Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 248


__ADS_3

Ketika malam menjelang, rombongan Ziaruo dan Jiang Jing wei sampai di kaki gunung Batu.


Maklum meski dengan tambahan beberapa orang di antara mereka, namun karena semua juga bukan orang awam pada umumnya, perjalanan tidak menghabiskan perbedaan waktu yang signifikan.


Di tambah lagi, hampir semua orang-orang tersebut, telah mengetahui rute yang di tempuh dengan baik. Setelah menyusuri jalan setapak beberapa saat, akhirnya mereka tiba di sebuah tempat dengan tebing tinggi menjulang di depan.


Di sana, terdapat dua buah batu seukuran rumah pada sisi kiri dan kanan tebing, yang menyerupai dua pilar tegak dan kokoh layaknya gapura penyambut, untuk jalan masuk menuju sebuah kota.


Namun yang membedakan adalah, di antara dua batu besar di depan mereka tak ada jalan ataupun ruang untuk masuk, melainkan sebuah dinding tebal yang kokoh menjulang tinggi.


''Apakah itu pintu masuknya?.'' Tanya Jiang Jing wei dengan ekspresi yang tak dapat di pahami.


Dalam hati, Jing berharap bahwa wanita itu mengatakan tidak, hanya dengan demikian ia masih memiliki waktu beberapa saat lagi untuk bersama dengan nya.


Namun, ketika ia mengingat bahwa Ziaruo pergi untuk menjemput Weiyun dan kemungkinan untuk kebersamaan di hari depan terbuka lebar, Jiang Jing wei menginginkan jawaban yang berbeda.


Ziaruo hanya mengangguk mendengar pertanyaan itu. Dengan hanya melihat wajah sang suami, serta pemahaman atas sosok di depannya tersebut, telah mampu mengerti apa yang di cemaskan.


''Paling lama mungkin besok saya sudah kembali, dan..." Perkataan Ziaruo tak dapat di selesaikan, bahkan jika itu masih di depan beberapa orang penjaga bayangan, Jiang Jing wei tak ambil pusing sama sekali.


''Ingatlah, bahwa aku menunggumu disini sampai kau kembali." Ucap Jing, ketika memeluk tubuh wanita itu.


Suara tersebut terdengar pelan dan dalam, seakan sebuah ruang telah terbentuk melingkupi kecemasan dari sosok Jiang Jing wei.


''Jika Yincang menahan mu untuk waktu lebih lama, aku akan mencari jalan untuk membawa kalian kembali."


''Kau adalah permaisuri Zing, dan hanya akan kembali ke negri Zing di akhirnya.'' Lanjut pria tersebut.


Sejenak Ziaruo menikmati kehangatan dari pelukan sang suami, meski ada rasa malu di dalam hati ia masih tak dapat melakukan apapun.


Bagaimana juga pria itu ingin memeluk, dan tak ada yang dapat menghentikannya, meski itu Ziaruo sendiri.


''Baiklah, saya mengerti dan akan secepat mungkin kembali."


Ziaruo perlahan melepas pelukan Jiang Jing wei, menatapnya lekat sejenak dan tersenyum lembut. "Saya akan segera kembali." Ucapnya lagi, dengan pengulangan makna pada baris pendek perkataan.

__ADS_1


Dengan pasti Ziaruo berbalik, dan berjalan menuju tebing di depannya. Namun, ketika hanya kurang satu langkah ia mencapai tempat di antara kedua batu besar, sebuah kehangatan pelukan kembali ia rasakan dari arah belakang.


''Yun...kau harus kembali harus, setidaknya berikan kesempatan untuk kebersamaan kita dan Weiyun.''


Suara Jiang Jing wei hampir menyerupai suara bocah kecil, yang enggan di tinggalkan oleh sosok ibunya, ia menjadi sosok rapuh dalam satu hentakan langkah kaki istrinya tersebut.


''Saya mengerti, jangan khawatir."


Ziaruo menepuk lembut kedua lengan yang melingkar dari pundak belakang, hingga bagian dada depan tubuhnya.


''Saya pergi dulu." Ziaruo.


''Yuun...'' Panggilan Zing menggantung di langit-langit mulut, ia tak melanjutkan lantunan nama sang istri, ketika mata tajamnya tak lagi dapat melihat sosok itu di sana.


Bahkan dekapan tersebut masih membentuk lingkaran di udara, dengan ruang kosong di antaranya.


Tubuh Ziaruo telah menghilang tepat di depan mata semua orang. Bahkan Jiang Jing wei yang berinteraksi secara langsung, juga tak dapat memiliki persiapan yang jelas.


Dengan tiba-tiba ia tak bisa merasakan kehangatan wanita itu, di dalam lingkungan kedua lengan kokoh miliknya.


Dengan kehampaan, tangan Jing jatuh kembali.


Di awal Jing hanya ingin segera membawa sang istri dan putra mereka untuk kembali. Namun ketika segalanya seperti apa yang di harapkan, Jing menjadi cemas dengan kepergian Ziaruo menjemput Weiyun di Yincang.


Namun, jauh-jauh di dasar hati pria tersebut, ia juga bersedih ketika mengingat bahwa karena keinginannya yang egois, Ziaruo akan memiliki kehidupan yang jauh lebih singkat di sisinya.


Jiang Jing wei kembali gundah, dengan hanya memikirkan waktu kebersamaan mereka, yang mungkin hanya tersisa sampai 3 bulan saja.


Haruskah ia memintanya tetap tinggal di sana, di tempat asing yang bahkan tak dapat ia kunjungi, untuk memperpanjang usianya.


Akan tetapi jika itu di lakukan, mampukah dirinya untuk menjalani hidup dengan bayang-bayang ingatan saja?.


Bahkan, setelah mencoba berpisah dengan sosok itu beberapa waktu yang lalu, ia telah merasakan kehancuran yang hebat, dan telah menyerah dengan beratnya kerinduan serta kepedihan yang tak tertahankan.


Lalu, sanggupkah dirinya berpisah kembali, hingga hari akhirnya nanti tanpa bertemu secara langsung dengan dirinya?.

__ADS_1


Jing berjalan menuju tenda dadakan yang didirikan oleh para penjaga bayangan.


Pria nomer 1 di kekaisaran Zing tersebut, masuk kedalam sana, tanpa sebuah perintah ataupun menjelaskan tentang sosok sang permaisuri yang menghilang begitu saja.


karena saat ini, kekacauan di hati sendiri jauh lebih rumit dan menakutkan. Lalu mengapa harus peduli dengan pikiran para penjaga.


''Biarlah hanya sebentar, dan akan ku jadikan kenangan hingga akhir masa hidupku Yun, maaf karena harus egois dengan keputusan ini."


....................


Sementara itu di kekaisaran Zing.


Di dalam istana kekaisaran, di paviliun belakang yang telah lama di abaikan.


Seorang wanita tua dengan pakaian polos masih duduk di dalam ruangan dengan khidmat, wajahnya yang masih menunjukan jejak kecantikan terlihat cukup tenang.


Seolah dirinya adalah, sosok dengan pikiran suci yang tak pernah tersentuh debu kesalahan sama sekali.


Punggungnya yang rapi dan teduh, membuat sosok di belakangnya mematung untuk beberapa saat.


''Bu..'' Panggil sosok yang tak lain adalah Yongyu tersebut.


Suara itu hanya nada lain dari setiap perkataan yang meluncur dari bibirnya.


Namun, kalimat yang tercipta bukanlah hal biasa yang bisa di katakan oleh setiap orang.


Dan benar saja, mendengar panggilan tersebut secara perlahan tubuh wanita di depan altar mulai terlihat bergetar.


"Bu...Aku kembali." Lanjut Yongyu dengan suara yang lembut.


Suara yang bahkan mampu mengguncang jiwa keibuannya yang telah lama terkunci dalam.


Wanita itu yang tak lain adalah Lexue, dengan gerakan reflek menoleh secara cepat ke arah sosok di balik punggungnya.


Tinggi tubuh itu memang Sama, namun suara wajah dan warna kulit mereka bukan dari orang yang ia harapkan untuk datang.

__ADS_1


Akan tetapi, mengapa hatinya seolah berteriak dengan hebat, bahwa dia adalah putranya, Jiang Jing Yun tercinta yang terlahir dari tubuh sendiri.


''Kau kah itu Yun'er?."


__ADS_2