Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 236. Pewaris Xia.


__ADS_3

Namun, mengapa setelah waktu berlalu beberapa saat, dan dengan kerinduan mata itu untuk melihat sosoknya kembali, kisah di atas sana terasa semakin berat di tanggung.


Bahkan, seolah guci arak yang ia nikmati sekarang, juga berubah menjadi sedikit masam di lidah dan tenggorokannya.


Apakah dirinya sekarang tengah menelan kecemburuan?. Sebaik apapun ia menepis dan tampil wajar, perasaan hati tak dapat di pungkiri, dirinya memang tengah meneguk cuka asam.


Meski demikian, sebagai sosok yang memahami siapa diri sendiri, Wuhan tak pernah menampilkan apapun dalam kasat mata orang lain.


Biarlah rasa itu mengakar dan berkembang, biarlah sesekali menelan rasa cuka dalam hati.


Bukankah memiliki beraneka rasa, indah dalam guratan cerita?.


Tak mengapa jika hanya dapat melihatnya saja, segalanya telah cukup.


Dan bukan suatu masalah jika selamanya tetap diam dan menyimpannya rapat, ia akan siap kapanpun untuk memberikan uluran tangan, penyambung serta penyatu kebahagiaannya.


Wuhan menyakini keputusan dan keteguhan hati, atas prinsip serta pendapatnya sendiri.


Karena cintanya bukanlah kasih sayang yang memaksa, juga bukan sebuah rasa dengan keegoisan.


Wuhan bukan pria suci yang tak pernah memiliki hasrat dan keinginan.


Dalam hati yang mendamba juga pernah ada harapan egois sejenak, untuk wanita di sana.


Dan meski ia telah merelakan dan berharap yang terbaik untuk keduanya, kecemburuan terkadang masih tetap menyapa.


Sehingga ia sempat terpikir banyak kata andai, dalam ******* nafas ketidakberdayaan.


Wuhan berpaling dari lantai atas, dan menoleh melihat bocah kecil di tengah ruang, yang tengah asik menjejalkan camilan kedalam mulut kecilnya.


Ada senyum cemo'oh untuk diri sendiri, sebelum akhirnya ia bergumam pelan. ''Sungguh beruntung bocah itu, meski hanya sejenak ia mampu menjadi diri sendiri di sampingnya.''


Wuhan kembali meneguk guci arak, setelah mengucapkan perkataan tersebut.


Sesekali mata terlatihnya kembali melirik kearah lantai atas, terfokus sekilas dan kembali menunduk dan mengubur asa menderu, dalam guci arak disana.


Sementara yang menjadi pusat titik pandang masih tertutup rapat, dan tak menunjukan tanda-tanda untuk terbuka.


''Bahkan bunga-bunga yang berjatuhan masih mengharapkan cinta, meski debu daratan menguburnya dengan acuh.'' ******Wuhan******.


..................


Sementara itu di sebuah kediaman tengah kota, tak jauh dari kaki bukit hutan kecil.


Seorang pria tengah menikmati air dalam bak mandi kayu besar, dengan air hangat dan juga aroma wewangian mewah.


Mata itu terpejam.


Tubuh gagahnya bersandar pada dinding bak, seolah tengah lelap tertidur dengan pijatan air hangat yang setinggi pinggang atas tubuh.


Namun, itu bukanlah hal yang sesungguhnya.


Dalam sekali lihat, semua dapat dipahami bahwa pria disana tidak benar-benar tertidur.


Ujung jari tangannya yang berwarna agak kecoklatan, perlahan namun pasti bergerak dengan ritme teratur mengetuk bibir bak mandi.

__ADS_1


''Thuk...thuk..thuk..''


Seolah ujung jari itu tengah mencari penyeimbang, dan mengisyaratkan sebuah pikiran yang tengah bergerak tak tenang, pada kepala dengan mata tertutup disana.


Jari itu terus bergerak, hingga sesosok bayangan yang hadir di balik punggungnya, menunduk dan memberinya hormat.


''Salam pewaris.'' Ucap sosok yang baru hadir.


Mendengar panggilan tersebut, ia menghentikan ketukan jari. Namun mata yang tertutup, rapat masih sama.


Bahkan, ia tidak repot-repot untuk menyahuti sapaan sang sosok tersebut.


''Menurut penyelidikan pelayan ini, orang yang anda maksudkan telah sampai di penginapan Gerbang bunga.


Dan mengenai siapa jati dirinya, pelayan masih sedikit membutuhkan waktu untuk mencari tahu.'' Ucapnya, dengan posisi masih berjongkok, serta penuh penghormatan.


Mendengar laporan tersebut, sosok pria dalam bak mandi, yang tak lain adalah sang master yang berada di hutan kaki bukit kecil tersebut, membuka mata perlahan, sebelum akhirnya berdiri dan keluar dari bak mandi.


Ada ketenangan dalam wajah itu.


Bahkan hingga ia mengenakan baju simpel, yang terdapat pada sisi pilar penutup ruang pemandian, sosoknya masih tenang dan tidak berucap apapun.


Namun, setelah ia mengenakan pakaian dengan rapi, dan tubuh gagah miliknya di dudukan pada sebuah kursi, ia menatap sosok di bawah sana.


''Berapa waktu yang di butuhkan untuk mengetahui identitasnya?.'' Master.


''Pelayan rasa, kurang dari tujuh hari tuan.''


''Ambil tujuh hari untukmu, dan jika masih belum menemukan titik terang, temui Zanbao untuk mengambil hukumanmu.'' Master.


Namun sejenak kemudian ia kembali biasa dan berkata. ''Pelayan mengerti.''


''Apakah ada yang lain?.'' Tanya sang Master, ketika ia melihat sosok di depannya masih tak bergeming.


''Dalam penyelidikan pelayan, secara kebetulan bertemu dengan kaisar Xili (Murongyu) dan kaisar yang telah turun Murongxu di kedai tengah kota tuan.''


Ucapan sosok tersebut terjeda sejenak.


Seolah, ia tengah mempertimbangkan sesuatu untuk perkataan berikutnya.


''Menurut beberapa orang yang berada di sekitar kedai, kaisar Xili sepertinya mengenal wanita itu.''


Perkataan sosok tersebut kembali terhenti, ia merasa ada tatapan tajam dari atas kepala, yang siap menusuk dan membelah isi dari otaknya.


''Sebelum kedatangan kaisar Murongxu, beberapa orang mengatakan bahwa kaisar Murongyu, terlebih dahulu bertemu dan berbincang dengan sosok wanita bercadar beberapa saat.''


''Dan dari ciri-ciri yang disebutkan, serta adanya kehadiran bocah kecil disana, sepertinya ia memang mengenal wanita itu tuan.'' Lanjut sang sosok, dengan keringat dingin yang mengucur di balik punggung.


''Oh...kaisar Xili Murongyu?.'' Master.


''Benar tuan.''


''Namun, belum dapat di pastikan apakah kaisar Murongxu juga mengenal wanita itu. Sebab ia datang setelah keduanya(Ziaruo dan cangge) pergi dari sana.'' Lanjutnya lagi.


''Baiklah, kau boleh pergi.'' Master.

__ADS_1


''Terimakasih tuan, pelayan undur diri.'' Jawab sang sosok, sebelum keluar dari ruangan.


''Murongyu, Murongxu.....''. Sebutnya pelan, setelah kepergian dari sosok yang menekankan dirinya sebagai pelayan tadi.


Sejenak kening pria dalam ruangan tersebut mengernyit. Ada sebuah pemikiran yang tak terucap dalam benaknya.


"Siapa orang dalam penginapan Gerbang bunga, yang dapat membuat penjaga paviliunku kesulitan untuk mencaritahu?."


"Siapa wanita itu, dengan penampilan dan kemampuannya, seharusnya ia bukan sosok biasa, dan apakah ia mengenal orang penting yang bahkan pria ini, tak dapat menyentuhnya?.''


Pikiran sang Master masih mengembara dengan teka teki tentang Ziaruo, dan itu masih berlanjut hingga beberapa saat ke depan.


''Thok..Thok...Thok...''


Suara pintu di ketuk dari luar.


''Tuan...utusan dari Tang berada di sini.'' Sebuah suara nyaring, namun tidak mengurangi penghormatannya terdengar.


''Aku mengerti, pimpin jalan ke ruang kerjaku.'' Master.


''Pelayan mengerti.'' Sahut suara di luar ruangan.


.................


Meninggalkan kesibukan tengah kota, dan kembali beralih di penginapan.


Di dalam ruangan yang paling besar di sana, sepasang tubuh dengan kepolosan terbaring di atas ranjang.


Salah satu sosok di sana, tampak tengah mengamati dengan seksama wajah terpejam dalam buaian tubuh gagahnya.


Sesekali ia akan memberikan kecupan ringan untuk sosok wanita, yang tak lain adalah Ziaruo tersebut.


Ia...Mata Jiang Jing wei terus saja menatap kearah wanita itu.


Bahkan, dengan tangan yang masih melingkar di pinggang Ziaruo di balik selimut, ia masih enggan mengalihkan pandangan mata dari wajah sang istri.


Seakan, tubuh disana akan menghilang dalam satu kedipan mata saja.


Hal itu terus berlangsung, setelah keduanya memadukan kerinduan dengan kebahagiaan penyatuan.


Jing masih memiliki keengganan untuk melepas Ziaruo, meski telah membuat tubuh itu kelelahan dan terkulai dalam dekapannya.


Ia hanya melepas pelukannya sejenak, ketika menerima air panas dalam bak kecil, untuk membersihkan tubuh sang istri.


Bahkan, ia juga dengan semangat tinggi, serta penuh kelembutan membantu wanita itu menyeka tubuh berpeluh, akibat ulahnya beberapa saat yang lalu.


Jiang Jing wei membantu Ziaruo membersihkan dirinya, dan kembali berbaring serta memeluk wanita itu di dalam selimut.


Ia hanya menutupi tubuh polos sang istri dengan selimut di atas ranjang. Tak ada keinginan untuk memberikan atau membantunya berpakaian.


Jing hanya menyelimuti rapat tubuh tersebut, setelah ia juga berbaring di sana. Pria tersebut tak akan ambil pusing reaksi Ziaruo nanti, ketika terbangun.


Yang terpenting adalah saat sekarang, ia ingin melakukan apapun yang di kehendaki hati serta pikirannya.


Dan ketika tubuh tersebut sedikit menunjukan gerakan, Jiang Jing wei kembali mengeratkan pelukan, sembari berbisik lirih di telinga Ziaruo. ''Tidurlah lagi...hari masih siang, jangan pikirkan apapun.''

__ADS_1


__ADS_2