
Didalam kereta kuda...
Seorang wanita dengan mata terpejam, tengah mengingat kembali, kejadian yang membuat hatinya, berdesir dengan alunan yang tak nyaman.
*Flash back on*
''Anda adalah wanita hebat, bahkan kaisar dari negri zing, yang kaku dan dinginpun, dapat bertekuk lutut dihadapan anda.'' Ucap lirih guru Mengshuo, ketika mengantar nyonya Yun berjalan keluar dari ruangan aula pertemuan.
''Apakah anda, sedang memuji keahlian Wanita ini tuan?.'' Tanya sinis nyonya Yun.
Ia tak ingin menjelaskan apapun, kepada pria yang berusaha mencegah ia beranjak dari sana.
Nyonya Yun juga mengetahui, setiap pemikiran buruk, serta kebencian guru besar Mengshuo terhadapnya.
Setiap apapun yang ia ucapkan, selalu dianggap sebuah kebohongan, ataupun pembenaran atas kesalahan yang dilakukannya.
Oleh karena itu, Ziaruo atau Nyonya Yun tak ingin menjelaskan apapun kepada pria tersebut.
''Sungguh.... sesuatu yang tak dapat dibayangkan, bahkan anda sangat bangga dengan kelakuan anda nyonya. Aku benar benar ingin melihat, seperti apa wajah di balik cadar tersebut.'' Ujar Mengshuo lagi, dengan tatapan sinis, serta pikiran penuh dengan kata kata cemo'ohan.
''Wajah per*yumu, adalah hal yang ingin aku lihat, benarkah di balik cadar itu, terdapat wajah bak dewi, seperti rumor yang tersebar?, tapi...jika memang dia seistimewa itu, apakah suaminya akan meninggalkan dirinya?, itu pasti hanya bualan orang b*doh saja.'' gumamnya dalam hati, sembari menatap lekat kearah wajah nyonya Yun ,yang tertutup rapat.
''Apakah anda tidak takut, bahwa saya akan menggunakannya, untuk merayu anda tuan Meng yang terhormat?.'' Tanya Ziaruo lagi, dengan senyuman tipisnya, sebagai penekan kekesalan yang ia rasakan.
Ziaruo kesal, karena harus mendengar, dan mengetahui isi pikiran seorang pembenci, seperti pria didepannya.
Akan tetapi, ia sadar inilah resiko dari kelebihannya yang mampu membaca, dan mengetahui pikiran orang lain.
Terkadang Ziaruo, ingin menjadi orang normal, tanpa keistimewaan apapun.
''Anda sungguh memiliki rasa percaya diri tinggi nyonya Yun.
Bahkan, jika anda tak meng*nakan apapun(Tel***jang), saya tidak akan pernah berminat.'' Jawab guru besar Mengshuo dengan kasar.
Guru besar Meng berharap bahwa wanita itu, akan merasa sakit hati, atas setiap perkataannya, setidaknya ia akan merasa lega, ketika melihat rasa sakit wanita tersebut.
''Benarkah?.'' Jawab singkat nyonya Yun. Namun dari tatapan mata itu, terlihat bahwa, disana tidak tampak ada rasa kecewa.
__ADS_1
''Benar, saya berani bersumpah, bahwa secantik apapun anda, saya Mengshuo tidak akan pernah menaruh minat, bahkan saya akan menusuk jantung saya sendiri, jika hal itu terjadi.'' Sumpah pria tersebut, dengan penuh keseriusan.
Mendengar hal itu, Ziaruo merasa sedih, matanya mulai berkaca kaca, ia lelah dengan semuanya.
Kesedihannya saat ini, adalah sebuah rasa penyesalan dan kekecewaan, bahwa akan ada orang lain lagi, menemui nasib buruk atas ucapannya sendiri, dan semuanya bersumber dari keistimewaan yang ia miliki.
''Hentikan!, anda mau kemana, apakah anda akan mencari tempat untuk meratap?.'' Tanya Mengshuo kembali, sembari menarik tangan nyonya Yun, dengan kasar.
Namun, ketika tangan wanita tersebut ia tarik, tampak sebuah rajah phonix tergambar jelas disana.
''Apa ini?, rajah phoenix?, apakah itu rajah takdir permaisuri?.''Tanya pria tersebut dengan mata yang membulat.
Mengshuo tertegun beberapa saat, bahkan ia tetap diam, ketika nyonya Yun, menghempaskan tangannya kasar, menarik diri dari kedekatan tubuh mereka.
''Anda sekarang baru mengetahui 1 kebenaran tentang saya, namun hal itu, sudah membuat anda akan jatuh pingsan. Bagaimana jika tuan Mengshuo benar benar mengenal saya?, apakah tuan masih dapat menjaga jantung itu tetap disana?.'' Tanya sinis nyonya Yun, dengan penuh penekanan.
Seolah ia tengah meluapkan sebuah kekesalan, dalam teka teki yang tak ingin ia bagi dengan pria itu.
''Anda juga ingin melihat wajah dibalik cadar ini?, apakah tuan Mengshuo yakin pantas untuk hal itu?, bahkan sebelum anda membenci seseorang, anda tidak mencari tahu kesalahannya terlebih dahulu, atau alasan apa yang pantas untuk kebencian tersebut.''Lanjut nyonya Yun dengan nada tenangnya.
''Apakah aku salah mengenalinya?, apakah semua ucapan dan kebencianku selama ini salah?.'' Gumam dalam hatinya.
Mendengar pertanyaan yang baru terlontar dari pria yang sangat membencinya, nyonya Yun berbalik, dan kembali mendekati Mengshuo, ia menatap lekat pria yang mulai menunjukan kegusarannya itu.
''Karena aku bukan sepupu anda, yang menggunakan cinta serta kasih sayang, untuk meraih kemakmuran bagi keluarga saya.'' Jawab Ziaruo dengan nada pelan.
Akan tetapi, pelan dan tenangnya ucapan wanita tersebut, seperti sebuah bilah tajam dari petir yang mengelegar dan menghujam kejantung sang Guru besar, yang kokoh dengan sebuah kebencian tak berdasar terhadap dirinya.
Belum sempat Mengshuo pulih dari keterkejutannya, lagi lagi ia kembali membulatkan matanya, saat nyonya Yun ( Ziaruo) meraih giok yang tergantung dipinggang depannya.
''Apa yang kau lakukan?.'' Tanya reflek pria tersebut, disela keterkejutannya.
Namun nyonya Yun, hanya diam ia menggenggam giok pengenal milik sang pria.( lambang pengenal sebagai seorang pengajar).
''Jika saya suka melakukan sesuatu, dengan cepat dan pintas, maka bagi orang yang berkata buruk, dan tidak sopan seperti anda, mungkin akan memiliki nasib seperti giok ini.'' Ucap tegas nyonya Yun, sembari membuka genggaman tangan, dan menunjukan sebuah kumpulan debu( serbuk) berwarna hijau ditangan putih lembutnya.
''Jadi...bisakah lain kali sedikit saja menjaga perkataan anda tuan Mengshuo yang terhormat.'' Ucap Ziaruo kembali, sebelum melangkah pergi dari sana, meninggalkan seorang pria dengan wajah mematung tanpa expresi.
__ADS_1
*Flash back off*
Sementara itu, dikedai dan penginapan milik keluarga Yun.
Dua orang pria, tengah menikmati hidangan disana, sesekali pria paruh baya tersebut, menatap kearah pintu masuk rumah makan.
Entah apa yang ia cari?, atau siapa yang tengah ia tunggu?, namun jelas ada sesuatu, yang ingin dilihat dari balik pintu masuk tersebut.
''Mengapa kau belum kembali?, apa yang di lakukan oleh bocah bocah itu?, sehingga membuatmu merelakan waktu untuk mereka?.'' Gumamnya lirih.
Namun, masih dapat didengar oleh pria tua disampingnya.
''Tuan... nyonya Yun adalah wanita berhati emas, ia bahkan mungkin akan merelakan semuanya untuk putra putranya.'' Jawab pelan pelayan kesayangannya tersebut.
''Kau benar, dia memang wanita seperti itu, dan aku sungguh bodoh, jika harus cemburu dan marah kepada pria pria kecil yang ia anggap sebagai putranya.'' Jawab Murong dengan masih menggunakan intonasi lirihnya.
''Anda adalah suami terbaik tuan, tentu saja dengan tanpa mengingat, kejadian dimasa lalu anda, bersama permaisuri dan selir selir kekaisaran'' Ucap pelayan tua itu dalam diamnya.
''Hingga kapan kau akan bisa memaafkanku permaisuri?, aku ingin melihat senyummu, menikmati aroma rambut dan memelukmu kembali seperti dulu.
Pria ini sangat merindukanmu, hingga terkadang seolah mencekikku, dan aku tak dapat bernafas lagi.'' Ucap hati Murongxu dalam diamnya.
Murongxu kembali mengangkat cangkir teh, dan menyeruputnya perlahan.
Berbeda dengan kedua pria didalam kedai, seorang pria muda berusia 17 tahun, yang kini tengah berada didalam sebuah ruangan yang tak dapat di katakan mewah, namun ruangan tersebut masih dapat dibilang sebuah tempat yang lumayan nyaman baginya.
'' Apa maksud dari ucapan yang mulia kaisar tadi ya?.'' Ucapnya lirih, sembari membolak balikan cincin pemberian kaisar, yang terbuat dari batu giok hijau.
*flash back on*
"Lain kali jika pemuda itu atau ada orang lain, yang berani menghina, atupun menyinggung tentang ibundamu, kau boleh menghancurkannya hingga tak bersisa, dan datang padaku, aku akan menyelesaikan semuanya untukmu.'' Ucap kaisar lirih, sebelum pergi dari ruangan, dan memberikan sebuah cincin giok yang ia kenakan, kepada pemuda tersebut.
*Flash back off*
''Benarkah, aku bisa melakukan apapun, kepada mereka yang berani bertindak kurang sopan, dan menghina ibunda?.'' gumamnya lagi, kali ini ada sebuah senyum sinis, diwajah tampannya, yang mulai menunjukkan kharisma dewasa tersebut.
''Ibunda tunggu saja, sekarang kamilah yang akan menjaga dan melindungimu.'' lanjutnya lagi dengan penuh ketegasan.
__ADS_1