Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 170


__ADS_3

''Anda benar.....Sudah sampai disini pada akhirnya...'' Sahut sebuah suara, dari dalam ruangan.


Suara seorang wanita, yang terdengar sangat lembut. Bahkan bagi Ziaruo yang seorang wanita, suara itu seperti sebuah rayuan hebat, yang membuat tubuhnya menggeliat, berjalan cepat, dan dengan kilat mencapai tangga bangunan.


''Kriiieeet...''


Pintu bangunan terbuka secara sendiri. Tubuh Ziaruo terus bergerak, dan kakinya tanpa paksaan melangkah masuk.


Namun, ketika tubuh itu telah melewati pintu utama. Bukanlah sebuah ruangan megah, yang terpampang di depannya.


Melainkan, sebuah telaga yang tampak tidak terawat. Banyak rumput liar yang menjulang tinggi, dan batang, serta ranting kayu mengambang di tepian telaga.


''Mendekatlah, aku ingin melihatmu.'' Ucap suara itu lagi.


Mendengar jelas, namun tidak menemukan seseorang disana, Ziaruo tetap tenang. Ia hanya tengah menelisik, mencari keberadaan sumber suara.


''Maaf saya tidak melihat anda, namun jika anda tidak keberatan bisakah kita berbicara secara langsung?.'' Ucap Ziaruo, dengan raut wajah yang dibuat seolah sedikit ketakutan.


Mendengar jawaban itu, suara wanita tersebut tertawa dan berkata. ''Haha...haha, Apakah itu takut?, apakah itu keinginan?, ataukan sebuah perintah?. Datanglah lebih mendekat.'' Jawab suara itu lagi.


Kali ini, begitu ucapan itu terselesaikan.


Dari dalam telaga, gerakan riak-riak air mulai terlihat.


Sebuah ujung ekor bersisik, dengan ukuran yang besar muncul, dan menyibak semak-semak dengan cepat, membentuk sebuah jalan.


Dan tanpa rasa takut, Ziaruo berjalan mengikuti ekor yang kembali menarik diri, masuk kedalam air telaga.


''Yun'er menyapa pemilik pondok, maaf atas kedatangan wanita ini tanpa undangan.'' Ucap Ziaruo dengan ekspresi ragu.


Ia merasa yakin, bahwa suara wanita yang ia dengar, berasal dari dalam telaga.


Dan Ziaruo ingin menciptakan, sedikit rasa takut yang nyata, di wajahnya.


Akan tetapi, apa yang ia pikirkan, sungguh jauh dari apa yang di ketahui oleh penghuni telaga.


''Mengapa Anda masih berpura-pura takut Dewi?.'' Jawab suara itu lagi, sungguh membuat hati tak nyaman.''


Mendengar jawaban itu, Ziaruo tertegun sejenak, dan bergumam dalam diam.


''Dia mengenalku.''


Ziaruo tersenyum dan kembali menjawab. ''Dewi apa?, manusia apa?, pada kenyataannya aku hanya seorang ibu yang tak berdaya.''


Setelah Ziaruo mengatakan hal itu, sebuah riak besar air muncul di tengah telaga.


Ziaruo masih diam disana, tak ada ketakutan akan sosok yang akan muncul dari dalam air, dan tak pernah ada niat ia akan pergi menghindar, meskipun nantinya ia ketakutan.


Putranya, bayinya harus selamat, itu yang terpenting baginya sekarang.


Seorang wanita dengan wajah putih memancarkan kilauan bak giok, dengan rambut keemasan keluar dari dalam telaga.

__ADS_1


Namun, pada wajah cantik itu tak menunjukan sebuah penglihatan, atau dengan bahasa lain, ringga mata tersebut kosong, tanpa kornea.


Tubuhnya memanjang, bersisik dengan kedua tangan memegang beberapa bola-bola kecil.


''Apakah aku harus memberi hormat, terlebih dahulu?, ataukah mengajukan menerima permintaan dan pertanyaan anda dahulu Dewi?.'' Ucap sang wanita di dalam telaga.


Melihat pemandangan di depannya, Ziaruo mengerti satu hal, dan Ia tersenyum sinis.


''Jika aku tahu andalah pemilik Yincang, maka tak akan wanita ini bersedia datang.'' Ziaruo.


''Mengapa Dewi begitu arogan?.''


Tanya sang wanita, dengan sesekali menjulurkan lidah hendak menyentuh wajah Ziaruo, sembari meliukkan tubuh, serta mendekatkan wajahnya kearah Ziaruo. Dan sesaat kemudian kembali kedalam telaga.


''Apa yang dapat kuperoleh dari wanita yang berkhianat?.'' Ziaruo.


Mendengar hal itu, wanita di tengah telaga menggeliat cepat, dan menciptakan suara riak yang keras.


''Berkhianat, berkhianat...'' Teriak wanita di tengah telaga keras.


''Aku tak pernah berkhianat, mata itulah yang berkhianat.''


Ucap wanita dengan tubuh ular di dalam telaga dengan keras, wanita yang tak lain adalah Yaksa tersebut, mencengkeram keras, bola-bola kecil di kedua tangannya.


Yaksa wanita dengan hukuman pembuangan, dan di lahirkan kembali sebagai binatang.


Ia dihukum atas kesalahan telah berbuat keburukan asusila(penghianatan).


Dengan kultivasi tinggi, serta tapa ribuan tahun, berhasil memasuki istana kekaisaran Awan sebagai dewi muda disaat itu.


Sebagai dewi baru yang datang ke istana Awan, Wang xiusu sangat populer.


Bahkan setelah ia menikah dengan seorang dewa muda yang sama-sama bekerja sebagai abdi di istana kekaisaran.


Namun, entah apa permasalahan, dan kejadian yang sesungguhnya. Pada akhirnya Wang Xiusu di nyatakan bersalah.


Namun mengingat kerja keras dalam kultivasi, dan tapanya, Wang Xiusu di buang ke celah dimensi tak bertuan, serta dilahirkan sebagai binatang.


Ziaruo tak pernah melihat, atau bertemu Wang Xiusu secara langsung, namun baginya bukan hal sulit, mengetahui siapa wanita depannya sekarang.


''Bagi dunia Awan, aku berkhianat, bagi dunia langit aku makluk rendah. Namun bagi duaniaku, aku adalah dewi. Bagi Yincang aku adalah peraturan dan kekuasaan.''


Yaksa menggerakkan tubuhnya maju, wajah tak bermata itu mendekat kearah Ziaruo sekali lagi, begitu ia menyelesaikan ucapannya.


Dari dalam mulut dengan bibir tipis itu, muncul sepasang lidah kecil bercabang, yang menjulur kearah Ziaruo.


''Anda pastilah sangat cantik, bahkan dengan tubuh rendah ini, anda masih memancarkan pesona, Yang Mulia.'' Ucap Yaksa, di antara desisan yang keluar dari bibirnya.


''Hentikan, kau membuatku ingin muntah.'' Jawab Ziaruo tegas, dan itu membuat Yaksa, memundukrkan bagian atas tubuhnya kembali.


''Anda memang pantas menjadi sombong, bahkan dalam wujud rendah sekarangpun masih arogan, sungguh permaisuri kekaisaran awan yang tersohor.'' Yaksa.

__ADS_1


''Baiklah...Apa yang anda inginkan?. Bukankah anda datang dengan sebuah permintaan?.'' Tanya Yaksa lagi.


Ia tidak merasa kesal, ataupun marah dengan perkataan Ziaruo.


Baginya kedatangan wanita itu kesana adalah sebuah keberkahan.


Dan tentu saja ia tidak akan mengungkapkan hal itu.


Di dalam kehidupan dunia Awan, putra dalam rahim Ziaruo tidak pernah ada, di dalam kehidupan manusia yang ia jalani, bayi itu tak akan pernah terlahir, dan telah ditakdirkan ikut terkubur bersama kematian Ziaruo sebagai manusia.


Wanita itu memahami apa yang dihadapi oleh wanita dewi yang ia puja di depannya.


Namun, sisi iblis dan ketamakan yang terlahir bersama tubuh binatang miliknya, tidak membiarkan kebaikan datang kepada orang lain, dengan mudah.


''Jika kedua dunia tak lagi memberi harapan, mengapa anda masih berfikir untuk meminta kepada saya Dewi?.'' Yaksa.


Ziaruo masih diam, tangannya memutar manik waktu pemberian sang Guru.


Ia melihat warna ungu pada manik pertama, telah memudar.


Ada sedikit kernyitan pada kening Ziaruo.


Namun, dengan cepat ia kembali tenang.


''Lalu apakah kau yakin bisa membantuku?.'' Tanya Ziaruo. Tenang.


Mendengar hal itu, Yaksa tertawa dengan keras. Tiba-tiba saja, wanita itu menampilkan kebahagiaan pada wajahnya.


''Tentu saja tidak Yang Mulia...Haha..haha..haha.'' Jawab wanita Yaksa, dengan cepat.


Ziaruo kembali mengernyitkan kening. Dengan tubuh manusia sempurnanya sekarang, emosinya mudah terpancing.


Bahkan, menghadapi sosok yang dianggap rendah, bagi Clan Awan di depannya, ia sudah terpancing amarah.


''Tapi, makluk rendah ini memiliki pemecahan dan solusi terbaik Dewi.'' Lanjut Yaksa, masih dengan desisan, serta tangan yang memainkan bola-bola kecil.


Disana, Ziaruo baru menyadari, bahwa benda-benda kecil itu, adalah bola mata dari beberapa makluk yang berbeda.


Rasa jijik, dan bahkan ingin muntah mulai menjalar di hati, pikiran, bahkan kini bergerak perlahan dari perut keujung tenggorokannya.


''Katakan, aku tak memiliki waktu banyak.'' Jawab Ziaruo tegas.


''Anda tak perlu membayar apapun kepadaku Dewi seperti yang lain. Cukup tinggal disini hingga bayi itu terlahir.'' Jawab Yaksa, dengan wajah tersenyum.


Mendengar jawaban yang tidak terduga tersebut, Ziaruo seolah menerima tamparan yang kuat.


Bagaimana mungkin dirinya akan tinggal disana?.


Hanya mereka yang dinyatakan tidak layak, kaum rendah, dan berbuat keburukan saja, yang akan tinggal disana.


Melihat raut terkejut dari wajah Yun'er, Wanita setengah ular di dalam telaga tersenyum.

__ADS_1


''Jika itu saya, maka tidak akan bayi yang bahkan belum berwujud tersebut, menjadi penghalang untuk kembali kekhayangan.'' Ucap sinis Yaksa.


__ADS_2