Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 224 Menggetarkan langit.


__ADS_3

Dan ketika ia kembali mengingat tujuan dari setiap tindakannya, Ziaruo hanya dapat menepuk dada itu dengan keras, seraya menghujat diri sendiri.


''Tidak...kasih sayang ibu dalam diri ini, akan membuatnya menderita di masa mendatang.'' Gumam lirih Ziaruo, sebelum melesat pergi.


Ia hanya diam menyaksikan, dan tetap melanjutkan segala rencananya.


Seperti kali ini, Ziaruo kembali melakukan perjalanannya selama hampir satu bulan, Weiyun masih bersikap biasa.


Bocah Weiyun, menghabiskan sepanjang waktunya, bersama Yaksa.


Entah itu untuk berlatih beladiri, melatih kultivasi, atau hanya sekedar bermain.


Weiyun tampak senang dan bahagia, tanpa kehadiran sang ibu.


Namun, ketika ia melihat bulatan bercahaya di cakrawala senja yang kian terang, Weiyun bergegas berlari menuju kediaman.


Langkah kakinya yang kecil, bukanlah suatu halangan untuk memperlambat jarak yang ia tuju.


Dengan latihan yang di berikan Yaksa hampir setiap hari, tubuh kecil itu melesat dengan sangat cepat, seperti anak panah yang terlepas dari busur.


Hingga langkah kaki itu sampai di depan kediaman, barulah kecepatannya mulai melambat.


Perlahan ia membuka pintu ruang, dan menatap kearah kerja meja di sana.


''Kau sudah pulang.'' Sapa seseorang, dengan nada hangat.


Weiyun berjalan dengan senyum lebar, kearah percikan air belanga yang mulai menampilkan sosok wajah yang sangat ia kenal 2 tahun terakhir ini.


''Weiyun memberi salam untuk ayahanda.'' Ucapnya dengan rona mata bersinar.


''Bagus...bagus...bagus.'' Sahut sosok, yang tak lain adalah Jiang jing wei.


Ada pancaran kebahagiaan yang jelas, serta rasa bangga dari wajah sang Kaisar.


''Apakah kau habis bermain Yun'er? Jing lagi.


''Tidak ayahanda, weiyun berlatih bercama bibi Yaksa.'' Jawab bocah itu, dengan binar kebanggaan untuk diri sendiri.


Dari nada dan gerakan bocah tersebut, jelas ia mengharapkan sebuah pujian dari sang ayah.


Dan, Jing akan dengan senang hati, memenuhi keinginan sang putra sebaik mungkin.


Dengan wajah itu, kelucuan, kepolosan, dan kebanggaan sang putra dihadapannya, hati Jiang jing wei semakin membuncah dengan kerinduan.


Wajah arogan miliknya melembut hingga 360º, dari sisi dingin yang biasa ia tampilkan.


Bibirnya yang biasa mengatup rapat dan tak bergeming, kini menampilkan lengkungan panjang, seraya berkata.'' Hahaha...bagus...bagus, Weiyun memang putraku yang hebat.''


Mendengar pujian dari sang Ayahanda, yang tak pernah ia temui dalam kelayakan (secara langsung), hati bocah kecil tersebut seolah terbang keatas awan.

__ADS_1


Wajah mungilnya, semakin menggemaskan dengan senyum yang terpasang.


Dalam kehidupan Jing akhir-akhir ini, pertemuan dengan Weiyun adalah hal berharga yang ia miliki, selain kenangannya bersama Ziaruo.


''Yun'er...apakah ibunda berpergian lagi?.'' Tanya Jing, setelah menelisik, sekitar ruang lingkup keberadaan dari ruangan sang putra.


Mendengar pertanyaan itu, Yun'er mengangguk pelan.


Wajah kecil di depan cermin air, sejenak menampilkan kesedihan.


Akan tetapi, dengan cepat ia mengubah exspresinya dan berkata. ''Weiyun sudah besar ayahanda. Weiyun bisa menjaga diri sekarang.''


Suara itu terdengar sangat konsisten, serta renyah di telinga Jing.


Namun, entah mengapa kenyaringannya seolah pisau angin yang tengah menekan ulu hati.


Jing menghela nafas sejenak, menatap wajah ke di balik cermin dengan tatapan lembut.


''Ibunda tak bermaksud meninggalkamu sendirian, dia sangat menyayangi Weiyun.'' Ucap Jing.


''Apakah kau percaya Ayahandamu ini Yun'er?.'' Lanjut Jing lagi.


''Eeehhmm...Weiyun tahu ayahanda.'' Jawabnya lirih, sembari mengganguk cepat.


''Anak baik...Dengarkan ayahanda, jangan bersedih atau menyalahkan ibundamu.'' Jing.


''Tak ada diantara kami yang ingin jauh darimu, terlebih lagi ibundamu.'' Lanjut Jing lagi.


Dan tentu saja, Weiyun selalu menjawab hal yang sama juga.


''Weiyun mengerti, Weiyun tak pernah menyalahkan ibunda.''


Namun seperti itu juga, hati Jing selalu merasa gelisah, ketika mendengar jawaban sang putra.


Seolah ada sesuatu yang terlewat, dari percakapan diantara keduanya.


Sementara itu, Weiyun dan pikirannya jelas memahami apa yang di pikirkan, oleh sosok di balik cermin air dihadapannya sekarang.


Bocah itu, telah terlahir dengan kepekaan pendengaran terhadap terhadap otak serta pikiran orang lain.


Weiyun kecil nyatanya telah mewarisi kemampuan Ziaruo, untuk memahami, serta melihat isi pikiran orang lain.


Meski, tak sejelas kemampuan sang ibu di masa lalu, namun di antara manusia pada umumnya, kekuatan serta kemampuan bocah tersebut, sudah dalam kategori monster.


Mungkin kemampuan dari Weiyun kecil, adalah setitik retribusi untuk Ziaruo, ketika melepas segala keistimewaan miliknya, demi bayi dalam kandungan di kala itu.


Dan untuk Ziaruo, yang telah sepenuhnya menjadi manusia biasa, ia hanya bisa memulihkan kemampuan beladiri, dan kemampuan tarung seperti manusia pada umumnya.


Tak ada kekuatan magis, ataupun keistimewaan membaca pikiran orang lain sama sekali.

__ADS_1


...............


Jiang Weiyun masih diam, dengan sedikit menundukan wajahnya.


''Yun'er...Jangan pasang wajah yang demikian, kau seorang putra dari ayahanda Kaisar, dan seorang wanita hebat.'' Jing.


''Aku tidah butuh ayah Kaisar dan ibu yang hebat.'' Weiyun ingin meneriakan ucapan itu.


Namun, ketika ia mengingat tangis tak bersuara di hati, serta pikiran sang ibu yang ia dengar, bibir kecilnya mengatup rapat.


''Kau harus kuat, harus Yun..., bencilah ibu karana berusaha untuk mengabaikanmu.''


''Namun, ketika nanti kau mengetahui segalanya, aku yakin di saat itu, kau telah menjadi pria hebat. Pria yang akan menggetarkan langit naungan ibumu ini.''


''Kau harus kuat, kita berusaha kuat bersama...bahkan, jika kau ingin membenci ibumu lakukankah...lakukanlah putraku.''


Mengingat hal itu, Weiyun menyentuh pucuk kepala sendiri, ia ingin merasakan sentuhan tangan sang ibu dalam ingatannya.


Hangatnya masih terasa disana, namun kebungkaman di bibir, serta kesenduan tatapan mata sang ibu, juga masih jelas pada gambaran ingatan.


''Weiyun akan menjadi kuat Ayahanda. Pasti kuat!, dan akan menggetarkan langit naungan ibunda.''


Bocah tersebut, mengatakannya dengan suara ringan serta terkesan main-main.


Akan tetapi, suara itu nyatanya mampu membuat manik mata Jing, membuat dengan sempurna.


''Ap..apa yang kau ucapkan barusan?.''


''Apa yang telah kau ketahui Yun''. Sambung Jing lagi.


Tampak jelas, kepanikan di wajah Jiang jing wei saat ini.


Ia tak menyangka, bahwa sang putra kecilnya, akan mengatakan sebuah janji, yang bahkan ia sebagai orang dewasa, tidak berani untuk mengucapkannya.


''Yun'er jangan sembarangan bicara.'' Ucap Jing, dengan nada agak tinggi.


Sebagai seorang kaisar di era ini, ia memahami, serta meyakini, bahwa sebuah janji ataupun sumpah buruk, akan menghadirkan kemurkaan para dewa.


Terlebih lagi, sumpah sang putra saat ini adalah sesuatu yang berhubungan dengan kekauasaan langit.


Putranya ingin menggetarkan langit naungan Ziaruo.


Seorang dewi dari kekaisaran dunia Atas awan, yang digdaya dan mempuni.


Hanya dengan membayangkannya saja, Jiang jing wei gemetar.


Jika sang putra menghancurkan kekaisaran lain, ia masih akan mampu membereskannya.


Bahkan jika harus menghancurkan seluruh negri kekaisaran lainnya ia akan maju tanpa ragu.

__ADS_1


Namun, ini adalah tentang negri atas langit yang misterius, dengan magis dan basis kultivasi tinggi.


''Tidak...Weiyun telah berniat untuk melakukannya Ayah. Dan Weiyun yakin, akan bisa mewujudkan itu.''


__ADS_2