
Selamat membaca, semoga ceritanya membuat hari hari kita semakin berwarna.
komen, saran serta kritikan yang membangun diharapkan dengan sangat...Terimakasih.
Masih di dalam cermin air bulan.
Yongyu berjalan cepat keluar dari ruangan, dan tanpa mengindahkan apapun Zhanglei pun juga melakukan hal yang sama, dengan pandangan serta perasaan cemas, pangeran malam menyerukan nama sang wanita beberapa kali. '' Yun....yun...Yun'er..''
Akan tetapi panggilannya, tak memperoleh jawaban. Hingga tepat disebuah ruangan ditengah pavillium utama Clan bulan, sebuah teriakan kuat terdengar.
''Aaaaahhhhkkkk....Ayah...ibunda.....''
Suara teriakan seorang wanita memecah keheningan.
Seorang wanita dengan tubuh terduduk di lantai ruangan tengah menangis histeris, tepat didepannya terbujur tubuh lelaki dan wanita dengan luka luka sabetan.
Ziayun memeluk tubuh seorang wanita dengan penuh kesedihan. Dengan tangan yang masih memeluk tubuh dingin itu, Ziayun berkata. " Mengapa kau juga membunuh ibundaku?, mengapa?, dia tidak tahu apapun, dia tidak pernah melakukan keburukan apapun..."
Mendengar hal tersebut, Zhanglei melepas pedangnya, dengan langkah perlahan ia mendekati wanita, yang masih memeluk tubuh sang ibu erat.
"Maafkan aku...aku tidak sengaja melakukannya....ibumu menerima serangan untuk ayahmu." Jawab Zhanglei menjelaskan.
Namun, seolah tak mendengar ucapan sang pria, wanita itu semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh dingin sang ibu.
Dengan deraian air mata, bibir wanita cantik itu kembali berkata. "Dewa jika segalanya begitu menyakitkan, maka seharusnya kau tak menghadirkan rasa dalam hati ini, hanya berikan jalan takdir saja kepadaku, ak..aku akan menerima apapun itu."
Seakan dewa tengah mendengar segala pintanya, sesaat setelah wanita itu menyelesaikan ucapanya, sebuah dentuman keras, terdengar. "Duuumm." Dengan pendar cahaya kuat, mengahatam tubuh Zhanglei.
Bahkan, tubuh Yongyu yang seolah transparanpun, ikut terlempar Jauh.
Sementara itu, di hutan barat kekaisaran Xili.
Sebuah cermin air bulan tiba tiba saja, muncul kembali didekat Ziaruo, benda tersebut, melemparkan tubuh Yongyu keluar dari dalamnya.
Ziaruo tersenyum melihat sang kakak, ada kelelahan dalam tubuhnya, namun senyuman kebahagiaan tercetak nyata di wajah itu, ketika melihat Yongyu penuh dengan luka luka kecil ditubuhnya.
"Ternyata dewa cermin menjaga kakakku dengan baik." Ucap lirih Ziaruo, dan masih dapat di dengar oleh Yongyu dan Murong.
Berbeda dengan Ziaruo, Yongyu kembali kebingungan, melihat sang adik berdiri dengan pakaian yang agak berantakan, wajahnya membulat. Ia membayangkan hal buruk terjadi seperti yang dialami oleh Ziayun.
''Ada apa denganmu?, mengapa pakaian yang kau kenakan berantakan. Dan siapa dia?.'' Tanya pemuda itu dengan reflek, ketika melihat tubuh seorang pria di atas rajang batu di halaman pondok.
Yongyu tak mengenali wajah Murongxu, akibat pukulan serta luka luka ditubuhnya, pria itu tampak berbeda.
__ADS_1
''Memangnya siapa dirimu huh..., beraninya kau mempertanyakanku.'' Sahut pria yang tak lain adalah Murongxu tersebut.
''Heeeeh.''
Mendengar sahutan kasar Murongxu, Wanita itu, menghela nafas perlahan.
"Bahkan, ketika telah berpindah ke tubuh itupun, anda masih merasa sebagai seorang yang hebat serta arogan.'' Gumam dalam hati Ziaruo.
Ziaruo mendekati Yongyu, sembari berkata. ''Dia Murongxu kak...dia mengalami luka parah, mungkin selama sisa hidupnya ia akan memerlukan bantuan orang lain.
Mendengar jawaban Ziaruo, Murongxu memalingkan wajahnya, dan menyahut kembali ucapan Ziaruo. ''Heeh...jangan terlalu yakin, kau harus membunuh sekarang, atau kau akan melihat suami b*d*hmu itu mati di tanganku.''
Suara Murongxu masih penuh dengan ancaman, akan tetapi tidak sekeras ia menyahuti ucapan Yongyu.
''Jadi dia Murongxu, mengapa dia bisa seperti itu Ruoer?.'' Tanya Yongyu dengan penuh keheranan,
Didalam penglihatan Yongyu, pria itu tampak menyedihkan, dengan kedua tangan serta kakinya yang sedang dibalut dengan barang kayu pada setiap bantuannya, itu menandakan bahwa pria tersebut mengalami patah patah pada tulangnya.
''Ruoer..memangnya siapa yang melakukan hal itu kepadanya?.'' Lanjut tanya pria itu lagi.
Bagaimanapun, disamping Murongxu masih ada kasim Di, seorang kesatria mempuni, orang yang bahkan untuk disejajarkan dengan dirinya (kasin Di), masih dapat dihitung dengan jari saja.
mendengar pertanyaan sang kakak, Ziaruo diam sejenak, sebelum akhirnya mulai membuka bibirnya. ''Dia memulai dirinya sendiri, bahkan kasim Di, juga meninggal untuk menyelamatkannya.''
Melihat dari sikap Ziaruo, Yongyu tentu saja mengerti, bahwa mustahil baginya meninggalkan seseorang dengan luka parah itu, sendirian disana. oleh karena itu Yongyu kembali bertanya. '' Lalu...apa rencanamu?.''
''Sepertinya kita harus membawanya kepenginapan, dan kita pikiran yang lainnya lagi nanti.'' Jawab Ziaruo pelan.
Mendengar jawaban ragu dari sang adik, Yongyu menatap wanita itu lekat.
''Aku tahu, kau akan memutuskan yang terbaik Ruoer, dan aku juga jelas melihat, bahwa kau melakukannya hanya karena kemanusiaan ( bukan karena rasa cinta).
Mendengar ucapan sang kakak, yang begitu memahami serta memakluminya, Ziaruo merasa ada sebuah ketenangan serta perasaan hangat didalam hati.
Wanita itu, berjalan kearah Yongyu dan memeluknya sejenak sembari berkata. ''Aku tahu hanya anda saja, yang mengerti dan memahamiku, aku takut Jing tidak akan mengerti kak.''
Mendapat pelukan secara tiba tiba, Yongyu menjadi gelisah, ia takut tak dapat mengontrol pikiran serta gejolak hatinya.
Dengan cepat ia menempatkan pikirannya, membayangkan jika dirinya adalah Jing, dan kembali berkata. ''Kau harus bisa memaafkan jika suami b*d*hmu itu, mungkin akan cemburu dan bertindak nekat, itu karena dia sangat menyayangimu."
"Heeeehh..." Ziaruo mengehela nafas, dan kembali melepaskan pelukan Yongyu.
''Anda benar kak, dan sepertinya kita harus segera kembali, atau dia akan mengira aku telah bertemu dengan Murongyu, anda lihatkan kemarin bagaimana ia menolak perjalananku keistana.'' Ziaruo.
__ADS_1
Mendengar perkataan wanita itu, Yongyu tersenyum sekilas, dan kembali menjawab. ''Baiklah...ayo cepat kita harus segera kembali, atau dia akan meledak karena keb*doh*nnya sendiri.''
Dan pada akhirnya, dengan membawa tubuh Murongxu dipunggungnya(Yongyu), keduanya menghilang dibalik kabut tipis yang diciptakan oleh Ziaruo.
Flash back on.
Melihat kabut hitam yang semakin pekat, Ziaruo tersenyum, ia dapat menebak arah pikiran Murongxu.
Bahwa kali ini Pria itu bersungguh sungguh, ingin mengutuk tubuh fananya dengan sebuah keburukan.
(Episode 107)
Ziaruo mengerti bahwa Murongxu ingin mengambil jiwanya, serta menghancurkan tubuh Fananya saat ini, wanita itu menatap sekilas tubuh Murong, didalam balutan kabut miliknya, ia tahu bahwa jiwa pria tersebut tak lagi dapat bertahan.
"Heeeehhh....." Ziaruo kembali menggelar nafas panjang sesaat, sebelum akhirnya Wajah cantik itu, kembali menampilkan senyum mempesona. Dan tak ayal tindakannya tersebut, membuat Murongxu kehilangan fokus, dan berkata. "Apa kau pikir dengan senyuman itu, kau akan membuatku luluh?, jangan harap, kau harus tetap kembali dan kita tinggalkan dunia ini."
Mendengar ucapan Murongxu, lagi lagi wanita itu tersenyum. Dengan tenang ia berjalan kearah pria tersebut. mendekat semakin dekat.
" Seprtinya Dia (Murong didalam kabut tipis keemasan) telah meninggal, jadi apakah anda akan tetap ingin menghancurkan tubuh ini Yang Mulia?." Tanya Ziaruo pelan.
Ada kesedihan didalam mata itu, namun sekilas saja tampak sebuah gambaran ketenangan miliknya kembali.
Dengan langkah pasti ia mendekati Murongxu, dengan sebuah kelembutan wanita itu meraih tangan pria tersebut, sebuah tangan yang telah siap melayangkan serangan untuknya menggunakan pemindah jiwa sejak tadi.
Melihat wanita itu ingin menghancurkan dirinya sendiri dengan bantuan tangannya, Murongxu buru buru menarik tangannya secepat mungkin.
Namun tanpa disadarinya, ketika ia menarik tangannya sendiri, Ziaruo justru menambah tenaganya untuk mendorong tangan Murongxu yang bergerak mundur kearah tubuh pria itu.
Murongxu, merasa ada yang salah, ia menyadari sang wanita ingin menggunakan jurus pemindah rohnya, untuk mengambil jiwanya sendiri.
Akan tetapi, pemahamannya terlambat beberapa langkah dari gerakan Ziaruo.
Wanita itu dengan tenaga penuh menekan tangan Murongxu kearah dadanya pria tersebut dengan kuat, sembari berkata dengan seringaian tipis. " Bagaimana jika anda mengantikan dirinya Yang Mulia ( menempati tubuh Murong yang telah meninggal karena serangannya)."
Mendengar ucapan tersebut, mata Murongxu membelalak, dan dalam satu kedipan mata saja, rohnya telah berpindah kedalam tubuh Murong didalam balutan kabut keemasan Ziaruo.
Mendapati hal tersebut, dengan suara keras Murongxu berteriak. " Ruoer...!."
Ziaruo tersenyum kembali, ia tidak marah ataupun takut atas teriakan Murongxu. Bahkan, masih dengan ketenangan serta kelembutan wanita itu menjawab. "Hamba Yang Mulia...jangan khawatir, wanita ini masih menyisakan kebaikan didalam hatinya, jadi dengan penuh kesabaran akan merawat anda."
"Ziaa..ruoooo...!!!." Pekik Murongxu keras penuh kekesalan, namun dengan ketidak berdayaan pada tubuhnya.
"Hamba masih disini Yang Mulia."Jawab Ziaruo kembali, dengan masih menampilkan senyuman mempesonanya.
__ADS_1
" Aaahhhkkkk..." Murongxu.