
Flash back off.
Seorang pria dengan perawakan gagah serta berkharisma, memacu kudanya dengan cepat, melesat ke arah pinggiran kota, membelah keheningan malam yang sunyi.
Kuda tersebut berhenti didepan sebuah rumah yang lumayan besar dengan halaman luas, berpagar tinggi dari bebatuan yang ditata rapi serta indah.
Dengan lincah sang penunggang kuda turun.
Pria tersebut menyerahkan tali kejang kuda kepada seorang penjaga yang telah menyambutnya sejak pertama ia menginjakan kakinya didepan pagar kediaman.
''Selamat datang yang Mulia pangeran.''Sapa sang penjaga dengan penuh hormat.
''Heeemmm...'' Angguk sang Pria yang tak lain adalah pangeran Murongling, adik kandung sang Kaisar yang berkuasa sekarang(Muronghui).
''Apakah dia masih tidak ingin makan, dan menolak meminum obatnya.'' Tanyanya dengan wajah tenang, kepada pelayan tua yang mengurus kegiatan tersebut.
Mendengar pertanyaan sang majikan, pelayan pengurus itu menampakkan kesedihan, ia melihat ke arah pintu kamar yang tertutup rapat sejenak, sebelum menjawab.'' Benar yang mulia, bahkan ia telah memuntahakan makanan yang anda berikan kemarin sore.''
Tanpa mendengar ucapan lebih banyak lagi, pangeran Murongling bergegas menuju ruangan kamar yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
''Krieet...''
Pintu terbuka sesaat, dan kemudian tertutup kembali setelah pria tersebut masuk kedalam ruangan.
''Sampai kapan kau akan bertingkah bodoh seperti ini?, apa kau ingin mati?.'' Ucap pria tersebut dengan suara tingginya.
Namun sesosok tubuh diatas ranjang hanya diam membisu, bahkan menoleh ke arah Pria tampan, dengan garis keturunan darah kekaisaran tersebut ia merasa malas.
Hal itu membuat Murongling semakin kesal, dengan tangan kekarnya, ia meraih dagu dari sang wanita, sembari berucap dengan kasar.'' Apa kau meremehkanku?, apa kau pikir dengan sikap seperti ini aku akan melepaskanmu?.''
Tangannya yang kuat, seakan bisa meremukkan tulang dagu dari wanita itu, jika ia menambahkan sedikit tenaga lagi.
Wanita yang tak lain adalah Xioyu, seorang yang pernah ditolong oleh Ziaruo dari tindakan kekasaran beberapa anggota perkampungan merah, di dalam gubuk di hutan barat kekaisaran Xili.
Tiga pekan sebelumnya..
__ADS_1
Pangeran Murongling mengira dia adalah wanita dari pangeran Murongyu, dan untuk membalas kekejaman serta arogansi dari jendral perang tersebut, ia menculik serta melakukan tindakan tidak pantas, kepada wanita malang itu beberapa kali.
Pangeran Murongling berpikir dengan melakukan hal tersebut, ia telah melukai hati dan harga diri dari pangeran Murongyu saudara keduanya.
Entah mungkin ini suratan takdir, ataukah memang nasib buruk yang tergaris pada telapak tangan Xioyu, namun kemalangan selalu saja hadir, disaat dirinya tengah memulai menata hidupnya kembali.
Dulu, ia pernah mengalami kejadian yang pahit dihutan barat, dengan bantuan Ziaruo dan pangeran Murongyu, ia dapat kembali tersenyum dan menatap hari depan.
Di kala hidupnya hendak ia bangun kembali, bersama seorang penjaga kediaman pangeran Murongyu, musibah ini kembali datang.
Orang suruhan Pangeran Murongling membunuh sang penjaga calon suaminya, saat berusaha menyelamatkannya yang sedang diculik.
Belum lagi rasa kehilangan yang ia rasakan berkurang, ia memeperoleh perlakuan yang tidak pantas dari pangeran Murongling, bahkan hal tersebut dilakukan bukan hanya sekali saja.
Hatinya hancur, pikirannya terguncang, Xioyu berusaha mengakhiri hidupnya dua kali, dengan menyayat pergelangan tangannya.
Wanita itu membenci semua kehidupannya, bahkan ia juga membenci tubuhnya, yang ia anggap kotor dan pembawa sial.
Sudah hampir tiga pekan, wanita tersebut di disekap disana.
Semua pelayan dan penjaga kediaman tersebut, berpikir pangeran Murongling membawa wanita yang yang ia cintai secara paksa kesana, untuk meluluhkan hati dan membujuknya, agar bisa menerima kasih sayang sang pangeran yang tulus kepada Xioyu.
Karena dugaan demikianlah, pelayan di kediaman membantu semua tindakan sang pangeran, bahkan ada beberapa pelayan yang menganggap Xioyu bodoh, karena menolak serta berprilaku kurang sopan kepada Pria keturunan kekaisaran.
Sedangkan untuk kesalah pahaman pangeran Murongling memang berdasar, Xioyu dikediaman pangeran Murongyu memang diperlakukan ibarat seorang tamu, ia tidak diharuskan melakukan tugas apapun.
Bahkan ia juga dihadiahkan sebuah tanah kosong di tengah kota, sebagai hadiah pernikahannya dengan sang penjaga.
Akan tetapi, perihal pernikahannya memang secara rapi di jaga, agar tidak diketahui oleh pihak luar, dan di adakan secara kekeluargaan saja( dilakukan oleh keluarga sang penjaga, dan pangeran Murongyu sebagai wali dari pihak Xioyu).
Karena wanita itu tak ingin merepotkan pangeran Murongyu, yang telah banyak melakukan kebaikan untuk dirinya.
Sedangkan sebidang tanah, dengan rumah di tengah kota, adalah bukti ketulusan Murongyu atas perawatan dan perhatiannya kepada Ziaruo, ketika sedang sakit ( kehilangan ingatan) oleh karenanya, sebidang tanah dan rumah tertera atas nama Xioyu pribadi.
Pangeran Murongling yang kesal, kepada kakaknya Murongyu, mengambil kesempatan ketika sang Jendral( Murongyu), dikirim dalam upaya penangkapan perampok di perbatasan oleh Kaisar Muronghui.
__ADS_1
Ia ingin mempermalukan pangeran Murongyu, dengan mengotori wanita tercintanya, yang sesungguhnya bukan siapa siapa bagi seorang Murongyu.
Saat pertama kali dibawa kekediaman tersebut, Xioyu berusaha keras menegaskan, bahwa dia bukanlah wanita pangeran ke-2 Murongyu.
Akan tetapi, usahanya sia sia dan hanya dianggap, sebagai upaya mencari jalan selamat.
Ia diperlakukan ibarat wanita simpanan sang pangeran, pada awalnya Xioyu berusaha keras melawan serta melindungi dirinya.
Namun, wanita biasa selalu tak berdaya di balik kekuatan seorang pria.
Semenjak hari itu, Xioyu ibarat tubuh mati, ia hanya menerima setiap tindakan tak pantas dari pangeran Murongling, tanpa perlawanan dan ekspresi sama sekali.
Back to story.
Xioyu masih membisu meskipun ia merasakan rasa sakit pada dagunya. Tak ada teriakan ataupun rintihan kesakitan dari bibirnya.
''Masihkan ada yang lebih menyakitkan dari kehidupan malangnya?.'' Pikiran Xioyu mengembara entah kemana, apakah ada tempat lain yang lebih baik baginya.
Hatinya tak lagi ingin merasakan harapan, pikirannya tak bisa berkerja dengan rasional.
Ia hanya diam membisu, serta tak memiliki semangat hidup.
Bahkan ketika Pria didepannya mulai melepaskan setiap pakaian yang terpasang ditubuhnya, ia tetap diam seolah tak merasakan apapun.
Dan hal itu berlangsung hingga, pangeran Murongyu kembali dari tugasnya, mendapat laporan dari penjaga yang telah mengetahui kondisi serta keberadaan Xioyu.
Penjaga tersebut memang sudah mengetahui apa yang menimpa gadis malang tersebut Seminggu, sebelum kepulangan Murongyu. Akan tetapi, ia tak berani bertindak gegabah, menyangkut keluarga kekaisaran.
Terlebih lagi, tanpa perintah sang Jendral yang tidak sedang di tempat.
Oleh karena hal inilah, sang penjaga segera melaporkan kejadian tersebut kepada Murongyu ketika Pria tersebut, memasuki halaman kediamannya.
Mendengar berita yang mengejutkan itu, Murongyu marah besar, tanpa mengganti pakaian Zirah perang lengkapnya, ia kembali menaiki kuda dan melesat ke pinggiran kota.
Dengan pedang yang terhunus ia masuk kedalam halaman kediaman pangeran ke-3 Murongling.
__ADS_1
''Braaakkk....'' Pintu kediaman pangeran Murongling terbuka kasar, akibat tendangan Pangeran ke-2, hingga daun pintu hampir terlepas dari penyanggahnya.