
Yunsang tidak lagi memperdulikan pemikiran orang lain disana, tidak juga pemikiran dari Jing, orang yang sangat ia takuti sekaligus benci.
Tubuh kecilnya yang hanya setinggi dada pria dewasa, tampak meringkuk dangan kesenduan mendalam, di samping tubuh Ziaruo yang membisu dan tak bergeming.
''Ibunda..'' Panggilnya lirih.
''Bertahanlah, tunggu aku hingga bisa membawa anda menjauh darinya.'' Lanjutnya dalam diam.
Otak kecil Yunsang tidak mampu memahami keadaan di sekitarnya.
Yang ia ketahui hanya apa yang ingin dan telah ia yakini.
Bagi dunia, Jing adalah kaisar sekaligus suami ibundanya.
Akan tetapi, bagi bocah kecil malang tersebut, pria disana adalah pengganggu, serta penyebab dari segala keburukan dalam hidup sang ibu.
Memangnya mengapa jika kini ibundanya seorang permaisuri?.
Dengan status itu, adakah yang berbeda untuknya?.
Hanya panggilan serta pandangan orang di hadapan mereka saja yang berubah.
Namun, tentu saja akan ada cibiran serta tanggapan buruk, di balik punggung keluarga Yun mereka.
Meski dengan status lama keluarga Yun sebagai seorang pengusaha, bukankah kehidupan mereka tetap menjadi yang terbaik diantara rakyat biasa.
Keluarga Yun adalah pengusaha, serta pelaku perdagangan terbaik di keempat kekaisaran.
Bahkan dengan status yang disandangnya sebagai seorang janda, sang ibu mampu melangkah lebar dan mengangkat wajah tinggi, tanpa celaan dari orang lain.
Sementara dengan statusnya sebagai wanita Jing, Ibundanya tersebut justru tak dapat bergerak luasa seperti sebelumnya.
Tak lagi bebas melangkah ke luar, dan memberikan kehangatan bagi bocah-bocah malang, yang ia anggap sebagai putranya di pondok yang ia dirikan.
Yunsang berpikir bahwa dengan kehadiran Jing, justru segalanya menjadi lebih rumit, dan buruk untuk sang ibu.
Dan tentu saja buruk untuk putra-putri adopsi, yang kini merindukan wanita tersebut.
Yunsang kecil selalu berharap ia cepat dewasa dan mampu membawa sang ibu menjauh dari istana.
Atau jika mungkin, pergi sejauh mungkin dari pria yang sering ia sebut sebagai ayahanda itu.
Hati Yungsang seolah telah tergaris, sebagai sosok ciptaan dengan segumpal daging pendengki, dan pembenci atas diri Jiang jing wei.
Sebesar apa kebencian itu hanya Yunsang yang mengetahuinya.
Jika saja Jing mampu membaca pikiran sang bocah, serta memahaminya, mungkin ia akan muntah darah dengan tiba-tiba.
Jing memang tak pernah menggangap serius, tentang kasih sayangnya untuk bocah itu.
Namun di sela kasih sayangnya untuk Yunsang di hadapan Ziaruo, ia juga tergerak atas kemalangan sang bocah.
Bagi Jing yang seorang kaisar, tak menjadi sebuah masalah jika harus menambah sepiring lagi jatah makan, untuk satu orang dalam meja makan mereka.
Dan bahkan ia juga pernah merencanakan untuk menjadikannya sebagai pelajar, ataupun sekedar seorang pejabat tingkat 4 di kekaisaran di masa mendatang.
__ADS_1
Tentu saja, hal itu demi membahagiakan Ziaruo, dan menghilangkan kecemasan wanita itu, yang telah menempatkan bocah Yunsang sebagai putra.
Dan dengan mengingat sejarah kelahiran dari bocah Yunsang, serta kehadirannya yang ibarat duri dalam daging tersebut, tindakan Jing sudah barang tentu dalam kategori berbaik hati.
Namun lagi dan lagi, di dalam ketidak tahuan Yunsang, baik sebagai bocah kecil, atau peran status sebagai putra angkat kaisar dalam kabut abu-abu (belum jelas), tak ada seorangpun yang berani mengatakan kebenaran tersebut.
Dan hal inilah salah satu faktor, yang membuat Yunsang tak penah bersyukur untuk kebaikan, serta kemurahan hati Jing.
Bocah kecil Yunsang juga tak pernah mengetahui dan berpikir, bahwa kehadiran kehidupan yang ia miliki sangatlah memalukan.
Di tambah lagi, ketika ia mendengar keluhan saudara-saudara lain di pondok, yang merasa kesulitan untuk menemui Ziaruo, Yunsang semakin menguatkan kebencian di dalam hati.
''Apa salahnya hanya sebagai putra-putri angkat?, bukankah ibundanya tulus menyayangi mereka?, bukankah segalanya baik-baik saja dulu?, mengapa harus ada Jing diantara mereka?.'' Pikiran Yungsang, semakin di penuhi dengan ketidak puasan.
Dan kini, didalam ruangan indah, megah, serta besar itu, nyatanya sang ibunda tak baik-baik saja.
Pria yang mengatakan akan menjaga, dan melindungi sang ibunda tak dapat melakukan apapun.
''Ibunda..bertahanlah.'' Kata-kata itu, terucap kembali.
Seperti sebuah bait kalimat sakral, dalam paduan doa yang tengah ia rapalkan.
Yunsang kembali melelehkan air matanya, ketika melihat kondisi Ziaruo yang tak menunjukan perubahan.
''Ibunda bangunlah, kami semua menunggu, bangunlah ibunda.''
Banyak hal yang tidak mampu di cerna otak kecil bocah tersebut.
Namun, dengan pemahaman serta ketakutan atas diri Jiang jing wei, bocah itu tak dapat bertindak sesuai dengan kehendak hati.
Ia adalah putra sang Ibundanya, dengan alasan ataupun status apapun, Yunsang akan selalu menjadi putra janda Yun.
Sementara tak jauh dari ranjang, sosok Jing yang sedari tadi diam, mulai bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat.
Dengan langkah tegap, serta pandangan lurus kearah ranjang, Jing menggerakan tangan menarik lengan Yunsang yang melingkar di perut Ziaruo, kasar.
Bocah kecil dengan kulit bak giok itu terkejut dan menatap horor kearah Jing.
''Ayahanda..'' Pekiknya terkejut.
Bukan hanya bocah itu saja, beberapa tabib, kasim dan pelayan wanita disana, terperanjat tak percaya.
''Yang mulia....'' Seru mereka hampir bersamaan.
Tanpa melakukan kesalahan apapun, semuanya menjatuhkan diri dan bersujud meminta pengampunan.
Bahkan meski mereka tak mengetahui apa, dan mengapa sang tuan melakukan hal itu.
''Yun...lihatlah, jika kau tidak segera bangun, maka dia....'' Mata Jing menatap kearah ranjang lurus, pada wajah Ziaruo yang terpejam.
''Jika kau tidak segera bangun, maka putramu ini akan aku lempar keluar.''
Mendengar perkataan yang tiba-tiba itu, baik Yungsang ataupun mereka yang disana, melebarkan mata tak percaya, di balik wajah yang tengah bersujud.
Namun belum sempat keterjutan itu mampu dicerna, kaisar Jing kembali berkata. ''Tidak hanya kulempar keluar, dia juga akan kucambuk hingga tulang-tulang kecilnya tak bisa kau kumpulkan lagi.''
__ADS_1
Semakin banyak yang di dengar oleh semua orang, semakin menciut hati serta pikiran mereka.
Bahkan, keringat dingin tak lagi dapat di bendung dan mulai mengucur dari tubuh para tabib, kasim, dan pelayan.
''Aku menjaganya hanya untukmu, apa kau lupa siapa dia Yun, dan apa kau pikir aku tidak bisa melakukannya?.''
Suara Jing yang meninggi, nyatanya tak membuat tubuh diatas ranjang itu bergeming.
Jing bukannya tidak memprediksi reaksi itu dari sang permaisuri.
Namun, dengan sedikit harapan bahwa wanitanya akan tergerak dan bangun, dengan ancaman tersebut, Jing tetap memcoba.
Dan tetap saja, meski perkataan tersebut meluncur, dan terdengar kejam, akan tetapi wanitanya tetap tenang dengan tidur lelap.
Jing tetap gelisah, ia tak ingin menambah deretan waktu membiarkan wanitanya terkulai lemah di sana, dan menghela nafas panjang.
Pria tersebut memejamkan mata sejenak, dan melepaskan Yunsang dari cengkraman tangan.
''Kasim..''
''Ham...hamba paduka.''
Sahut sang pelayan, dengan wajah yang masih pucat karena, ketakutan yang masih dirasakan.
''Bawa dia keluar, dan antar kekediamannya.''
Mendengar perkataan itu, semua kasim dan pelayan di sana, memiliki satu pemikiran yang sama, yaitu kelegaan.
''Terimakasih dewa.''
''Baik paduka.'' Jawab kasim lagi.
Tanpa menunggu waktu lebih lama, kasim segera membawa Yunsang keluar dari dalam ruanga tersebut.
Wajahnya yang pucat, serta tubuh yang menggigil akibat rasa takut dari sang bocah, membuat kasim paruh baya tersebut melembut.
''Tuan muda, anda baik-baik saja?.''
Pertanyaan bodoh itu meluncur dari bibir sang kasim.
Haruskah itu perlu di tanyakan?, tentu saja tidak, bukankah keadaan tubuh kecil itu, sudah memberi jawaban.
Dan tentu saja Yunsang tak menanggapinya.
Dalam tubuh yang menggigil itu sebuah kontras terlihat, tatapan Yunsang kian menggelap.
''Aku harus menjadi kuat, harus!.''
Bocah Yunsang kembali menemukan pupuk penyubur, untuk pemikiran buruknya tentang Jing.
Dengan gerakan agak kasar, ia menepis tangan sang kasim yang memapahnya berjalan.
''Aku tidak membutuhkan bantuan, terlebih lagi dari orang-orang seperti kalian.''
Yunsang berjalan setengah berlari kearah pavilliun, setelah mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
Ia tak lagi menghiraukan tatapan tak percaya, dari pria dewasa yang kini berada di belakang, serta berusaha menyusul langkahnya.
''Orang-orang seperti kami?, memangnya seperti apa kami?.'' Gumam lirih kasim penuh kebingungan.