
Yongyu berusaha menenangkan pikiran, serta berdamai dengan gemuruh hati, seraya bergumam dalam diam.
''Dewa jika ada kehidupan lain nanti, biarkan aku tak memiliki saudara sedarah, jika itu seperti dirinya.
Lebih bijak saudara yang dipertemukan dalam kedekatan, saling menjaga, dan menghargai pertalian. Meskipun, bukan dari rahim ibu yang sama.''
Perasaan Yongyu masih berkecamuk, pikiran itu semakin terpancing kemarahan manakala kilasan kejadian di masa lalu, kembali melintas di benaknya.
Ia perlahan membuka mata, tangannya tanpa sadar mengepal kuat.
''Benarkah anda Jiangyun?, lalu dimana, dan mengapa baru sekarang, anda menunjukan diri?.''
Tiba-tiba saja Yongyu ikut membuka suara, dan menanyakan pertanyaan yang hampir semua orang ingin tanyakan, kepada Jing yun di depan sana.
''Benar, bukankah anda seharusnya....''
Wuhan secara reflek, menyambung pertanyaan dari Yongyu.
Namun entah mengapa, ucapan pria tersebut sempat terjeda sejenak, sebelum akhirnya kembali ia lanjutkan. ''Seharusnya anda tidak harus kembali(telah meninggal) setelah sekian lama?.''
Wuhan menyambung ucapan Yongyu, ia ingin sekali mengetahui bagaimana Jiang Jingyun, dapat melewati hidupnya sekian lama, tanpa meminum ramuan penekan racun ditubuhnya.
Terlebih lagi, sekarang setelah hampir beberapa tahun, bahkan tubuh Jiang Jing Yun dapat dikatakan segar bugar, dan tak memiliki tanda-tanda efek racun sama sekali.
Meski demikian, mengingat dimana mereka sekarang, dengan banyaknya pasang mata, serta telinga memperhatikan, Wuhan mengurungkan hal itu.
Jiang Jing Yun jelmaan, yang tidak mengetahui arah pembicaraan, dan maksud pertanyaan sebenarnya dari Wuhan, mulai terpancing, serta menjawab apa yang ia ketahui sesuai pemikirannya.
''Mengapa aku harus kembali, bukankah banyak tempat yang dapat aku tinggali. Lalu apa salahnya jika baru kembali sekarang?, pria ini hanya pangeran dalam gelar saja, dan bukan seorang Kaisar yang harus bermegah-megahan diatas kursi kekaisaran.'' Jawab Jingyun tanpa memikirkan apapun.
Ia tidak menyadari kesalahan ucap, dalam deretan jawaban yang sengaja di tanyakan oleh Wuhan.
Dan tentu saja, baik itu Wuhan, Yongyu serta Jiang Jing wei mengetahui letak kejanggalan tersebut.
Dengan jawaban yang tidak bersangkutan atas racun di tubuh Jingyun yang asli, Jiang jing yun jelmaan telah membuka kedoknya sendiri.
Sementara mendengar Jawaban yang di rasa janggal tersebut, Wuhan tersenyum dan kembali berkata. ''Jelas anda bukan dia, karena dia tidak sebodoh anda.''
Wuhan mengenal baik siapa Jiang yun.
Karena selain sebagai pengawal setia Jiang Jing wei, ia adalah teman sepermainan sejak kecil pangeran ke-2.
Dirinya adalah, salah satu orang yang mengenal baik jiang Jingyun.
Jika bukan karena kasta dan darah keturunan yang membedakan, mungkin Wuhan adalah saudara lain bagi jing yun.
Akan tetapi, sebagai seseorang yang mampu menempatkan diri, terutama ketika ia mulai menginjak usia remaja, dan memahami perbedaan diantara mereka.
Wuhan mulai membatasi interaksi, dan cemderung menarik diri dari kedekatannya dengan Jing yun.
Ia lebih terpusat dalam misi-misi, yang di berikan oleh Kaisar Jiang jing wei kepadanya.
Dengan keputusan yang demikian, Wuhan menjadi sosok yang lebih diam dan terkesan dingin, serta jarang memberikan pundaknya untuk keterpurukan Jingyun.
__ADS_1
Hingga lambat laun, ia semakin dingin dan mengacuhkan teman sejak kecilnya tersebut, akibat ulah dari Jiang jing wei.
Namun, perasaannya kembali bergejolak, disaat Jing memerintahkannya untuk memasukan racun, secara paksa kedalam mulut Jingyun.
Baginya ia adalah lebih dari sekedar seorang pangeran, hatinya ingin menolak perintah tersebut.
Akan tetapi, kedudukan serta sumpah yang ia ucapkan, ketika Jing wei menerima dirinya, dan membawanya masuk keistana, mengharuskan Wuhan tetap menjalankan perintah tersebut.
Seburuk apapun perintah sang tuan, ia harus segera melaksanakannya dengan baik.
''Asli ataupun bukan, ketika semuanya telah berada di tanganku, bahkan jika Jingyun yang sebenarnya datang, hal itu tak akan membuatku menjadi yang palsu.'' Ucap Jiang Jingyun jelmaan dengan tegas.
Baik itu Yongyu, wuhan, Kaisar Jing dan semua prajurit yang disana, mendengarnya dengan jelas.
Kini mereka mengerti siapa sosok, di balik wajah pangeran ke-2 di depannya.
Akan tetapi, pengertian tersebut hanya sebatas tahu, bahwa di depannya hanyalah seorang peniru saja.
Mereka masih belum memahami apa maksud dibalik ini, dan siapa jati diri dari Jingyun disana.
Namun, setelah beberapa saat mereka mengetahui akan hal tersebut. Sebuah bayangan kabut besar menyelimuti tubuh Jingyun.
Kabut itu, terus berputar dan menyelimuti tubuh gagah di depan mereka.
Seolah, sebuah kekuatan yang akan menelannya hidup-hidup, dan mengakhiri tubuh sang peniru untuk selamanya.
Akan tetapi, hal itu bukanlah yang terjadi, setelah menunggu dan menyaksikan kejadian di depan mereka beberapa saat.
Tubuh besar, dengan 2 kali ukuran tubuh manusia pada umumnya.
Dan dari bagian leher hingga ujung kepala, masih dalam wujud serigala.
Manik mata yang berwarna coķat kekuningan, seolah bersinar dengan ketajaman, serta kebuasan yang liar terpancar jelas.
Di bawah sorot nyala api yang berkobar, membakar kamp prajurit pemberontak di sana, mata itu seolah semakin terang serta memberikan efek menakutkan.
Entah karena tampilan, atau suasana yang mulai merambat semakin gelap, membuat bulu kuduk berdiri, serta desir perasaan yang menciptakan rasa takut serta ngeri.
Bahkan nyala api terang yang berkobar, tak dapat membuat kengerian dari mata itu menghilang.
Yang ada, justru seolah semakin membuat sosok di depan mereka, terlihat seperti dewa kematian.
''Bagaimana apakah kalian menyukai diriku yang seperti ini?.'' Ucap mahkluk Jingyun tersebut.
Tanpa memerlukan jawaban dari siapapun, dengan cepat ia bergerak menyerang kearah barisan orang di depannya.
Namun dengan arah serangan serta gerakan miliknya, semua orang mampu menebak. Bahwa, tujuan dari serangan serta gerakan tersebut, lebih berpusat untuk melumpuhkan Jiang jing wei.
Menyadari hal yang demikian, baik itu Wuhan, dan para penjaga bayangan elit Jing, segera memberikan perlindungan, serta menjadikan tameng diri mereka, di depan Jing.
Jendral besar Feng sebagai ayah biologis Jing, lebih tak dapat tinggal diam.
Melihat ancaman untuk sang putra, dengan reflek mengambil kancah paling depan, dan di ikuti para pasukan terpercaya miliknya.
__ADS_1
Tindakan tersebut, dengan cepat menarik perhatian jendral muda Song yisu, yang ajak awal memang berada di samping Feng.
Namun, dengan gerakan cepat dari mahkluk itu, yang layaknya sebuah kilatan cahaya, bukan hanya para prajurit yang terpental jatuh tersungkur ditanah.
Jendral besar Feng, dan jendral Song yesu juga tampak kewalahan hanya dengan beberapa gerakan dari sosok jelmaan itu.
Hal ini bukan dikarenakan mereka tidak memiliki kemampuan.
Namun, mereka berdua tak dapat melakukan tindakan ataupun melakukan serangan yang berarti, dihadapan sang jelmaan.
Mahkluk tersebut dapat leluasa memukul mereka, dari arah manapun tanpa terdeteksi.
Dan sekalinya mereka menyadari keberadaannya, serta memiliki peluang menyerang, tetap saja segalanya sia-sia.
Karena semua pukulan, serangan, serta sabetan senjata mereka, tak dapat menyentuh tubuh jelmaan dengan mudah.
serangan-serangan itu, hanya menembus tubih teesebut, dan berlalu seperti bayangan.
Seperti sebuah sabetan benda tajam diatas air dan tidak memiliki efek apapun disana.
Bahkan, setelah beberapa saat berlalu, tak hanya teriakan kesakitan serta lengking rintihan terdengar dari para pasukan milik Jing.
Dan pada akhirnya banyak tubuh prajurit yang telah tergeletak, dan tak bernyawa.
Dari deretan tubuh yang tak berkutik di tanah, kebanyakan dada mereka terkoyak, serta berlumuran darah, akibat jatung serta hati di tarik keluar secara paksa.
Mahkluk itu nyatanya tidak hanya sekedar membunuh para prajurit milik Jing, ia juga mencabik dada, dan mengeluarkan isi di dalamnya dengan kebuasan yang mengerikan.
Hal ini juga berlaku untuk para prajurit pengikut Jingyun, yang telah terkepung beberapa saat yang lalu.
Bagi mahkluk itu, bai mereka memihak kepadanya ataupun tidak, mereka tetap saja bukan anggota dari tubuhnya(tak dianggap orang miliknya).
Sesungguhnya mereka (para prajurit pemberontak), sempat sedikit memiliki harapan.
Di tengah rasa takut atas kematian yang akan mereka terima sebagai sangsi atas pemberontakan kali ini.
Sang pimpinan atau yang lebih mereka kenal sebagai Pangeran kedua, atau Jiang Jingyun, meski dengan wujud mengerikan saat itu, telah dapat membalikan kedudukan, dan dengan mudah melumpuhkan barisan pasukan Jing, dengan satu gebrakan saja.
Mereka berfikir jika kondisi itu terus berlanjut, maka mereka tidak akan menjadi seorang pengkhianat.
Bahkan mungkin, kedepannya mungkin akan memiliki kejayaan, sebagai pengikut kekaisaran yang baru.
Akan tetapi, setelah melihat keganasan dari Jingyun di depannya saat ini, harapan mereka kembali pupus, otak kecil mereka seolah kembali memperoleh asupan pencerahan.
Jikapun pangeran kedua nanti nya berhasil dengan serangan itu, bukankah mereka akan selamat disaat sekarang saja.
Dan kehidupan kedepan mereka beserta keluarga, tak ubahnya sekumpulan domba di dalam sangkar serigala.
Mereka akan menjadi ternak, untuk persiapan makan bagi sang tuan.
Tubuh mereka kembali lemas, dengan ini, pikiran serta hati hampir keseluruhan prajurit pemberontak, di penuhi dengan penyesalan serta rasa takut.
Inikah tuan yang mereka perjuangkan, untuk memimpin di masa mendatang?, ataukah mereka tengah mempersiapkan jantung dan hati sendiri, sebagai hidangan bergilir di meja sang tuan, secara sukarela?.
__ADS_1