
''Mungkin jika ia dilahirkan bukan karena sebuah hukuman, atau jika tidak memiliki ingatan tentang kehidupan terdahulu. Maka, di dalam seluruh kehidupan yang dimiliki wanita ini sekarang, Anda adalah pria satu satunya.'' Ziaruo.
Ziaruo mengatakan semuanya dengan wajah sendu, serta menundukan wajah dalam-dalam.
Bagaimanapun, sebuah hukuman tak akan membiarkan orang mendapat kemudahan.
Dengan ingatan, serta ketentuan yang ada.
Ia terlahir kembali, menjalani kehidupan baru, dan takdir baru.
Akan tetapi, tetap dengan pengetahuan, serta ingatan lama yang dimiliki, Ziaruo harus menyaksikan cintanya menemukan cinta lain.
Dengan hati yang masih memiliki kasih sayang sama seperti sebelumnya, melihat kedukaan dari pria yang ia cintai, namun tak dapat menghiburnya.
Bahkan, dengan kenangan dan kasih sayang diantara mereka, keduanya tidak memiliki takdir untuk bersatu.
Di kehidupan ini, pria itu adalah siksaan, serta rasa pedih dari hidupnya.
Dan begitupun juga sebaliknya, Ziaruo juga kutukan untuk sang pria.
Mata Ziaruo menerawang diantara manik mata jing, yang kini mulai berkaca-kaca.
''Yuuun....'' Panggil Jing lagi, dengan suara lirih.
Ia berharap, saat ini terbebas dari belenggu, dan memberikan pelukan untuk Ziaruo.
''Namun, mengapa saya harus menjadi penyebab penderitaan, bagi mereka, bahkan... anda juga.''
Ziaruo kembali mengatakan sebuah ucapan yang menghimpit hati, serta pikirannya selama ini.
Wanita itu tak dapat menyimpannya lagi.
Selama ini, ia terlihat hebat dan kuat dimata orang lain.
Namun, pada kenyataannya sejak ia diturunkan ke dunia manusia, Ziaruo banyak mengalami penderitaan.
Meskipun, bukan sebuah luka pada tubuh, atau luka yang dapat di lihat oleh orang lain.
Namun, dirinya benar-benar melalui keseharian dengan penuh kecewa, serta kepedihan hati.
Dan Jing memahami akan hal tersebut.
''Yuuun... '' Panggil pria itu sendu.
Ia sangat ingin merengkuh tubuh sang istri saat ini. Membawanya dalam dekapan, menenangkan, serta menyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Bahkan, Ia rela dengan apapun, asalkan masih bisa bersamanya.
Namun, dengan tubuh kaku saat ini, Jing tak dapat melakukan apapun.
Hanya mendengarkan, apa yang mengalir keluar, dari bibir wanita itu.
__ADS_1
Jing mendengarnya jelas. Bahkan, ia juga merasakan kepedihan, diantara setiap deretan ucapan sang istri.
Perkataan dengan nada lirih dari ziaruo, nyatanya ibarat sebuah sayatan-sayatan tajam dalam hati jing.
Terlebih lagi, ketika sang wanita tercinta, bercerita tentang pria lain dalam hidupnya, serta menampilkan ekspresi sendu, ketika menyebut nama Murongxu.
Akan tetapi, entah kebodohan mana yang membuatnya berpikir, bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Jing telah rela, meskipun jika wanita itu memiliki hatinya untuk pria lain.
Ia akan tetap menerima, selama wanita itu, tetap berada di sisinya.
Sejak lama Jing telah mengatahui, bahwa Ziaruo bukanlah seperti orang pada umumnya.
Bahkan, ia juga mempercayai tentang rumor yang beredar, bahwa sang permaisuri, adalah dewi yang di kirim dari langit, sebagai pemegang takdir wanita penguasa (phonix/ permaisuri) terpilih, seperti yang diramalkan.
Jing juga meyakini, bahwa jauh-jauh sebelum kehidupannya sekarang. Wanita itu adalah Ziayun miliknya, wanitanya, kekasih hati, dan bahkan dia adalah wanita yang akan menjadi Permaisurinya, di negri kegelapan Atas awan.
Dalam pikiran Jing, ia hanya menerima kembali apa yang harus menjadi miliknya.
Jiang jing wei menatap kearah Ziaruo, merasakan sakit atas setiap kesedihan, dari Permaisurinya tersebut.
''Yun...lepas..lepaskan totokan...in.ni.'' Pinta Jing lagi.
Sebanyak apapun Jing memanggilnya, Ziaruo masih saja tidak mendengar, wanita itu masih meneruskan apa yang ia ucapkan.
Menyesali diri, atas sesuatu yang telah digariskan untuk jalan hidupnya sekarang.
''Tidak!, semuanya bukan salahnya, dia tidak melakukan apapun dengan sengaja.'' Pikir Jiang jing wei.
''Maafkan aku Jing, keegoisanku sungguh buruk. Pada awalnya aku ingin menggunakan status, serta kekuasaan yang Anda miliki, untuk ketenangan sisa perjalananku di dunia ini. Aku tidak berpikir, bahwa semuanya akan menyakitkan.'' Ucap Ziaruo lagi.
Perlahan Ziaruo mengangkat wajahnya, membawa manik mata coklat itu, dan menatap lurus pada manik mata suaminya.
''Maafkan aku...maaf.'' Sambungnya lagi.
Mendengar ucapan itu, Jing kembali pilu, dengan nada di atur setenang mungkin, ia bertanya. ''Apakah sedikitpun dihatimu tak memiliki tempat untukku Yun?, didalam hatimu apakah aku tak pernah ada?.''
Jiang jing wei, meluncurkan pertanyaan, untuk menghentikan wanita tersebut meminta maaf.
Akan tapi, di balik ucapan tersebut, ia juga ingin mengetahui, serta memastikan arti dirinya untuk Ziaruo.
Ziaruo masih menatapnya lekat. Sejenak bola mata coklat tersebut membulat, namun sesaat kemudian mata itu kembali sayu.
Dan dengan di iringi senyum lembut pada bibirnya, Ziaruo kembali berkata. ''Jing adalah suamiku, priaku, bahkan jika tanpa ingatan dimasa lalu, mungkin di kehidupan ini, hanya Jing-lah satu satunya pria untukku.''
Ziaruo mengatakan semuanya, dengan posisi masih sama, dan terlihat jelas tanpa keraguan.
Mendengar hal itu Jing membulatkan mata, ia menatap Ziaruo penuh rona bahagia.
''Itu cukup Yun....Sudah sangat cukup. Kau tahu bertemu denganmu dan mendengar semuanya aku merasa bahagia.'' Sahut Jing.
__ADS_1
''Jadi hentikan semuanya. Apapun, dan siapa Ziaruo baik itu dulu, ataupun nanti, pria ini akan selalu menjaga dan mencintaimu.''
''Jikapun kau bersalah, percayalah itu sudah kumaafkan sebelum kau memintanya.'' Sambung pria itu kembali.
''Jing....'' Seru Ziaruo memanggil nama sang suami.
Wanita itu menyandarkan keningnya pada dada bidang Jing.
Ia merasa segalanya, menjadi lebih baik setelah mengungkapkan, apa yang tersimpan di dalam hati.
Hening.....
Setelah beberapa saat, Jing menyadari bahwa Permaisurinya sekarang, sedikit lebih tenang.
Dengan suara khas miliknya ia kembali berucap. ''Tapi Yun...bisakah totokan ini di lepas dulu?, aku merasa tidak adil jika hanya kau saja, yang dapat seenaknya menyentuh tubuhku.''
Mendengar candaan sang suami, Ziaruo perlahan mengangkat kepala, menarik diri dari dada bidang sang pria tersebut.
''Eeem...'' Sahutnya pelan, sembari melakukan gerakan ringan, membuka totokan di tubuh Jiang jing wei.
Tak menunggu waktu yang lama. Begitu Jing terbebas, dengan cepat pria tersebut meraih tubuh Ziaruo, dan memeluknya erat.
''Jangan lakukan kebodohan seperti itu lagi, kau membuatku ketakutan.'' Ucapnya lembut.
Pria itu mengatakan apa yang sebenarnya.
Diawal-awal ia menyadari Ziaruo memberikan batasan pada tubuhnya (totok), Jing benar-benar ketakutan.
Ia berpikir bahwa Ziaruo akan pergi, dan menghilang.
Dan meskipun hal itu tidak terjadi, ketakutannya berubah menjadi kepedihan, dengan setiap untaian ucapan wanita tersebut.
''Kau wanita terb*doh yang pernah kutemui. Bagi seseorang yang mencintai dengan tulus, tak pernah ada keburukan untuk sang kekasih dimatanya.
Bahkan jikapun itu memang kesalahan, akan selalu ada jalan pembenaran pada setiap titik celah.'' Sambung Jing lagi.
Jing masih saja memeluk wanita itu, bahkan ketika ia telah mengangkat, serta membaringkan sang permaisuri di atas ranjang.
''Beristirahatlah dengan tenang, jangan menyakiti diri sendiri, atau ia juga akan merasakannya.''
Jing mengatakan itu, sambil menunjuk perut Ziaruo, dengan ujung ekor mata miliknya.
Menyadari arah tatapan Jing. Ziaruo mengusap perutnya lembut dan menjawab. ''Anda benar, bahkan aku sempat melupakannya, bahwa di sini telah tumbuh kebahagiaan, serta harapan untuk kita.''
Jing membawa tubuhnya semakin ringsek kearah tubuh Ziaruo, ia ingin memberikan kehangatan tubuh untuk wanita itu.
''Dia putra kita....dan akan selalu menjadi kebahagiaan terbesar diantara kita Yun.'' Ucap Jing.
''Yakinlah, bahkan jikapun nanti kau telah....
Aku akan tetap menjaganya dengan baik'' Lanjut Jing dalam diamnya.
__ADS_1