Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 100 Makluk Jelmaan


__ADS_3

Masih didalam kediaman selir Feng.


Yang Mulia...lihat hamba...hamba selir Feng baginda, lawan pengaruhnya... dan lihat hamba Yang Mulia.'' Lanjut wanita itu kembali, sembari menarik Ziaruo dengan kasar, ia ingin memisahkannya dari tubuh Kaisar Jing.


Selir itu berpikir bahwa, Kaisar Jing tengah dalam pengaruh guna guna dari Ziaruo.


Melihat perlakuan kasar wanita tersebut kepada Ziaruo, Jing mendorong dan membentak nya dengan keras, hingga wanita itu terjatuh. ''B*d*h, apa yang kau lakukan hah.''


Kaisar Jing, sangat kesal sehingga ia ingin memberikan tamparan kepada wanita itu, akan tetapi tindakannya dicegah oleh Ziaruo.


''Kau benar selir Feng, Kaisar memang sedang dibawah pengaruhku, lalu apa yang bisa kau lakukan?.'' Ucap Wanita itu, serta mendekati sang selir yang kini terjerembah di lantai.


Mendengar ucapan itu, selir Feng menatap wajah Ziaruo, dan berkata.'' Kau....'' Dengan penuh ketakutan?


''Lihatlah wajahku baik baik selir, bagaimana menurutmu?, apakah tampak wajar?, menurutmu berapa usiaku sekarang Selir?.''Ucap Ziaruo kembali, sembari membantu wanita itu berdiri, serta mendudukannya pada pinggiran ranjang.


''Dengarkan ucapanku baik baik, namaku Ziaruo, usiaku lebih dari puluhan ribu tahun. Mungkin aku adalah leluhurmu, mangkanya kau sedikit memiliki kemiripan denganku.''


Ziaruo berbicara dengan terus terang tentang dirinya, akan tetapi ada sedikit campuran kepalsuan, tentang dirinya sebagai leluhur wanita tersebut.


Sementara itu, selir Feng seperti orang bodoh yang mulai ketakutan, dia mempercayai bahwa wanita itu memang bukan manusia, terlebih lagi ketika sesekali Ziaruo melangkah di udara layaknya berjalan di daratan.


''Kau...kau...kau siluman...yaa...kau siluman.'' Gumam gumam wanita itu terbata bata, sembari membawa tubuhnya naik keatas ranjang, dan bergerak kepojokan.


Kau...kau...kau siluman...yaa...kau siluman.'' Ucapnya berulang kali.


Selir Feng berusaha menemukan sesuatu sebagai senjata perlawanan, ketika nanti terancam, akan tetapi hanya penyanggah kepala yang didapatnya(bantal).


''Kau bisa menyebutku demikian, apapun itu bukan masalah.'' Ziaruo kembali berkata, dengan gerakan yang tak dapat ditebak oleh wanita tersebut, bahkan Jing dibuat terkagum olehnya.


Sesekali Ziaruo melayang di udara, berjalan tanpa suatu pijakan, terkadang ia meletakkan tubuhnya dipangakuan Jing secara tiba tiba, dan sesaat kemudian ia berjalan terbalik diatas atap ruangan.


Dan saat ini tiba tiba ia sudah berada disamping selir Feng dan berbisik lirih ''Kau tahu, Aku telah bekerja saaaangat keras, untuk menjaga kecantikanku ini selir, hampir setiap purnama harus bisa mencari wanita cantik untuk mempertahankannya.''

__ADS_1


Kali ini Ziaruo melakukan gerakan tangan lembut, sembari menyentuh wajahnya.


Ia ingin menciptakan imajinasi, bahwa dirinya mengambil kecantikan wanita lain, untuk mempertahankan kecantikan miliknya, dan itu jelas berhasil.


Dalam pemikiran selir tersebut, Ziaruo menghisap habis tubuh wanita wanita cantik hingga kering, untuk menjaga kecantikannya itu, dengan reflek ia meraih selimut dan menutup seluruh bagian tubuhnya.


Kaisar Jing yang melihat hal itu, menahan tawa yang hampir saja terlepas dari bibirnya.


''Dan.... kau tahu, dengan menikahi Kaisar tampan kalian ini, membuatku jauh lebih mudah mendapatkan wanita wanita cantik, tanpa ada yang berani mengusikku.'' Lanjut Ziaruo kembali.


Namun kali ini, wanita itu bergerak mendekati Kaisar Jing suaminya, ia menempatkan tubuhnya diatas pangkuan sang Pria, sembari membelai lembut wajahnya, ketika ia menyebutnya sebagai Kaisar tampan tadi.


Bukan hanya itu saja, didepan selir Feng Ziaruo meletakan kedua tangannya di leher sang suami, men**cup pelan bibir pria tersebut, serta menempelkan keningnya pada kening sang Kaisar.


Sesungguhnya Ziaruo, merasa sangat malu melakukan hal tersebut, akan tetapi demi kesempurnaan ceritanya, ia musti memperlihatkan sesuatu yang berbeda dari sosok dirinya.


Berbeda dengan kedua wanita yang disana, pikiran Kaisar Jing, kini tengah mengembara diantara belaian sang permaisuri, baginya perlakuan tersebut, membuatnya benar benar tertekan, gelora didada bidangnya berdegub dengan hebat, darahnya memanas seolah seluruhnya mengalir keatas kepala.


Ziaruo mendengarnya dengan baik, namun dengan cepat ia turun dari pangkuan sang suami, meskipun pria tersebut enggan melepas tangannya.


Wanita itu, kembali muncul tiba tiba diatas ranjang, dimana sesaat lalu ia menghilang dari pandangan keduanya( Jing dan selirnya), mendekati wanita yang kini bersembunyi dibalik selimut, hanya menampilkan kepala yang pucat pasih.


''Apa kau tahu berapa jumlah selir milik suamiku, ketika kau datang keistana?, dan menurutmu apakah jumlah mereka masih sama seperti saat kau datang selir Feng?.'' Lanjut Ziaruo kembali dengan meyakinkan, padahal jika boleh dikatakan Ziaruo sendiri pun tidak tahu berapa jumlahnya.


Akan tetapi yang jelas Jumlah mereka memang berkurang drastis, bukan karena di makan/ atau dihisap inti sari tubuhnya oleh Ziaruo, melainkan dipulangkan oleh Kaisar Jing, ke rumah mereka masing masing.


Semenjak pria tersebut menikah dengan Permaisuri Yun, ia sering memulangkan wanita haremnya, meski dengan sedikit kesalahan, bahkan akan memberikan hadiah bagi mereka yang dengan suka rela ingin dipulangkan kembali kekeluarganya.


Permaisuri Yun, benar benar membuat selir Feng ketakutan, tubuhnya menggigil, keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhnya. Ziaruo merasa iba melihat kondisi wanita tersebut, akan tetapi ia juga membenci sikap picik serta culasnya.


Tangan Permaisuri Yun meraih wajah wanita itu, dengan lembut ia mengusapnya, sebuah senyum manis ia pasang di bibir, sebelum kembali berkata.'' Wajahmu cantik juga, sepertinya akan menjadi spesial saat purnama mendatang.''


Mendengar ucapan tersebut, selir Feng tubuhnya seolah beku, kepalanya tiba tiba terasa berat, dan dalam sesaat saja ia telah terkulai tak sadarkan diri.

__ADS_1


Melihat lawannya jatuh pingsan, Ziaruo menghela nafas dan bergumam. "Heeeeehhhh...Kau sungguh penakut, aku hanya menggertakmu sedikit saja, sudah jatuh pingsan, sungguh tidak menyenangkan.''


"Bagaimana dia tidak pingsan?, seandainya aku tak mengenalmu dengan baik, Mungkin aku akan berteriak memanggil semua pengawal, hahaha...hahaha..'' Sahut Jing sembari melepas tawa, yang sedari tadi ia tahan.


''Ayo kita kembali, aku sudah jengah disini, lagi pula masih ada yang belum kau selesaikan, dan harus sekarang!, aku sudah bersabar sedari tadi.'' Bisik Jing di telinga Ziaruo, setelah ia mengangkat tubuh sang permaisuri, membawanya meninggalkan pavilliun selir Feng.


Namun sebelum ia benar benar pergi dari sana, Kaisar memanggil pelayan dan memintanya mengurus sang selir, sembari menitipkan pesan singkat, untuk wanita yang kini tengah terkulai tak sadarkan diri diatas ranjang.


''Katakan kepadanya, untuk pergi dari istana sebelum purnama mendatang, atau aku akan melakukan yang lebih buruk lagi dari ini.'' Ucap sang Kaisar dengan wajah datarnya.


Pria tersebut tak menghiraukan kondisi wanita Feng itu, dia hanya bergegas melangkahkan kakinya, membawa sang permaisuri, meninggalkan pavilliun yang pernah menjadi tempatnya bermanja, beberapa waktu lalu sebelum ia menikahi Ziaruo.


Terlebih lagi, disaat ia tengah merindukan wanita itu, serta merasa bahwa segalanya tidak mungkin diantara mereka ( Jing dan Ziaruo), ia akan datang menghabiskan waktu bersama selir Feng, wanita cantik yang dikatakan memiliki sedikit kemiripan dengan Ziaruo.


Sejujurnya Jing merasa iba kepada selir Feng, ia menyadari segalanya berasal dari dirinya. karena kelembutan yang ia tujukan untuk sang selir, atas perasaannya terhadap wanita lain( Janda Yun/ Ziaruo) yang tidak tersampaikan, dan dialihkan kepadanya membuat wanita tersebut merasa spesial.


Oleh karena itu, ia memberikan pengampunan kepada sang selir. Meskipun wanita itu, sering bertindak kurang logis, bahkan tak jarang ia memanfaatkan nama sang Kaisar, untuk memberikan tekanan kepada orang lain.


Segala sesuatu memang selalu tentang sebab dan akibat, karma budi masing masing individu.


Sebab Kaisar saat itu mendukungnya, akibatnya ia menjadi sombong dan sering semena mena terhadap wanita lain sang Kaisar.


Sebab dia tak lagi dipedulikan, akibatnya ia berulah dan menjebak Ziaruo.


Apakah hal itu adil bagi sang selir?, bagaimana seharusnya keadilan berjalan?. Segalanya selalu tentang kekuasaan dan pandangan orang tentang suatu kedudukan.


Semakin besar harta yang dimiliki, semakin besar pemujaan untuknya, semakin tinggi kedudukan, semakin berat timbangan keadilan baginya.


(Hanya salah satu unsur polemik di kisah SuKaTiKe, tidak ada sangkut pautnya sama yang lain.*peace*)


Terimakasih sudah mampir dan membaca,


Mohon bantuan like dan tingalkan komennya ya..... agar Author lebih SEMANGAT.

__ADS_1


__ADS_2