Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 222 Perubahan.


__ADS_3

''Baiklah, untuk mendukung karaktermu yang berbudi, kau bisa berdiri di sana hingga fajar.'' Lanjut Jing, sebelum melangkah menuju ranjang untuk beristirahat.


Meninggalkan Fengjiu di ujung ruang, berdiri mematung dengan kebingungan dan sedikit pakaian melekat di tubuh.


Dalam ingatan Fengjiu beberapa bulan terakhir, ia telah memperoleh anugerah berupa kedatangan kaisar di pavilliunnya, sebanyak 4 kali.


Namun, tak ada satu hal baik yang terjadi kepadanya, meski ia telah berusaha dengan sebaik mungkin, untuk melayani pria tersebut.


Nyatanya, semua akan berakhir dengan keburukan untuk diri sendiri.


Fengjiu bukanlah wanita yang pandai.


Namun, ia juga bukan seseorang yang bodoh.


Dan satu kali kesalahan mungkin wajar.


Namun, jika setiap kali kedatangan kaisar ia akan dijatuhi hukuman, bukankah sangat aneh jika kebetulan selalu terjadi.


Dan hal itu adalah, suatu kesalahan yang akan di bebankan pada dirinya.


''Apakah Kaisar sengaja mempersulit dirinya saat ini?.''


''Apakah hanya ia saja yang menerima perlakuan ini?, atau semua selir kekaisaran penerima anugrah kaisar juga mengalami?.'' Gumam dalam hati Fengjiu.


Dalam kekecewaan di sudut ruang, Fengjiu telah mengambil keputusan untuk mencari tahu, tentang sesuatu yang tengah bercokol di pikiran kecilnya.


Sementara, sosok yang tengah berbaring diatas ranjang, justru tengah tersenyum.


Wajahnya menampilkan sebuah kebahagiaan.


''Besok aku akan melihatnya lagi. Weiyun kau memang putraku.'' Ucap Jing dalam lekuk bibir yang melukis lengkung kecil.


..............


Hari berganti, waktu berlalu.


Tak terasa, telah dua bulan lamanya terlewati.


Kaisar Jing di temani oleh Wuhan, dan beberapa penjaga bayangan kembali menyeruak, dan menyamarkan diri diantara rakyat jelata.


Ia berpakaian sederhana, dan berjalan-jalan dengan santai, menelusuri jalanan ibu kota.


Tak ada yang mengetahui alasan dibalik semuanya. Bahkan, tidak juga Wuhan orang terdekat Jing saat ini.


Pria dengan tingkat kearogansian tinggi tersebut, menjadi lebih sulit di pahami sejak kepergian Permaisuri Yun.


Dan tentu saja dalam versi Wuhan.


Meski, setiap orang yang melihat kearahnya beserta rombongan, tak ada yang berpikir mereka adalah orang-orang dari kasta yang sama.


Tetap saja tidak ada yang menduga bahwa, pria di sana dengan rombongan pengawalan, adalah seorang Kaisar.


Tampilan wajah Jing, serta auranya yang terbiasa mendominasi, tak pernah dapat di samarkan.


Terutama untuk para wanita di sana, yang tak dapat memalingkan wajah, begitu melihat kedaulatan sosok Jiang jing wei.


Banyak diantara pejalan kaki, ataupun mereka yang melakukan transaksi jual beli, juga menyempatkan waktu untuk sejenak, menatap rombongan Jiang jing wei.


Meskipun Jing bukan keindahan pria cantik terbaik, tetap saja garis wajahnya yang berwibawa, serta postur tubuh sempurna miliknya, masih memabukan mata kaun hawa.


Wuhan yang menyaksikan mata pemujaan, dari para wanita disana merasa kurang suka.


Seorang Jiang jing wei, hanya pantas bersanding bersama permaisuri Yun saja, tidak mereka, ataupun para selir di haren kekaisaran.

__ADS_1


Ketika memikirkan hal itu, sebuah wajah cantik melintas di benak.


''Jika anda di sini, apakah ada kemarahan melihat tuan menjadi fantasi wanita lain?.'' Tanya Wuhan untuk diri sendiri.


Langkah kaki Wuhan, masih bergerak mengikuti Tuan di depannya.


Melihat serta memastikan apapun, tetap terkendali hingga pria tersebut menyelesaikan segala aktifitas.


Dan satu hal lagi, perubahan mencolok Kaisar Jing saat ini adalah, setiap kali ia menyambangi suatu wilayah, maka dengan wajah cerah, serta semangat setinggi langit, akan memilih banyak mainan serta pakaian anak-anak, dari ukuran terkecil hingga ukuran remaja.


Dan hal ini, bukan hanya satu ataupun dua potong saja, tapi hingga puluhan jumlahnya.


Untuk siapa semua hal itu?, hanya mereka orang-orang terdekatnya yang memahami, dan mampu menebak.


Bahwa semua barang tersebut, adalah untuk para putra, dan putri asuh milik Ziaruo.


Wuhan dan para penjaga bayangan, semakin merasa lega dan lebih menyukai kaisar tersebut.


Memangnya mengapa jika ia kejam?, bukankah kekejaman itu telah pada tempat yang seharusnya?.


Jing hanya kejam kepada mereka yang berdosa (melakukan kejahatan).


Dengan posisinya di atas hirarki kekuasaan, bukankah wajar jika dia berbeda?.


Hati Wuhan selalu merasa yakin, bahwa Kaisar mereka bukan orang berhati dingin dan tak berperasaan.


Mungkin wajah itu memang sulit untuk tersenyum dan berkesan dingin sekarang.


Akan tetapi, ia percaya segalanya akan membaik di masa mendatang, ketika Permaisuri kembali.


Dan mengenai keberadaan wanita Kaisar itu, Wuhan juga sempat beberapa kali bertanya, dimana keberadaannya.


Bahkan, ia juga sedikit kurang puas tentang cara Jing, menanggapi kepergian permaisuri, yang seolah bukan hal penting bagi kaisar tersebut.


Namun, tentu saja Jing tak pernah ambil pusing.


Wuhan hanya mendengar, bahwa Ziaruo baik-baik saja.


Dan jing mengatakan itu, dengan sorot mata tulus.


Sekalinya sang tuan memberi jawaban, itupun masih sebuah jawaban yang mengambang.


Meski ia tidak puas dengan jawaban itu, sebagai seorang pelayan apa hak dirinya untuk mendetil.


..................


''Kirimkan ini untuk mereka ke pavilliun zhi jia.'' Perintah Jing, sembari menunjuk kumpulan mainan, serta pakaian anak-anak.


Sebuah rumah kenangan, atau yang lebih di kenal sebagai pondok harapan oleh masyarakat sekitar.


Sebuah kediaman, dimana Ziaruo dulu sering menghabiskan waktunya disana, bersama para bocah kecil yatim piatu, atau yang tak di inginkan oleh keluarga mereka.


Ya, kaisar semakin peduli dengan keberadaan putra-putri asuh dari Ziaruo.


Dalam satu bulan ini saja, telah dua kali ini ia mengirimkan mainan, pakaian, dan bahan pangan untuk mereka.


Padahal dengan kekayaan, serta penghasilan dari toko-toko milik Ziaruo, mereka telah dapat hidup berkecukupan.


Namun, adakah yang bisa dilakukan, jika kaisar telah berkendak.


Berterimakasih akan menjadi satu-satunya hal, yang dapat di lakukan.


Mendengar perintah tersebut, dua penjaga bayangan segera melesat pergi, sambil membawa barang-barang belanjaan Jing, dan mengantarkannya hingga selamat sampai tujuan.

__ADS_1


Jiang jing wei terus berjalan, di sepanjang keramaian kota.


Wajahnya tetap menyembulkan senyum, meski dengan berbagai pemandangan yang ia lihat.


Akan tetapi, ketika tatapan matanya melihat seorang bocah kecil dengan manisan di tangan, raut wajah Jing berubah menjadi lembut dan mengahangat.


Tangan kokohnya, bergerak menyentuh pucuk kepala sang bocah.


''Apakah itu enak?.'' Tanya Jing kepada bocah kecil, sembari merendahkan posisi tubuhnya dan sedikit berjongkok.


Pemandangan itu, membuat hampir semua penjaga bayangan dan Wuhan, menjatuhkan rahangnya hingga ke tanah.


''Apakah itu benar kaisar mereka?.''


Kurang lebih, itulah yang di pikirkan oleh semua orang.


''Ini enak sekali paman, apakah anda ingin mencobanya?.'' Tanya balik bocah kecil disana.


Wajah gembul kecil itu, tampak sedikit ragu menawarkan manisan.


Namun, mengingat sopan santun yang di ajarakan kedua orang tuannya, ia harus tetap menawarkan, dan berbagi makanan dengan orang lain, bocah itu memajukan manisan lebih dekat kearah Jing.


Meski dalam hati sang bocah, berharap pria besar yang di panggilnya paman akan menolak.


Namun, tangan kecil lucu itu mengulur kedepan, dan wajah menggemaskan miliknya tetap berusaha ramah.


''Semoga paman tidak menyukai manisan.'' Pikirnya penuh harap.


Akan tetapi, tanpa di duga Jing tidak berpikir dua kali, untuk memajukan wajah, dan menggigit satu dari deretan manisan buah yang tetusuk rapi.


''Ia waktu itu, juga seperti ini rasanya, manis dan menyenangkan.'' Gumam Jing dalam hati.


Jing mengingat kenangan, disaat dirinya menggigit manisan buah, dari tangan Ziaruo.


'' Iya.. ini enak sekali.'' Jawab Jing, dengan senyuman dibibir yang tengah mengunyah manisan buah.


Dan lagi-lagi, gambaran tersebut hampir membuat, Wuhan serta kelima penjaga bayangan, muntah darah di tempat.


Secara reflek, Wuhan ingin memastikan kondisi dari kaisar Jing tuannya.


Namun, melihat pria tersebut mengangkat tangan, ia mengerti dan kembali mundur.


''Jika kau menyukainya, bagaimana kalau kuhadiahkan kepadamu beberapa lagi?.'' Tanya Jing, sembari berdiri dan menebah bajunya beberapa kali.


Ia tahu, bahwa bocah itu hanya berbasa-basi kepadanya.


Namun, ia tetap mengambil manisan dari tangan bocah kecil itu.


Jika dia masih sosoknya yang lama, mana mungkin pria dengan kedikdayaan serta kearogansian tinggi tersebut, mampu membuka mulut untuk beramah tanah dengan seorang bocah.


Apalagi, untuk mengambil makanan dan berbagai bersama orang lain.


Di tambah lagi, jika Wuhan dapat memahami pikiran Jing sekarang, yang ingin mengajarkan sebuah konsep bijak kepada sang bocah, bahwa dengan kebaikan kecil rela berbagi makanan yang disukai, ia akan menerima kebaikan yang jauh lebih besar dari apa yang ia bayangkan, pria tersebut pasti akan memuntahkan darah.


Dan dengan alasan inilah jing menerima tawaran yang di berikan bocah kecil itu.


Ia berniat, untuk mengganti sebutir manisan buah, dengan beberapa tusukan manisan yang sama.


Sesungguhnya, Jiang jing wei tengah mengingat sang putra yang jauh, di dimensi Yincang.


''Benarkah paman?.'' Tanya bocah itu, dengan sorot mata berbinar.


Melihat senyum dan sorot antusias bocah kecil di hadapannya, Ia kembali mengusap lembut kepalanya.

__ADS_1


''Tentu saja.'' Jawab Jing, dengan gelora di hati yang bergemuruh.


''Yun, apakah dia merepotkan?.'' Tanya Jing dalam hati.


__ADS_2