Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 149 Menambah selir.


__ADS_3

Menyaksikan hal tersebut, mata Jing membulat beberapa saat. Bahkan, ketika sepasang pelayan cantik, dengan wewangian bunga lembut pada tubuhnya, telah tepat berada di depan meja mereka berdua.


''Yang Mulia, apakah anda tengah memohon untuk menambah selir lagi?.'' Tanya Ziaruo tiba-tiba, ketika melihat ekspresi milik Jing.


Pria itu, memang membulatkan mata sejenak.


Karena ia terkejut, atas kebenaran peringatan, serta ucapan sang istri beberapa saat yang lalu.


Dan bukannya kagum melihat kecantikan, kedua wanita di depannya saat ini.


Mendengar ucapan Permaisuri Yun yang demikian frontal, Jing semakin membulatkan mata.


Dengan suara yang setengah terbata, pria itu menjawab. ''Bagaimana itu mungkin?, Yun kau....''


Sementara itu, di tengah perbincangan mereka, ada dua pasang mata tampak bersinar cerah.


Sempat terlihat jelas, sebuah senyum kecil di bibir tersebut.


''Yang Mulia paduka Kaisar Zing, dan Yang Mulia Permaisuri, silahkan anda menikmati hidangannya.'' Ucap salah satu pelayan cantik, mulai membuka mulut, dan meletakkan hidangan, berupa kue kue kecil, serta teko dan cangkir minuman yang baru, untuk menggantikan setiap hidangan yang telah tersaji sebelumnya.


Wanita pelayan itu, terlihat luwes serta anggun, dengan senyum cantik terpasang di bibir mungil yang ranum milik mereka. Tampak jelas kepercayaan diri dari keduanya.


Dan alasan dari semuanya, karena mereka telah mendapat dukungan, serta mengemban tugas penting, dari orang paling berkuasa di kekaisaran Tang saat ini.


Bagi setiap wanita-wanita pelayan tersebut, tugas untuk memperoleh perhatian, serta minat dari semua tamu undangan yang hadir atas diri mereka, harus dapat diselesaikan dengan baik.


Khususnya, bagi kedua pelayan wanita yang kini berada, di depan meja Ziaruo dan Kaisar Jing.


Jika hal itu tidak terjadi, maka akan ada sebuah hukuman yang menunggu keduanya, setelah acara ini usai.


Oleh karena itu, mereka yang hadir sekarang adalah para pelayan pilihan, atau yang sengaja di persiapkan, khusus untuk pesta saat ini.


Dengan kemahiran, serta tampilan yang di percantik perhiasan, dan busana mewah, mereka terlihat jauh lebih indah dan menggoda, dibandingkan dengan pelayan-pelayan lain, pada umumnya.


Keberanian mereka dipoles, hingga batas akhir rasa malu yang mereka pelajari sejak kecil.


Oleh karena itu, wanita yang kini berada di depan Jing, sesekali akan sengaja bergerak gemulai, bahkan terkadang tampak ero*is, dengan kelembutan yang memikat.


Mereka tampil senatural mungkin, menyapa, mengerlingkan mata indahnya, bahkan menyentak lembut kearah beberapa bagian tubuh Kaisar tersebut.


Dengan gaun-gaun indah yang seolah kurang bahan, dan di padu-padankan perhiasan mewah, para pelayan tersebut tampak seperti sebuah gambaran seorang putri, yang tak pernah tersentuh siapapun.


Akan tetapi, dengan kemampuan yang mempuni, keduanya tetap tidak dapat menggugah minat pria itu.

__ADS_1


Sehingga gambaran yang terlihat disana, seperti seorang dewi yang sedang berusaha bermanja kepada petapa.


Menyaksikan hal tersebut, Ziaruo tersenyum di balik cadarnya.


Dengan tatapan mata setenang laut dalam, ia kembali berkata kepada sang suami. ''Yang Mulia...Bukankah mereka sangat cantik?, apakah anda tidak tertarik?.''


Mendengar perkataan itu Jing tersenyum, ia tahu dengan benar bahwa permaisurinya kini, tengah membuat sebuah jebakan untuk dirinya.


Dan tentu saja, pria tersebut tidak akan mengambil wanita lain lagi, di dalam hidupnya. Tidak sekarang, dan tidak di masa yang akan datang.


Baginya telah jelas, bahwa mengambil wanita lain disisinya, akan menyakiti wanita itu (Yun).


Terlebih lagi, jika ia sampai memberikan perhatian, ataupun sedikit kasih sayang kepada wanita lain, maka hal buruk akan terjadi diantara dirinya, dan sang Permaisuri.


Bahkan, tidak akan menutup kemungkinan, wanita tercintanya tersebut, akan pergi dari sisinya dan tidak akan dapat ia temukan kembali.


Membayangkan hal itu saja, Jing sudah ketakutan.


Jiang jing wei berakhir menatap kedua pelayan, yang kini berusaha untuk ikut duduk tepat di sampingnya.


Tampak jelas, senyum indah pada wajah-wajah itu, ketika ia melihat dan kebetulan manik mata mereka bersitatap.


''Sia*an, kalian ingin memperpendek hidupku.'' Gumamnya dalam hati.


Ada kemarahan, yang terpancar dari sorot mata miliknya.


Bahkan, pria tersebut juga sempat memberikan senyum kecil, ketika ia menoleh kearah Permaisuri Yun.


Sementara, mendengar serta mengetahui pemikiran dan sikap sang Suami, Ziaruo kembali terkekeh.


Ia mengetahui di balik senyuman itu, tersimpan banyak kemarahan, atas kedua pelayan di depannya.


Namun, bukan hal itu saja yang membuatnya terkekeh.


Diatas setiap kegeraman sang suami, nyatanya tepat di depan Ziaruo, terdapat dua pemikiran yang berbeda.


Sebuah pemikiran yang berbanding balik 360º, dari pemikiran Jiang jing wei sang suami.


Pelayan itu berpikir, bahwa Kaisar dari negri Zing, tengah menaruh perhatian kepada mereka, atau dengan bahasa lain, Jing sedang tertarik dan menginginkan keduanya.


Maklum saja, siapa yang dapat menolak pesona mereka. Secara keduanya adalah wanita- wanita, yang memperoleh gelar sebagai wanita tercantik, di kekaisaran Tang.


Sehingga hal itu membuat kedua pelayan tersebut, memiliki gambaran serta angan-angan, kehidupan yang jauh lebih layak, dari hidupnya sekarang dimasa depan.

__ADS_1


Yaitu sebagai istri, atau bahkan hanya sekedar wanita singgahan sang Kaisar negri Zing.


''Seandainya anda dapat melihat pemikiran mereka Yang mulia.'' Ucap Ziaruo di balik kekehan kecilnya.


Melihat sang Permaisuri yang tengah tersenyum, hati Jing meradang.


Namun, tidak juga ia pungkiri bahwa, ada juga kelegaan pada hatinya kini, ketika melihat serta mendengar kekehan kecil Permaisuri tercintanya.


''Tidak buruk...'' Pikirnya dalam diam, sembari melihat Ziaruo dengan senyum kecil di bibirnya.


Jing beralih menatap kedua pelayan di depannya, dan berkata. ''Apakah kalian bersedia untuk ikut pria ini kembali ke negri Zing?.''


''Jeblaaaarrrr...''


Sebuah pertanyaan yang hampir saja membuat kedua pelayan tersebut, terkena serangan jantung dadakan.


Pasalnya, kedua pelayan itu mendengar banyak hal, tentang pria yang kini duduk di depannya tersebut.


Seorang Kaisar dengan banyak tanah rampasan yang luas, kekayaan yang melimpah, serta keangkuhan yang tinggi.


Akan tetapi, bukan hanya itu saja, bahkan pria dengan status tak biasa tersebut, juga terkenal sulit dan dingin.


Namun pada kenyataannya, kali ini mereka dengan mudah memperoleh sebuah kesempatan. Bahkan, hal itu terjadi, tak membutuhkan usaha yang berarti sama sekali.


Seakan mendapatkan sebuah keberkahan, bak ibarat kejatuhan durian runtuh.


Keduanya buru buru bersujud dan berkata. ''Terimakasih Yang Mulia....Sebuah kehormatan besar bagi pelayan ini, dan dengan sepenuh hati, kami akan mengabdikan diri kepada Paduka.''


Ziaruo yang menyaksikan hal tersebut, semakin terkekeh.


Seolah ia tengah melihat sebuah keunikan, kelucuan, serta keindahan tayangan live di sebuah drama, seperti di kehidupan moderennya dulu.


Padahal, di balik kekehan kecil miliknya, sang suami tengah di dera sebuah kegeraman, yang teramat besar.


''Sempurna...'' Ucap Ziaruo pelan.


Wanita itu tampak memancarkan rona bahagia, dari setiap jawaban kedua pelayan tersebut.


Dan hal inilah yang membuat Jing, masih dapat mentolerir sikap mereka.


Bagi Jing, setidaknya sang Permaisuri merasa terhibur, dengan kekesalannya saat ini.


Namun, berbeda dengan pemikiran pria itu.

__ADS_1


Ketika mendengar perkataan sempurna dari Permaisuri. Salah satu wanita pelayan tersebut, tersenyum sekilas, dan bergumam dalam diamnya.


''Sempurna....Dan pada akhirnya nanti, aku akan menggantikanmu.''


__ADS_2