
Sementara itu, di perbatasan hutan barat, Guru besar Mengshuo bersama rombongan sudah berhasil keluar dari hutan.
Pria tersebut ikut dalam rombongan, sebagai pengawas para cendekiawan muda kekaisaran, yang akan ikut dalam kompetisi di negri Tang.
Sudah hampir tiga hari ini Mengshuo memperhatikan, tentang pergerakan dalam kereta kuda Kaisar dan permaisuri. Akan tetapi ia tak pernah melihat keduanya, atau salah satu dari tuannya tersebut, turun dari kereta.
Tidak ketika acara makan, ataupun sekedar membersihkan diri mereka. Seakan disana tak pernah ada seorangpun yang menempati.
Sujujurnya, Guru besar Meng memiliki keinginan untuk melihat seseorang dari dalam kereta itu.
Namun bagaimanpun ia berusaha, tetap sia sia saja. Orang yang ia harapkan tak kunjung keluar, bahkan bayangannyapun tak terlihat.
Jendral Song Yisu, yang memimpin rombongan bahkan menerapkan aturan baru, melarang siapapun mendekat kearah kereta sang Kaisar.
Dengan alasan, keduanya tidak ingin diganggu.
Bahkan untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan, menurut Jendral Song, Kaisar memerintahkan acara makan serta penyajian yang terpisah.
Sungguh berbanding balik dengan ia yang biasanya, dimana ketika melakukan perjalanan panjang, atau kunjungan ke negri lain, Kaisar Jing selalu mengutamakan kebersamaan dan hal itu bertujuan untuk saling melindungi.
Namun di perjalanan kali ini, pria penguasa itu justru seolah menyembunyikan diri, dan tak ingin di lihat oleh orang lain(penjaga dan setiap orang dalam rombongan).
Pada awalnya Mengshuo berpikir, sang tuan melakukan hal itu, untuk melindungi Permaisuri tercintanya.
Namun, ia semakin merasa aneh ketika melihat penjagaan untuk kereta yang terlihat biasa saja, hanya menempatkan 3-4 orang saja.
Seolah tidak mewaspadai atau mencoba untuk memperketat pengamanan dari serangan pihak luar(pembunuh / penyerang).
Terlebih lagi, setelah hampir 3 Hari diperjalanan, Kaisar Jing dan Permaisuri tidak menunjukan tanda tanda, pernah keluar meskipun hanya untuk melakukan rutinitas alamiah tubuh mereka(sekedar buang ari kecil).
Dengan wajah yang penuh kecemasan, Mengshuo menghampiri jendral Song dan bertanya. ''Jendral, apakah Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri, dalam keadaan yang baik?, mengapa tidak pernah melihat mereka?.''
Mendengar pertanyaan tersebut, Jendral Song terkejut sejenak, ia hanya mengingat pesan dari Wuhan tangan kanan sang Kaisar.
''Ingat, hanya katakan bahwa Kaisar dan Permaisuri ingin berduaan saja menikmati perjalan ini, dan tidak di izinkan siapapun mengganggu'' Kilas ucapan Wuhan, dalam benak Song Yisu.
Mengingat hal itu, jendral Song menjawab pertanyaan Mengshuo dengan tenang. ''Yang Mulia baik baik saja, beliau hanya berpesan tak ingin diganggu, apakah Guru besar ada keperluan mendesak?.''
Mengshuo terdiam sejenak, mendengar jawaban Jendral Song, ia kebingungan harus menjawab apa, akan tetapi dengan otak jeniusnya, hal itu tak berlangsung lama dan kembali berkata. ''Tidak ada yang terburu buru, aku bisa menundanya hingga nanti kita sampai di kekaisaran Tang.''
''Baiklah aku akan kembali kekeretaku, terimakasih atas pengawalan dan perlindungan yang anda berikan Jendral.'' Lanjut pria itu kembali, sebelum melangkah pergi dari sana.
__ADS_1
Sepeninggal Guru besar Mengshuo, tampak jelas kelegaan pada wajah jendral Song, sesungguhnya ia juga takut jika Guru besar Meng memutuskan, atau memaksa untuk bertemu dengan sang Kaisar.
Karena seperti yang telah diketahuinya, Kaisar Jing dan Permaisuri tidak ikut( tidak berada didalam kereta) dalam rombongan kali ini.
Namun hanya dirinya, dan 3 pengawal kepercayaan Kaisar Jing yang menjaga kereta saja, yang mengetahui akan hal tersebut .
Jendral Song pada awalnya merasa kebingungan, namun sebagai seorang abdi, ia hanya menuruti apa yang diperintahkan kepadanya saja.
Ia memahami tak memiliki hak, ataupun otoritas untuk mempertanyakan perintah sang tuan.
......................
Sementara itu, di pavilliun Yincang, Kaisar Jing berjalan dengan langkah tegas, memasuki ruangan dimana seorang pria dengan wajah yang sangat dikenalnya, tengah terbaring diatas ranjang.
Pria itu menatap Jing, dengan sorot mata tajamnya, sejak pertama kali Kaisar tersebut masuk. Ada kemarahan atas diri pria tersebut.
''Kau beruntung karena aku sedang berada di tubuh ini, jika saja aku masih yang kemarin, kau tidak akan bisa berdiri dengan kakimu itu.'' Ucap Murongxu dengan penuh kebencian.
Murongxu semakin geram, saat melihat Kaisar Jing tampak tak menghiraukan perkataannya.
''Kau mungkin sekarang bersamanya, tapi tetap saja dia milikku selamanya.'' Lanjut Murongxu lagi.
Mendengar hal itu, Jing mulai berjalan mendekat, tatapan matanya mengarah pada tangan, serta kaki pria diatas ranjang.
Dengan gerakan cepat, Jing menekan tangan dan kaki Murongxu kasar, ia sengaja melakukannya untuk menyakiti pria tersebut.
Mendapat perlakuan yang demikian, Murongxu merasakan kesakitan yang hebat, akan tetapi tak ada sepatah rintihan atau mengaduh dari bibirnya.
Jing mengetahui bahwa pria tersebut tengah kesakitan, dengan tangan yang sama, namun tenaga yang jauh lebih besar, ia kembali melakukan tindakan serupa.
Dengan wajah penuh kepuasan, Jing berkata. ''Dia adalah miliku sejak awal, aku hanya mengambil kembali apa yang telah aku miliki.''
Mendengar hal itu, Murongxu tertawa dengan keras.'' Hahaha...hahaha..hahaha, dasar manusia b*d*h."
Ada rasa sakit yang teramat hebat pada tangan dan kakinya, akan tetapi mendengar ucapan Jing, Murongxu menjadi lebih tenang dan menjawab. ''Apa kau sungguh tidak tahu, kehidupan kalian hanya hitungan jari saja. Bagi kami, yang telah hidup ribuan tahun...Bukan...kami bahkan telah melalui kebersamaan selama puluhan ribu tahun, kebersamaan kalian ibarat sebuah mimpi buruk bagi tidur kami saja.''
Jing semakin memperkuat tekanannya pada lengan Murongxu yang berbalut perban, hatinya seolah telah tumbuh duri kebencian.
''Apakah mimpiku, hanya sebuah hanyalan, mengapa ia tak mengerti dengan yang kukatakan.'' Gumam Jing dalam hati.
Jing bermaksud mencari makna dari mimpi mimpinya beberapa hari terakhir ini, sebuah mimpi yang seolah nyata, tentang dirinya yang terpisah dengan wanita tercinta, karena kehadiran pria yang mirip dengan Murongxu.
__ADS_1
Ia datang ke ruangan tersebut, untuk mencari pembenaran, atas kisah didalam mimpi yang selalu hadir akhir akhir ini.
Sebuah mimpi yang sama dengan kisah di dalam cermin ari bulan, yang telah disaksikan oleh Yongyu, adik kandungnya.
Jing semakin bingung, manakala Murongxu tak mengerti arah pembicaraannya. Seakan ucapannya hanya sebuah perkataan seorang pria yang tengah cemburu.
Bahkan Murongxu menegaskan, tentang seberapa singkatnya pertemuan mereka sekarang, bukan tentang pertemuan terdahulu seperti di dalam mimpinya.
Melihat wajah pria itu seolah memucat menahan rasa sakit, Jing melepaskan tangannya, dan hendak berjalan keluar.
Namun, sebuah ucapan menghentikan langkah kakinya.
''Dan ku kira hampir tiba waktunya kami akan bersama. Pada saat itu tiba, tubuh yang telah kau sentuh, aku akan membakarnya hingga hangus hingga tak bersisa.'' Ucap lirih Murongxu disela helaan nafasnya yang tersengal.
Sebuah penahanan pernafasan, sebagai pengalih rasa sakit dari tubuh lainnya.
''Berapa kalipun kau menyakitiku, segalanya pantas kudapatkan, karena tak lama lagi dia akan segera mengakhiri masa hukumannya, dan kami akan bersama kembali.'' Lanjut Murongxu lagi.
Langkah Jing tetap tenang, seolah ia telah mengetahui segala yang di ucapan oleh Murongxu.
Namun ketika ia sudah berada di balik pintu, tangannya mengepal dan mencengkram dada bidangnya dengan kuat.
Seolah, Jing tengah berupaya meredakan kesakitan disana.
''Yun...benarkah waktumu tinggal sedikit?, mengapa kau tak mengatakannya?, mengapa Yun?.'' Gumam dalam hati Jing, disela langkah kakinya yang terasa berat.
Wuhan yang melihat hal tersebut, segera mendekat dan membantunya, berjalan menuju kamar dilantai atas.
Dengan masih memapah tubuh sang tuan, Wuhan memberikan diri bertanya. ''Apakah anda baik baik saja Yang Mulia?.''
Kaisar jing mendengar pertanyaan Wuhan, akan tetapi ia tak berniat menjawabnya, seolah ada rasa sesak yang menghimpit dada, serta mengunci bibirnya rapat.
Dan bagi sang penjaga, diamnya Kaisar Jing juga sebuah jawaban. Oleh karena itu, ia tak ingin mengulangi pertanyaannya kembali.
Hingga sampai di depan kamar atas, Jing menyuruh Wuhan meninggalkannya sendiri, dan berpesan agar tidak ada yang menggangu.
Kaisar Jing merebahkan tubuhnya pada ranjang ruangan. Dengan perasaan yang berkecamuk pria itu meraih selimut dan menutupi tubuhnya.
''Yuun...apakah kau akan segera ninggalkanku?.'' Ucapnya lirih.
Sementara itu, Ziaruo yang berada di toko perhiasan miliknya, yang berada tak jauh dari penginapan Nancang.
__ADS_1
Tiba tiba saja ia merasakan sakit di sekitar dada, seolah ada yang tengah menikamnya dengan benda tajam, tubuh Ziaruo berkeringat serta kesulitan bernafas.
Rayyan yang mengetahui hal itu merasa cemas, ia segera mendekat dan bertanya. ''Ada apa dengan anda Nona?, apakah anda terluka?.''