
Di penginapan pinggir kota Nanyang.
Sebuah bayangan menyelinap masuk, kedalam salah satu ruangan melalui jendela, bayangan tersebut mengendap endap, seolah ia adalah seseorang yang telah melakukan kesalahan.
''Eeheeemmmzzz.'' terdengar sebuah deheman dari balik pintu kamar tersebut.
''Setidaknya, kamu memiliki rasa takut, ketika melakukan kesalahan.'' ucap seorang pria, pemilik nada yang sama, dengan suara deheman, yang ia dengar beberapa saat yang lalu.
''Hehe...kakak, kenapa berada di kamarku?, apa aku yang salah masuk kamar ya?.'' jawab bayangan tersebut, yang tak lain adalah Ziaruo, dengan senyum yang terpasang semanis mungkin.
Wanita itu, bukan takut kepada sang kakak, akan tetapi ia malas jika harus menjelaskan segala sesuatu secara terperinci.
''Jika di ukur dari segi kemampuan ataupun kekuatan, dirinya jauh lebih kuat dan hebat,(mengungguli)dari pria yang ia panggil, sebagai kakak itu.
Akan tetapi, karena rasa hormat dan persaudaraan merekalah, yang membuatnya merasa canggung, ketika berbuat kesalahan, dalam artian menyalahi aturan yang telah dibuat oleh Yongyu, selaku saudara tertua atau kepala keluarga mereka.
''Jangan berpura pura tidak paham, karena aku tahu, bahwa gadis penyelinap ini, sangat sadar dan mengerti, maksud pembicaraan kita sekarang.'' jawab Yongyu sambil menatap sang adhik, dengan tatapan tajam, serta jari telunjuk yang mengarah kearah Ziaruo.
''Ia ...ia...aku salah, lain kali aku akan izin dulu sebelum pergi keluar.'' ucap Ziaruo dengan nada memelas, seolah meminta pengampunan, dalam pengakuan kesalahannya.
Mendengar hal tersebut, Yongyu tersenyum, dan mengusap lembut kepala Ziaruo.
''Aku hanya khawatir, tidak dapat menemukanmu tepat waktu, ketika kau dalam Masalah, jadi bisakah kau mengatakan kepadaku sebelum pergi keluar.'' ucap Yongyu lagi dengan suara lembut.
'' Baiklah...aku akan selalu, berpamitan kepadamu mulai sekarang, bahkan aku akan menunggu izinmu terlebih dahulu sebelum pergi.'' jawab Ziaruo, sembari menatap lekat kearah pria, yang sudah 1 tahun lebih itu menjadi saudara, sekaligus kepala keluarga di kediamannya.
''Oh ya kak, besok aku ingin mengunjungi makam seorang kenalan.
Jadi....mungkin sore hari, aku baru akan sampai disini kak.'' ucap Ziaruo, dengan maksud meminta izin.
''Baiklah lakukan, asal jangan bersedih lagi.'' ucap Yongyu lirih, dengan senyum lembut, yang terpasang pada wajah tampannya.
''Ayo kita turun makan, aku sudah lapar sedari tadi.'' lanjut Yongyu, sembari melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut, dan Ziaruo mengikutinya dari belakang.
Di ke esokan harinya.
__ADS_1
Seorang wanita berjalan, mendekati sebuah makam yang tampak masih baru, disana ada beberapa orang dengan pakaian putih tengah duduk berdoa di depan makam tersebut.
Wanita itu, duduk tepat di depan makam dan membakar beberapa uang kertas.
'' Kakak, semoga perjalananmu mudah, guru menunggu kepulangan kita,( berhenti sejenak) kau beruntung bisa kembali lebih cepat, sementara waktuku masih lama.
Tonlong sampaikan salamku kepada guru, dan jaga beliau sampai aku kembali nanti.'' ucap wanita itu dengan nada sedih yang terasa sangat menyentuh.
Mendengar ucapan tersebut, seorang pria dengan pakaian putih serta penutup kepala, yang duduk di dekat makam, menyimak dengan seksama.
'' Aku tahu kau pasti akan datang kemari Ruoer, ucap seorang pria dari arah belakang.
Ziaruo tetap tenang dan mengabaikannya, akan tetapi jauh berbeda, dengan pria yang mengenakan pakaian putih di depan makam itu.
Pria tersebut merasa gugup, dan ketakutan, ia takut akan ketahuan oleh pria yang baru saja datang itu.
Sungguh, jauh berbeda, dengan Ziaruo seolah mengabaikannya, dan tetap berdoa untuk arwah pemilik makam didepannya.
'' Bahkan, kau datang ke pemakamannya, namun, tetap tak bisa memaafkanku Ruoer.'' lanjut pria tersebut, yang tak lain adalah kaisar Murongxu.
''Apakah jika aku mati nanti, kau baru bisa memaafkanku, dan bersedia datang untuk mendoakanku.'' ucap kaisar itu lagi, dengan perasaan miris dihatinya.
Ziaruo pergi dari sana, karena ia tahu, bahwa pria disampingnya, dengan pakaian putih tersebut, adalah putra mahkota Muronghui, dan pria tersebut sedang ketakutan, kepada sang kaisar, ayahnya.
Karena, ia telah melanggar perintah kaisar, untuk tidak datang kepemakaman Sujin, sang ibu.
'' Bahkan ucapanmu, masih tajam Ruoer, jika memang kau ingin aku mati, maka lakukanlah, aku akan dengan suka rela menerimanya.'' lanjut sang kaisar dengan suara sendu.
Tak dapat ia pungkiri, bahwa dirinya saat ini, tengah kecewa dengan apapun yang terjadi diantara mereka, wanita yang baginya adalah segalanya, sempat hilang dari ingatan pikirannya.
Bahkan dirinya adalah penyebab segala kejadian yang terjadi diantara mereka.
Sementara itu, Ziaruo seolah tak memeperdulikan apapun yang keluar dari bibir pria tersebut, ia tetap berjalan hendak pergi dari sana.
Namun, bagaimana pikiran dan perasaannya, hanya dirinyalah yang benar benar mengetahui, sebesar apa rasa sakit hatinya, serta kesedihannya melihat, dan mendengar kesedihan, serta segala keluh kesah dari sang kaisar, yang merupakan suami atau pria tercintanya.
__ADS_1
Akan tetapi, jika ia melunak dan melemah, maka entah hukuman apalagi yang akan ia dan pria tersebut jalani kembali kedepannya.
'' Anda benar, aku mungkin adalah wanita terkejam yang pernah anda temui, bahkan jikapun nanti kebencian sekarang, masih tersisa ketika kita sudah kembali, aku akan siap menerima konsekuesinya.'' gumam lirih Ziaruo, dalam hatinya.
Namun, langkah kakinya terhenti saat ada sebuah tangan kekar menarik tubuhnya, membawanya kedalam sebuah pelukan.
''Aku sangat merindukanmu, bisakah kau tidak sekejam itu kepadaku?, kau boleh marah, lakukan apapun, asala jangan membenciku Ruoer?.'' ucap lirih kaisar Murong dengan nada lembut.
Disana seolah waktu terhenti untuk beberapa saat, yang terdengar bagi wanita tersebut, adalah helaan nafas berat dan hangat dari hidung kaisar Murongxu, yang menerpa telinga dan pundak atas Ziaruo.
''Aku tak pernah membenci anda yang mulia, namun benar adanya, jika beberapa saat yang lalu, ada kemarahan didalam hati saya.'' ucap Ziaruo lirih, hampir seperti sebuah bisikan saja.
'' Jika anda seperti ini,.....
Maka, semakin sulit untuk kita melalui semuanya, jangan memperlihatkan kesedihan itu yang mulia, atau anda ingin melihat saya hancur sekarang?.'' ucap Ziaruo lagi, dan masih dalam posisi yang sama, didalam dekapan erat sang kaisar.
''Seharusnya, anda jauh lebih memahami bagaiman perasaan saya saat ini.
Bahkan anda yang memiliki kebahagiaan sekarang, mengalami rasa sakit di hati anda, lalu bagaimana dengan hati dan rasa sakit saya yang mulia?.'' tanya Ziaruo lagi, namun kali ini, ia berusaha melepaskan pelukan pria tersebut.
''Bukankah, hanya tinggal 10 hari lagi, bertahanlah jika anda bisa, karena segalanya akan segera berakhir.'' lanjut Ziaruo lagi.
(10 hari dalam penyebutan hitungan dunia Awan, dalam artian kurang lebih 10 tahun di dunianya sekarang.)
Mendengar setiap ucapan dari wanita tersebut, lengan pria itu mulai melonggarkan pelukannya, ia menyadari bahwa ada luka dalam dihatinya, ada kekecewaan atas takdir yang ia jalani.
Namun, wanita di depannya tersebut, bahkan jauh lebih menderita dan menerima kekecewaan yang lebih besar dari dirinya, lalu masih pantaskah, dirinya berkeluh kesah kepada wanita tersebut?.
Dengan perasaan berat, serta tatapan sendu, ia melepas pelukannya, perlahan melepaskan tautan jarinya, pada jari jari wanita cantik tersebut.
Kaisar Murong tahu, jika saat ini mungkin, akan menjadi hari terakhirnya, ia memeluk wanita tercintanya itu, namun ia juga tak memiliki hak dan kuasa atas diri Ziaruo di kehidupan ini.
''Aku selalu mencintaimu, baik itu dulu, sekarang, bahkan mungkin nanti, saat kau tak menginginkanku lagi, aku dapat memastikan bahwa hanya kaulah yang kuinginkan.'' ucap kaisar Murong pelan, tampak bulir bening di sudut matanya.
Mendengar hal tersebut, terdengar helaan nafas panjang dari Ziaruo.
__ADS_1
''Bahkan takdirpun tak menginginkan kebersamaan untuk kita, masihkah dibutuhkan sebuah kemarahan, dan perlukah mencari, siapakah yang patut dipersalahkan?.'' ucap Ziaruo sembari melangkah pergi, meninggalkan tempat tersebut.
''Semakin besar keinginan, semakin besar rasa sakit dan kekecewaan.'' lanjutnya kembali dalam hati, mengingat ucapan sang guru, ketika menenangkan dirinya, disaat pernikahan sang suami(kaisar Murong) dengan wanita lain(Sujin)