
"Yuuunn......hari ini aku bahagia, bahkan sangat bahagia Yun.'' Ucap Jing lirih, sebelum kembali m*ncium bibir Ziaruo.
Banyak hal yang tak perlu di ungkapkan dengan sebuah perkataan. Karena debaran hati Ziaruo, semakin menegaskan fakta yang selalu ia sangkal.
Namun, sekeras apapun ia menolak pria tersebut, hatinya telah menerimanya dengan nyata.
Bahkan, tanpa seizin pikiran rasionalnya, jantung serta hatinya berdegup dengan indah atas nama Kaisar Jing suaminya.
Melihat hal tersebut, Wuhan memerintahkan beberapa penjaga, untuk membawa para pelayan kediaman Yan yang pingsan, serta terluka keluar dari ruangan itu, juga meminta semua pelayan paviliun Phoenix keluar dari sana.
Mata tajam Wuhan, menatap Nona Yan tanpa simpati sama sekali, justru sebuah perasaan kekesalan yang terlihat jelas disana.
''Apakah anda masih akan berdiam diri disana Nona Yan?.'' Tanya Wuhan kepada wanita yang kini tampak kosong, seolah tak memiliki jiwa, dengan raut wajah penuh kekecewaan.
Dengan suara yang bergetar ia kembali berkata.'' Kak...kakak Jing, ibunda Permaisuri sudah menjanjikan akulah yang akan menjadi Permaisurimu, oleh karena itu aku disini sekarang.'' Deraian air mata mulai membasahi pipinya, kearogansiannya beberapa saat yang lalu, seolah sirna berlalu bersama waktu.
Mendengar hal tersebut, Jing perlahan menghela nafas dalam.
Jing menatap lembut sang Permaisuri, dan dengan tenang ia berkata.''Aku tak pernah menganggapmu sebagai wanita dewasa, dan bukan aku yang menjanjikan hal tersebut kepadamu.''
Ucapan Jing terhenti sejenak, ia kembali menghela nafas, kali ini pria tersebut mengangkat tubuh Ziaruo, dan berjalan kearah ranjang, sembari berkata.'' Namun jika kau memaksakan diri dan datang kepadaku, maka jangan salahkan, jika hubungan kita akan jauh lebih buruk dari sebelumnya.''
Sebuah tatapan lembut untuk sang permaisuri, namun dengan ucapan tajam yang ditujukan untuk Nona kedua keluarga Yan.
Kaisar Jing, mengatakan segalanya dengan raut wajah datar, tak memperdulikan tangisan wanita yang telah ia anggap sebagai adik tersebut.
Dengan lembut ia membaringkan tubuh Ziaruo, sembari berbisik.''Yuun...bisakah ia masuk ke istana, aku berjanji tak akan melihat ataupun memperdulikannya.
Bahkan jika kau bosan ataupun sedang kesal, kau boleh bermain main dengannya.''
Jing menutup matanya sesaat, seolah ia tengah menekan sesuatu didalam hati, sebelum melanjutkan ucapannya kembali.'' Kau hanya perlu mentolerirnya 3 tiga kali saja, sebagai pembayaran hutangku kepada keluarga Yan. Selebihnya...bahkan jika kau membunuhnya kelak, aku akan menutup mataku.
Mendengar perkataan itu, Ziaruo merasakan kesedihan didalam hatinya. Ia mengerti kesulitan pria itu saat ini.
Tangan itu mengusap lembut kepala Kaisar Jing, sembari berkata dengan lembut.'' Tenang saja, berapapun banyaknya yang akan dikirim oleh ibunda, maka sebanyak itu pula kesenangan yang akan ku miliki ke depannya.''
Yanrui kali ini benar-benar telah merasa dikalahkan.
Dan jelas perasaan hatinya terluka, ia tak lagi dapat mengatakan apapun.
Bahkan untuk berdiri dari duduk dan beranjak pergi, seolah tak memiliki tenaga lagi.
Ada perasaan sakit, malu serta terhina.
Jika saja ia tak mendengarnya secara langsung, mana mungkin gadis itu akan mempercayai kenyataan saat ini.
Dengan tenaga yang tersisa, ia berusaha bangkit dari duduknya.
Tampak jelas langkahnya yang gontai tengah berusaha menopang tubuhnya yang gemetar. Meski demikian, wanita itu tetap berusaha tegap, ketika berjalan keluar paviliun Phoenix.
__ADS_1
Dalam setiap langkahnya menjauh dari sana, ia berpikir mungkin jauh lebih baik jika ia menghilang dan tidak terlihat lagi.
Akan tetapi kemarahan didalam hati yang besar, membuatnya berdiri kokoh.
''Aku bersumpah, penghinaan ini akan aku kembalikan berkali-kali lipat kepadanya.'' Gumam dalam hati Yan rui penuh kemarahan.
Sementara itu, didalam paviliun Phoenix. Sepeninggal Yanrui, Wuhan menutup ruangan serta ikut melangkah keluar dari sana. Meninggalkan kedua insan, yang kini tengah menikmati kebersamaan.
Ziaruo meraih tubuh kekar sang suami, yang tampak penuh kekecewaan serta penyesalan. Bagaimanapun Yanrui hanyalah orang yang di manfaatkan oleh sang ibu, untuk menjauhkannya dari Ziaruo.
Baginya, Yanrui adalah adik tercinta dan hanya itu saja, tidak lebih.
Namun, lagi-lagi sang ibulah yang menempatkannya pada keputusan buruk hari ini. Dan membuatnya mengatakan kekasaran serta menyakiti perasaan Yanrui.
Ia hanya ingin menegaskan, dengan benar kedudukan wanita-wanita selain Ziaruo didalam hatinya, tak jauh lebih berharga dari sekedar pelayan dan mainan saja.
Ziaruo mengerti serta memahami kesedihan pria tersebut. Dengan perasaan tulus kepedulian, ia memeluk erat tubuh Jiang Jing Wei, sembari berucap.'' Aku tahu, kau menyayanginya dengan tulus. Dan sama sekali tak menginginkan hal buruk terjadi kepadanya.''
Mendengar ucapan wanita itu, Jing mengangkat kepala, menatap lekat wajah cantik yang hampir tak berjarak dari wajahnya.
''Mengapa ibu tak seperti dirimu?, yang dengan mudah dapat memahami ku?, apakah dia bukan yang melahirkan ku?, mengapa ia selalu mengecewakan dan menyakitiku Yun?.'' Ucap pelan Kaisar Jing. Hatinya semakin kecewa dengan Janda permaisuri.
Ziaruo semakin mengeratkan pelukan, ia tahu segalanya memanglah sangat pelik bagi sang suami.
''Bagaimana, kalau aku bertukar posisi dengan ibunda Ratu?, bukankah kau ingin seorang ibu sepertiku Yang Mulia?.'' Lanjut Ziaruo dengan maksud bercanda, ia ingin mengalihkan kesedihan pria tersebut.
Sehingga tubuh sang Permaisuri terjatuh telentang di atas ranjang.
Kaisar Jing tersenyum sekilas, dan ikut menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Ziaruo.
''Apa katamu?, ayo ucapkan sekali lagi, biar aku mendengarkannya dengan baik kali ini.'' Pinta Kaisar itu, dengan nada serta tatapan seolah ia ingin melakukan sesuatu, dan Ziaruo memahami segalanya.
Bagaimanapun, ia memiliki kenangan pernikahan bersama Murongxu. Meskipun di kehidupan ini dengan status sebagai Janda dari Gutingye, ia tetaplah seorang gadis suci, yang belum pernah melakukan sesuatu layaknya hubungan suami dan istri.
Hati Ziaruo berdebar kencang, wajahnya memerah, ia terlihat sangat gugup seketika.
Namun, dengan sedikit terbata ia memberanikan diri dan berkata pelan.'' Ji...jika Anda menginginkan wanita ini sekarang.... Maka, sebagai seorang istri tugas saya adalah melayani anda Yang Mulia.''
Perkataan itu dalam sekejap membuat Jing membeku, ia tidak percaya dengan pendengarannya barusan.
Namun, sedetik kemudian Kaisar Jing gelagapan. Ada ragu, gugup, dan canggung bercampur aduk.
Namun, perasaan kebahagiaan yang jauh lebih besar mendominasi.
Namun, ketika ia mengingat bahwa dengan jelas telah berjanji, tak akan memaksa Ziaruo untuk melakukan kontak tubuh dengannya.
Dengan bergegas, Jing menarik diri dari atas tubuh sang permaisuri.
Pria itu menunduk sejenak sembari berucap.'' Maafkan aku, terkadang aku sulit mengontrolnya ketika di dekatmu Yun.''
__ADS_1
Ziaruo tersenyum mendengar perkataan itu, ia bangun dari posisi berbaring dan dengan lembut ia menyentuh dada Kaisar Jing, sembari perlahan mendekatkan telinga.
''Debu...degup..degup..degup.'' Terdengar jelas dari dada bidang Jiang Jing wei.
Ziaruo tersenyum dan kembali berkata.''Terimakasih, karena telah bertahan dan bersabar atas kebodohan saya, terimakasih karena selalu memaafkan kesalahan saya Yang Mulia.''
''Yuuunn.....'' Panggil lirih Jing, dengan suara yang ditekannya.
Seolah pria penguasa itu, sedang menekan suatu gemuruh hebat, yang hendak memberontak keluar dari dirinya.
''Sejak hari ini saya memutuskan untuk menerima Anda, serta menjalankan kewajiban sepenuh hati Yang Mulia.''
Ziaruo mendongak keatas, dan menatap wajah Kaisar Jing, bibirnya tersenyum simpul dengan rona wajah kemerahan ketika perkataan itu ia utarakan.
Mendapat pemandangan demikian tepat didepannya, serta mendengar pengakuan yang telah lama ia tunggu, hati Jing seolah tak dapat dikontrol lagi.
Debaran jantungnya seolah menggila, dengan nafas yang tak lagi teratur, ia menc*um serta Melu*at bibir wanita itu dengan rakus.
Seakan itu akan menghilang, dan berlalu jika ia tak segera melakukannya.
Ruangan menjadi hening, hanya sesekali terdengar lengguhan pelan dari keduanya.
''Yun, apa kau mengizinkanku sekarang?.'' Tanya Kaisar Jing, sesaat setelah melepas ciuman. Ia mengusap lembut bibir Ziaruo yang basah akibat ulahnya barusan.
Mata Kaisar Jing, semakin membulat penuh rona. Manakala, ia melihat anggukan pelan dari sang Permaisuri.
Sebuah persetujuan dengan wajah yang tersipu, dengan anggukan kecil. Dan hal tersebut membuat setiap gejolak dari Kaisar Jing, semakin tak dapat ia bendung lagi.
Dengan cepat, ia menarik tirai kelambu ranjang, merebahkan tubuh Ziaruo dibawah kungkungannya. Melakukan sesuatu yang seharusnya terjadi 4 bulan yang lalu, menggapai mimpi dan asa bersama didalam keindahan gelora hati buaian kasih mereka.
Ziaruo menerimanya sebagai suami sepenuhnya hari ini, menyempurnakan kebahagian pernikahan mereka yang sempat tertunda.
Dalam waktu yang hampir satu batang dupa, ruangan itu seolah berubah menjadi bilik indah nuansa pekat aura kasih sayang.
Suara-suara kebahagiaan yang tak dapat di redam dengan beberapa jeda, hampir menyiratkan sebuah kisah yang kini tengah berperan di dalamnya.
Kebahagian Kaisar Jing tak dapat ia gambarkan dengan kata-kata, sehingga tanpa terasa manik mata tajam miliknya berkaca-kaca, dengan letupan keindahan kisahnya hari ini bersama permaisuri tercinta.
''Aku sangat mencintaimu Yun, bisakah kita berjumpa, dan menjadi pasangan lagi dikehidupan mendatang?. Aku sangat...sangat mencintaimu.'' Bisiknya lirih, sembari mencium lembut kening sang istri, yang kini tengah tertidur pulas didalam pelukan.
''Wuhan...'' Panggilanya dari balik kelambu.
''Hamba yang Mulia..'' Wuhan menjawab dari balik pintu ruangan.
''Aku ingin beristirahat dua hari kedepan, untuk mengoptimalkan kesehatanku sebelum perjalanan ke negri Tang.'' Lanjut Kaisar Jing kembali.
Mendengar ucapan tersebut, ada senyum sekilas di wajah Wuhan, ia mengerti apa yang dimaksud sang tuan.
Dengan suara tenang serta penuh penghormatan, pria itu menjawab.'' Baik Yang Mulia, hamba mengerti.''
__ADS_1