Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 82 Memelihara ular


__ADS_3

Dua hari setelah malam pernikahan.


Di sebuah ruang yang tampak suram dan beraroma kurang sedap, seorang pria dengan raut wajah tegas, berjalan masuk dengan di dampingi 2 orang kepercayaannya.


''Apakah ia masih bungkam?.'' Tanya sang pria, dengan nada datar kearah seorang pelayan wanita.


Tatapannya yang tajam, seolah hanya memiliki ekspresi membunuh saja.


Salah satu pria yang berada disana terhenyak sesaat, ia menunduk sebelum menjawab dengan suara yang agak bergetar.'' Ampuni ketidakmampuan hamba Yang Mulia, kami belum menemukan titik terang.''


Mendengar jawaban tersebut, Pria yang tak lain adalah kaisar Jiang Jing Wei, membungkukkan tubuh setelah mendekati pelayan wanita itu.


Tampak dengan jelas wajah sang pelayan, yang tengah menahan rasa sakit akibat tindakan kekerasan yang ia terima dari penjaga.


Tubuh rampingnya penuh dengan luka cambuk, serta baluran warna merah darah dari luka-luka di balik tubuh yang terkoyak.


Bahkan, wanita pelayan tersebut, telah beberapa kali tidak sadarkan diri.


''Jadi kamu orang yang telah menaruh racun itu?.'' Tanya sang pria, yang tak lain adalah Jing.


"Kau sungguh berani." Lanjutnya lagi, dengan suara yang masih datar.


Kaisar Jing kembali berdiri, dan berjalan menuju rak tempat alat interogasi yang berjajar tertata rapi.


''Mengapa benda-benda ini masih terlihat bersih?, apakah kau tidak memanjakan pelayan ini dengan benar?.'' Tanya Jing sembari meraba, serta mencermati beberapa benda disana, sebelum akhirnya menoleh kearah penjaga yang bertugas hari itu.


Ucapan Kaisar Jing tampak datar serta tenang.


Akan tetapi, dengan aura yang ia berikan, nyatanya pertanyaan biasa dari bibirnya, telah membuat semua penjaga di sana merasa ketakutan.


Dan tak hati pelayan wanita yang memprihatinkan di ujung ruang, kini semakin menciut dengan keringat dingin mengucur deras di punggung.


Mungkin bagi sang pelayan, kematian akan jauh lebih baik baginya.


Pelayan itu tahu dengan jelas, seperti apa wajah lain dari Kaisar rupawan di depannya tersebut.


Namun, ketakutan yang dimiliki pelayan wanita itu saat ini, bukanlah sesuatu yang tidak ia pertimbangan sebelumnya.


Terlebih lagi untuk kesalahan saat ini, adalah sebuah percobaan pembunuhan terhadap permaisuri.


Tentu saja ia tak berharap akan selamat,


pelayan itu seolah sudah bersiap untuk menyambut kematiannya kapanpun.


Akan tetapi, bohong jika dirinya saat ini tidak memiliki perasaan takut, atas setiap ucapan sang Kaisar barusan.


Dalam hati serta pikirannya menggumamkan sebuah pemikiran, bahwa segalanya adalah sepadan dengan apa yang akan diterima oleh keluarga di kampung, ia tidak akan mundur ataupun merubah keputusan.


Meskipun jauh didalam hati kecil, ia menyesali tindakannya, atas kejadian yang menimpa wanita baik yang telah menjadi Permaisuri tersebut.

__ADS_1


Namun lagi-lagi, kebahagiaan saudara serta orang tua di desa, adalah impiannya sejak dulu.


Meskipun untuk mewujudkan hal itu, kini ia akan menyambut dewa pencabut nyawa.


Di balik keyakinan dan keteguhan hati ia tetaplah manusia biasa, perasaan takut jelas ada di sana, terlebih untu saat ini, di mana ketika Kaisar Jing mendekat kembali kearahnya, dan berkata. ''Kau pelayan rendahan."


Mata sang kaisar menatapnya tajam, menguliti isi hatinya seperti sosok menakutkan dari dunia bawah.


"Kau makan dari tanganku, tapi kau juga menggigitku'' Jing mengatakan itu dengan raut wajah dingin, ia juga bermain dengan tangannya, seolah tengah memperhatikan jari-jari milik sendiri.


''Itu masih bisa di maklumi, manusia pada dasarnya memang selalu serakah, tapi kau berani meracuni Permaisuri, apa kau pikir 7 kelahiran keluargamu bisa menebusnya?.''


''Deeegh....Zeeeblaaar.'' Seolah jantung wanita pelayan itu, berhenti berdetak detik itu juga, ketika mendengar semua ucapan Jing.


Wajahnya yang di penuhi luka, semakin pucat. Bahkan dari sudut mata yang telah satu itu, kini meneteskan air bening dengan deras.


Namun, itu tidak memberikan simpati sama sekali di depan kemarahan Jing.


Tangan pria tersebut mencengkeram dagu sang pelayan, dan menggerakkannya secara paksa.


Sehingga wajah sang pelayan yang penuh dengan bekas tamparan serta kekerasan, kini menengadah tepat ke arah wajah sang Kaisar.


Di sana, pada wajah Jiang Jing wei sebuah senyum tipis terukir.


Senyuman itu, tidak bermakna kebaikan untuk terlihat di mata sang pelayan.


Melainkan, sebuah gambaran perasaan kemarahan, yang memicu ketakutan mengerikan di hati serta pikirannya.


Maka aku akan memberikanmu sebuah kehormatan atas keberanian mu itu.'' Sambungnya lagi.


Pria itu melepaskan tangan dari wajah wanita pelayan, dengan hentakan kasar.


Ia berdiri, dan berjalan melangkah keluar ruangan, sambil membersihkan tangan dengan sebuah kain, yang diberikan oleh kasim disampingnya, seraya berkata.'' Layani dia dengan baik, aku ingin dinding di ruangan ini mengingat semua teriakannya.''


''Baik Yang Mulia, kami mengerti.'' Jawab ke empat orang didepan ruangan, dengan sebuah tabung besar setinggi dada orang dewasa. Dan dari sana, suara desissan-desissan terdengar jelas.


Kepergian sang Kaisar dari sana, menjadi awal kegiatan bagi keempat orang itu.


Mereka mulai berjalan masuk ruangan, menghilang dibalik pintu tempat pelayan tadi berada, bersama tabung yang mereka bawa.


Ada kekecewaan dimata Kaisar Jing.


Dalam hati kecil, ia menyesalkan atas nasib buruk yang akan diterima oleh sang pelayan.


Mungkin jika dia memberikan sedikit informasi yang telah diketahuinya, Jing akan membiarkan keluarga pelayan wanita itu selamat.


Namun dengan kebungkaman di depannya, pelayan itu telah membuat Kaisar tersebut menjadi geram dan bertambah besar kekecewaan terhadapnya.


Bahkan, sepanjang perjalanan dari ruang hukuman hingga sampai didepan paviliun Phoenix, kekecewaan Jing tak mereda.

__ADS_1


Dengan wajah masih datar, Jing kembali memberikan perintah kepada penjaga terpercayanya. ''Wuhan selesaikan sisanya, aku ingin semua orang yang terlibat memperoleh balasan yang setimpal.''


Mendengar hal itu, Wuhan menunduk sesaat sebelum melesat pergi, sementara sang kasim yang berdiri di dekat pintu juga takengatakan apapun.


Perlahan sang Kasim membuka pintu, dan hendak mengumumkan kedatangan sang kaisar. ''Yang Mu ...''


Akan tetapi, sebuah gerakan kecil Jing, yang meletakkan jari telunjuk di depan bibir, menghentikan ucapannya.


Pria yang mendedikasikan hidupnya dengan tidak menikah, serta hanya melayani Kaisar itu menunduk. Ia tersenyum sekilas, sebelum kembali menutup pintu paviliun, setelah sang tuan masuk kedalam.


Kasim yang tak lagi muda itu, bergumam dalam hati. ''Semoga Permaisuri segera pulih, dan dapat membahagiakan Anda Yang Mulia.''


*Flash back off.*


Ziaruo juga berharap tak diberikan ingatan tentang masa lalunya dari kehidupan terdahulu, terlahir seperti orang yang lain, agar semuanya jauh lebih mudah baginya melewati ujiannya kali ini.


''Yang mulia Kaisar memasuki paviliun.'' Suara lantang seorang Kasim mengumumkan kedatangan Kaisar Jing, terdengar nyaring dari luar pintu paviliun.


Ziaruo berdiri dari duduknya, hendak membungkuk memberi hormat.


Namun, seperti sebelum sebelumnya Jing segera menangkap tubuh Nyonya Yun, sembari berkata dengan lembut.'' Aku sudah bilang, jangan lakukan ini ketika kita sedang berdua, kemarilah dan duduk di dekatku.''


Pria itu menuntun Ziaruo dan membawanya ketempat duduk, didalam ruangan paviliun mereka.


Ziaruo tersenyum dan menjawab ucapan sang Kaisar dengan lembut juga. ''Maafkan Permaisuri ini Yang Mulia.''


Melihat senyuman Permaisuri Yun, Kaisar Jing merasa bahagia.


''Kemarilah, dan jangan selalu mengucapkan perakataan maaf setiap saat.'' Ucap Jing ketika menarik tangan Permaisuri, dan membawa kedalam pangkuannya.


Ziaruo menunduk dan tersipu, ia tak berani mengangkat wajah dan menatap pria itu.


Melihat sikap Ziaruo seperti sekarang, Jing tertawa lepas sambil berucap.''Ha..haha..haha...Ternyata akan ada saatnya kau merasa malu Yun, aku pikir kau hanya mahir menatap orang lain dengan tajam, serta membunuhnya dengan tatapanmu itu.''


Mendengar ucapan serta ejekan Kaisar Jing, Ziaruo semakin merasa malu, ia bergumam lirih, hingga terdengar seperti sebuah bisikan lembut saja.''Kapan saya pernah membunuh dengan tatapan saya?.''


''Haha...haha..haha....Itu kau lakukan setiap kali aku berkunjung kekediamanmu dulu, kau selalu melukaiku dengan tatapanmu yang tajam Yun.'' Jawab Kaisar Jing, dengan senyuman lebar di wajah.


Pria itu menghela nafas dalam sesaat, dan kembali berkata.'' Apa kau tahu, dulu aku begitu iri dengan kakakmu itu, kau selalu tersenyum dan lembut kepadanya. Sedangkan kepadaku, kau begitu kejam dan acuh. Itu seperti sebilah pisau yang menyayat didalam hatiku.''


Ziaruo hanya diam dan mendengarkan. Namun, kali ini ia menatap lurus mata Kaisar Jing suaminya.


Dengan posisinya duduk di atas pangkuan, jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti saja.


Ziaruo mengetahui serta merasakan ketulusan pada tatapan mata Jing. Dengan perasaan yang sedikit gugup, ia memberanikan diri meraih, dan menangkup kedua pipi Kaisar, seraya berkata lirih. ''Itu....Karena Yang Mulia dulu adalah orang lain bagi wanita ini.''


Suara lembut Ziaruo, membuat hati penguasa itu bahagia.


Terlebih lagi, ia mengerti maksud dari ucapan sang Permasuri yang bermakna, bahwa tidak akan ada kesempatan, ataupun kelembutan (dalam artian antara pria dan wanita)untuk orang lain.

__ADS_1


Dan disini ia adalah suaminya, bukan orang asing. Jadi dialah yang berhak atas apapun yang dimiliki dan dilakukan oleh Ziaruo.


''Kau benar, dan bukankah sekarang aku bukan orang lain bagimu Yun, aku adalah suamimu, dan Kau adalah istriku, permaisuri tercintaku.'' Ucap Jing, sebelum mencium kedua bib*r Ziaruo dengan lembut.


__ADS_2