
Mungkin bagi sebagian orang, mencintai berlebihan, adalah hal yang bdh.
Dan dapat dikatan bahwa orang tersebut, terlahir dengan kekurangan, beberapa mili centi pemikiran yang rasional.
Namun, bagi seorang Pria disamping ranjang sebuah ruangan, segalanya berbeda justru merekalah, yang menganggapnya bod*h, adalah orang orang yang kurang mampu memahami diri sendiri, merekalah yang kurang pandai, serta kurang maksimal dalam mengexpresikan dan menyikapi perasaannya.
''Zaruo....pasti menurutmu tindakanku saat ini, adalah sebuah kebod*han.
Akan tetapi, dengan menjagamu disisiku, serta memastikan keselamatanmu, adalah sebuah ketenangan serta kebahagiaan untukku.
Lalu apa ruginya, membiarkan ucapan mereka, dan hidup sesuai kemauanku sendiri?.''
Pria tersebut tampak kelelahan, akan tetapi sebuah senyum tergambar jelas diwajah tampannya saat ini, beberapa kali juga ia merapikan selimut, untuk menutup tubuh bisu yang kini tengah berbaring disana.
Pria yang tak lain adalah Pangeran ke 2 tersebut, tidak memperdulikan tatapan sepasang mata, yang beberapa kali mencuri pandang kearahnya, serta mendengar semua ucapannya.
Ia tetap duduk di samping ranjang tempat tubuh seorang wanita yang kini tengah terbaring lemah, dengan luka yang dibalut kain putih diatas keningnya.
Wajah tersebut terlihat pucat, serta sesekali terlihat mengernyitkan keningnya, seolah tengah menghadapi hal buruk yang menakutkan.
Tak jarang pula, dari bibir mungil wanita itu, menyebut beberapa nama orang yang dia kenal, bahkan isak tangis juga terkadang yang terdengar dari bibir wanita itu.
Tentu saja, nama pangeran Murongyu, tidak terlintas dalam gumaman wanita tersebut.
Namun ia sadar, jangankan dalam kurun waktu saat ini.
Dimana, Ziaruo yang sedang kehilangan ingatannya.
Bahkan, ketika Ziaruo masih dalam kondisi sehatpun, dirinya ( pangeran Murongyu ) bukanlah siapa siapa, bagi wanita tersebut, ia hanyalah seorang pria yang pernah ditolong oleh Ziaruo saat terluka.
Akan tetapi, bagi Murongyu, Ziaruo adalah kisah pertamanya, serta wanita yang telah memiliki kasih sayang dan perhatian khususnya.
"Kau akan sembuh, akan kucarikan tabib terbaik, dan obat obatan terbaik untukmu.''
ucapnya kembali, dengan nada yang lirih, serta tatapan mata yang lembut, terfokus mengarah kearah wajah wanita tersebut.
__ADS_1
"Xioyu....jaga dia untukku, jangan biarkan seseorang mendekatinya, hanya kau yang boleh berada di dalam ruangan ini.'' Lanjut Pangeran Murongyu, dengan nada datar kepada wanita yang tak jauh disana.
"Hamba yang mulia." jawab Xioyu, dengan penuh hormat, sebelum pria tersebut, meninggalkan bilik kamar yang ditempati Ziaruo.
"Nona ...., apa anda mendengarkan ucapan pangeran tadi?, sepertinya yang mulia pangeran tulus kepada anda nona, dan semoga anda menghargai niat baik yang Mulia pangeran.'' Ucap Xioyu pelan, sehingga terdengar seperti gumaman saja.
''Apakah nanti saat anda terbangun, akan menyalahkan saya?, atau menghukum saya atas kematian bocah kecil tersebut ( yanyan)?.'' Tanya Xioyu lirih.
''Nona ...maafkan aku. Karena tidak bisa menjaga dan melindunginya.
Tapi... percayalah ( terdiam sejenak) saya memang membenci ayahnya ( Gutingye ), karena dia adalah pimpinan orang orang itu nona.'' Ucap Xioyu kembali, sambil duduk berjongkok disamping ranjang Ziaruo, dengan lutut sebagai penopang tubuhnya.
''Secara tidak langsung, dia adalah orang yang telah menghancurkan saya, orang yang membuat anda, dihukum dewa dengan kilatan petir.''
*menurut pemahaman serta versi Xioyu, Ziaruo dihukum dewa dengan kilatan petir, karena telah dengan kejam, membunuh orang-orang di gubuk untuk menyelamatkannya *
Mereka adalah orang orang tuan Gutingye, hixs...hixs. Namun, saya tidak pernah membenci Yanyan, lagi pula dia memang tidak memiliki salah apapun.'' Ucap Xioyu bermaksud menjelaskan, ia hanya berani berkata seperti ini dengan sang nona (Ziaruo ), ketika wanita itu tengah tidak sadarkan diri.
Xioyu tahu, bahwa kesalahannya fatal, karena tidak dapat melindungi Yanyan. Bahkan, justru ia melarikan dari, ketika Yanyan dan Zelan memperoleh serangan, dari orang orang yang ingin menyakiti Mereka.
"Kejadian hari itu begitu cepat, saya benar benar ketakutan nona. Yang terpikir pertama kali, adalah bagaimana saya dapat menemukan anda.
"Jujur, memang benar saya tidak menyukai jika anda bersama pria bar-bar itu, namun jika anda bahagia bersamanya, saya akan siap, menerimanya sebagai majikan. Maafkan saya... maaf nona.'' lanjut Xioyu, yang kini kembali mengalirkan bulir bening di ujung matanya.
Gadis itu, menggenggam erat tangan Ziaruo, dengan posisi masih berdiri setengah badan, serta lutut sebagai penopang tubuhnya, disamping ranjang Ziaruo. Xioyu menangis dengan suara isakan pelan didekat tubuh sang nona.
Setelah beberapa saat kemudian.
''Baiklah, saya akan menyiapkan air hangat untuk menyeka wajah dan tubuh anda, agar terlihat lebih segar nona." Ucap wanita itu lagi, sebelum melangkahkan kakinya keluar ruangan, untuk menyiapkan air hangat.
Namun, tanpa disadari oleh Xioyu, ada bulir bening meleleh dari ujung mata, sang wanita yang kini tengah terbaring tersebut.
Ziaruo tidak sadarkan diri, beberapa saat setelah menerima lemparan batu pada kening. Dan baru sekarang, ia mampu mendengar ucapan dari setiap orang disekitarnya, setelah hampir 5 hari ia dalam kondisi pingsan (koma ).
Ziaruo, sudah dapat mengingat kembali, semua memori yang ia miliki.
Mengingat kenangan, disaat dirinya di dunia moderen, ingatan kenangan dirinya sebelum diturunkan untuk menjalani ujian,
serta kenangan, dimana sang suami yang mengkhianatinya didunia ini sekarang, bahkan Ziaruo juga mengingat kenangan tragis tentang pernikahannya, yang belum dapat dihitung dengan satu acungan jarinya.
__ADS_1
Namun, meskipun ia sudah mengingat semuanya, akan tetapi, rajah ( tato phoenix ) dipergelangan tangan kirinya, masih belum terbentuk sempurna.
Hal itu, disebabkan kondisi tubuh serta kesedihan yang ia alami, sangat berpengaruh untuk tingkatan emosi serta kekuatan tubuhnya saat ini.
Seolah ia enggan membuka mata, dan hanya ingin berdiam diri disuatu tempat, atau bisa diartikan, ia tengah lelah dan putus asa.
"Guru ...bisakah aku pergi, dan menghilang dari mereka semua, aku ingin sendiri saat ini. Muridmu ini ingin pergi ketempat jauh dan tidak di kenali oleh orang lain.'' Pinta Ziaruo, dalam diamnya, dengan mata yang masih terpejam, serta tubuh lemah terbaring diatas ranjang.
Sementara itu, sesosok bayangan dengan wajah datarnya, yang entah sejak kapan ia berada disana, terus mengawasi.
Bayangan tersebut, tersenyum perlahan, mendekat kearah ranjang dan berkata. ''Kau masih, harus mengalami beberapa kali Ujian lagi. Namun, aku akan membawamu ketempat, dimana kau akan jauh lebih tenang sementara waktu.''
Dan benar saja, setelah bayangan pria itu berhenti berbicara, sebuah kabut tipis putih, melingkupi tubuh Ziaruo, hanya sekejap mata tubuh diatas ranjang tersebut berubah menjadi siluet cahaya, dan akhirnya melesat pergi kearah hutan barat, meninggalkan ruangan, yang beberapa hari ini, menjadi tempat bagi tubuh itu berbaring.
Melihat hal tersebut, pria bayangan itu tersenyum, ia mengibaskan tangannya pelan, diatas meja sebuah tulisan terbentuk, sebelum akhirnya bayangan itu juga menghilang.
''*E**mbun pagi bergulir menyambut mentari, diantara kuncup bunga sakura .
tiada rasa dan hati, hanya budi berbalas budi, atas sejuknya air dihamparan pasir*.
"Setidaknya, kau sudah kembali seperti semula, dan untuk perasaanku, itu adalah masalahku, bahkan jika aku memutuskan untuk mendapatkan dirimu, itu adalah hak dan keputusanku.'' Ucap lirih Murongyu ketika menemukan tulisan diatas meja.
Pria itu berpikir, bahwa tulisan tersebut pesan dari Ziaruo dan ditinggalkan untuknya.
Ada kekecewaan atas kepergian sang wanita, terlebih lagi ia pergi tanpa menemui ataupun berpamitan kepadanya.
Dengan raut wajah yang tak terbaca, ia kembali bergumam pelan. ''Bagimu mungkin, aku memang hanya setetes air, yang memercik pada setitik tempat dit*buhmu, dan bahkan tak berarti apapun.
Namun, bagiku .....kau adalah samudra luas, dimana nanti aku ingin, menghentikan langkahku dan berdiam disana.''
Hatinya yang menghangat, ketika wanita yang ia cintai berada di kediamannya, kini kembali membeku.
Murongyu ingin selalu dapat berdekatan dengan Ziaruo Meskipun, wanita itu hanya berbaring tak sadarkan diri. Dan bahkan ia harus, menghabiskan waktu untuk menjaganya, serta mencemaskan kondisi Ziaruo, pangeran Murongyu sudah merasa bahagia dan puas.
Akan tetapi, ternyata ia harus menelan kekecewaan, ketika mengetahui Ziaruo telah pergi dari kediamannya, tanpa ucapan perpisahan dan hanya melihat tulisan di atas meja tersebut.
"Tutup ruangan ini, aku tidak ingin siapapun memasuki tempat ini.'' Perintah pangeran Murongyu, dengan nada datar kepada penjaga, sebelum ia melangkah pergi, dari tempat tersebut. Tampak jelas wajah yang kembali berubah tegas dan dingin.
Terimakasih sudah mampir membaca, mampir juga ya di" BATAS GARIS JINGGA" mohon bantuan like, komen, dan jika berkenan berikan bantuan Vote ya.
__ADS_1