Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 35 Hati dan raga miliknya.


__ADS_3

"Ha..haa...ha..., mengapa kau tidak memb*n*hku saja kasim?.'' Ucap selir Nan sendu, tampak jelas di wajah itu, sebuah kekecewaan yang pekat.


Mungkin karena rasa kecewanya, ia berani bereaksi seperti itu, kepada orang yang paling menakutkan, bagi orang orang di istana dalam tersebut.


"Aku yang didepannya, dia yang ia lihat.


Tubuhku yang bersamanya, namun namanya yang terucap.


Dan...dan aku ...hixs...yang mencintainya, serta akulah istrinya, tapi ..hixs ...tetap saja dia yang ia rindukan, dan mengapa hanya dia yang ia inginkan?.'' Ucap selir Nan, dengan isak tangis yang ia tahan, sebisa mungkin.


Wanita itu mengerti, bahwa sebagai seorang selir, ia harus siap dengan segala kemungkinan, termasuk berbagi suami yang ia cintai.


Namun, ia tidak mengira bahwa didalam kebersamaan mereka, yang bahkan dapat dikatakan jarang dilakukan, Suaminya(kaisar Murongxu ) tersebut, masih mengabaikan keberadaannya, menganggapnya sebuah tubuh kosong pengganti saja.


Mendengar hal tersebut, perlahan kasim itu, melepaskan cengkraman tangannya.


Namun, tetap dengan gerakan yang kasar (seolah mendorong), hingga wanita tersebut terhempas diatas ranjang sembari berkata. ''Heeh...kau seharusnya sudah merasa beruntung, dapat melayani yang mulia kaisar dasar wanita b*d*h, kau tanpa yang mulia, bukanlah siapa siapa, dan tidak akan pernah berarti apa apa.''


"Itu adalah resiko yang harus siap kau hadapi, dan aku tahu bahwa dari awal, bukan kasih sayang yang mulia saja,


yang kau harapkan dari statusmu sebagai selir, pikir kasim Di."


"Pelayan.... bawa dia pergi dari sini, dan antarkan dia kepaviliun lotus.


Tanpa izin dari kaisar, ia tidak diperbolehkan melangkahkan kakinya keluar pavilliun.''


perintahnya tegas.


*Pavilliun lotus \= istana tempat ratu / selir yang telah kehilangan kasih sayang kaisar*


Mendengar perintah tersebut selir Nan membeku, tangisannya terhenti, ia tahu betul bahwa untuk seseorang yang di kirim ke pavilliun lotus, akan berakhir buruk hingga batas nafas hidupnya.


Akan tetapi semuanya sudah terlanjur, dan penyesalan memang selalu datang diakhir.


Dua orang pelayan, segera membungkuk kepada kasim Di dan Kaisar Murongxu, sebelum membawa keluar wanita tersebut, dengan tubuh sang selir yang hanya berbalutkan selimut saja.


Matanya menatap lekat, kearah pria yang sudah hampir 2 tahun itu menjadi suaminya.


Meskipun, kebersamaan mereka dapat di hitung dengan jari jari tangannya saja.


Akan tetapi, sang suami seolah tengah terpuruk, jauh lebih buruk dari keadaanya, dan tentu saja selir Nan tahu, itu bukan untuknya.


Oleh karenanya, mengenakan baju ataupun tidak, dia tidak berkata apapun, tidak juga memohon sesuatu, ia hanya diam dan pasrah, berjalan dengan kaki telanjangnya.


Mengikuti kedua pelayan yang membawa tubuh rampinya, serta sesekali menarik secara kasar, senyum miris kembali tampak diwajah cantiknya.

__ADS_1


*Apakah ada hal yang lainnya yang perlu ia pedulikan?, hati dan fikirannya seolah tak ingin memikirkan apapun lagi.


Bahkan pelayan yang dianggap, sebagai tingkatan rend*h layaknya b*d*k, sekarang berani mengasari tubuhnya.


Mungkin lelah, m*ak dan kecewa akan tepat, untuk menggambarkan keadaannya saat ini.


"Yang mulia ...yang mulia...anda jangan seperti ini, mari hamba bantu anda kembali keatas ranjang yang mulia.'' Ucap kasim tersebut dengan lembut, dan berusaha setenang mungkin.


Namun, kaisar Murong seolah tidak memperdulikan dirinya, ia hanya menggumamkan sebuah nama.


Bahkan, ketika kasim DI membantunya berdiri menuju ranjang, hingga tubuh gagahnya sudah berada diatas peraduannya tersebut, ia tetap tidak meresponnya sama sekali, Murongxu masih menggumamkan sebuah nama yang sama.


"Ruoer?, siapakah dia yang mulia? dan dimana kediamannya?, hamba akan membawanya kepada anda yang mulia.'' Tanyanya dengan nada setenang mungkin, serta berusaha meyakinkan tuannya tersebut.


Akan tetapi, pertanyaannya hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh kaisar Murongxu.


"Kau boleh pergi.'' Ucapnya lirih, sambil berbalik membelakangi pelayan setianya tersebut, setelah berada di atas ranjang.


"Baik yang mulia, anda beristirahtlah, hamba undur diri dulu.'' Ucap Kasim Di sopan, sebelum pergi dari ruangan tersebut.


Namun, bukan kasim Di namanya, jika ia benar benar pergi dari sana, melainkan ia hanya menggeser posisinya, dari tempat awal ia berdiri, dan berjalan mencari tempat ternyaman untuknya, tentu saja masih didalam ruangan tersebut.


Bagi kasim dengan kemampuan beladiri tinggi dan k*jam itu, menjaga nyawa sang tuan jauh lebih penting dari nyawa ditubuhnya.


 Sementara itu di sebuah hutan barat kekaisaran Xili.


 


Ketika, dari kejauhan sebuah kereta mendekat kearah mereka.


Dengan antusias, salah satu pemuda mendekati kereta yang baru saja berhenti.


''Selamat datang nona Ziaruo, bagaimana perjalanan anda?.'' Sapa pemuda tersebut, sambil mengulurkan tangan, hendak membantu seseorang turun dari kereta.


Padahal ia tidak benar benar tahu, bahwa gadis itu berada di dalam kereta atau tidak.


"Terimakasih tuan, perjalanan kami sangat nyaman, hingga kami sampai disini.'' Jawab Yongyu menggantikan sang adhik, dengan nada ejekan dari bibirnya.


''Sayangnya, adhikku sudah turun dari tadi, apakah kau tidak melihatnya?.'' Lanjutnya lagi dengan senyum sinis.


"Apa kau tidak menyukaiku, wahai kakak dari nona Ziaruo?.'' Tanya kaisar Jiang jingwei dengan nada tenang.


"Anda benar sekali, saya tidak menyukai anda, bahkan mungkin semua orang dari status seperti anda saya tidak menyukainya.'' Ucap Yongyu kembali, dengan sebuah senyum pada wajah, seolah menunjukan kebencian yang mendalam.


"Aku bukan adikku, yang bahkan orang lebih bau dari k*tor*n masih diberikan kebaikan hati.'' Ucap Yongyu, tanpa menutupi ketidak sukaannya terhada pria tersebut.

__ADS_1


Akan tetapi, aku juga bukan orang yang berfikiran sempit.'' Ucapnya lagi sembari membawa masuk kereta kudanya.


Mendengar hal itu, kaisar Jiang jingwei tersenyum, ia tahu pria didepannya tersebut, adalah seseorang yang memiliki pemikiran yang rasional.


Dan ia juga bukan orang yang buruk, Kaisar Jing tersenyum dan berkata. ''Apakah anda tahu, antara kebencian dan suka jaraknya sangat tipis?, bahkan lebih tipis dari sutra andalan negri Wey anda.'' Jawab Jing, Sembari mengikuti langkah Yongyu masuk kedalam pondok.


"Dengan kata lain, mungkin suatu hari nanti kita akan menjadi akrab, dan bahkan menjadi saudara (saudara ipar maksud kaisar Jingwei).'' Lanjut KaisarJingwei lagi, karena ia tidak memperoleh respon dari Yongyu.


Namun, mendengar ucapan itu tiba tiba saja, Yongyu menghentikan langkahnya, ia diam menunduk sesaat, namun tidak berbalik kearah sang kaisar.


"Apa arti saudara, dan apa makna keluarga dibalik pikiran seseorang seperti anda tuan?, dan kami bukan orang Wey, ataupun orang Zing, jadi jangan terlalu merasa, kita sudah saling mengenal dengan akrab.'' Jawab Yongyu tajam, penuh penekanan.


Mendengar hal itu, kaisar Jing menghentikan langkah, menatap punggung pria didepannya, yang kini beranjak pergi menjauh dari sana.


"Yang mulia..apakah saya perlu ..." ucap Wuhan yang belum sempat terselesaikan, karena ia melihat kaisar Jiangjingwei mengangkat tangannya, dengan kata lain,


bahwa dirinya tidak apa apa, dan melarang Wuhan untuk tidak melakukan apapun."


''Aku berjalan diantara ilalang,


yang menyapa hati penuh dosa....


Menjadi saksi atas hijaunya,


bersama senjaku yang bergeliat meronta ...


 Aku ingin menghilang, diantara belukar ilalang,


dibawah tautan akarnya, awal kisah bermula.


Aku ingin membaringkan ragaku..lelahku ...


yang tetap bergejolak, akan cintanya, samudra cinta, yang tak lagi membiru ....


 Aku hanya ingin tenggelam diantara rimbunya ilalang ...


agar dapat menatapmu lekat diam diam ...


menikmati mimpi dan rindumu dibalik bayang bayang ...


Ini rinduku ....ini hatiku.....


banyak cinta dan rinduku untukmu.


Namun, masihkah .....cintaku....

__ADS_1


memberikan debaran dalam nadi dan jantungmu ?


* Murongxu *


__ADS_2