
Buritan perahu tak pernah tahu menahu, tentang kemana dan ke arah mana ia akan berayun.
Dirinya hanya bergerak mengikuti irama, serta leguhan ombak lautan.
Membelah sang tirta perkasa, mengarungi mayapada luas samudra.
Begitupun Biyi, dengan keengganan ia harus tetap berjalan menyusuri jalan panjangnya takdir, yang mengharuskan diri sendiri merasa buruk di hadapan orang-orang yang ia kenal dan sayangi.
Seperti hari ini, harus datang ke negri asing dari tempat nyamannya di kekaisaran Tang, menuju pelosok sisi barat yang jauh.
Perjalanan ini sudah barang tentu harus ia lakukan. Bukan untuk tujuan kehidupan yang lebih baik, ataupun sesuatu yang berharga di mata dunia untuk jalan hidupnya saat ini.
Akan tetapi, tentu saja itu berharga untuk kehidupan di masa depan yang lebih panjang.
Pria tersebut, menghentak keras belakang kudanya untuk menapaki, di sepanjang jalan pedesaan agar lebih cepat lagi.
Kuda itu bukan hanya melesat lebih cepat dari kuda lain. Jika orang-orang yang berlalu lalang bukan pemilik mata terlatih, sudah barang tentu tak akan pernah mampu menangkap, sosok yang kini tengah berjaya di atas tunggannya tersebut.
Selama hampir satu setengah hari perjalanan tanpa istirahat, akhirnya sosok Biyi menarik tali kekang kuda yang ia naiki, di depan sebuah pondok kecil.
"Beristirahatlah dulu, satu batang dupa ke depan kita akan kembali."
Seperti sebuah bahasa yang telah akrab untuk sesama jenis di antara mereka, Biyi menepuk lembut tubuh kuda tersebut.
Dan tak menunggu waktu lama setelah perkataan itu terselesaikan, sebuah kabut putih menyelimuti tubuh sang tunggangan.
Menghilang di kehamapaan udara, dan menyisakan sosok pria tersebut di sana sendirian.
''Anda datang tuan." Sapa seorang wanita cantik, yang baru saja membuka pintu pondok.
Biyi masih menatap arah kosong di depannya, sebuah titik letak di mana sang kuda yang ia gunakan, untuk melakukan perjalanan ke sana beberapa waktu lalu menghilang.
"Heem...baru saja tiba." Jawabnya, tanpa menoleh kearah sumber suara.
"Mari silahkan masuk tuan, tidak enak menarik perhatian orang lain." Ucap sang wanita itu lagi.
Dan tanpa menjawab atau menatap kearah suamber suara, pria Biyi melangkah menuju kedalam pondok kecil.
Langkah itu begitu tenang, dan tampak seolah ia tengah memasuki rumah sendiri.
Dan wanita yang tak lain adalah sosok Ruiyin tersebut, kini mengikuti gerak tubuhnya dengan beberapa langkah di belakang.
"Apakah kau melakukan yang kuperintahkan?." Biyi.
"Sudah tuan, dan itu langsung di beli olehnya secara langsung." Ruiyi.
Wanita itu masih menunduk, seolah sosok di depannya adalah seseorang yang paling ia takuti.
Namun, dengan bahasa gerak tubuh yang memberikan penyangkalan rasa takutnya.
Wanita di sana menghamba, serta menunjukkan sisi pemujaan yang pekat kepada pria itu.
"Dan sepertinya, semua sesuai dengan apa yang tuan perkirakan." Tambah Ruiyin lagi.
__ADS_1
Wanita itu masih menunduk ketika ia menjawab pertanyaan dari Biyi.
Sementara ia sibuk mengatur ucapan untuk menjawab, pria di depannya dengan tenang mendudukkan tubuh gagahnya, pada kursi di dalam ruangan tanpa melihat kearah sang wanita.
Melihat Biyi di sana dengan mantap telah duduk. Ruiyin bergerak cepat, untuk menuangkan air kedalam cawan kecil di atas meja.
"Tuan..."
Ia manggil sang pria, dengan hati yang berdebar.
Ada rasa takut tersampaikan dalam sepenggal panggilan yang ia lakukan.
Akan tetapi, di sana juga jelas terlihat sebuah perasaan ingin tahu yang menggelitik hebat.
Biyi meraih benda kecil dengan air di dalamnya, menyesap perlahan, dan sedikit menyipitkan mata, sebelum akhirnya meletakkan kembali di atas meja.
"Kau masih salah melakukan hal sekecil ini, sungguh sia-sia." Biyi.
Mendengar perkataan tersebut, Ruiyin segera menjatuhkan lututnya di atas lantai ruangan.
Dengan kepala yang masih menunduk, ia menjulurkan tangan sembari berucap. "Tuan...pelayan bodoh ini, belum bisa memenuhi harapan anda, mohon sedikit berbelas kasih."
Namun siapa sosok Biyi baginya, dan siapa sosok Ruiyin bagi Biyi. Segalanya bukan seperti yang terlihat.
Setidaknya, tidak sama dengan apa yang menjadi gambaran di dalam benak sang wanita.
Ruiyin memiliki ketulusan hati untuk Biyi, namun pria tersebut tak memiliki apapun untuk di kisah kan, dalam hatinya yang tertutup.
Ia terlahir bukan untuk mengukir kisah sentimental di dunia fana ini, ia hanya akan menjadi satu jiwa yang berkelana dengan rencana untuk mengakhiri perjalanan sang adik seperguruan.
"Perhatikan sikapmu." Biyi.
Pria tersebut hendak berdiri dari duduk, ketika wanita di depannya tersebut kembali membuka suara.
"Tuan..."
Biyi mengurungkan tubuhnya yang hendak berdiri, dan kembali ke posisi semula.
"Katakan!." Ucapnya singkat.
"Apa wanita dan bocah kecil itu memiliki perhitungan dengan anda?."
Suara wanita tersebut masih terdengar gugup, dan ada sedikit tekanan di atas paha yang di berikan jari-jari cantiknya di sana.
Ia..Ruiyin tengah meneguhkan hati dengan keberanian mengajukan pertanyaan tersebut.
Dari pengamatan yang ia lakukan, ia menduga bahwa kedua orang tempo hari, wanita bercadar dan bocah kecil yang ia temui beberapa hari lalu di pinggiran kota, memiliki sangkut paut dengan tuannya tersebut.
Ia juga telah menduga bahwa kemungkinan terbesarnya, wanita di sana adalah sosok yang telah menyakiti atau menyinggung sang tuan.
Karena dari perintah Biyi yang di berikan, bahwa ia lebih ingin dirinya memberikan keburukan kepada wanita bercadar tersebut, dengan memberikan akun penjualan kuda miliknya kepada wanita bercadar, meski ada penawar lain yang jauh lebih tinggi.
Dan jelas ia tahu alasan di balik semua hal yang di perintahkan sang tuan.
__ADS_1
Dengan membeli kuda miliknya, dan secara kebetulan sosok tubuh serta pakaian yang di kenakan oleh wanita bercadar tersebut menyerupai dirinya Secara tak langsung, Biyi ingin menciptakan permasalahan baru untuk wanita itu, dengan sang pewaris Xia yang dingin.
Ruiyin merasa lebih lega ketika memikirkan semuanya.
Dalam hati, ia telah memutuskan bahwa wanita bercadar di sana kemarin adalah juga musuh dirinya.
Di masa mendatang, jika ada kesempatan ia akan menangani wanita itu tanpa ragu-ragu lagi.
Kecuali untuk bocah kecil yang bergerak bersama, yang belum ia ketahui status serta hubungannya dengan sang tuan.
........
Mendengar pertanyaan dari wanita di depannya, Biyi sedikit mengerutkan kening.
Entah apa yang kini bersemayam di dalam pikiran pria tersebut, yang jelas dari gelagat pada tatapan mata yang ia miliki, itu bukanlah sesuatu hal yang baik.
Namun, karena wanita di depannya dalam posisi menunduk, ia tidak mengetahui arah bahaya yang akan datang kepadanya.
"Bukan saya ingin mencampuri.
Namun, entah mengapa wanita ini memiliki sedikit kekesalan yang tak beralasan kepadanya."
Ruiyin sengaja mengatakan hal tersebut, setengah benar dan setengah palsu.
Ia memang kesal kepada sosok yang ia temui beberapa hari lalu, ketika memikirkan hubungan di antara mereka dan sang tuan.
Namun, haruskan ia memiliki perasaan tersebut, ketika dirinya bukanlah siapa-siapa di hadapan pria Biyi.
Ruiyin jelas hanya mencari trik untuk menarik perhatian Biyi.
Seolah, diantara mereka telah terjalin suatu hubungan hati yang saling terpaut.
Dengan kebencian Biyi kepada wanita bercadar, dengan jalinan takdir hati mereka ia juga memiliki kebencian untuk wanita itu.
Sehingga sang tuan, akan sedikit mempertimbangkan hatinya yang mereka kuat, untuk kasih sayang untuk Biyi.
Namun, adakah ikan yang mampu berenang di daratan.
Adakah katak yang mampu merengkuh bulan di langit malam.
Dengan statusnya sebagai wanita pria lain, dan dalam pelarian, ia telah berkhayal tentang sosok Biyi.
Dengan status rendahnya sebagai manusia biasa, ia memiliki hati pembenci untuk wanita dalam putaran kasih di dalam hati pria tersebut, sungguh keberanian yang besar.
Meskipun kasih sayang Biyi bukan abu-abu seperti pria pada umumnya, ia tetaplah sosok adik tersayang yang hanya dirinya yang boleh menindas.
Dalam keegoisan Biyi, ia tak akan membiarkan orang lain untuk melakukan keburukan untuk wanita itu, khususnya tanpa perintah dan rencana darinya.
Dan Ruiyin mulai menginjakkan kaki, ke suatu wilayah yang tak seharusnya ia jamah.
Bahkan sebelum ia memahami siapa dan apa jalinan di antara mereka, ia telah salah dan terjebak dalam khayalan sendiri.
Lebih buruknya lagi, wanita tersebut telah salah, dan lancang.
__ADS_1
Sungguh wanita Ruiyin memiliki keberanian yang besar, secara mengejutkan Biyi tertawa dengan menggelegar.