Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 115 Merajuk.


__ADS_3

Orang bijak pernah berkata, kita dapat membuat gambaran sebuah dunia, menentukan berapa luas samudra, bahkan mampu menjelajahi angkasa. Akan tetapi, tak akan pernah mampu mengukur kedalaman sebuah hati.


Dan Jiang jing wei memahami akan hal itu, pria dengan ketegasan pada setiap keputusannya selama ini, merasa seolah telah di curangi.


Jing merasa kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Ziaruo.


Sejak awal pernikahan mereka telah berjanji akan saling terbuka, dan tidak menyembunyikan apapun satu sama lainnya.


Namun, mengetahui kenyataan bahwa Ziaruo menyembunyikan keterbatasan waktunya saat ini, membuat pria tersebut merasa terhianati.


Sejak pembicaraannya dengan Murongxu tadi pagi, ia diam didalam kamar, berpikir apa yang harus ia lakukan ke depannya.


Haruskah ia marah kepada sang permaisuri?, haruskah ia bertanya?, ataukah ia berpura pura tak mengetahui apapun?.


Yang jelas ia tidak mungkin bisa terpisah dari wanita tersebut.


''Apa aku harus mulai mengambil jarak darinya?, atau aku mulai membuka hati untuk yang lain?, aku pasti akan hancur saat kepergiannya?.'' Gumam dalam diamnya.


''Yun...apa yang harus aku lakukan?, apa aku harus mulai belajar tanpamu?.'' Ucap lirih pria tersebut dengan mata yang mulai berkaca kaca.


''Kriiieeet...'' Suara pintu di buka dari luar.


Seorang wanita dengan langkah ringan, serta tenangnya masuk kedalam ruangan.


Wanita yang tak lain adalah Ziaruo tersebut, tepat berdiri di samping ranjang menatap sesosok tubuh pria, yang kini berbaring dengan tubuh miring membelakanginya.


Ada raut tak terbaca pada wajah cantiknya. '' Heeeh....''


Ia menghela nafas panjang sejenak, sebelum mendudukan tubuhnya di samping ranjang.


Ziaruo tahu, sang suami sekarang tengah marah kepadanya, atau lebih tepatnya pria itu kini tengah merajuk.


Karena Wanita itu telah mengetahui apa yang terjadi, dan yang menjadi penyebab sang kaisar suaminya bertingkah demikian.


Saat dalam perjalanannya menuju Nancang, Ziaruo membuka cermin air bulan dan mencari tahu, apa yang terjadi di penginapan beberapa saat yang lalu.


Ia melihat gambaran kesedihan tampak jelas, ketika Jing melangkah keluar dari dalam ruangan Murongxu, Akan tetapi ia juga melihat keculasan sang suami saat melakukan kekasaran terhadap Murongxu.


Ziaruo menjadi mengerti dan mengetahui jawaban, atas rasa sakit secara mendadak pada jantungnya.


Bagaimanapun tubuh yang ia gunakan, adalah sebuah bagian dari kekuatan(sihir) milik Murongxu, dan jika terjadi sesuatu kepadanya, tidak menutup kemungkinan tubuh fananya, yang sekarang juga akan menghilang.


''Heeeh...'' Lagi lagi Ziaruo menghela nafas panjang, ada perasaan bercampur aduk dalam tatapannya untuk punggung itu.

__ADS_1


Bagaimanapun ia menepis, dibalik keegoisan serta tindakan seenaknya Murongxu, segalanya ia lakukan untuk dirinya.


Dan bagaimanapun pria itu adalah suaminya didalam kehidupan abadi yang ia miliki, seberapapun ia kecewa kepadanya, Murongxu tetaplah Kaisar Awan dan dia adalah sang Permaisuri.


Begitu juga dengan tubuh diatas ranjang yang juga suaminya di kehidupan ini.


Meskipun, pada awalnya ia menikah adalah untuk memenuhi takdir yang tergaris ditangannya, atau dngan kata lain, menikah bukan karena sebuah keinginan atas cinta.


Bahkan Ziaruo melakukannya sebagai penyempurna hukumannya(salah satu ujian langit/ dewa), ia menyadari ada kenyamanan, serta ketulusan kasih sayang dari Jing suaminya.


''Apa yang harus aku lakukan dewa?, jika aku manusia biasa, tanpa keistimewaan dan ingatan terdahulu, maka dengan pasti aku akan mencintainya dengan seluruh kehidupan ini.'' Gumamnya lirih.


Ziaruo bergumam lirih, sembari mendudukan tubuhnya disamping ranjang, mengusap rambut Jiang jing wei dengan lembut.


''Terimakasih telah mencintaiku, terimakasih.'' Lanjut Ziaruo kembali masih dengan suara yang masih lirih.


Wanita itu, berdiri dari duduknya. Berjalan kebalik ruangan sekedar untuk mencuci kaki serta tangannya.


Namun, ketika merasakan kesejukan pada air, Ia membasuh wajah cantiknya beberapa kali, sebelum kembali menuju ranjang.


Di rebahkan tubuhnya disamping sang suami, wanita itu ikut memiringkan tubuh, dan memeluk tubuh gagah Jing dari belakang.


Ada kehangatan yang menengkan dari sang suami, seolah sebuah candu yang telah lama tak ia dapati.


Mendengar ucapan dari sang istri, Kaisar Jing yang hanya berpura pura tidur, dengan cepat membalikan tubuh serta memeluk Ziaruo erat.


Di dalam hatinya saat ini, seolah hanya dipenuhi dengan kebahagiaan.


Bahkan skenario kemarahan, serta susunan pertanyaan yang ia rancang, kini raib menghilang entah kemana.


''Yun...jangan tinggalkan aku, jangan kejam kepadaku.'' Ucapnya lirih.


Mendengar perkataan tersebut, Ziaruo menatap wajah depannya, dengan sebuah nanar pada mata coklatnya.


Dengan suara yang pelan ia menjawab. '' Bahkan jikapun kita telah bersama, ternyata aku masih menyakiti hati anda Yang Mulia.''


Wajah cantik itu seolah berubah menjadi sebuah mendung tebal, dengan air hujan tertahan didalamnya.


Melihat hal itu, Jing merasa bersalah atas apa yang ia lakukan.


Namun ada kekhawatiran yang besar juga dalam hati.


Dengan nada suara yang masih sama, jing kembali bertanya. ''Apakah benar waktu disini tinggal sebantar?, apakah kebersamaan kita akan segera berakhir?, Yun...jangan pergi secepat itu...atau setidaknya tunggu hingga aku membencimu.''

__ADS_1


Kaisar Jiang jing wei, seolah menanamkan kehancuran dalam hati sendiri, manakala kata itu meluncur dari bibirnya.


Ada ketidak relaan atas setiap kata, namun disana lebih jelas tentang ketidak berdayaan.


''Yun...apakah semuanya benar?.'' Tanya pria tersebut lagi.


''Berapa banyak takaran lama dan sebentar untuk sebuah kasih sayang Yang Mulia?.'' Jawab Ziaruo, sembari mengusap lembut, bibir sang suami dengan jarinya.


''Bahkan seseorang telah mengarungi kebersamaan puluhan ribu tahun, terkadang masih terasa asing dan tidak saling memahami.'' Lanjut Ziaruo. Kali ini ia mengecup pelan bibir di depannya dengan penuh kelembutan.


Jiang jing wei, menyadari segalanya tak sesimpel perkataan Murongxu, dan dia berniat akan mencari tahu segalanya, namun tidak sekarang.


Karena saat ini, ia ingin merengkuh tubuh sang istri, membawanya menuju kealam kebahagiaan, yang hanya akan menjadi milik mereka berdua.


''Yuuun...aku sangat mencintaimu.'' Ucapnya lirih, disela lengguhan ha*rat, atas ken*km*tan cinta, serta balutan madu asmara.


Sementara itu, di ujung ruangan pada lantai bawah pavilliun, dengan suara penuh kemarahan, seorang pria dengan keras tengah mengutuk Kaisar Jing.


Bahkan, sempat terdengar juga sebuah ucapan buruk atas diri Ziaruo. Yongyu yang kebetulan berada tak jauh dari sana, mendengar dengan jelas.


Dengan penuh kegeraman ia masuk, menemui pria yang tak lain adalah Murongxu, dan dengan nada suara agak tinggi ia berkata. ''Apa kau sudah kehilangan akal sehat?, mengapa tak ada hal baik dari mulutmu.''


Melihat pria itu disana, Murongxu menatapnya sinis dan menjawab. ''Apa masalahmu, semuanya tak ada urusan denganmu?.''


Yongyu tampak kesal dengan jawaban tersebut. Namun ia tak ingin berlama lama disana.


Dengan tatapan yang masih datar ia kembali berkata. ''Aku tak akan pernah, melakukan hal buruk kepadanya seperti yang kalian lakukan.''


Ucapan Yongyu lebih mengarah kepada ingatannya, saat berada didalam cermin air bulan. Tentang gadis bernama Ziayun, yang menderita, akibat tindakan Haoyan dan Zhanglei.


Dua orang yang paling mencintai Ziayun, namun juga yang menjadi penyebab penderitaan wanita itu.


Keduanya mengambil keputusan atas hidup Ziayun, tanpa sepengetahuan serta izin darinya.


Bahkan keduanya menghancurkan seluruh kehidupan klan, yang menaungi serta melindungi gadis itu sejak lama. Mengubur identitasnya sebagai keturunan serta penerus klan bulan yang termahsyur.


Yongyu selalu mengingat akan kejadian tersebut, menyesalkan keputusan keputusan kedua pria itu (Haoyan dan Zhanglei).


Bagi Yongyu, keduanya sama tak tak pantasnya untuk Ziayun.


Dengan penuh kekesalan, Yongyu keluar dari ruangan tersebut.


Meninggalkan seorang pria lain, dalam keadaan yang tak jauh berbeda dengan tubuh yang tak berguna. Tangan kanan dan kedua kakinya masih diperban, dan ada bercak darah merembes dari dalam perban.

__ADS_1


'' Bahkan aku Murongxu memiliki hari yang seperti ini, Ruoer kau kejam, kau wanita kejam...mengapa kau melakukan ini, bagaimanapun kau akan tetap menjadi milikiku...'' Ucapnya dengan kekecewaan pada sorot mata tajamnya.


__ADS_2