
Di istana kekaisaran Tang.
''Yang di mulyakan, putra langit pengayom kekaisaran Tang memasuki ruangan.''
Suara seorang kasim, mengumumkan kedatangan kaisar Canzuo pada pertemuan pagi ini.
Seorang pria dengan tubuh gagah, rambut ikal, serta sorot mata yang cerah, memasuki ruangan.
Dimana, disana puluhan abdi militer, serta para pejabat tinggi kekaisaran sudah duduk pada tempat mereka masing masing.
Mendengar suara sang kasim mengumumkan kedatangan kaisar Canzuo, semua orang yang disana berdiri dari duduknya.
Dengan tangan yang di letakan di depan dada, serta tubuh sedikit membungkuk, mereka berkata. ''Semoga Yang Mulia kaisar panjang umur.''
''Bangunlah....'' Jawab Canzuo dengan penuh wibawa.
Pria tersebut memerintahkan semua orang untuk bangun, setelah ia berdiri tepat di depan kursi kebesaran kekaisaran Tang.
Sebuah ucapan dengan makna, bahwa semua orang telah diizinkan, untuk duduk ketempat mereka kembali.
Dan di atas sana, kaisar yang masih terbilang muda tersebut, juga mendudukkan tubuhnya pada kursi megah, singgasana kekaisaran Negri Tang.
Sebuah kursi kejayaan yang merenggut, semua perasaan kasih sayang sebuah keluarga miliknya.
Dan pria di atas sana, telah melalui segalanya sejak di usia muda. Kehilangan ibu yang melahirkan, kehilangan saudara, juga sahabat yang menjadi kepercayaannya.
Bahkan, ia juga telah menghilangkan keluarga dari kerabatnya sendiri, juga menjadi Pelenyap orang yang mempercayainya, demi kursi megahnya sekarang.
Canzuo, adalah kaisar dengan integritas, kecerdasan serta kemampuan politik tinggi.
Akan tetapi, ia bukanlah pria dengan kepribadian baik dalam rasio umum, serta bukan pula seseorang yang patut diberikan kepercayaan.
Untuknya, segala hal adalah tentang dirinya, tahtanya, dan juga egonya.
Siapapun, dan di manapun dia adalah dirinya, mereka untuk dirinya, dan semuanya tentang apa yang ia inginkan.
Hal ini berawal dari beberapa tahun yang lalu. Ketika dirinya tengah memperoleh, sebuah pukulan hebat, atas penghianatan sang pengawal setia dan juga orang terdekatnya.
Canzuo, dilempar dari kereta kuda, dalam keadaan yang setengah sadar. Tubuhnya penuh dengan memar bekas pukulan, serta beberapa luka pada Wajahnya.
''Kau harus membenci nasibmu sendiri, salahkan dirimu karena lahir sebelum pangeran Canwuyo.'' Ucap salah satu penjaga bayangan, di dalam Kereta sebelum menusuk dada kiri canzuo. Pria dengan tubuh tegap itu, bahkan tega melemparkan sang tuan muda, ketengah arus deras sungai.
Mereka, mengira pangeran pertama canzuo, telah meninggal.
Dan hal itu berdasar. Meskipun bukan karena luka pukulan serta tusukan mereka, pemuda tersebut juga bisa meninggal karena tenggelam, atau bahkan juga di makan oleh buaya sungai.
''Sungguh permaisuri sangatlah kejam, bahkan dia adalah putra dari kakaknya sendiri.'' Ucap satu dari orang orang tersebut, yang masih samar terdengar di telinga canzuo.
Di tengah rasa sakit atas luka lukanya, Canzuo merasakan kemarahan yang hebat.
Dengan sisa nafas yang tercekat di leher, ia bergumam pelan. ''Bahkan, gelar serta keturunan darah kekaisaran tak dapat menjamin keselamatanku.'' Pikir Canzuo dalam kepiluan hatinya.
__ADS_1
''Ternyata Raga dengan jiwa ini tak lagi berharga.....Jika saja, aku mampu menghancurkan mereka semua, maka segalanya adalah pantas.''
Sepenggal ucapan yang penuh dengan amarah, serta keputus asaan, memberikan Canzuo keajaiban.
Sebuah kehangatan, di sela rasa dingin, serta perih atas kesakitan di tubuhnya yang terendam air sungai, menyeruak membungkus tubuh pemuda tersebut.
''Karena jiwamu tak berharga, maka berikan itu kepadaku.'' Sebuah suara pelan, masuk ke indra pendengaran sang pangeran.
Suara tersebut layaknya bisikan di telingan Canzuo.
''Jika kau memberikan sesuatu kepadaku, maka aku juga akan memberikan apapun yang kau inginkan.''
Suara itu menggema di telinga canzuo, meresap, serta melekat kedalam relung hatinya.
Dengan tubuh yang tak lagi dapat ia gerakan, pemuda tersebut berkata dengan lirih. ''Jika jiwaku dapat di tukar dengan keinginanku, maka aku tak lagi membutuhkannya.''
Ucapan canzuo mungkin layaknya hanya sebuah bisikan saja, akan tetapi sangat jelas bahwa dari setiap penggalan kata katanya, menyaratkan sebuah kemarahan yang mendalam.
Hingga pada akhirnya, pemuda tersebut tak sadarkan diri, serta tak dapat mengingat apapun lagi.
Dan selang satu pekan kemudian, kekaisaran Tang di kejutkan dengan kembalinya sang pangeran pertama, secara misterius.
Seorang pelayan yang bertugas membersihkan pavilliun, kediaman pangeran Canzuo. Dikejutkan dengan keberadaan sang pangeran, yang tengah tertidur pulas di atas ranjang.
Padahal sudah hampir 7 hari terakhir, sejak pangeran itu menghilang, semua orang yang di kerahkan untuk mencari keberadaannya, tidak dapat menemukan jejak apapun.
Akan tetapi, tiba-tiba saja sang pengeran dengan cara yang misterius, telah berada di bilik kamar pavilliun miliknya, dalam keadaan baik baik saja.
Akan tetapi, ada sedikit perubahan mencolok semenjak ia menghilang, sikap serta kepribadian Canzuo seolah berubah-ubah.
Terkadang ia penuh kelembutan, sopan, dan ada kalanya ia tampak menyeramkan.
Namun, smua hal itu tidak menjadi perhatian khusus bagi orang dilingkup istana.
Karena setelah kembalinya pria tersebut, banyak timbul keanehan di istana kekaisaran.
Satu persatu, keluarga royal dari kaisar Tang, khususnya para pangeran yang mulai tumbuh dewasa, terserang penyakit aneh, yang tidak dapat di sembuhkan.
Tiga hari setelah terserang penyakit tersebut, mereka akan meninggal dengan darah mengalir dari setiap panca indra di tubuh mereka.
Dan hal itu juga menyebar sangat cepat, hingga ke istana dalam (kediaman para istri sang kaiasar), bahkan permaisuri dan beberapa selir kesayangan kaisar Tang (ayah Canzuo), yang memerintah saat itu juga meninggal akibat penyakit tersebut.
Dan bukan hanya itu saja, para penjaga bayangan kepercayaan merekapun, banyak yang terjangkit, bahkan seluruh keluarga dari abdi tersebut, juga tak lolos dari penyebaran wabah mengerikan itu.
Hingga seorang misterius datang, memberiikan pertolongan kepada mereka.
Pria misterius tersebut, pergi dari kekaisaran Tang, setelah menyembuhkan pangeran Canzuo, yang juga terkena dampak dari wabah tersebut.
Oleh karena kejadian ini, untuk memperingati semua orang yang meninggal akibat wabah saat itu, Kaisar Tang mengusulkan pada setiap tahunnya, untuk diadakan hari berkabung selama 3 hari.
Didalam satu tahun akan ada 3 hari bagi seluruh rakyat negri Tang, berdiam diri di rumah masing masing, untuk berdoa kepada sang pencipta, serta bersedekah.
__ADS_1
Dan 3 hari kemudian untuk festifal tahunan, sebagai bukti kebahagiaan, atas berhasilnya sang penolong, yang telah dapat menghentikan penyebaran wabah mematikan tersebut.
Back to story.
Seorang kasim mendekat kearah kaisar, sembari membawa sebuah nampan dengan beberapa gulungan diatasnya.
Gerakan pria itu, sangat jelas menyiratkan penghormatan yabg besar untuk sang kaisar muda. Kasim tersebut meletakan nampan, di atas meja, tepat depan sang kaisar.
Dengan tubuh membungkuk serta wajah kembali menunduk, pria itu menjauh dari sana, setelah meletakan apa yang ia bawa.
Kaisar Canzuo meraih gulungan, membacanya dan meraih kembali gulungan yang lain, setelah meletakan gulungan pertama yang telah ia baca.
Dan hal itu ia lakukan hingga semua gulungan selesai ia baca semuanya.
Karena kebetulan pagi ini, hanya beberapa saja, tidak seperti biasanya yang bahkan hingga mencapai puluhan gulungan.
Kaisar Canzuo meletakan gulungan terakhir, dan meraih sebuah cangkir teh, yang di bawa oleh seorang kasim lain disampingnya.
''Hari ini, rombongan dari Negri Xili, dan juga kekaisaran Zing telah memasuki pintu perbatasan Tang.'' Ucap Kaisar Canzuo, setelah meminum tehnya, sembari meletakan kembali cangkir tersebut, pada nampan yang di pegang oleh sang kasim.
''Apakah semua persiapan telah selesai?.'' Lanjut sang kaisar kembali.
Mendengar pertanyaan tersebut, seorang pejabat dari deretan orang yang berada di sana, berdiri dari duduknya..
Pria paruh baya tersebut, berjalan kedepan, membungkuk sejenak untuk memberi hormat.
''Semoga yang mulia selalu sejahtera.
Hamba menteri kanan dari biro pertahanan, menjawab atas pertanyaan paduka.'' Jawab sang menteri, dengan wajah menunduk.
''Semua persiapan telah dilakukan Yang Mulia. Rombongan telah menerima pengawalan, dari para prajurit terpilih dibawah arahan wakil jendral Chang, secara langsung sejak memasuki perbatasan kekaisaran.''
''Lalu bagaimana dengan utusan yang telah tiba lebih dulu?.'' Tanya Canzuo kembali.
''Para utusan( kekaisaranYao, kekaisaran Ming, dan kekaisaran Bai) telah di jamu dengan baik Yang Mulia. Utusan dari ketiga negara tersebut di tempatkan di istana sayap kiri.'' Lanjut sang mentri, dengan kepala yang masih menunduk.
''Bagus...Aku tak ingin mereka merasa, kita tidak melayani dengan baik, ingat... jangan sampai ada kesalahan.'' Ucap sang Kaisar kembali.
Mendengar hal itu, Mentri pertahanan, yang juga sekaligus jendral besar Gu menjawab. '' Hamba mengerti Yang Mulia.''
Melihat kepatuhan serta penghormatan dari sang mentri, yang sekaligus ayah mertuanya tersebut, Canzuo merasakan kepuasan.
''Oh ya, selamat kepada Anda mentri, sebentar lagi anda akan menjadi kakek.'' Sambung Canzuo kembali.
Mendengar ucapan, serta raut wajah bahagia dari kaisar muda itu, baik mentri kanan Gu dan semua orang yang disana terkejut.
''Selamat Yang Mulia kaisar.'' Ucap semua orang yang di sana hampir bersamaan.
Mendengar ucapan selamat dari semua orang yang disana, Canzuo tersenyum tipis, dan bergumam dalam diamnya.
''Berikan selamat itu, setelah kalian melakukan tindakan kalian.''
__ADS_1