
Wanita itu masih mengalirkan butir butir bening dari sudut matanya, perlahan terdengar lirih sebuah ucapan dari bibir wanita tersebut." Tapi orang itu adalah ayahnya yang Mulia, dia adalah darah dagingnya."
Mendengar ucapan wanita yang bergelar selir tersebut, Murongyu menatapnya iba, ia mengerti rasa sakit dihati wanita yang telah ia anggap sebagai pengingat atas Ziaruo.
Murongyu tersenyum sekilas, dan kembali berkata pelan."kau benar, akan tetapi darahmu juga mengalir ditubuhnya, apakah hati dan keibuanmu sekejam itu dan membiarkan bayi ini mati kehausan, bagaiman jika Ziaruo mengetahui semua ini...dia pasti akan sangat kecewa kepadamu."
Mendengar ucapan tersebut, sesenggukan mulai terdengar lebih keras, ia membenci setiap keburukan yang terjadi didalam hidupnya, dan bayi itu mengingatkannya akan kejadian buruk yang ia alami.
Di tengah isak tangisnya ia kembali berkata." Tapi...hixs...tapi saya hiks...hixs..saya bukan nona Ziaruo yang.. hixs.. berhati baik serta mulia, saya wanita hina yang Kotor Yang Mulia."
Kaisar Murongyu kembali menghela nafas panjangnya, ia terdiam sejenak.
" Kau tahu, bahkan ketika ia tak memiliki pendamping, ia mampu menjaga dan merawat, lebih dari 20 bocah kecil putra orang lain. Lalu apa yang membuatmu merasa berhak menelantarkan satu bayi yang kau lahirkan, dengan statusmu sebagai selir kesayangan Kaisar seperti diriku?."
"Apakah ia telah salah menyelamatkanmu dulu?, apakah kau memperoloknya dengan keburukan yang terulang kepadamu, atas ketidak hadirannya?, aku pikir dia akan lebih membencimu mengetahui hal ini kedepannya." Lanjut Kaisar tersebut, dengan tubuh yang bergerak, menimang nimang sang bayi, berusaha menenangkannya dari tangisan.
"Jika kau bersedia menyusui dan merawatnya dengan baik, aku akan membawamu bertemu dengannya." Kaisar Murongyu berjalan mendekat kembali ke arah ranjang, ia melihat wanita itu membulatkan matanya, seolah selir tersebut tak percaya dengan apa yang baru di dengarnya.
Dan benar saja, selang beberapa saat, selir Xio mengulurkan tangannya, dan menerima bayi kecil tersebut sembari berkata penuh antusias."Saya akan melakukannya Yang Mulia, saya akan merawatnya...namun anda harus benar benar membawa saya menemui Nona saya."
Kaisar Murongyu merasa aneh dengan pikiran wanita tersebut, ia tak dapat memahami apa yang di harapkan dari pertemuannya dengan Ziaruo, bukankah Xio hanya bertemu sesaat sebelum penyergapan kampung merah, dan berpisah kembali setelah sampai dimansion miliknya.
Akan tetapi, itu bukan masalah penting baginya. Saat ini ia sudah lega karena wanita yang menyandang gelar selir untuknya tersebut, sudah bersedia menyusui sang bayi.
Murongyu tersenyum sesaat, sebelum pergi meninggalkan ruangan dengan langkah tegapnya, meninggalkan seorang ibu yang tengah melakukan kebajikan untuk sang putra.
''Biarlah segalanya berjalan layaknya, air yang mengalir diantara hulu dan hilir.
Biarlah ia menyapu debu, bak angin yang bertiup sepoi diantara daun pepohonan.
Aku tak akan menghalangi apapun yang bersangkutan denganmu, tidak cinta mu, tidak juga rindumu.
Bahkan akan kusatukan segalanya, dengan hatiku, diantara kasih serta keinginan yang besar atas dirimu.
Biarlah waktu menjauh diantara kemarin serta masa depan, membawa bayangan atas kenanganku tentang dirimu.
__ADS_1
Kenangan abadi penjemput damai didalam hati, pengganti hadirmu di sisiku.
Ziaruo ...ziaruo.
Guratan lirih, seorang pria ketika melangkahkan kaki, keluar dari sebuah pavilliun indah, didalam sebuah istana.
Sementara itu di pavilliun Phonix kekaisaran Zing.
Seorang wanita cantik tengah duduk didepan cermin, senyum lembut tergambar pada wajah cantiknya, ketika melihat pantulan dirinya pada cermin kaca diatas meja rias disana.
Sebuah benda yang mungkin hanya satu satunya di benua tersebut, maklum saja kebanyakan cermin di jaman itu terbuat dari bahan tembaga dan akan memantulkan gambar yang kurang akurat.
Sebuah cermin kaca yang ia ciptakan atas kenangannya dari dunia moderen terdahulu.
Bahkan ia juga melengkapi pavilliun phonix, dengan benda benda yang dianggap unik serta ajaib bagi orang lain yang melihatnya.
Olah karena itu, Kaisar Jing sengaja menempatkan penjagaan ketat untuk pavilliun Ziaruo, hal itu bukan hanya untuk melindungi benda berharga saja, akan tetapi juga untuk menjaga Permaisuri dari hal hal yang tidak ia inginkan.
Bagi Jing, Ziaruo adalah seorang yang istimewa atas status dan asal usulnya.
Namun, yang lebih utama adalah wanita tersebut adalah istimewa bagi hati serta hidupnya.
Seolah ia ingin membewanya kemana pun ia pergi. Namun segalanya selalu memiliki sisi baik dan buruk, sisi kuat dan sisi lemah.
Semakin ia peduli kepada Ziaruo, semakin besar kecemburuan yang tercipta diantara para selir kekaisaran. Bahkan hanya terhitung belum genap 4 bulan, sudah 3 orang selir mendapat hukuman, atas tindalan percobaan pembunuhan terhadap Ziaruo.
Hal inilah salah satu alasan Jing, semakin memperketat penjagaan, serta semakin posesif terhadap sang Permaisuri tercinta.
Hampir setiap malamnya, ia akan mengahabiskan waktunya bersama Ziaruo, hal ini berlangsung sejak sepekan yang lalu.
Sebagai seorang Pria yang normal sesungguhnya ia tersiksa, berada didalam satu ruangan dengan Ziaruo tanpa melakukan hal apapun.
Akan tetapi ia telah berjanji tak akan memaksakan keinginannya, kepada sang Permaisuri.
Bahkan ia akan memilih menyelesaikan segalanya sendiri tanpa sepengetahuan Ziaruo( setidaknya itu dalam pikirannya). Sesungguhnya ia bisa datang ke pavilliun lain,menemui selir selir yang siap menerima kedatangannya, akan tetapi ketika ia mengingat Ziaruo, Jing selalu mengurungkan niatya tersebut.
__ADS_1
Seperti sore ini, ia kembali datang ke pavilliun Ziaruo setelah rutinitas melelahkan sepanjang hari ini. Dan seperti biasa ia selalu melarang sang Kasim mengumumkan kedatangannya.
''Kriiieet'' suara pintu dibuka secara perlahan. Namun seolah selalu mengetahui apapun di sekitarnya, sang Permaisuri sudah menyambutnya, dengan sebuah senyum yang menggoyahkan sebutan dingin, serta kejam miliknya.
''Kau sangat cantik permasuri, sangat ...sangat cantik.'' Ucapnya lembut ketika ia melihat seorang wanita tengah berdiri hendak menypanya dengan sebuah dalam penghormatan.
Melihat hal itu, Kaisar Jing bergerak cepat serta memeluknya, sebelum membisikan pujian tersebut dengan penuh kelembutan.
Jing agak membungkukan tubuhnya untuk melakukan hal itu. Baginya merendahkan diri serendah apapun pantas serta sepadan.
''Bukankah ia seorang dewi, aaahhkkk itu hanya alasan saja.'' Pekik dalam hati Kaisar Jing yang terkenal kejam serta dingin tersebut dalam hati.
Tanpa status itupun, ia akan tetap melakukan hal yang sama, selama wanita itu adalah Ziaruo/ Nyonya Yun sang permaisuri
''Yun...aku lelah sekali hari ini, bisakah kau membantuku mandi dan berganti pakaian?, tubuhku terasa lengket sekali.'' Ucap sang Kaisar dengan nada lirih didekat telinga Ziaruo.
''Bluuusshhh..''
Wajah Ziaruo memerah layaknya tomat ranum.
Ia menuduk malu, terlebih lagi saat Kaisar Jing menempelkan dagu di pundak, serta beberapa kali menyentuh pipinya dengan ujung hidung mancungnya.
Wanita itu tak dapat menutup debaran jantungnya yang semakin keras berloncatan.''Degup...degup ..degub...''
Dengan suara yang pelan serta dibuat setenang mungkin ia menjawab.''Saya akan menyuruh pelayan menyiapkan airnya terlebih dahulu Yang Mulia.''
Mendengar jawaban itu, hati Jing seolah berbunga bunga, wajahnya menampakkan kebahagian, jika saja ia tidak ingat akan janjinya, mungkin saat ini Kaisar tersebut sudah merengkuh tubuh ramping itu, mencium bibirnya, serta membawanya ke dunia impian, yang telah lama ia inginkan.
Akan tetapi, ia tak ingin membuat wanita tersebut memandang rendah dirinya, dan dianggap sebagai seseorang yang tidak dapat menempati janji.
Ia hanya mampu, meredakan hasratnya yang selalu memberontak ketika sedang bersamanya, dengan memeluk wanita itu erat erat serta mencuri aroma tubuh Ziaruo dari kedua lubang hidungnya.
''Yun....jangan bergerak dulu...biarkan aku memelukmu sebentar lagi.'' Ucapnya lirih, ketika sang permaisuri hendak mendorong tubuh miliknya menjauh.
Ziaruo tersenyum sesaat, sebelum berkata kembali.''Baiklah ..'' Dengan nada lirih.
__ADS_1
Bagaimanapun ditepis, Ziaruo menyadari bahwa memenuhi keinginan dari suami adalah kewajibannya, apapun itu Tidak terkecuali atas hasrat sebagai seorang lelaki yang kini tengah ditekan kuat kuat oleh sang Kaisar.
''Pelayan siapkan air mandi, dan makan malam untuk kami.'' Perintah Ziaruo dengan posisi masih sama.