
Sesungguhnya, ia tengah meluapkan kekesalan atas, pengkh**natan sang suami kepada dirinya.
"Hentikan Ruoer, aku bilang hentikan, kau benar benar sengaja menyakitiku.''ucap kaisar Murong, dengan bulir yang tak lagi dapat ia tahan, ia tak pernah menangis selama ini.
Namun, semenjak kenangannya kembali kepadanya, ia merasa begitu lemah, dan terpuruk akan penyesalannya, dan itu membuatnya beberapa kali mengalirkan bulir bening, dari kedua sudut mata pekatnya.
Sehingga, tanpa sengaja menarik tangan Ziaruo dengan sedikit keras, ia tak bermaksud kasar, Murong hanya ingin menghentikan bait bait yang terdengar menyayat hati tersebut.
Sementara itu, mendapati sentakan agak keras pada tangannya, Ziaruo membuka mata dan menatap pria didepannya dengan lembut.
Hatinya sakit saat melihat bulir bening disudut mata sang Kaisar.
Bahkan, di dalam dadanya ia juga merasa gelisah, akan tetapi ia tetap menampilkan senyumnya untuk Murong, sembari membaca bait baitnya kembali.
"*W**ahai pujangga waktu, hentikan ragamu, bawa rindu sang bulan untuk pangeran malam*.
*W**ahai sang bayu, hembuskan aroma sang bulan, untuk meredakan rindunya*.
*K**au tahu, ...bulan merindukannya, dalam kesunyian*.
*D**an kau juga tahu, akan kemarahan sang bulan, atas noda pada sucinya cinta mereka*.
Kesedihan semakin telihat jelas pada wajah cantik Ziaruo, Murongxu menjadi lebih membenci dirinya sendiri.
Dengan isakan lirih, ia berusaha menyampaikan penyesalan mendalam didalam hatinya, dan berkata."Hixs...maafkan aku, maafkan aku Ruoer.'' Ucap kaisar Murongxu, sambil menggenggam erat tangan Ziaruo.
Pria itu mencium tangan Ziaruo, berulang ulang kali, ia ingin menyampaikan rasa sedih, luka, serta penyesalan, melalui setiap ci*m*n lembutnya, diatas jari jemari wanita cantik dihadapannya tersebut.
Ia juga tak ingin kehilangan Ziaruo kembali, seperti saat kehidupan yang sebelumnya .
Kehidupan Rasya dan Rahartika, dimana Rasya yang hidup sendirian setelah Rahartika meninggal, hingga ia menghembuskan nafas terakhir, demi menjaga cinta serta hatinya untuk Ziaruo.
Namun, karena ia harus menjalani sebuah ujian karma hutang budi, sebagai ujian kegagalan cinta untuk Ziaruo, maka dikehidupan yang sekarang, ia harus menepati janji yang di buat oleh Rasya terhadap Yolan ( Sujin ).
Namun, tetap saja dibalik itu semua masih terdapat banyak rahasia, tentang Murongxu yang berada di Dunia sekarang, serta yang berada di atas ranjang, tengah berbaringan dihutan kuil keagungan menyerupai batu.
Melihat kesedihan kaisar Murong yang begitu pilu, kasim Di melelehkan air matanya, ia seolah ikut merasakan kesedihan sang tuan.
Namun, ia juga tahu dari bait bait yang terucap tadi, wanita yang duduk didepan majikannyapun tak jauh berbeda, wanita itu juga mengalami hal yang sama.
"Yang mulia, nona Ziaruo, sebenarnya apa yang terjadi kepada kalian?, mengapa harus seperti ini?, hatiku sakit hanya dengan melihatnya.'' Gumam kasim Di dalam hati, sambil beberapa kali menghapus air mata yang hendak jatuh dari ujung matanya.
Sementara itu, melihat isak tangis Murongxu, hati Ziaruo merasakan sakit. Bagaimanapun pria yang berada di depannya kini, sudah bersamanya lebih dari 3 putaran waktu kehidupan.
Ada banyak hal yang ia ingat dalam hati. Kelembutan, perhatian, serta kasih sayang Murongxu yang tulus untuknya.
__ADS_1
Ziaruo ingin memeluknya dan mengatakan, bahwa ia masih mencintainya.
Ia juga ingin menc**m Pria tersebut dengan segenap hati, untuk meredakan kerinduannya selama ini.
Akan tetapi ia kembali teringat, bahwa bukan hanya kamarahan dan kekecewaan saja, yang mencegahnya melakukan hal tersebut.
Namun, dikehidupan ini tidak tertulis didalam takdirnya, ia akan hidup bersama Murongxu saat ini.
Dan menjauhinya, benar benar harus di lakukan, agar semua deretan ujian, serta hukuman mereka segera berakhir.
Kesedihan dan perpisahan di kehidupan ini, untuk kebahagiaan sejati mereka dikehidupan mendatang.
Antara kasih sayang dan ketidak berdayaan, membuat hati Ziaruo sakit serta tersiksa.
Semarah apapun seorang wanita, atas kesalahan orang yang ia cintai, tetap saja ia tidak akan rela melihatnya terpuruk sedemikian rupa, bahkan hingga meratap dengan isak tangisan.
Pada akhirnya, tanpa terasa bulir bening mulai ikut menghiasi pipi putih Ziaruo, namun ia tak ingin mengakui bahwa ari mata itu mengalir untuk Murongxu.
Dengan lirih ia bergumam. ''Mengapa teh ini begitu cepat menjadi dingin?.''
"Dan mengapa hatiku begitu, sedih, bukankah ini hanya secangkir teh, hixs...syuup.'' Lanjut Ziaruo kembali, dengan isak tangis yang tak dapat ia tutupi.
*Imajinasikan nangis trus ada air juga di hidung *
Yang tampak di sana, dua tubuh yang duduk berhadapan, dan sesekali terdengar isak tangis lirih dari mereka.
Melihat tangisan itu, hati Murong semakin sedih, ia berdiri hendak memeluk tubuh wanita yang sangat ia cintai tersebut, meskipun beberapa hari yang lalu ia baru mengingatnya.
Akan tetapi, sebelum ia mencapai dan memeluk tubuh Ziaruo, dilihatnya wanita itu berdiri serta hendak melangkah masuk, Murongxu kembali terdiam.
Ditatapnya tubuh ramping yang mulai menapaki tangga pondok, sebelum akhirnya ia kembali berkata. "Apakah, kau akan menyuruhku menunggumu lagi?.''
Murong menanyakan hal itu, dengan suara keras. Seolah ia tengah mengeluarkan frustasi dalam dirinya.
Mendengar teriakan dari sang kaisar, Ziaruo berhanti.
Dia berdiri tepat di tengah tengah anak tangga pondok, namun tetap menghadap kearah pijakan anak tangga, serta membelakangi kaisar Murong.
"Apakah kau akan meninggalkanku sendirian lagi?.'' Tanya Murong kembali dan kembali terdiam sejenak.
Pria itu, seolah menahan sebuah perasaan yang entah apa namanya.
Bahkan ia sendiri tak mengerti, apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Murongxu gusar saat melihat Ziaruo beranjak meninggalkannya di halaman pondok.
Dengan suara yang bergetar, ia kembali berkata. ''Seperti yang terakhir kau lakukan?, aku memang bersalah, dan aku sudah meminta maaf kepadamu."
__ADS_1
"Permaisuri, apakah kau tahu, dibalik wajah cantikmu, kau begitu kejam, hatimu seperti bongkahan batu cadas yang keras."Ucap Murongxu kembali, dengan nada sedikit kasar.
Namun setelah, mengucapkannya, ia langsung menyesalinya, hatinya sakit, bahkan jauh lebih sakit, ketika melihat wanita itu, melelehkan air matanya kembali, akibat mendengar ucapannya.
"Terimakasih yang mulia, selama tiga kehidupan kita, baik itu di negri Awan, ataupun di dunia masa depan, baru di kehidupan ini anda berkh**nat atas kasih sayangku.'' Ucap Ziaruo pelan, namun tentu saja masih dapat di dengar oleh semuanya.
Mengingat suasana malam di hutan, dengan kesunyian serta keheningannya, bahkan suara pelan Ziaruo terdengar cukup jelas.
''Dan baru hari ini pula, ucapan seperti itu, keluar dari bibir anda yang mulia.'' Lanjut Ziaruo lagi.
Wanita itu, menampilkan kedataran pada ucapannya, setelah ia menghapus bulir bulir bening pada pipinya.
Ziaruo menggunakan mimik wajah tanpa ekspresi, saat ia mengucapkan hal tersebut, dari bibir cantiknya.
''Bukankah anda tahu mengapa Rahartika semasa hidupnya menderita sakit?,'' Tanya ziaruo lagi, masih dengan suara tenang serta raut yang sama.
''Bukankah Rasya, dan juga anda tahu, mengapa kehidupan Rahartika berakhir lebih cepat dari yang seharusnya?.'' Lanjut Ziaruo, dan lagi lagi ia, tak membutuhkan jawaban atas pertanyaannya.
''Setahu saya, pernikahan anda adalah sebuah janji yang dibuat oleh seseorang (Murongxu) dikehidupan terdahulu, dan orang itu bukan saya Yang Mulia.''
''Lalu mengapa sekarang, semua menjadi kesalahan wanita ini?.''
''Semoga hari anda, jauh lebih indah kedepannya, mohon maaf wanita berhati batu ini, undur diri.'' Lanjut Ziaruo pelan serta masih tenang.
Akan tetapi, dari setiap bait ucapan itu penuh dengan penekanan, dan sepandai apapun ia menyembunyikan, kesedihan diwajah itu tetaplah terpancar dari sorot matanya.
Mendengar ucapan itu, tubuh Kaisar Murongxu bergetar, seolah ia hendak luruh dan terjatuh.
''Ruoer....'' panggil Murongxu lirih, dengan penuh kesenduan. Hingga hanya seperti sebuah gumaman saja.
Pria itu mendudukan kembali tubuhnya secara kasar, diatas kursi batu yang ada dihalaman pondok tersebut.
"Yang mulia....yang mulia...'' Panggil kasim Di, dengan nada penuh kecemasan untuk tuannya.
Sementara itu dibalik persembunyian.
"Ternyata ada kejadian yang seperti ini, apakah ini kenyataan." Ucap bayang 1, diatas pohon yang menjulang diatap pondok, ia tidak dapat leluasa melihat kearah mereka, namun dapat mendengar setiap percakapan disana dengan jelas.
"Ayahanda, apakah semua itu benar, bahwa Ziaruo adalah permaisuri anda di kehidupan terdahulu.'' Ucap lirih bayangan 2, dibalik pepohonan hutan.
"Mengapa anda harus mengingat kehidupan kehidupan yang telah lalu, bukankah itu menyakitkan.'' Ucap sendu bayangan 3, seolah meyayangkan rasa sakit dan penderitaan mereka( kaisar Murongxu dan Ziaruo).
Dan masih ada satu bayangan, yang tak menampilkan expresi sama sekali, seolah ia tak memiliki jiwa dan hati, hanya menatap lekat kearah wanita, yang kini menghilang di balik pintu pondok tersebut.
** Benarkah akan selalu ada jalan, dan alasan untuk memaafkan, bagi mereka yang saling menyayangi didalam hatinya?.**
__ADS_1