
''Anda katakan, apa imbalan yang dapat di berikan oleh kekaisaran kami, Yang mulia?.'' Tanya Ziaruo, setelah menghabiskan teh, dan meletakan cangkir diatas meja.
Ia tahu, bahwa apapun di dunia ini tak ada yang percuma(gratis).
Bahkan, pertemuan sekarang pun juga bukanlah tanpa maksud.
Dia, Kaisar Canzuo memang telah menduga, serta merencanakan kedatangannya sekarang.
Ziaruo tahu, kedatangan dirinya kesana sendirian, sudah barang tentu telah di presiksi oleh seseorang.
Dan pria di depannya sekarang, juga tidak menutup kemungkinan telah mengetahuinya.
Mengingat kondisi dari wanita tersebut, serta waktu penyerangan yang mendesak, dan rasa takut untuk menyakiti buah hatinya.
Ziaruo tak akan mengambil resiko, untuk mengerahkan tenaga membawa orang lain bersamanya.
Serta satu poin terpenting, dari kejadian yang serba kebetulan di sana adalah, tak ada orang lain di kekaisaran Zing, bahkan di seluruh dataran benua 5 kekaisaran disana, yang dapat berpindah tempat dengan cepat selain Ziaruo.
Memahami hal tersebut, hati Ziaruo berdecih kesal, sekaligus kagum dengan taktik cermat sang kakak seperguruannya(Biyi).
''Menurut Anda apa yang bisa di berikan kekaisaran Zing untuk Tang?.'' Tanya balik kaisar Canzuo.
Wajah pria itu, semakin menunjukan semangat, serta Arogan yang mulai kembali membesar.
Bahkan, mata yang beberapa saat lalu tampak sendu dengan kekecewaan, kini seolah tengah menyala terang dengan harapan.
''Meskipun, Tang tidak sehebat negri Zing Anda.
Tapi, kami tidaklah jauh lebih buruk.'' Canzuo.
''Bahkan, kekuatan kami sekarang, mungkin dapat dikatakan sebanding dengan negri Anda permaisuri.''
Canzuo berjalan perlahan kearah pembatas teras ruang, ia mengambil pucuk bunga persik yang telah mekar sempurna.
Dengan tangan kanan, ia memutar, serta melihat lekat kearah kuncup tersebut.
''Saya tidak mengatakan, akan menolak pertukaran yang di berikan.'' Canzuo.
''Namun jika suatu pemberian, tidak memberikan keuntungan untuk negri kami, bukankah itu akan sia-sia.''
''Dan kaisar ini khawatir. Negri Zing Anda, pasti nantinya akan di pandang terlalu pelit, serta di rendahkan oleh dunia, jika memberikan penawaran yang biasa, Permaisuri.?.'' Lanjutnya lagi.
Ia mengatakan seolah, tengah menghawatirkan kekaisaran Zing.
Namun, pada kenyataannya, Canzuo tengah memasang harga, untuk bantuan yang akan ia berikan.
Dan tentu saja, ia akan mengambil sesuatu yang paling berharga baginya.
Mendengar perkataan itu, Ziaruo memahami maksud dibaliknya.
Permaisuri tersebut, kembali memasang wajah solem.
Sebuah tampilan setengah datar, tapi juga masih bersedia melanjutkan topik, yang tengah dibahas.
Atau dapat dikatakan masih melanjutkan perundingan, akan tetapi tanpa antusias disana.
Ziaruo ingin menampilkan ekspresi, bahwa ia sedang menimbang, antara untung dan rugi, untuk apa yang akan ia putuskan.
''Baiklah Yang mulia...Silahkan sebut nama(mengatakan), dan berapa Jumlah yang di kehendaki.''
Mendengar ucapan tersebut, Canzuo tertawa dengan keras.
__ADS_1
''Hahaha....hahaha...hahahaha.''
Dengan tawa milik Canzuo, tempat itu jauh terasa lebih hidup.
Tak ada seorang pun, yang akan berani mencegah, ataupun mengusik perbincangan keduanya.
Bahkan, untuk sekedar melirik kearah sumber tawa, mereka akan berfikir berulang kali.
''Apa menurut Permaisuri kekaisaran Zing kekurangan harta benda?, dan apakah Zing kalian jauh lebih makmur dari negri kaisar ini?.''
Ucapan itu memang di iringi tawa, namun pada kenyataan makna di dalamnya, adalah sebuah pernyataan yang penuh penegasan.
Bahwa, kekaisaran Tang juga makmur, dan tak memerlukan harta benda dari negri lain(Zing).
Mendengar ucapan pria di depannya, Ziaruo masih tetap tenang, dan kembali menatap Canzuo.
''Anda benar, bahkan sekarang Tang juga mampu menyokong tentara, dari 3 kekaisaran lain.'' Jawab Ziaruo, masih dengan ekspresi tenang.
Wanita itu, kembali mengalihkan pandangan kearah persik yang bermekaran.
Sementara, Canzuo masih menampilkan senyuman, mendengar kalimat tersebut.
Meski ia tahu dengan benar, bahwa dari ucapan sang wanita, secara tak langsung tengah mengkritiknya.
Bahkan, kalimat dari wanita Zing itu juga bermakna sebuah cibiran, bahwa dirinya dengan cara curang, telah menyebabkan kekacauan di negri Zing.
Canzuo memahami betul, makna dari setiap untaian kata Ziaruo dengan baik.
Namun, ia tidak merasa keberatan.
Ia kembali melangkah, lebih mendekat kearah pinggiran pembatas ruang, yang berbatas sebuah pilar dari kayu ukiran, setinggi pinggang orang dewasa.
Pria itu, kembali meraih kelopak bunga persik, setelah membuang bunga yang ia petik sebelumnya.
''Anda lihat.....''
Canzuo berbalik, dan menunjukan kelopak bunga di tangannya, kepada ziaruo.
''Bahkan meski aku pemilik dari bunga ini. Tetap saja, masih membutuhkan sebuah tindakan, hingga bisa berada di tanganku.'' Ucap Canzuo.
''Lalu apa salahnya, jika pria ini sedikit menambah upaya, untuk memperoleh sesuatu yang sangat ia inginkan, dari tangan orang lain.''
Canzuo melanjutkan ucapannya, masih dengan nada pelan.
Ia juga masih tetap, memainkan bunga yang kini berada di tangannya.
''Jika ia tak dapat menjaga, dan melindungi miliknya, maka tak pantas ia memiliki sesuatu yang berharga.'' Sambungnya lagi.
Dan Ziaruo memahami setiap ucapan dari pria itu.
Dan disana, Canzuo menyebut sang suami sebagai sang pemilik, dan dirinya adalah sesuatu yang ia inginkan.
Wanita tersebut diam sejenak. Ada senyum tipis, tersembul di antara bibir ranum miliknya.
Sebuah tarikan pelan, di ujung bibir dengan wajah tenang, nyatanya mampu menghadirkan sebuah senyum, yang mengambang pelan, dan terasa hambar dari Ziaruo.
Akan tetapi, disana pada wajah cantik tersebut, mata itu tetap terlihat indah, tanpa tampilan kemarahan sama sekali.
''Tapi, wanita ini bukan sebuah benda Yang mulia, wanita ini memiliki hati dan perasaan.''
Ziaruo perlahan mengucapkan sesuatu, yang tak pernah dipikirkan oleh kaisar Canzuo.
__ADS_1
Sebuah ungkapan dengan nada lembut serta tenang.
Akan tetapi, jelas terasa kepedihan, serta penyesalan atas dirinya sendiri.
Canzuo terhenyak sejenak, ia merasa telah mengatakan sesuatu yang benar, menurut prinsip, dan moralitas miliknya.
Ia merasa tidak pernah melakukan hal buruk, atau hal tak pantas kepada wanita itu.
Bahkan, dirinya tengah berjuang dengan segala upaya, untuk mendapatkannya.
''Dimana letak keslahannya?, apa yang membuatnya terlihat menyedihkan?.'' Pikir dalam diam Canzuo.
Canzuo berpikir, wanita itu akan merasa tersanjung, dan tergerak hati, atas upaya, serta pengorbanan yang ia lakukan.
Namun, mendengar ucapan dari wanita di depannya tersebut, mengapa semua pendapat, dan pemikiran yang ia miliki menjadi goyah dan terlihat salah.
Bahkan, seolah ia tidak menghargai wanita itu sama sekali.
Dan hanya berpikir bahwa dirinya menganggap Ziaruo layaknya, sebuah tropi kemenangan saja.
Sungguh ironis, apa yang ia pikirkan, nyatanya sangatlah salah(berbeda) dalam persepsi wanita tersebut.
Canzuo masih diam tak dapat mengatakan apapun.
Ia juga bingung harus mulai menjelaskan dari mana, untuk menghilangkan kesalahfahaman, tentang penilaian atas dirinya.
''Jikapun anda berhasil mendapatkan wanita ini, apakah kaisar dari Tang, dapat berbesar hati, membesarkan putra dari pria lain?.'' Lanjut Ziaruo lagi.
Ia mengatakan kenyataan apa adanya.
Bagi Ziaruo hal ini tidak akan mengubah apapun, jika pria itu merasa kurang senang.
''Apa maksud anda?.'' Tanya Canzuo.
Dengan reflek, Canzuo berjalan mendekati Ziaruo.
Bahkan, ia mendudukan tumbuh, pada kursi di dekat sang permaisuri dari negri Zing itu.
''Apakah anda tengah mengandung?.'' Lanjutnya lagi.
Mendengar pertanyaan itu, Ziaruo mengangguk pelan.
Ia menatap lekat, kearah Canzuo yang kini tepat di depannya.
''Anda benar, dan ini sudah menginjak bulan ke 3.'' Jawab wanita itu tenang.
Ziaruo menggunakan usia kehamilan yang salah, dan pada kenyataannya ia sengaja melakukan hal itu.
Setiap perkataan telah ia pertimbangkan, sedikit benar dan sedikit salah.
Bagi Ziaruo seorang pria yang tega membuang, bahkan membunuh darah dagingnya sendiri untuk kekuasaan, tak akan menjadikan perubahan besar, dengan sebuah kebenaran menyeluruh.
Meskipun, pria itu bersedia menerima dirinya, dan putra dalam kandungan Ziaruo saat ini.
Namun, ia tak ingin putranya menyentuh bayang-banyang keburukan Canzuo.
Selain itu, tak akan ada kebaikan yang dapat diperoleh putranya dari canzuo, jika nanti benar ia akan menjadi Permaisurinya.
Ziaruo tersenyum untuk pemikirannya sendiri, ketika ia mengingat tindakan keji yang dilakukan oleh Canzuo, terhadap para wanitanya.
Bahkan, Ziaruo sempat merasa jijik, dengan pria di depannya itu.
__ADS_1
Namun, dengan tujuan kedatangan sebagai wakil perundingan, ia harus ekstra menambahkan kesabaran, serta kembali menampilkan sebuah senyum.
''Bagaimana, apakah masih anda lanjutkan keinginan konyol ini Yang mulia?.'' Tanya Ziaruo lagi.