Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 110 Kecemburuan Jing.


__ADS_3

"Mheeemmm....tes tes Mohon maaf untuk sahabat yang menunggu like dan komentar balik, mungkin memerlukan waktu untuk saya melakukannya..


Mohon maklum, karena kebetulan memiliki hobby membaca, jadi ketika mampir keberanda sahabat satu dengan sahabat lainnya membutuhkan waktu..lebih lebih jika ceritanya menarik..pasti bakal lama hehe... Jadi mohon bersabar ya...buat yang belum disapa... insyaAllah..akan diusahakan ceklish balik kehadiran. SEMANGAT."


Di penginapan Nancang.


Seorang pria dengan wajah bak mendung hitam, memayungi penginapan dengan ke canggungan yang tak mengenakan hati.


Apapun yang pelayan tanyakan kepadanya, apapun yang pelayan suguhkan tidak dapat menarik minat, serta seleranya untuk menggerakan tangan dan menggapainya.


Wajah tampannya terlihat suram, bahkan seiring berlalunya waktu, semakin menggelap rona wajah itu.


Pria yang tak lain adalah kaisar Jing tersebut, tampak tengah berusaha keras untuk mengontrol sebuah gejolak di dadanya. Seolah segala apapun yang berada didepannya, memancing percikan api kemarahan sang penguasa tersebut.


Bahkan, Wuhan sang abdi setia dibuatnya kelabakan. Entah mengapa setiap apapun yang di perintahakan, semua pelayan gagal melakukan sesuai arahan serta anjurannya.


Melihat banyak ketidak nyamanan disana, Wuhan memberanikan diri bertanya.'' Yang Mulia.. eemmm...''


Mendengar pertanyaan Wuhan yang ragu ragu, Jing menatapnya tajam dan balik bertanya. '' Ada apa?.'' Datar.


''Apakah Yang Mulia tidak enak badan?.'' Wuhan mulai membuka suara


''Tidak..''Jawab Kaisar Jing singkat.


''Eemmmm...'' Wuhan bergumam singkat kembali, sembari melangkah lebih mendekat.


''Apa?, jangan membuatku semakin kesal.'' Tanya Jing kembali, sembari mengerutkan keningnya.


''Apakah tengah terjadi sesuatu kepada anda berdua?, atau.... Ada masalah dengan rombongan pengawal kita yang belum tiba?, atau mungkin.... dengan kondisi istana kekaisaran?.'' Tanya Jing kembali, kali ini pria itu tampak benar benar antusias.


Mendengar hal itu, Jiang jing wei melempar Wuhan dengan cangkir kosong miliknya, sembari berkata. '' Apa yang ada di otak kosongmu itu?, apa kau menyumpahi kekaisaran hah?.''


Mendapat lemparan cangkir, dengan gerakan cepat Wuhan menangkap benda tersebut, sambil menjawab. '' Yang Mulia...anda harus berhati hati dengan benda benda disini.''


Lagi lagi Jing mengernyit kebingungan, mendengar ucapan sang penjaga sekaligus sahabat.


Wuhan mengerti, makna gerakan pria tuannya tersebut. Dengan tenang ia berjalan kearah meja, dan meletakkan cangkir tersebut kembali seraya berkata. ''Menurut yang saya dengar, hampir semua benda benda di penginapan ini, Yang Mulia Pemaisuri sendiri yang membuatnya.''


''Jadi anda jangan sembarangan membuang atau memecahkannya. '' Lanjut Wuhan kembali.


Mendengar ucapan dari penjaga sekaligus sahabatnya tersebut, Jing meraih cangkir cantik dan mengamatinya.


'' Kau benar...mengapa aku tidak menyadari sebelumnya, aku terlalu fokus pada permaisuri, jadi tak menyadari tentang keunikan dari benda ini.'' Ucap Jing pelan.


Wuhan hanya menganggukkan kepala beberapakali.


''Lalu benda ini terubat dari apa ya?, mengapa seolah ini adalah benda dengan kekosongan( dalam artian tembus pandang)


*Saat ini, Jing tengah memegang cangkir gelas dari bahan kaca bening.*

__ADS_1


Jing menyadari banyak hal menjadi tidak berharga, ketika wanita itu berada disampingnya, banyak hal istimewa seolah kehilangan mempuninya ketika ditangan Ziaruo sang Pemaisuri.


Membayangkan hal itu, Jing kembali mengingat, bahwa sekarang sang permaisuri tengah di istana kekaisaran Murongyu.


Dengan wajah yang kembali berubah suram, pria itu menghentakan kasar Cangkir ditangannya sembari berkata. '' Apa peduliku dengan cangkirnya, bahkan dia tidak memperdulikan aku.''


Wuhan membulatkan mata, ia mulai memahami kegelisahan sang tuan. Tanpa sadar senyum tipis tercetak pada wajahnya.


''Eemmmhh...'' Gumam Wuhan lirih, namun masih terdengar ditelinga sang tuan.


''Wuhaan.'' Jing menyerukan nama sang penjaga.


''Hamba Yang Mulia..'' Wuhan menjawab dengan penuh ketenangan.


''Apakah kau sudah tidak memerlukan mulutmu lagi?.'' Tanya Jing dengan sorot mata kesal.


''Masih Yang Mulia..'' Jawab Wuhan lagi.


"Katakan apa yang ada di pikiran bod*hmu itu!." Perintah Jing dengan tenang, akan tetapi dengan sorot mata penuh ancaman.


Mendengar perintah itu, Wuhan mundur beberapa langkah, dengan persiapan kuda kuda jurus langkah seribu, Wuhan kembali membuka mulutnya. "Eeeemmhh...apakah..Yang mulia...eemmh...Yang Mulia tengah cemburu?."


Mendengar pertanyaan tersebut, giliran mata kaisar Jing yang membulat, dengan suara terbata pria itu menjawab. '' Ap..apa...apa Kau bilang hah...apa kau bilang...aku, aku kaisar jing tengah cemburu...si**an kamu Wuhan...M*ti kamu.''


Kaisar Jing hendak melempar kembali cangkir ditangannya, namun dengan segera ia meletakan kembali cangkir tersebut diatas meja, ia merasa kesal kepada sang penjaga setianya.


Akan tetapi, ia jauh lebih kesal kepada dirinya sendiri, bagaimanapun ia tahu bahwa Ziaruo tak akan menghianatinya. Namun, hatinya tetap saja merasakan kekhawatiran yang besar saat ini.


''Apakah sekarang mereka sedang menikmati teh berdua?.'' Ucap Jing.


''Mungkin...Bukankah itu salah satu kesopanan menyambut tamu Yang Mulia?.'' Jawab Wuhan.


''Pasti kaisar Murong itu mencuri curi pandang wajah Permaisuri.'' Jing lagi.


''Heeemmzz ..pasti Yang Mulia, tapi dia akan kesulitan, karena Yang Mulia Permaisuri mengenakan cadar.'' Jawab Wuhan lagi.


'' Kau benar, dia pasti sedang menatapnya dengan pikiran buruk untuknya.'' Jing lagi.


''Itu sudah pasti, karena tidak ada Pria yang bisa menolak, pesona Yang Mulia Permaisuri.'' Wuhan menimpali.


'' Kau benar lagi Wuhan, apakah kau juga memikirkan dia dengan cara yang demikian?.'' Tanya Jing.


Mendengar ucapan tersebut, seolah sebuah petir menyambar tubuh Wuhan, pria itu reflek bersujud di lantai ruangan, menundukkan kepalanya sembari berkata. ''Ampuni hamba Yang Mulia...pelayan ini tidak miliki keberanian hingga sejauh itu.''


Tampak jelas ketakutan diwajah pria tersebut. Ketakutan akan terbongkarnya rahasia kecil hidupnya, rahasia yang mengambil seluruh tempat dalam relung hati yang hanya segenggaman tangan besarnya.


Wuhan masih menunduk, dengan kepala menatap tepat kelantai ruangan.


Hingga suara dari arah belakangnya, mengangetkan kedua pria tersebut.

__ADS_1


''Apakah ada yang telah terlewatkan oleh wanita ini Yang Mulai?.'' Tanya sesosok wanita yang baru saja, masuk kedalam pavilliun Yincang.


Ada gurat bahagia terlukis pada wajah Jiang jing wei, namun ada juga rasa kesal disana. Pria itu masih mengembangkan bayangan bayangan kecemburuan dalam pikirannya.


Mengetahui Ziaruo telah kembali, Wuhan sekarang dapat bernafas lega, kecemasan yang mereka bayangkan sesaat lalu kini sirna.


Dengan suara penuh penghormatan, Wuhan meminta izin untuk undur diri.


Kerena Jing tak berkata apapun, maka Ziaruo yang menjawab permintaan izin dari Wuhan. Wanita itu merasa seolah ada keanehan pada diri kaisar Jing saat ini.


''Eeheemmm, apakah wanita ini telah melakukan kesalahan Yang Mulia?.'' Tanya Ziaruo sembari mendekati sang suami, yang kini tengah mengacuhkannya.


''Heemmmzz ..anda tidak menjawabnya, berarti benar ada kesalahan pada diri saya, tapi...mengapa bahkan wanita ini tidak mengetahuinya.'' Lanjut Ziaruo kembali, sembari mendudukan tubuhnya tepat didepan sang kaisar.


Melihat permaisuri didepannya, Jing mulai menuangkan teh kedalam cangkir. Akan tetapi, dengan cepat wanita itu, meraih cangkir dari sang suami meminumnya perlahan, dan kembali meletakkannya di atas meja.


Jing ingin tersenyum, akan tetapi dengan sekuat mungkin ditahannya, ia ingin wanita didepannya tersebut, merayu serta berupaya meredakan kegelisahannya. Jing tengah merajuk.


"Sepertinya tuan rumah tidak menjamu Permaisuri dengan baik, hingga kehausan seperti itu." Ucap Jing dengan nada penuh ketidak nyamanan.


Mendengar hal itu, Ziaruo tersenyum dan menjawab. " Anda salah, sang tuan rumah sangat sopan Yang Mulia, bahkan bisa dikatakan terlalu bersemangat."


"Apa ...bersemangat?, apa maksudmu dengan semangat." Tanya Jing reflek, hingga ia lupa bahwa dirinya tengah berusaha untuk bersikap tidak peduli.


Mendengar hal itu, sebuah suara dari balik pintu menyahut dengan nada khasnya. ''Jangan khawatir seberapapun ia bersemangat, tetap saja ia tak akan berani melakukan apapun, bahkan jika memiliki keberanian, Murongyu tak dapat melakukan keinginannya."


Ziaruo muncul dari balik pintu, mendekati tubuh Ziaruo yang tengah berbicang dengan sang suami, ia tidak mengindahkan tatapan horror pria itu.


''Bagaimana mungkin ada dua Ziaruo sekarang?.'' Gumam dalam hati pria tersebut, dengan mata membulat seolah akan terlepas dari rongganya.


Permaisuri Zing menggerakan tangannya lembut, kearah wanita yang duduk didepan kaisar Jing(Ziaruo yang sampai pertama kali).


"Sret..." Tubuh wanita itu berubah menjadi kepulan asap keemasan, dan menyeruak masuk kedalam lengan baju Ziaruo.


Ziaruo melihat wajah Jing yang kebingungan, ia tersenyum sejenak dan berkata. "Jangan khawatir, Murongyu tak akan bisa melakukan apapun, karena dia hanya tubuh semu dari kabut ilusiku Yang Mulia."


Wanita itu, berhasil menenangkan hati sang kaisar, terlebih lagi saat Ziaruo mendekat mengalungkan kedua tangan pada lehernya.


Dalam sekejap, kecemasannya menghilang tak berbekas sama sekali.


Hati pria tersebut semakin bergelora manakala, Ziaruo mengecup pipi, telinga dan berhenti sesaat pada leher pria tersebut dengan lembut.


''Degup....degup....degup....'' Suara detakan jantung Jing tak lagi dapat disembunyikan. Bahkan, semakin menggila manakala sang istri tercinta membisikan sepenggal kalimat.


"Seharian ini.....Permaisuri sangat merindukan anda Yang Mulia. Tunggu saya sebentar...biar kubersihkan tubuh ini dulu.''


Wanita itu, membuat cetakan guratan tipis dan cantik di leher Jiang Jing wei, membangkitkan rona merah, pada wajah penguasa kekaisaran Zing tersebut, dan pada akhirnya meninggalkannya, membisu disana sendirian, menuju pemandian dibalik kamar tidur mereka.


Di balik gelora hati Jing yang tengah meletup letup, dengan nuansa jingga gair*hnya, Penguasa tersebut kembali terhenyak. "Jika kau tidak ke istana, lalu kemana kau pergi tadi Yun?, jawab aku Yun...Yuuuuun..." Tanyanya kembali sembari berjalan cepat, menyusul sang permaisuri menuju kepemandian.

__ADS_1


''Yuuun...jawab pertanyaanku.''


__ADS_2