Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 32 Masih pergolakan.


__ADS_3

''Ampuni kami, yang mulia karena telah terlambat.'' Ucap salah satu pria berpakaian hitam.


"Semua prajurit pember*tak diluar, dan yang berada di dalam istana sudah kami lumpuhkan.


Para prajurit kekaisaran yang ditawan, juga sudah dibebaskan, mereka sedang dalam pemulihan dari efek racun.'' Lanjut Yongyu lagi.


Pria dengan topeng tersebut, duduk setengah berjongkok dengan kepala, menunduk.


Hal ini, di ikuti oleh semua pasukan hitam yang berada disana, melakukan hal yang sama dengan posisi pria tersebut, namun hanya pria itu saja, yang berbicara mewakili semua pasukan hitam.


Dan sejujurnya pria dengan pakaian hitam yang tak lain adalah Yongyu tersebut, enggan melakukan hal itu.


Namun, ia masih tetap melakukannya atas permintaan Ziaruo.


Kaisar Murongxu terkejut dan keheranan.


Karena ia sendiri tak pernah memiliki, ataupun memerintahkan pasukan bayangan (pasukan hitam) yang kini berada di hadapannya sekarang.


Meski demikian, untuk saat ini itu bukan poin. Di tengah pergolakan yang terjadi Murong membutuhkan sebuah dukungan kekuatan, meskipun hanya sekedar samaran untuk mempertahankan kekuasaannya, serta mencegah pihak lain mengambil kesempatan, ketika mengetahui kekaisaran Xili sedang lemah.


Dan ia juga membutuhkan sesuatu (bentuk imeg kekuatan pendukung), sebagai bentuk kepercayaan atas dirinya agar bisa menenangkan hati dari para pengikutnya disana.


Oleh karena itu, kaisar Murong segera tersadar dari keterkejutan, dan dengan segera menyambut lemparan penghormatan semu dari Yongyu.


"Baiklah, kau melakukan tugasmu dengan baik, bangunlah.'' Sahut kaisar Murong dengan nada tenang serta berwibawa.


Ia benar-benar mengikuti alur yang diciptakan oleh pria berpakaian hitam tersebut.


Sebenarnya, siapa yang telah membantuku?, dan siapa mereka?, apakah ada tujuan tersembunyi dari bantuannya kali ini?.'' Pikrnya.


Sementara itu, bagi semua orang yang disana, mereka menganggap, bahwa ini adalah strategi dari kaisar mereka.


Dan pasukan bayangan (para prajurit denga pakaian hitam) tersebut, adalah pasukan khusus yang melindungi kekaisaran Xili, milik kaisar Murongxu.


 


Setelah beberapa saat keadaan sudah mulai terkendali.


Secara perlahan, tabir pelindung menghilang, dan tidak terlihat jejaknya sama sekali.


Hal itu juga terjadi, pada bunga yang tertancap pada pilar aula pertemuan.


Perlahan namun pasti, bunga tersebut mengabur dari pandangan, hingga pada akhirnya lenyap tak berbekas.


Akan tetapi, tiba tiba saja sebuah suara benda logam terjatuh tak jauh dari tempat singgahsana kaisar.


"Klonting ..''


Mendengar bunyi nyaring yang lumayan keras itu, semua mata menoleh kearah asal sumbersuara.


Seorang wanita dengan kedua tangan yang terikat siluet cahaya putih, berdiri tepat di belakang kaisar Murong.


Dan tepat dibawahnya, terdapat sebilah pedang kecil, dengan gagang terbuat dari bahan perak tergeletak.


Wajah sang wanita tampak pias dengan apa yang terjadi, tangan yang seolah tertawan itu bergetar, bibirnya menggumamkan sebuah perkataan lirih berulang kali.


''Ti..dak...tidak...bu..kan...bukan...aku...tidak...ti..dak...bu..kan aku.''


Melihat hal tersebut kaisar Murongxu terbelalak kaget, ia tidak menduga bahwa, permaisuri akan melakukan hal itu kepada dirinya.


Dengan kekuatan yang tersisa, ia mendorong permaisuri Sujin, hingga tubuh wanita tersebut terjerembah, diatas kursi singgahsana kekaisaran miliknya.


"Da*ar kau wanita ul*r, aku tahu kau memang kejam, tapi tidak kusangka, kau juga akan berinisiatif untuk menusukku dari belakang.


Untung saja dewa masih melindungiku.'' Ucap kaisar Murongxu, dengan penuh kekecewaan dan amarah.

__ADS_1


''Ibunda.....'' Panggil lirih, putra mahkota, dengan wajah kecewa, serta tubuh yang masih lemas, putra mahkota hanya menunduk sedih.


Ia tak mengira bahwa sang ibu, bisa berbuat hingga sejauh ini.


''Yang mulia, redakan kemarahan anda, dan mohon segera meminum obat ini sebelum terlambat.'' Pinta kasim Di, sembari menyerahkan sebuah butiran kecil pil, yang ia terima dari salah satu prajurit hitam beberapa saat yang lalu.


Kasim Di dan semua orang yang disana, juga sudah menerima masing-masing satu pil penawar, untuk menetralkan racun pelemah otot ditubuh mereka.


''Ha..ha..ha.., aku kejam ,..ha..ha..ha...aku kejam.''


Suara permaisuri mengalun dengan lantang, dan diselingi suara tawa yang keras.


Wanita tersebut berdiri tegak, dengan tangan yang masih terikat, oleh sebuah siluet kabut putih.


Siluet tampilan tersebut seolah, sebuah tali untuk tangan permaisuri, sekuat apapun ia berusaha melepasnya, nyatanya tetap sia-sia.


Padahal benda tersebut, bagi orang lain tak ubahnya seperti sebuah asap, atau kabut yang bahkan tidak dapat di sentuh.


"Apakah ini juga kau Ziaruo?, bahkan pasukan pasukan itu juga?.'' Pikir kaisar Murong, dalam hati.


''Kaulah yang kejam, bahkan kau menyakiti kami wanita-wanitamu. Setiap hari, setiap waktu, bahkan setiap saat.'' Ucap permaisuri lagi.


''Jika aku tidak melakukan semua kekejaman itu, maka akulah yang menerimanya dari mereka, apa anda mengerti akan hal itu yang mulia?, ini semua karena anda yang mulia...karena anda!.'' Lanjutnya lagi, tetap dengan suara keras.


Seolah permaisuri tengah, meluapkan setiap hal yang ia rasakan didalam hati.


Namun hal itu, adalah hal yang sudah menjadi hal umum diketahui semua orang.


Bahwa diistana dalam(Istana para selir), adalah sebuah medan peperangan, bagi para wanita kekaisaran.


Tak ada simpati ataupun kelemahan hati, untuk sujin dari Murong saat ini.


Pria itu justru semakin menghitamkan wajahnya kepada Sujin.


''Bawa permaisuri keluar dari sini, kurung dia didalam istana lotus. Dan mulai sekarang ia hanya seorang wanita biasa dari keluarga Su.'' Perintah kaisar Murong tegas.


"Yang mulia!, ...yang mulia!,...dengarkan aku.''


Teriak permaisuri, saat dibawa oleh para prajurit dengan paksa, keluar dari ruangan tersebut.


Kaisar Murongxu, sengaja melakukan itu karena ia ingin mengesampingkan masalah diantara dirinya dan permaisuri untuk saat sekarang.


Dan hal itu akan ia lakukan, setelah merampungkan urusan dengan menteri pertahanan Suyao.


"Ampuni hamba yang mulia, karena tugas kami telah selesai. Izinkan kami mohon undur diri dahulu.'' Ucap Yonyu sopan, sembari menunduk memberi hormat.


Mendengar perkataan Yongyu kaisar merasa agak kecewa, ia ingin mengenal mereka.


Lebih tepatnya mengetahui identitas, dari pasukan misterius tersebut.


"Baiklah kalian boleh pergi, dan terimakasih atas kerja keras kalian." Jawabnya berusaha tenang.


Namun, terlihat jelas ada sebuah kekecewaan dibalik mata pekatnya tersebut.


Aku hanya ingin menjamu kalian semua, sebagai ungkapan terimakasihku, dan sepertinya itu akan sulit dilakukan.'' Gumam dalam pikirannya.


"Ziaruo, apakah kau satu diantara mereka, mengapa aku mencium aroma tubuhmu sekarang?.'' Pikir kaisar Jiang jingwei dalam hati.


Kaisar negri tetangga tersebut, memang sempat mencium aroma tubuh Ziaruo, meski aroma wewangian itu tertangkap indra penciumannya samar-samar.


''Dan mentri b*doh itu sungguh mengecewakan, ternyata hanya sebatas ini saja kemampuannya, ciiih...'' Sambungnya lagi, masih dalam diam.


"Ada yang ingin kau katakan menteri pertahanan?. Maksudku, apakah ada sesuatu yang harus kau ucapkan Suyao?.'' Tanya kaisar, dengan tatapan datar, kepada salah satu pria yang kini duduk dengan kondisi yang terlihat menyedihkan.


Tampak jelas perbedaan kondisinya sekarang, dengan beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


"Apa kau kira jika aku seperti ini, aku akan meminta pengampunan dari mu?.'' Jawab Suyao lantang, penuh dengan kebencian.


"Kami kalah, dan mungkin takdir memang menentukan kami kalah hari ini, kau boleh menganggap kami adalah penghianat.''


"Tapi dari penghanatan ini, jika kami berhasil, maka nama kami akan berubah menjadi harum, dan dianggap sebagai seorang pahlawan.'' Tambahnya lagi.


Meski perasaan yang seolah bercampur aduk di dalam hati, kaisar Murong masih tenang, serta diam mendengarkan.


"Menurutmu, darimana leluhur keluarga Murong memperoleh kekaisaran, dan kehormatan saat sekaranh?.''


''Mereka juga melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan sekarang.''


Pria itu menatap lurus kearah kaisar.


Seakan, tak pernah ada penyesalan atas semua tindakannya.


Mendengar hal tersebut, Kaisar Murong menatapnya dengan sinis, dan berkata.


''Kau benar sekali Suyao.''


Mendengar jawaban tanpa penyanggahan dari bibir kaisar Murong, ruangan menjadi hening sejenak.


Semua orang tertegun tak percaya beberapa saat, hingga terdengar kembali ucapan dari sang Kaisar.


"Apa kau tahu perbedaan yang paling mencolok dari Leluhur Murong kami dengan tindakanmu sekarang?.''


''Mereka mengambil kembali tanah, dan kekaisaran ini yang memang jelas-jelas milik kami.''


''Merekalah (penguasa terdahulu, sebelum kekaisaran Murong) yang telah mengambil tanah, serta harta benda kami.''


Kaisar Murongxu, mengatakan semua dengan wajah serta suara yang di usahakan setenang mungkin.


''Dan yang terpenting adalah leluhur kami berhasil, serta memenangkan tahta kami kembali.''


"Sedangkan kau...''


Murongyu menunjuk tepat kearah Suyao, dengan tatapan tajam dan sinis.


Seolah pria penguasa Xili tersebut, ingin menusuk jantung Suyao dengan tatapannya saat itu juga.


''Dan kau...hanyalah rakyat jelata, keturunan orang biasa, yang mendapat kepercayaan rakyat kekaisaran Xili kami, namun karena keserakahanmu, kau ingin memiliki negri ini.''


Murong menghentikan ucapannya sejenak.


Dengan tubuh yang masih lemah, serta kemarahan yang ditahan. Pria itu mengalami rasa sakit tersendiri di dadanya.


Namun, tak berselang lama ia kembali berkata. ''Dan b*dohnya lagi....mereka mempercayaimu.''


Sebuah ucapan pelan namun terkesan tajam, yang mengacu kepada orang-orang pendukung dari Suyao.


"Karena kau telah kalah, statusmu sekarang akan menjadi seorang penghianat.''


''Maka, kekaisaran Xili menjatuhkan hukuman


pengg*l untuk 2 generasi keluarga pertama, serta pengasingan untuk generasi ke-3 dan ke-4.''


''Mereka akan dikirim keperbatasan, sebagai budak, untuk melayani para prajurit disana.''


''Sedangkan untuk generasi selanjutnya, dengan marga "SU" dari keluarga kalian, akan dihilangkan status kebangsawanan mereka, dan


tidak diizinkan untuk menerima penghargaan, penghormatan, ataupun kenaikan/pemulihan kedudukan, sekalipun oleh kaisar dimasa mendatang.'' Tambah Murongxu dengan tegas.


"Yang mulia bijaksana, semoga panjang umur.'' Ucap serempak semua orang, yang berada di ruangan tersebut.


Tentu saja kecuali yang terhukum.

__ADS_1


Mereka hanya mampu diam menunduk, meratapi nasib, serta menyesali tindakan mereka.


__ADS_2