Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode142 perjamuan 1


__ADS_3

Masih di Aula perjamuan pesta tahunan kekaisaran negri Tang.


''Yang di muliakan kaisar dan permaisuri negri Zing, memasuki Aula perjamuan.'' Seorang kasim menyerukan kehadiran mereka, dengan suara lantang, serta jelas.


Mendengar hal tersebut, semua orang tertegun sejenak, dan menatap lekat kearah pintu besar, dengan hiasan mewah.


Sebelum akhirnya, mereka berdiri untuk memberikan hormat.


Meskipun, ada banyak perasaan, serta pemikiran lain dibalik setiap tatapan, dan juga penghormatan yang mereka lakukan.


Karena bukan hal yang rahasia lagi, bahwa permaisuri dari negri Zing, adalah wanita yang terkenal paling cantik, seantero daratan di kelima kekaisaran.


Baik pria ataupun wanita, semua para tamu udangan yang hadir, saakan tengah diliputi antusias yang sangat tinggi.


Entah sekedar penasaran, ingin tahu, ingin menemukan pembuktian, ataupun memang sedang mencari simpati, serta perhatian, dari orang yang tengah melangkah masuk tersebut.


Namun yang jelas, untuk hari ini, keinginan hampir semua orang, tidak dapat terpuaskan.


Wanita nomor satu, Permaisuri Zing, Ziaruo atau yang lebih dikenal dengan panggilan Janda Yun tersebut, memasuki ruangan aula berdampingan dengan sang suami, serta 3 orang pelayan wanita di belakangnya, mengenakan cadar, hingga kepangkal hidung.


Sehingga, yang dapat terlihat pada wajah itu, hanya mata coklat dengan bulu lentik indahnya saja.


Meskipun demikian, tetap saja masih ada pujian, serta decak kagum yang lolos, dari bibir beberapa tamu undangan.


Sementara itu, Kaisar Jing yang menyadari akan hal tersebut, dengan cepat meraih tangan permaisuri Yun, serta hampir sepenuhnya mengabaikan semua orang.


Dengan erat, namun penuh kelembutan, ia menggandeng tangan sang permaisuri.


''Yang Mulia, Izinkan pelayan ini menunjukan arah.'' Ucap seorang pria, yang mengenakan pakaian kasim, penuh penghormatan.


Mendengar ucapan pelayan yang menghampiri keberadaan mereka, Kaisar Jing melihatnya sekilas, dan mengangguk pelan.


''Heemmm....'' Jing.


''Hormat hamba Yang Mulia, semoga Yang Mulia kaisar, dan Yang Mulia Permaisuri selalu panjang Umur.'' Ucap bersamaaan para cendekianwan, Mengshuo, serta jendral kekaisaran Zing, yang ikut didalam perjamuan.


Mendengar, di umumkannya nama penguasa, serta Permaisuri sang junjungan.


Baik para Cendekiawan, Guru besar, dan sang Jendral berdiri dari duduknya.


Mereka semua berjalan menghampiri, serta memberi hormat kepada kedua tuannya, yang tiba disana setelah kehadiran mereka, beberapa saat yang lalu.


Sementara tamu-tamu yang lain, hanya berdiri di tempat mereka, menunduk sejenak, sebagai rasa penghormatan diantara para utusan, atau sekedar memberikan sapaan penghormatan, sebagai simbol persahabatan diantara para penguasa kekaisaran.


''Heemmm...'' Jawab kaisar Jing singkat, sembari mengibaskan tangannya pelan.


Sebuah gerakan, sebagai tanda bahwa ia telah mengijinkan para cendekiawan, jendral serta guru besar Mengshuo, kembali ketempat duduk mereka masing-masing.

__ADS_1


''Mohon Yang Mulia mengikuti pelayan ini.'' Ucap kasim itu kembali.


Kasim tersebut, kembali berjalan, mengantarkan kaisar Jing dan Permaisurinya, menuju kearah sebuah tempat, yang telah dipersiapkan.


Disana telah tersedia tempat duduk, serta sebuah meja lengkap dengan hidangan lezat, tepat berada disamping kiri kursi kebesaran kaisar Canzuo, baris kedua sejajar dengan tempat duduk, selir agung kekaisaran Gu Qianxue.


Akan tetapi, dengan posisi agak rendah dari tampuk kebesaran sang kaisar.


Kaisar Jing, hanya mengikuti apa yang di atur oleh mereka, bagaimanapun dirinya adalah seorang tamu di sini.


Dengan gerakan yang lembut, kaisar Jing, membawa Ziaruo menempati tempat tersebut.


''Duduklah...'' Pinta Jing dengan suara penuh ketenangan.


Bagi pria itu, segalanya adalah berlebihan untuk seorang tamu diperlakukan demikian.


Meskipun, ia tahu dengan benar, bahwa Kaisar Canzuo hanya ingin mengistimewakan Permaisurinya saja.


Dibalik ketenangan Jing, sesungguhnya ada gemuruh besar didalam hati, ketika ia mengetahui tata letak tempat duduk mereka.


Sebuah tempat yang seharusnya hanya untuk para keluarga, atau para selir kaisar saja.


Dan hal itu terbukti dengan, barisan selir kekuasaan yang berjajar tepat di seberang tempat duduk keduanya.


Akan tetapi, ia mengabaikan segalanya untuk saat ini. Jing tak ingin terpancing dengan tindakan pria, yang dianggapnya picik, serta culas tersebut.


Bagaimanapun, istrinya memang layak memperoleh hal-hal didalam setiap keistimewaan.


''Apakah ada yang kurang nyaman?.'' Tanya Jing kembali, ketika ia telah berada di samping sang istri.


''Tidak, ini cukup.'' Jawab Ziaruo, dengan sebuah senyuman tercetak pada bibirnya.


Dan tentu saja, Jing tahu akan hal itu.


Meskipun wajah itu tertutup rapatkan, hanya mata yang terlihat.


Akan tetapi, ia paham betul ekspresi dari sang Permaisuri tercinta.


''Bagus...'' Jawabnya lirih, sembari menyamankan tubuhnya.


Pria itu menggeser bantalan duduk, pada posisi yang semakin merapatkan diri, dengan sang istri.


Entah apa yang kini tengah ia pikirkan, yang jelas disana ada sebuah kedekatan yang sangat mencolok, diantara keduanya.


Sementara untuk pasangan lain, meskipun mereka duduk pada satu tempat yang sama, diantara tempat duduk sang permaisuri(selir), dengan sang suami (tuan), masih ada beberapa jarak.


Dan tentu saja, itu bukan urusan, ataupun suatu masalah bagi Jing.

__ADS_1


Karena, dimanapun dirinya berada dan kapanpun itu, ia tak ingin ada jarak dengan Ziaruo.


Terlebih lagi, disaat sekarang ketika sang Permaisuri tengah hamil buah cinta mereka, serta berada diantara para pemujanya.


Jing semakin ingin menunjukan kepemilikan, serta status Ziaruo dihadapan semua orang.


Dan benar saja, tepat tak jauh dari tempat duduk keduanya. Di seberang barisan, kaisar Negri Xili duduk dengan penuh wibawa, bersama seorang wanita cantik.


Wanita itu, sejak awal tak melepaskan sedikitpun tatapan matanya, selalu melihat kearah wajah Ziaruo, dengan penuh kerinduan.


''Nona.....'' Gumamnya lirih.


Jika bisa, wanita tersebut ingin segera berhambur, dan memeluk erat wanita di depannya.


Ia ingin menangis, serta berkeluh kesah dihadapan wanita itu.


Namun, ia menyadari meskipun dengan posisi kedudukan, yang telah meninggi sekarang.


Dirinya tetaplah bukan siapa-siapa dihadapan wanita itu.


Ia hanya salah satu, dari sekian orang, yang pernah di berikan uluran tangan kehangatan sang Dewi.


Wanita yang tak lain, adalah Xioyu, atau selir dari kaisar Murongyu tersebut, kembali menundukan wajah dalam.


Ada bulir bening di ujung mata cantik itu.


Sementara, menyaksikan hal tersebut, Murongyu merasa kasihan serta iba.


Murongyu mengangkat tangan, dan hendak menenangkan wanita tersebut.


Namun, belum sempat ia melakukan apapun, sebuah suara terdengar.


''Kaisar putra langit yang diberkati, penguasa kekaisaran Tang yang agung, memasuki Aulaa perjamuan.''


Seruan seorang kasim, dari balik ruangan besar tersebut, mengalihkan perhatian semua orang.


Mendengar seruan itu, semua orang yang hadir, berdiri dari duduknya, menunduk dan berkata. ''Semoga Yang Mulia selalu di berikan umur panjang.'' Tidak terkecuali Ziaruo dan kaisar Jing.


Meskipun, mereka hanya menunduk sejenak, dan tidak mengucapkan perkataan seperti yang lainnya.


Kaisar muda penguasa tersebut, berjalan dengan keagungan, serta wibawa yang tinggi, menuju singgahsananya.


Disampingnya juga mengikuti seorang wanita, dengan dadanan penuh kemewahan, yang tak jauh berbeda dengan sang kaisar.


Ia adalah selir kesayangan Kaisar Canzuo, wanita istimewa yang di lahirkan dari keluarga militer bangsawan Gu.


''Terimakasih, atas kesedian anda sekalian untuk datang memenuhi undangan, dan silahkan menempati kembali serta menikmati hidangannya.'' Ucap Canzuo, setelah ia duduk di atas singgahsana kebesaran.

__ADS_1


Pria dengan usia yang masih Muda tersebut, tampak memiliki ketenangan, serta aura yang menunjukan suatu kewibawaan yang tinggi.


''Kau akhirnya datang Ruoer.'' Gumamnya pelan, setelah menatap sekilas kearah tempat duduk disamping kirinya.


__ADS_2