
''Semoga dewa mempercepat kematian kalian, karena itu jauh lebih baik....'' Gumam lirih, salah satu penjaga kediaman yang lain.
.........................................
Sementara didalam sebuah ruangan kediaman.
Seorang pria tengah berbaring diatas ranjang, dan tepat disampingnya sebuah cermin dengan ukuran tiga hingga empat kali lebar telapak tangan seorang pria dewasa, berada di dekat wajah pria tersebut.
''Mengapa kau lama sekali Yun?.'' Ucap pria tersebut dengan wajah cemas.
''Seharusnya aku mengikutimu, meskipun kau melarangku tadi.'' Sambung pria itu lagi.
Tubuh gagahnya beberapa kali, bergerak tak nyaman diatas ranjang.
Tangannya, sesekali akan meraih ukiran pada pembatas cermin. Sekadar untuk meluapkan, serta menekan kegundahan, dan kecemasannya saat ini.
Entah sudah berapa kali, pria yang tak lain adalah kaisar Jiang jing wei itu, menghela nafas panjang.
Hingga sebuah kilauan cahaya emas, melesat keluar dari dalam cermin. Bibirnya baru bisa menyunggingkan senyum tulus dan gembira.
''Yun...'' Panggilnya dengan rona kebahagian.
Dan benar saja, dari kilauan kabut keemasan yang keluar itu, sosok Ziaruo perlahan, namun pasti terbentuk.
Mendengar dan melihat pria itu disana Ziaruo tersenyum, sambil mengulurkan tangan, dan berkata. ''Anda masih terjaga?.''
Melihat wanita itu berjalan kearah ranjang, Jing dengan cepat meraih tangan sang wanita yang terulur.
''Bagaimana aku bisa tidur, jika kau masih di tempat lain?.'' Jawabnya lembut, sembari menarik wanita itu kearah ranjang.
Jiang jing wei membawa tubuh Ziaruo, membantunya berbaring diatas ranjang dengan penuh kelembutan, serta kasih sayang.
''Apa kau bertemu denganNya (Sang guru Baixio)?.'' Tanya Jing, dengan wajah masih menunjukan perasaan yang sama.
Bagi pria tersebut, segalanya tentang wanita itu adalah ketulusan.
Meskipun, ia tertarik dengan hal lain, namun tetap saja dia adalah yang utama.
Bahkan, jika harus di suruh memilih antara wanita itu, atau putra yang sangat ia inginkan, ia akan tetap memilih sang permaisuri.
Mendengar pertanyaan tersebut, Ziaruo melihat kearah manik mata sang suami.
''Ia...wanita ini bertemu dengan Guru.'' Jawab Ziaruo lirih.
Mendengar dan melihat exspresi wanita itu, Jing menyadari segalanya tidak berjalan dengan semestinya.
Pria itu memeluk sang istri erat, meletakan ujung dagunya diatas pucuk kepala Ziaruo.
''Beristirahatlah, biarkan dewa yang menentukan takdirnya (sang putra dalam kandungan).''
Jing mengatakan semuanya, dengan menekan kegelisahan dalam hati sendiri.
Pria tersebut tak ingin melihat sang istri, semakin bersedih.
__ADS_1
Namun, tentu saja Ziaruo memahami, apa yang tengah ia pikirkan.
''Tapi, aku ingin dia terlahir dengan selamat.'' Jawab Ziaruo lirih.
''Aku tahu, dan tentu saja ia akan selamat, kau harus percaya itu.'' Ucap Jing lagi.
Jiang jing wei menekankan sebuah keyakinan untuk Ziaruo, dimana dirinya sendiri tengah ketakutan, serta diliputi perasaan cemas yang besar.
''Wanita ini, memiliki caranya untuk menyelamatkan putra kita suamiku.'' Lanjut Ziaruo, dengan suara masih pelan.
Mendengar ucapan tersebut, Jiang jing wei tertegun sejenak, ia menatap Ziaruo, dan berucap. ''Apakah itu berbahaya untukmu?.''
''Tentu saja tidak..'' Jawab Ziaruo reflek.
Wanita itu memberikan tampilkan kekehan kecil, pada saat mengatakan hal itu.
Ia ingin menciptakan kenyamanan, dalam penyampaian perkataanya, di depan sang suami.
''Benarkah?, apakah guru suci yang memberitahukanmu?.'' Tanya Jing lagi.
Entah mengapa pria tersebut, merasakan suatu kejanggalan dalam ucapan Permaisurinya.
Dirinya mengenal dengan baik ekspres sendu, diawal-awal pembicaraan keduanya tadi.
Namun, sekarang sang istri mengatakan memiliki pemecahan masalah, diantara mereka dengan kekehan kebahagian pada wajahnya.
''Bisakah kau tidak menyembunyikan apapun dariku yun?.'' Lanjut Jing lagi.
''Hanya saja, wanita ini harus pergi untuk waktu sepekan kedepan yang mulia, apakah Anda mengizinkan?.'' Tanya Ziaruo balik.
''Tujuh hari?, kau ingin kemana dalam waktu sepekan itu?.'' Tanya Jing reflek.
Mendengar pertanyaan tersebut, Ziaruo mendongakan kepala, ia kembali menatap wajah itu lekat.
''Guru akan melakukan sebuah ritual untuk putra kita, sebagai penolak keburukan dan memasang rajah perlindungan untuknya.'' Jawab Ziaruo dengan wajah tampak tenang.
Ia ingin meyakinkan sang suami, bahwa segalanya akan baik-baik saja.
''Baiklah, kau boleh pergi kali ini. Tapi hanya tujuh hari, dan tidak lebih.'' Jawab Pria tersebut lirih.
Tangan kokohnya kembali merengkuh tubuh Ziaruo dengan erat, dan mata Jing terpejam dengan cepat.
Sementara itu, Ziaruo tak memiliki pemikiran apapun atas sikap sang suami yang dengan mudah memberikan izin untuknya.
Bagi Ziaruo, segalanya akan lebih cepat terselesaikan, jika pria tersebut lebih mudah melepas kepergiaannya kali ini.
Selang beberapa saat, dengan kelelahan pada tubuhnya, Ziaruo akhirnya terlelap tidur.
Dan setelah memastikan wanita itu tertidur, Jing kembali membuka mata, dan bergumam dalam diam.
''Aku tahu pasti ada sesuatu yang akan kau lakukan, lihat al tidak akan ada hal buruk yang terjadi nantinya.
Dan aku juga akan menyelesaikan, semua urusan yang disini sebelum kau kembali, Jaga dirimu dan putra kita baik-baik Yun.''
__ADS_1
Jiang jing wei mengecup pucuk kepala sang permaisuri beberapa kali, sebelum akhirnya ia juga terlelap dalam tidurnya.
Ruangan menjadi hening dan damai, seperti sebuah gambaran ketenangan senja, sebelum badai besar melanda.
...............................
Seperti yang diputuskan, pagi itu rombongan Jiang jing wei meninggalkan kediaman Gu, setelah mengijinkan jendral tua dan nyonya Gu menemui wanita Gu muda (selir Gu).
Mereka hanya di berikan kesempatan bertemu sebentar saja, dan hal itu membuat sang jendral tua merasa berhutang budi besar kepada kekaisaran Zing.
Sebagai balas budi atas upaya menyelamatkan sang putri (selir Gu), Jendral tua Gu menyerahkan plakat lain yang berbeda kepada Ziaruo.
Sebuah plakat kepemimpinan, atas pasukan rahasia milik jendral tua Gu.
Pasukan yang dulunya milik Gutingye, sebagai pasukan bayangan merah yang telah di perkuat kembali oleh jendral Tua Gu, beberapa tahun terakhir setelah kematian sang putra Gutingye.
Dulu jendral tua Gu hanya berpikir bahwa pasukan elit sang putra tak harus dimusnahkan, dan menjadi pertanda atau bukti kehadiran sang putra di kehidupannya.
Jendral tua Gu juga merasa sayang, jika pasukan elit merah harus menghilang begitu saja.
Oleh karena itu, ia menggembleng pasukan elit merah secara rahasia, bahkan mengijinkan prajurit senior, serta berpengalaman yang telah lama mengikutinya di kamp militer untuk bergabung.
Jendral tua Gu tidak berpikir, bahwa di suatu hari, ia akan menyerahkan pasukan elit kepada negri lain (Zing).
Meskipun, ada kepedihan dan sedikit ketidak relaan, dalam hati sang jendral tua, namun dengan kondisinya yang sekarang ini, keputusan itu adalah yang terbaik.
Kaisar Tang, tak lagi menghargai kepemimpinannya, serta kerja keras para pendahulu, yang ikut membangun kekaisaran Tang.
Setidaknya dengan pasukan elit merah, dirinya dapat menjamin kehidupan sang putri dan cucu mereka yang belum terlahir.
Dan mungkin Gutingye putranya akan bahagia, melihat pasukan yang ia bina, berada ditangan wanita yang ia cintai (Ziaruo).
Menggantikannya melindungi wanita itu, dengan kehadiran pasukan elit merah miliknya.
Ziaruo pada awalnya menolak plakat pasukan tersebut, namun dengan persetujuan sang suami, dan ketulusan dari niat baik jendral tua Gu, akhirnya wanita itu menerima plakat pasukan elit merah.
Disisi lain, saat ini sang suami Jiang jing wei, tengah memerlukan banyak tenaga terlatih, untuk melawan pemberontakan di istana kekaisaran Zing.
Menimbang hal tersebut, setelah menerima plakat pasukan merah, Ziaruo menyerahkannya kepada sang suami, dengan maksud meminjamkan benda tersebut untuk sementara waktu.
Setelah urusan yang ia miliki terselesaikan, dan Jiang Jing wei telah melewati masa krisis di kekaisaran, plakat akan diambil atau dikembalikan lagi kepada Ziaruo.
Dan dengan adanya pasukan merah, kekuatan pasukan kekaisaran akan memperoleh bantuan, dari orang-orang yang telah terlatih di medan pertempuran.
Setelah mengucapkan perpisahan, rombongan bergerak menuju kekaisaran Zing, dengan kecepatan dua kali lipat dari biasanya.
Terlebih lagi, setelah kepergian sang permaisuri dari rombongan, kaisar Jing seakan sengaja melakukan perjalan dengan waktu yang jauh lebih dipersingkat.
Jing ingin menyelesaikan segala polemik, dan kerusuhan yang kini merongrong singgahsana miliknya, di kekaisaran Zing dengan cepat.
Ia berharap, ketika sang permaisuri kembali nanti, tak lagi ada kecemasan, atas pergolakan dan pemberontakan di kekaisaran Zing.
''Aku akan membuat segalanya menjadi mungkin untuk kalian.'' Ucap dalam hati Jing.
__ADS_1