, aku rasa itu ide dari kaisar." jawab Ziaruo, sembari ikut mendudukan tubuhnya disana, pada sebuah kursi lainnya, yang berjarak sebuah meja dari tempat duduk sang kakak.
Dengan tangan lembutnya wanita itu, menuangkan teh untuk pria, yang sudah hampir 9 tahun menjadi keluarganya.
"Lalu, apakah kau akan datang?, ingat Yunsang sangat manja kepadamu, dan ini sudah lebih dari dua bulan, kau belum mengunjunginya, mungkin dia sangat merindukanmu." ucap Yongyu apa adanya.
Pria tersebut tahu, bahwa apapun yang berhubungan dengan Ziaruo dan Yunsang, segalanya bukanlah hal yang sederhana.
Akan tetapi, bagaimanapun Yunsang adalah tanggung jawab mereka, dan kasih sayang bocah kecil tersebut adalah tulus menganggap Ziaruo sebagai ibunya.
__ADS_1
Meskipun, ia tahu ada orang orang tertentu, yang memanfaatkan, hubungan diantara keduanya.
"Apakah kau tidak memiliki perasaan sedikitpun kepadanya Ruoer?." tanya Yongyu pelan, namun jelas penuh dengan keseriusan.
" Aku tahu, kau memutuskan untuk menghindari suatu pernikahan, tapi bukankah kau juga harus memiliki seseorang yang menjagamu?." tanya Yongyu lagi, kali ini dengan nada yang seolah memiliki pengharapan, atas sebuah hubungan diantara dirinya dan kaisar Zing.
Mendengar hal tersebut, wanita itu menghela nafas panjang, dan menatap kearah sang kakak dengan penuh kelembutan.
" Apakah kakak akan tenang, jika aku menikah kedalam sebuah istana, dan memiliki pertempuran dengan wanita wanita itu, di istana dalam, bukankah itu terdengar konyol kak?." ucap Ziaruo masih dengan nada tenangnya, namun kali ini ada kekehan kecil disela sela ucapannya.
Sebuah senyuman, sebagai ungkapan yang seolah, mentertawakan suatu kejadian lucu, jika ia melangkahkan kakinya kedalam harem istana kekaisaran.
"Kakak tentu ingat, bahwa kedatanganku disini, adalah sebuah hukuman, dan siapapun yang mendekatiku, mungkin akan ikut menjalani hukuman tersebut bersamaku." ucap wanita tersebut dengan suara pelannya.
Yongyu mendengar ucapan sang adik, sembari menyeruput tehnya.
"Kakak masih ingat dengan Gutingye kan?,bahkan kami menikah belum dapat dihitung satu hari, mereka sudah menerima keburukan dan meninggal dengan cara yang menyedihkan." lanjut Ziaruo pelan.
Manik mata coklat itu menatap kearah sang kakak, namun entah kemana fokus dari pikiran wanita itu perginya.
"Aku tahu, mungkin kamilah yang tak layak untukmu, oleh karenanya, aku lebih memilih berdiam disatu tempat diujung hatimu sebagai saudara.
Setidaknya, selamanya aku bisa selalu bersama dan menjagamu." pikir Yongyu dalam hatinya.
Sementara itu, Ziaruo masih menerawang, dengan semua pemikiran dan ingatan, tentang kejadian saat pernikahannya dengan Gutingye, wajahnya tampak sendu dan ada gurat kesedihan disana.
" Mungkin jika saat itu, aku tidak kehilangan ingatanku, kejadian mengerikan tersebut tidak akan terjadi." ucap Ziaruo lirih, namun masih jelas di dengar oleh kakaknya.
Mendengar ucapan wanita itu, Yongyu merasakan sebuah penysalan mendalam dihatinya.
"Itu bukanlah kesalahanmu, lagi pula Gutingye sudah mengetahui bahwa kau adalah saudaraku, tapi dia justru menutupinya dan menikahimu secara diam diam." ucap Yongyu berusaha menghibur hati, dan menghilangkan rasa bersalah sang adik.
"Lagi pula, jika dia secara terus terang dan tidak menipumu, apakah kau juga akan bersedia menikah dengannya?." ucap Yongyu lagi, sambil menggegngam tangan Ziaruo, ia duduk berjongkok dihadapan wanita itu, Yongyu berusaha menunjukan sisi lain, dari cerita tragis pernikahanya bersama Gutingye.
"Jadi hentikan rasa bersalahmu, semuanya telah berlalu, dan siapa yang di dunia ini, tidak menjalani takdirnya masing masing?, anggap saja hal itu, adalah jalan takdir diantara kalian." lanjut Yongyu dengan sikap tenang, serta penuh kelembutan.
"Terimakasih kak..., Terimakasih sudah ada bersamaku, disaat saat sulitku selama ini." ucap Ziaruo sembari memeluk sang kakak erat.
"Bukan hanya materi, kekuatan dan kehebatan.
Bahkan, terkadang sebuah kehadiran sebagai dukunganpun, berharga untuk dipertahankan."
__ADS_1