
Murongyu duduk tenang sendirian, menyesap perlahan isi cangkir, sembari berusaha merangkumkan bayangan sosok yang ingin dilihatnya lagi.
''Bahkan jika pikiranku mengerti dan memahami segala kemustahilan ini, hatiku tetap tak menuruti.''. Murongyu.
''Sebaik apapun dirimu, kau tak akan pernah bisa bersamanya.''. Suara seseorang tengah membuyarkan pikiran Murongyu.
Pria tersebut menoleh ke arah sumber suara. Di sana sesosok tubuh tegap dengan perlahan berjalan mendekat.
Para penjaga yang mengenali siapa sosok itu, dengan cepat membungkuk hendak memberi salam.
''Jangan lakukan itu, aku bukan kaisar Xili.'' Ucap sang sosok yang tak lain adalah Murongxu.
Dalam baris ucapan itu bermakna dua pemikiran.
Dia memang bukan kaisar Murongxu kekaisaran Xili, melainkan kaisar dari negri Atas awan. Meskipun, tubuh yang ia gunakan adalah milik Murongxu kekaisaran Xili.
Akan tetapi, dalam pandangan serta pemahaman dari para penjaga dan Murongyu, perkataan Murongxu hanya bermaksud tentang gelar dan status yang telah ia lepas.
Murongyu yang melihat kedatangan Murongxu, dengan cepat membungkuk dan memberi salam. '' Putra memberi hormat kepada Ayahanda.''
Murongyu tak lagi menyebut pria tersebut sebagai baginda. Karena secara garis besar, perkataan pria yang ia anggap sebagai ayah itu, memang bukan lagi seorang kaisar sekarang.
Sementara, Murongxu yang di sebut demikian tak ambil pusing.
Toh tubuh yang ia gunakan memang milik dari pria kekaisaran Xili terdahulu, hitung-hitung sedikit memberikan tubuh itu keberkahan, dengan menyandang brand Ayahanda di pundak.
''Jangan terlalu formal, aku tak ingin memancing pandangan orang lain.'' Ucap Rongxu datar.
Seolah dalam bait kalimat di atasi, ia tak memiliki ekspresi sama sekali untuk dirinya.
Dalam keterkejutan Murongyu saat ini, ia juga merasa heran dengan kehadiran sang Ayah disana.
''Apakah ayahanda masih mengikuti Ziaruo selama ini?.'' Pikirnya dalam diam.
''Mengapa kau masih berdiri?, duduklah ada yang ingin ku sampaikan kepadamu.''. Lanjut Rongxu lagi, setelah mendudukkan tubuh pada kursi di sana.
Murongyu masih berdiri tak bergeming, meski suara itu jelas terdengar di ruang pendengarannya.
Ada kebingungan besar yang masih lekat, dan mengusik dalam relung hati dan pikiran pria tersebut.
Hingga apa yang di ucapkan Rongxu barusan, hanya mengalir dari telinga satu, dan menyerobot keluar dengan cepat, dari telinga yang lainnya.
Memperoleh respon yang demikian, Murongxu sedikit mengernyitkan kening tidak senang, dan kembali berucap. ''Apa perkataan ku sulit dipahami?, atau aku perlu membantumu untuk duduk?.''
Mendengar baris perkataan dengan aura yang sedikit suram, Murongyu tersadar dan reflek menjawab. ''Haah..Oh baik.''
Wajah itu menunjukan sisi keterkejutan sejenak, namun sesaat kemudian kembali tenang setelah ia mendudukkan tubuhnya.
Murongyu kini duduk berhadapan dengan Murongxu.
__ADS_1
Meski dengan status yang ia pikirkan sebagai hubungan ayah dan anak.
Pada kenyataannya, kecanggungan tentang wanita yang baru saja beranjak dari sana, masih kental terasa.
Dalam pemahaman Murongyu, Ziaruo adalah reinkarnasi dari permaisuri Murongxu ayahnya, pada kehidupan terdahulu.
Di samping perasaannya yang tidak bersambut. Pendidikan etika, serta darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya. Hal tersebut juga menjadi salah satu alasan yang membuat pria itu, mengambil langkah mundur untuk melepaskan Ziaruo.
Jika saja, ia tak pernah mendengar Ziaruo mengatakan secara langsung kepada Murongxu Ayahnya. Tentang perjalanan kehidupan reinkarnasi diantara mereka saat di hutan barat.
Murongyu mungkin akan melepas segalanya, dan berjalan kearah Ziaruo.
Ia ingin mengingkari dan berpura-pura tidak mengerti apapun diawal.
Pria itu juga berusaha untuk menolak apa yang ia dengar.
Namun, seiring berjalannya waktu kenyataan itu semakin jelas dan menyibak semua keraguan, dan tak memberikannya sedikit ruang pun untuk menyangkal.
Murongyu perlahan kembali mengambil cangkir yang berada di depanya. Meneguk kasar air tawar, yang tinggal sedikit tersisa.
''Apakah Anda selalu mengikutinya?.'' Murongyu.
''Heeemm..'' Jawab Rongxu singkat.
Ekspresi itu masih tenang, bahkan dirinya tak membutuhkan waktu untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Rongxu tidak perduli, tentang sebutan ayah yang di lekatkan untuknya. Lalu apakah di perlukan untuk menjaga perasaan pria Rongyu?, tentu saja ia tidak peduli sama sekali.
Gerakan pria itu kembali tertahan dan sedikit menekan gagang teko air, saat bibir tipisnya kembali meluncurkan pertanyaan. ''Apakah dia mengetahuinya.''
''Heeemm..'' Jawaban singkat yang sama, meluncur datar serta santai dari bibir Rongxu.
Sebuah jawaban pengganti, sebagai persetujuan atas pertanyaan yang ia berikan.
Kali ini, Murongyu menggerakkan paksa tangan untuk menuang air ke dalam cangkir miliknya. Ia juga membuka cangkir baru untuk sang Ayah serta mengisinya..
Dengan perasaan yang sulit ia deskripsikan saat ini. Murongyu bahkan lupa untuk memesankan teh ataupun makanan untuk Rongxu.
Hatinya berontak, dan merasa tidak tenang dalam sekilas.
''Mengapa Ziaruo masih mengijikan sang ayah berputar di sekitarnya?, bukankah banyak kejadian yang menjadikan amarah diantara mereka?.
Bahkan, Murongyu juga sempat berpikir bahwa pernikahan wanita itu dengan Jing, adalah buntut dari sakit hati terhadap pria ini.
''Apakah Ziaruo tidak membenci ayahnya, karena menikahi banyak wanita di istana dalam?, lalu alasan apa yang membuatnya menikahi Jing?.''
Dengan pikiran yang berkecamuk, Murongyu kembali menyesap air dalam cangkir dengan sekali teguk, dan mengusap kasar bibirnya sejenak.
''Lalu...Lalu apakah dia tidak marah?.'' Tanya Murongyu lagi.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan tersebut, Rongxu meletakan cangkir air yang ia pegang, dan menatap Murongyu tajam.
''Mengapa harus marah?, dan kenapa jika dia marah?.'' Rongxu.
''Bahkan jika ia benci dan marah, apa yang bisa terjadi?. Jka pria ini menemui kemalangan, maka ia juga akan jatuh dalam kemalangan.''
''Menurutmu apa yang akan dia lakukan?, jika kenyataan kehidupan kami masih saling terhubung?.'' Lanjut Murongxu lagi.
Pria itu mengatakan apa yang ia ingin ucapkan.
Ada kesombongan, arogan serta kebanggaan tersembul secara tidak langsung dari nada bicaranya.
Rongxu tak ambil pusing, dengan apapun yang tengah bergentayangan di benak Murongyu.
''Jangan membahas tentang seseorang yang seharusnya tak kau sebut. Bahkan, memikirkannya pun jangan!.''
Murongxu masih menatap tajam, kearah manik mata pria yang melebelkan diri, sebagai putranya tersebut.
Dalam hati, ia mengakui tentang banyaknya kemiripan diantara mereka.
Rongxu juga menyadari bahwa ia cukup puas, dengan sikap dan kepribadian Murongyu ini.
Jika tidak dalam kondisi yang canggung, serta mengetahui kenyataan tentang pemujaan hati pria itu untuk wanitanya, Mungkin Murongxu akan bersedia menganggapnya sebagai putra angkat.
Namun, siapa Murongxu dari kekaisaran langit?.
Meski dengan tubuh, jantung, jiwa dan darah milik kaisar Xili ayah Murongyu, ia tak menitik beratkan apapun di sana.
Dengan jiwa kaisar Awan yang bersemayam di sana, ia tetaplah jiwa arogan, sombong serta egois yang tak ingin kalah dari siapapun, termasuk putra dari tubuhnya saat ini.
Murongxu sudah kalah dengan Jiang Jing wei dalam kehidupan ini, yang merebut kelahiran sang istri di dunia mortal, sebagai pembalasan karma buruknya terhadap kekasih Ziayun di kehidupan terdahulu.
Bahkan dengan pemahaman serta kenyataan yang ia ketahui, Murongxu masih menargetkan Jing dengan trik-trik kotor dan kejam.
Lalu, apakah dirinya akan diam menyaksikan sosok lain, berkeliaran di seputaran wanita tersebut.
Terlebih lagi, sosok itu tak pernah ada hal ataupun perhitungan yang dapat terlihat dimatanya.
Terlebih, jika alasan itu tentang perasaan hati, dan pemujaan untuk Ziaruo, ia semakin akan merasa tidak senang.
...................
Murongyu yang mendengar kata-kata tajam, serta datar tersebut menjadi mengerti.
Bahwa, sang Ayah menemuinya saat ini, adalah untuk memperingatkannya sebagai seorang pria.
Bukan datang untuk menemui dirinya sebagai seorang putra.
''Ayah tak perlu merasa cemas, sejak lama Ananda telah melepas keinginan tersebut.'' Murongyu.
__ADS_1
''Bahkan mungkin, wajah ini akan membuatnya kembali memiliki rasa sakit, atas kesalahan anda di masa lalu, lalu mengapa harus repot untuk melakukan itu?.'' Lanjutnya dalam hati.