Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 232. Uang tetap uang.


__ADS_3

Dan itu bukan tanpa alasan.


Pria penjaga toko merubah sikap, ketika Ziaruo menarik tangan Cangge beberapa saat yang lalu, ia melihat perhiasan di lengan wanita tersebut.


Dari pengalaman yang ia miliki, benda itu bukanlah sesuatu yang dapat di miliki oleh orang kalangan bawah.


Bahkan setelah melihat perhiasan tersebut, ia lebih mengamati setiap detil ornamen sederhana yang tergantung di pinggang Ziaruo.


Meski dalam hati ia masih menyangsikan identitas keduanya, khususnya Cangge. Namun, Kebenaran ornamen di lengan dan pakaian Ziaruo adalah nyata.


Ia tak lagi takut, mereka tak dapat membayar pakaian yang akan di beli.


Dan meskipun itu terjadi, ia telah mengantisipasi cara lain pembayarannya nanti.


Dalam sekejap, wajah keengganannya telah berubah menjadi senyum tipis.


''Mungkin saya akan merepotkan tuan, untuk memilihkan beberapa pakaian yang sesuai dengan ukuran adik saya.''


Ziaruo kembali mengucapkan permintaan tolong, dengan bahasa sederhana yang ia anggap pantas.


Ia bisa saja memilih sendiri.


Namun untuk penjaga toko, itu akan jauh lebih mudah.


Karena sudah barang tentu, pria tersebut lebih hafal tata letak ukuran dan jenis pakaian yang sesuai untuk Cangge.


Mendengar perkataan Ziaruo, penjaga toko merasa di hargai. Wajah yang semula masih menyisakan sedikit mendung, kini tampak cerah.


Ia dengan cepat berjalan ke arah tumpukan pakaian yang ditata rapi pada baris kedua, sembari berucap. ''Jika sesuai dengan postur adik nona, sepertinya ini sesuai.''


Ziaruo menerima beberapa pakaian yang di perlihatkan oleh pria tersebut. Ia sejenak memilah dan melihatnya.


Wanita itu juga beberapa kali melirik kearah Cangge, hanya untuk melihat ekspresi ketika ia membuka dan menempelkan pakaian itu, ke tubuh kecil sang bocah.


Dan setelah beberapa saat, ia memutuskan untuk mengambil 4 setel pakaian untuk Cangge.


Melihat apa yang telah di putuskan oleh Ziaruo, Cangge tampak berbinar pada matanya.


Ia merasa sang kakak sangat memahami dirinya. Dan itu terbukti dengan pilihan pakaian, yang di tentukan adalah deretan pilihan yang ia inginkan dalam diam.


Cangge semakin menunjukan kecerahan wajah, manakala semua yang ia suka diambil oleh Ziaruo.


Bagaimanapun ia berusaha bersikap dewasa, pada kenyataannya dirinya tetaplah bocah yang masih belia.


Cangge bahagia, dengan cara Ziaruo menentukan pilijan pakaian untuknya. Ia juga bahagia, atas baju baru yang akan ia miliki sebentar lagi.


Keduanya meninggalkan toko pakaian setelah membayar tagihan, dan meminjam ruangan untuk Cangge berganti.


Bocah itu juga di berikan seember air untuk mencuci muka, dan dengan bantuan Ziaruo ia merapikan rambutnya, yang dapat di katakan kusut.

__ADS_1


Ziaruo meminjam sisir dari pria penjaga toko, dan membantu merapikan rambut Cangge dengan 1kuncir ekor kuda.


''Ge'er terlihat tampan.'' Puji Ziaruo dengan senyum tulus, setelah bocah itu berganti pakaian dan di rapikan rambutnya.


...........................


Beberapa saat yang lalu, seorang wanita bersama seorang bocah dengan pakaian lusuh masuk kedalam toko.


Dan selang beberapa waktu kemudian, wanita yang sama keluar dari sana. Namun dengan seorang pemuda kecil, yang tampak seperti seorang putra saudagar.


Sungguh manusia memang pantas berbagi kata dan pemujian dengan suku pakaian.


Kebaikan diri selalu di ukur dengan baju yang di kenakan, kebaikan hati dijaga dengan budi serta ucapan.


Dengan demikian, semakin tampak keselarasan di antara keduanya sebagai sepasang adik dan kakak.


Dengan seekor kuda yang di beli Ziaruo, keduanya melanjutkan perjalanan, Cangge masih tetap menjadi sosok yang canggung di belakang Ziaruo.


''Ge'er setelah bukit kecil itu, kita tak akan lama lagi, untuk sampai di tempat tujuan.'' Ziaruo.


Wanita itu tak menunggu jawaban dari pria kecil di balik punggung. Ia terus memacu kuda yang di tunggangi.


Mereka telah mencapai pinggiran kota yang berbatas bukit kecil, dengan kota berikutnya.


Dengan musim penghujan di saat ini, pohon Pinus sedikit lebat. Rumput-rumput liar, tampak subur dan hijau di kiri kanan jalan.


''Kakak, apakah kita akan segera tiba?.'' Cangge.


''Apa kamu takut?.'' Sambung Ziaruo lagi.


Mendapat pertanyaan yang demikian, secara reflek Cangge menggangguk.


Namun sejenak kemudian ia segera menggeleng dan berkata. ''Tidak...''


Ziaruo tersenyum melihat keluguan Cangge, baginya bocah disana tak jauh beda dengan Weiyun sang putra.


''Weiyun...aku harap kalian nanti bisa saling menjaga.'' Lanjut Ziaruo dalam hati.


Dalam Gambaran dan rencana Ziaruo, ia akan memberikan banyak saudara untuk sang putra. Baik mereka putra-putrinya di wisma harapan dan juga Cangge.


Ia akan memperkenalkan semua kepada Weiyun sebelum kepergiannya.


Ia juga banyak merencanakan kehidupan untuk putra kandungnya tersebut, meski itu hanya sebagai alternatif pikirannya sendiri.


Ziaruo tak berencana memaksakan apapun untuk Weiyun.


Namun ia hanya ingin memberikan kehangatan jejaknya untuk bocah itu, dengan kehadiran saudara dan saudari yang terhubung dengan dirinya, meski bukan secara langsung.


Dalam keegoisan hati seorang ibu, Ziaruo mengharapkan semua putra dan putri asuhnya akan menjaga Weiyun seperti kasih sayang yang ia berikan kepada mereka.

__ADS_1


Namun, bukan berarti Ziaruo tak memikirkan nasib mereka, dalam keegoisan itu juga masih mengalir kasih sayang untuk semua.


Dan itu ia tunjukan dengan memberikan pembiayaan atas pendidikan bagi mereka yang berminat dengan belajar.


Memberikan tempat tinggal dan sarana tertentu untuk setiap individu putra angkat yang ia asuh.


Ziaruo tak pernah membedakan kasih sayang bagi setiap putra dan putrinya, selama ini.


Tentu saja, dengan jarak ukur dan pandang sesuai dengan kemampuan dan kepentingan yang setara.


Rumah, sebidang tanah dan beberapa harta benda untuk mereka yang telah menikah.


Rumah, lahan dan toko yang memiliki usaha(berniaga)


Rumah, sebidang lahan dan biaya untuk yang mengejar pendidikan.


Dan masih banyak hal yang berbeda dalam kajian pemberian bagi mereka.


Ziaruo dengan di bantu orang-orang terpercayanya, berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka.


Dengan apa yang telah ia lakukan, apakah ia terlalu egois jika dirinya sekarang berharap kepada mereka untuk menjaga sang putra di kemudian hari.


Meskipun, kemungkinan tersebut belum tentu terjadi. Dengan keberadaan Jiang Jing wei dan status yang di milikinya, kemungkinan itu mungkin akan kecil.


Akan tetapi, di dunia ini tak ada yang pasti. Oleh karena hal itu, Ziaruo tetap berharap para putra asuhnya akan memiliki hati tulus untuk Weiyun, setelah kepergiannya nanti.


Dengan derap kaki kuda yang terus melaju ke arah depan, pikiran Ziaruo bergelut dengan banyak harapan.


Hingga, beberapa bayangan di depannya menarik pikiran Ziaruo dalam kesadaran.


Tepat di depannya, 4 tubuh gagah menghalangi jalan yang hendak ia lewati.


Ziaruo mulai menampilkan kewaspadaan dan berbisik lirih kepada Cangge. ''Ge'er kamu percaya kakak kan?.''


Mendengar pertanyaan tiba-tiba tersebut Cangge terhenyak sejenak.


Tubuhnya yang kecil di balik punggung wanita itu, memang tak dapat melihat apa yang ada di depannya.


Ia tidak menyadari ada masalah apa disana. Bocah itu hanya meyakinkan hati, bahwa jika di dunia ini, hanya wanita ini saja yang dapat ia percayai.


Dengan tanpa menunggu pertanyaan kedua kalinya, ia menggangguk dan menjawab. ''Aku percaya kakak.''


Mendengar jawaban tersebut, Ziaruo


tersenyum kecil, dan menarik tali kekang kudanya.


''iiiiikkkkhh.... heeerrrr''


Wanita itu bisa saja terus melajukan kudanya. Namun ketika dia menyadari dua pemanah, yang bersembunyi di atas pohon, ia memutuskan untuk menarik tali kekang kuda yang ia tunggangi.

__ADS_1


Dari intuisi tajam yang di milikinya, ia merasa situasinya tak sesederhana yang terlihat.


''Mohon maaf..jika perjalanan anda sedikit terganggu, kami hanya ingin memastikan sesuatu kepada Nona.'' Ucap seorang pria yang keluar dari sebuah gerbong tak jauh dari ke-4 tubuh di tengah jalan.


__ADS_2